Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Bermain 1


__ADS_3

"Ada apa mba...?",suara Anya tiba-tiba memecah ketegangan yang tengah terjadi.


"Eh...kenapa dia ada disini mba?",Anya terlihat tidak suka saat menyadari ada Rosi disana.


"Cih...aku jadi tidak berselera belanja",ucapnya,kemudian melenggang pergi dari tempat itu.


"Dia ganggu mba lagi ya...?"


"Nggak kok...kamu mau makan apa?",ucapnya mencoba mengalihkan perhatian.


"Ini adiknya mba...?",tanya ibu-ibu yang tadi memegang terong.


"Eh iya bu...perkenalkan saya Anya,adiknya mba Mawar"


"Kok nggak mirip ya..."


Anya meringis mendengar itu,tentu saja mereka tak mirip dari segi manapun karena mereka bukan saudara kandung.


"Saya bukan adik kandungnya,mba Mawar yang sudah mengadopsi saya"


"Tapi dia tetap adik saya kok",jawab Mawar sembari mengelus Anya sayang.


Para ibu-ibu yang tadi menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan kini mulai terlihat melunak?


"Jadi kalian bukan saudara kandung?"


"Bukan...dulu saya cuma seorang gelandangan di jalan,tapi mba Mawar membawa saya dan mengangkatnya jadi adik"


Bukanya malu,Anya malah bangga dengan menceritakan aksi heroik Mawar pada ibu-ibu tadi.


"Ekhem...maafkan saya,ibu tidak bermaksud menyinggung"


"Tidak apa-apa bu...oh iya...jangan lupa ya mampir ke toko roti kami,kami buka toko baru di disana...",tunjuk Anya dengan semangat.


"Toko roti yang baru itu?",tanya ibu tadi.


"Iya...lusa kami akan buka jadi ibu-ibu boleh mampir,saya akan kasih gratis sebagai tanda perkenalan",ucap Mawar.


"Jadi kamu bukan ART disini...?"


"Siapa yang ART...?",tanya Anya.


Ibu-ibu terlihat diam,sepertinya Anya sudah tahu situasinya.


"Mba saya adalah pemilik toko roti itu kok bu,rumah ini juga milik mba saya,dia bukan ART...",tegas Anya.


Ibu-ibu terlihat sedikit terkejut saat mendengarkan penjelasan Anya,mereka kira Mawar adalah ART seperti yang diucapkan Rosi.


"Maafkan ibu...ibu kira seperti itu,soalnya tadi Rosi bilangnya begitu"


"Jangan dengerin dia bu,dia tuh ular...",katanya.


Mawar langsung geleng-geleng kepala mencoba menahan Anya,ia tak mau Anya mengumbar aib orang lain di depan umum.

__ADS_1


"Kalau begitu maafkan kami...kami jadi salah sangka,perkenalkan saya Bu Rita,itu rumah saya...kalau ada waktu longgar mampir ya"


"Iya bu...saya harap saya bisa diterima dengan baik di lingkungan ini"


Ibu-ibu yang terlihat judes dari awal langsung pergi tanpa mengucapkan kata apapun,Mawar tidak mempermasalahkan itu,tapi sepertinya ibu itu tidak menyukainya sejak awal.


"Maklumi Bu Ida ya...dia memang orangnya seperti itu",ucap Bu Rita.


"Dia janda,suaminya kabur sama ARTnya,makanya beliau sedikit sensitif kalau ada orang baru",jelasnya lagi.


Mawar mengangguk saja,ia jadi tahu alasan yang membuat Bu Ida tak menyukainya.


"Di komplek ini ibu-ibu sensitif kalo ngomongin janda,soalnya belum lama ini juga ada janda yang meresahkan,jadi kamu maklum aja kalo banyak tetangga yang masih judes"


Anya dan Mawar hanya diam,sepertinya ibu-ibu dikomplek ini terlihat sedikit susah didekati.


Beda sekali dengan dikomplek tempat mereka tinggal dulu,yang mayoritas ibu-ibunya menyenangkan dan memiliki rasa kekeluargaan.


***


Mawar keluar dari taksi sembari membawa beberapa belanjaannya,karena yang dibeli lumayan banyak,sang sopir ikut membantunya meletakan di atas teras depan rumah.


"Terimakasih pak...",ucapnya,tak lupa ia juga memberikan sedikit uang lebih karena merasa kasihan.


Supir itu terlihat sudah sangat tua,badannya yang sedikit kurus dan rambutnya beruban,namun wajah dan sikapnya sangat ramah.


Sopir itu bahkan membantunya membawakan tas-tas belanjaannya.


Setelah sang supir pergi,Mawar diam menatap semua belanjaannya,sangat banyak.


Mawar akan menyetok makanan sebanyak mungkin,ia sedikit merasa tak nyaman kalau setiap pagi membeli sayur dan bertemu ibu-ibu komplek ini,apalagi si Rosi.


Mawar menghembuskan nafas panjangnya.


Perlahan dirinya mulai bergerak mengambil belanjaan itu satu-persatu.


"Biar aku bantu...",ucap seseorang dari arah belakang.


Mawar sangat terkejut saat mendengarnya,ia bahkan berteriak kecil disana.


Matanya melotot melihat Azam yang tengah berdiri tersenyum kepadanya.


"Azam...? kapan kau datang?"


Ia bahkan tak mendengar suara mobil disana.


"Baru saja..."


"Lalu dimana mobilmu..?"


Mawar melihat sekeliling tapi ia tetap tidak melihat ada mobil disana.


Matanya memindai diri Azam lagi,lelaki itu tampak sedikit berantakan,kemeja putihnya sudah keluar dari celana,dasi yang sudah tak beraturan,jasnya bahkan sudah entah kemana.

__ADS_1


"Aku datang dengan ojek...",katanya


Mawar mematung tak percaya,lelaki itu datang bersama ojek?!


"Kenapa...? apa ada masalah...?"


Fikirannya sudah kemana-mana,terlihat jelas Mawar mengkhawatirkan Azam.


*A*pa dia bangkrut....?


Mawar menutup mulutnya,lelaki itu datang dengan penampilan yang berantakan setelah membelikannya rumah,mungkin saja uang Azam habis hanya untuk berfoya-foya.


Selama ini Azam terlihat banyak mengeluarkan uang untuk dirinya!


"Hahaha....!",Azam tertawa dengan kerasnya,ia tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Mawar.


Ia sangat tahu apa yang tengah di fikirkan wanitanya itu,dasar konyol.


"Kenapa kau tertawa...?",ini bahkan tidak lucu sama sekali.


*A*pa dia gila...?


"Ayo masuk dulu...aku yang akan membawakan belanjaanmu,kau masuklah dan buatkan aku minum,sepertinya tenggorokanku sangat kering...",ucapnya.


Mawar hanya diam sembari menatapnya sebentar,kemudian langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Azam yang masih menahan tawa disana.


Setelah Mawar benar-benar pergi,lelaki itu kembali tertawa,senyumnya tiba-tiba terlihat licik saat ide gila mulai muncul dikepalanya.


Ia bergegas masuk kedalam rumah sembari memikirkan rencana yang akan ia lakukan.


Mawar melirik Azam yang baru datang di dapur,lelaki itu meletakan semua belanjaannya diatas meja makan.


Azam duduk di pantri dengan wajah yang dibuat selesu mungkin,bahkan sampai akting memijat keningnya,tanda orang pusing.


"Jadi...apa ada masalah...?",tanya Mawar dengan hati-hati,kini ia sudah duduk bersebrangan dengan lelaki itu.


"Ya...",jawabnya lirih.


Azam melirik wajah Mawar yang terlihat gusar,wanita itu sedang menggigit bibir bawahnya.


Mungkin Mawar ingin bertanya sesuatu,tapi tidak berani mengungkapkannya.


"A...azam..."


Azam masih diam menantikan apa yang akan Mawar ucapkan,ia sudah bersiap mendengar apa yang akan wanitannya ucapkan.


"A..apa..kau bangkrut..."


Azam menutup wajahnya karena sudah tidak tahan,badanya bergetar hebat.


Ia tersenyum geli disana,tangannya yang satu mencubit pahanya keras-keras,mencoba mengontrol suara tawanya agar tidak terdengar.


Ternyata benar,wanitanya benar-benar berfikir kalau dirinya bangkrut!

__ADS_1


Disisi lain Mawar kalang kabut sendiri,ia sudah berdiri karena panik.


Ia melihat Azam yang tengah menutup wajahnya sembari menangis!


__ADS_2