
"Dimana Azam?"
"Tuan sedang rapat dengan para koleganya Tuan"
"Apa masih lama?"
"Sebentar lagi sudah selesai Tuan"
"Baiklah...katakan padanya kalau aku menunggunya di dalam ruangan",ucap Dafa meninggalkan pegawai itu.
"Haahh benar-benar bikin pusing saja",ucapnya lirih sembari merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Selama ini Azam harus melakukan cek kesehatan dengannya.Lelaki itu sungguh tak merawat dirinya sendiri dengan benar.
Dafa harus rutin mengingatkan makan setiap hari agar Azam tidak melewatkannya.
Setelah kepergian Mawar Azam benar-benar hancur,lelaki itu mengurung diri hampir sebulan lamanya,ia mogok kerja dan juga tidak pernah merawat diri dengan baik.
Akibatnya perusahaannya menjadi kacau dan Dafa harus bekerja dua kali lipat karena membantu perusahaan milik saudaranya itu.
Tapi setelah Azam memutuskan untuk kembali lagi seperti dulu,lelaki itu malah seperti orang yang sangat gila kerja.
Setiap hari waktunya ia habiskan untuk bekerja dan terus bekerja.
Azam bahkan sering sakit karena selalu melewatkan jam makannya.
Dia juga menjadi pribadi yang sangat keras sekarang,Azam menjadi pimpinan yang galak dan sering uring-uringan.
Sekarang ini citra Azam yang menakutkan sudah menyebar di kalangan para pebisnis.
Banyak pebisnis lain yang takut padanya karena Azam tidak mau menerima kesalahan sedikitpun.
Kekuasaan dirinya semakin meningkat dari hari kehari,Azam bahkan sudah menggulungkan lima perusahaan pesaingnya dengan sangat cepat dan sadis.
"Andai saja kalau dia masih ada disini",mungkin saja Azam tidak seperti ini.Ucapnya lirih
"Dia siapa...?"
Suara Azam yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu membuat Dafa terkejut.
Sejak kapan dia datang?
Dafa bahkan tak mendengar langkah kaki berjalan mendekat.
Azam duduk di sofa tepat didepan Dafa yang sudah duduk menatapnya.
"Siapa yang kau bicarakan tadi?"
Dafa memutar otaknya dengan cepat,ia harus berbohong soal dirinya yang memikirkan Mawar tadi.
__ADS_1
"Sekretarismu",ucapnya berbohong.
"Memangnya kenapa dengan sekretarisku?"
"Bukankah kau sudah enam kali mengganti skretaris?"
"Memangnya kenapa?"
"Haisss kau tak paham juga,carilah skretaris yang benar dan jangan pecat lagi,seharusnya yang mengawasi dan membantumu itu tugas sekretaris...bukan aku"
"Aku hanya belum menemukan yang pas",katanya sembari merebahkan kepalanya diatas sandaran sofa yang empuk.
Dafa melirik saudaranya yang tengah menutup mata itu.
"Apa kau benar-benar tak ingin membawanya kembali? bukankah kau sangat membutuhkannya? Tania?",ucapnya lamat-lamat.
Hening sesaat karena Azam diam tak menjawabnya.
"Tidak...karena dia Mawar pergi",ucapnya lirih.
Dafa tak bertanya lagi,dia diam tak mau bertanya lebih banyak.
Memang benar karena kesalahan Tania skretaris Azam dulu hubungan Azam dan Mawar jadi begini.
Wanita itu bekerja sama dengan Novi,Hp yang Azam titipkan untuk menghubungi Mawar diberikan kepada Novi hanya karena iming-iming uang yang banyak.
Sudah beberapa ratus kali Azam mencoba menghubunginya ,tapi sepertinya Mawar telah mengganti nomor hp dan akun sosialnya.
Azam juga sudah mencoba mencari wanita itu dengan segala kekuatannya,semua anak buah yang ia miliki ia kerahkan untuk mencari wanita itu,tapi tak ada yang bisa menemukannya di seluruh penjuru negeri ini.
Ruko tempat yang dulu Mawar tinggali juga katanya sudah dijual kepada orang lain.
Wanita itu sungguh kabur dengan cara yang sangat bersih sampai Azam benar-benar kehilangan jejaknya.
"Aku akan pulang,makanlah vitamin ini setiap hari,jangan lupa makan makanan siangmu...aku sudah menyuruh OB untuk membawanya nanti"
Ucap Dafa sembari meletakan beberapa tablet kecil diatas meja.
Azam hanya meliriknya saja sembari berdehem kecil.Sepertinya keadaannya sekarang memburuk setelah pembicaraan Tadi.
Azam pasti mengingat kembali kejadian lampau,dimana dirinya ditinggalkan Mawar karena ulah mantan istri dan sekretarisnya.
Dafa keluar dari ruangan Azam setelah memberikan suplemen dan juga beberapa vitamin.
Lelaki itu sempat menatap meja sekretaris yang masih kosong didepan ruangan Azam,dirinya menghembuskan nafas beratnya entah apa yang ada di fikirannya.
....
Azam beranjak berdiri menatap hamparan gedung dari ruangannya,matanya menatap lekat pemandangan yang ada di depannya.
__ADS_1
Suasana hari ini tidak begitu cerah,awan hitam terlihat mulai membentuk formasi siap menurunkan hujan.
Tak lama kemudian rintik air mulai terlihat turun membasahi kota Jakarta saat ini.
Azam menghela nafas saat hujan deras mulai turun.Matanya yang tadi terbuka lebar kini menutup dengan sempurna.
Saat ini dirinya sedang mengingat-ingat wajah cantik Mawar kekasihnya.
Yah...Mawar masih kekasihnya,meskipun wanita itu pergi tapi dirinya belum memutuskan hubungan mereka,Azam akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari Mawar dan membawanya pulang kesisinya.
Tangan Azam meraih hp yang ada disakunya,kemudian membuka galeri yang tertera pada layar ponsel pintarnya.
Matanya dengan sayu memandangi foto Mawar saat di pantai,dirinya memang diam-diam memfoto Mawar saat itu.
Disana Mawar terlihat sangat cantik dan mempesona,senyumam kecil terlihat saat melihay foto Mawar saart bermain ombak saat itu.
Namun beberapa detik kemudian Azam terlihat murung lagi.
"Semua ini salahku...",ucapnya lirih.
Andai saja malam itu dirinya tak mendiamkan Mawar dan meinggalkan wanita itu begitu saja,pasti Mawar tidak akan salah faham.
Malam itu saat dirinya hendak menjemput Mawar di toko, Novi datang ke kantornya dan secara terang-terangan meminta rujuk.
Padahal Azam baru pulang dari luar kota,tapi malah Novi datang membuat masalah dan membuatnya telat menjemput Mawar.
Dirinya merasa kesal dan juga lelah...tapi saat tiba di toko dirinya malah melihat Mawar bersama dengan mantan pacarnya,apalagi dengan posisi yang sangat ambigu.
Sebenarnya Azam tahu Mawar tidak mungkin selingkuh,ia tahu Mawar tidak akan melakukan hal seperti itu karena dirinya sendiri adalah korban.
Tapi rasa kesal muncul begitu saja dan malah melampiaskannya secara tidak langsung kepada Mawar.
Ia malah jadi mendiamkan Mawar dan meninggalkan wanita itu tanpa menjelaskan keadaannya sekarang.
Gara-gara Novi datang pekerjaannya juga kian menambah,wanita itu juga diam-diam menjemput Akins dan membawanya bersamanya.
Azam yang tahu akan hal itu langsung menghampiri Novi yang membawa Akins di mall.
Akins memang sangat menantikan kehadiran ibunya,anak itu tidak menolak sama sekali saat Novi datang menjemputnya.
Berbeda dengan Azka yang sudah tahu betapa buruknya mama kandungnya sendiri,Azka sangat membenci Novi dan tidak mau menganggap Novi sebagai mamanya sendiri.
Karena pekerjaan kantor yang kian menumpuk gara-gara perusahaannya membuka cabang baru di luar kota,membuat fisik dan juga fikiran Azam lelah.
Apalagi ditambah masalah Novi mantan istrinya itu.Kesehatan Azam kian menurun dan akhirnya jatuh sakit selama dua hari.
Dirinya bahkan tak bisa menghubungi Mawar dan malah memerintah asistennya Tania untuk memberitahu Mawar.
Tapi keputusannya salah,gara-gara langkah yang ia ambil itu malah sekarang Mawar pergi meninggalkannya,membuatnya merasa sangat bersalah dan putus asa tanpa bisa melakukan apa-apa selain bekerja dan bekerja.
__ADS_1