
Suara brankar yang didorong dengan cepat terdengar keras memenuhi lorong rumah sakit.
Dafa dan para suster lainnya membawa Mawar menuju ruang operasi.
Dirinya harus ikut kedalam untuk mengawasi keadaan Mawar,untuk masalah operasi tentunya akan dilakukan bersama dengan beberapa dokter lainnya.
Mawar langsung dibawa ke rumah sakit milik keluarganya karena kebetulan jaraknya tidak jauh dari tempat kejadian.
Lampu yang berada diatas pintu ruang UGD itu langsung menyala merah saat Mawar sudah memasuki ruangan,pertanda operasi sudah mulai dijalankan.
Akins sendiri sekarang sudah bersama Charle,anak itu sekarang sedang diobati oleh dokter .
Yah...Charle ada disana saat kejadian tersebut,bahkan lelaki itu yang membawa Mawar dan Akins ke rumah sakit.
Saat Mawar tertabrak,Charle bahkan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Pas sekali waktu itu dirinya sedang melintasi jalan yang sama.
Charle mengusap wajahnya gusar ,dirinya kini sedang ada di dalam ruangan menggedong Azka,menemani Akins yang sedang diobati bersama Bu Risma.
"Charle...apa kamu sudah menghubungi Azam...?" tanya Bu Risma dengan panik.
"Sudah tante...dia pasti akan datang sebentar lagi...",ucapnya dengan logat yang sedikit kaku.
Karena dirinya kecil di Amerika,Charle merasa susah mengatakannya dengan Bahasa Indonesia.
Mamanya yang tak lain adalah adik dari Bu Risma dan Bu Nisa menikah dengan bule asal Amerika,maka dari itu dirinya berbeda dengan Azam dan juga Dafa.
Kulitnya lebih putih dan wajahnya lebih ke barat-baratan.
Dirinya adalah sepupu dengan Azam dan juga Dafa.
Diantara mereka berdua dirinyalah yang paling muda,meski hanya selisih satu tahun saja.
Akins menangis sangat keras saat diobati oleh dokter,kaki dan tangannya ada luka lecet dimana-mana.
Tapi untungnya tidak ada luka lain yang serius disana,anak itu juga langsung boleh pulang dan tidak perlu menginap.
Charle yang sedari tadi khawatir akan keadaan Mawar sangat gelisah dan merasa tidak tenang sama sekali.
Ia ingin segera menemui Dafa dan bertanya apakah wanita itu baik-baik saja.
Tapi disisi lain dia juga tak bisa meninggalkan tanenya sendiri bersama kedua keponakannya.
Bu Risma sekarang juga tengah mengalami syok,tubuh wanita itu bahkan tak bisa berhenti bergetar sedari tadi.
"Suster...tolong bawa tante saya istirahat dulu" ucap Charle pada salah satu suster disana.
"Kenapa? tante masih mau menemani cucu tante...tante juga mau lihat keadaan Mawar"
__ADS_1
"Tidak tante...biar Charle saja yang mengurus mereka berdua...Mawar juga masih dalam penanganan,tante juga harus istirahat agar bisa menemani Mawar nanti",
Mau tak mau Bu Risma menuruti ucapan keponakannya itu,kalau mau bicara jujur dirinya sudah tidak kuat.
Melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi didepan matanya membuat badannya merasa lemas.
"Baiklah...kalau ada apa-apa kamu harud beritahu tante.."
Charle mengangguk saja,terlihat beberapa suster langsung mengantar Bu Risma untuk beristirahat di ruangan khusus tentunya karena rumah sakit itu juga milik keluarganya.
Setelah semua perawatan Akins selesai,Charle langsung menuju tempat operasi dimana Mawar berada.
Akins didorong dengan kursi roda oleh suster dan dirinya menuntun Azka.
Beberapa menit ia menunggu dengan hati yang sangat gelisah,suasana disanapun terbilang hening,yang tersisa hanya isakan kecil Akins yang ia tahan.
Sampai akhirnya terdengar suara seseorang yang berlari dengan begitu keras dan berteriak membuat suasana menjadi giduh.
"Mawar....dimana Mawar...?!!",Azam bertanya pada salah satu penjaga yang ada disana. Lelaki itu terlihat seperti orang kesurupan sekarang.
Saat mendekati ruang operasi Azam menghentikan langkahnya,lelaki itu terduduk dengan lutut yang ditekuk diatas lantai.
Azam menangis sembari menangis dengan sangat pilu.
Semua penjaga disana tidak ada yang berani mendekati Azam,bahkan kedua anaknya sendiri.
Aku yang harus kulakukan untukmu Mawar...
Azam terlihat sangat mencintainya,begitupun Mawar.
Sebenarnya ia sudah tahu kalau Mawar adalah mantan Azam.
Dirinya yang berencana mengenalkan Mawar sebagai kekasihnya kepada keluarganya ia batalkan setelah mendengar cerita Azam dari Dafa.
Pantas saja Mawar terlihat tidak baik saat pelaksanaan rapat rengan Azam waktu itu.
Saat itu dirinya juga sangat terkejut saat mendengar cerita itu,ia tak menyangka takdir begitu kejam kepada dirinya.
Kenapa dia harus mencintai seseorang yang bahkan tidak menaruh hati padanya? terlebih lagi wanita itu mencintai saudaranya.
Selama tiga hari ini Charle juga banyak merenungkan diri,dirinya sengaja menjaga jarak dari wanita itu setelah bertemu dengan Azam.
Yah...dirinya bahkan sudah mengatakan semuanya pada saudaranya kalau sekarang dia juga mencintai wanita itu.
Dan keputusannya juga Azam akan mereka serahkan pada Mawar saja.
Dirinya dan Azam sudah sepakat untuk menyerahkan pilihan pada Mawar.
Bukanya ia tidak mencintai Mawar,tapi dirinya juga tidak bisa memaksa wanita itu untuk mencintainya.
__ADS_1
Selama ini Mawar selalu menolaknya,meski tahu bahwa dirinya mempunyai segalanya.
Wanita itu bahkan terlihat tak banyak menaruh perhatian padanya,meski begitu dirinya masih saja membohongi diri dan mengatakan bahwa mungkin wanita itu akan jatuh dalam pelukannya suatu saat nanti.
Tapi mungkin itu hanyalah angannya saja,melihat kejadian hari ini bagaimana Mawar rela mempertaruhkan nyawanya demi keponakannya menunjukan kasih sayang wanita itu bukanlah main-main.
"Haah....sial..." ucapnya lirih.
Mereka berdua terlihat sangat mencintai,Azam yang dibuat seperti ini karena Mawar.
Lelaki yang ia lihat sebelumnya bukan seperti ini yang bisa gampang menangis dan terlihat lemah.
Azam yang selalu terlihat gagah dan tegas kini terlihat sangat mengkhawatirkan.
Melihat itu tentu dirinya sangat sedih,disamping rasa sedih untuk Mawar wanita yang dicintainya sedang memperjuangkan nyawa,ia juga sedih saat mebgetahui kenyataan bahwa dirinya bukan siapa-siapa dalam hubungan yang rumit ini.
Charle merasa dirinya hanyalah duri yang menghalangi cinta Mawar dan Azam.
Meskipun tahu ini akan terjadi,tapi rasanya tetap menyakitkan.
Charle sudah memprediksi Mawar akan menolaknya saat wanita itu menelfonnya tadi.
Ia tahu rencana Mawar yang akan mengatakannya nanti malam,karena itulah kebiasaan Mawar saat hendak menolaknya.
Wanita yang jarang sekali mengajaknya bertemu memintanya bertemu untuk makan malam,dan akhirnya Mawar menolak lamarannya.
Itu sudah terjadi berkali-kali sampai dirinya bahkan sampai merasa hafal.
Padahal Mawar bisa mengatakannya dua hari lagi,dimana itu adalah tepat seminggu Mawar mengambil keputusan.
Tapi sepertinya wanita itu tak sabar sekali menolaknya,entah karena ingin kembali bersama Azam dan anak-anak atau karena murni tidak bisa menerimanya sama sekali.
Charle membuang nafas beratnya,kemudian ia melangkah mendekati Azam dan menepuk pelan pundak saudaranya itu.
Sebisa mungkin ia ingin menenangkan Azam yang terlihat sangat kacau itu.
Anak-anak juga sudah ia bawa kedalam ruangan istitahat bersama Bu Risma .
Setelah bebapa jam menunggu,lampu diatas pintu ruang operasi itu berubah menjadi hijau,tanda operasi telah selesai dilakukan.
Dafa terlihat keluar pertama kalinya dari arah sana,Azam dan juga Charle dengan cepat menghampiri Dafa dengan tatapan yang menanti.
"Ba..bagaimana dengan Mawar?",tanya Azam tak sabar.
Dafa terlihat lesu,terdengar helaan nafas dari pria itu sebelum mengatakan sesuatu.
Namun didetik berikutnya,ucapan Dafa sungguh membuat semua orang yang ada disana terkejut.
"Maafkan aku..."
__ADS_1