
Akhirnya Kevin menemukan gudang kosong itu. Dari luar gudang itu tampak sangat sepi. Kevin menghentikan mobilnya dan segera keluar dengan membawa koper besar berisi uang. Pandangan Kevin terus mengedar, mencari seseorang disana. Tiba-tiba ponsel Kevin berdering tanpa pikir panjang, Kevin pun mengangkatnya.
''Istrimu ada di dalam. Jangan lupa bawa kopermu dan pastikan jangan sampai ada polisi.''
''Jangan khawatir, aku datang sendirian.'' Kata Kevin. Panggilan pun berakhir. Kevin dengan membawa koper besarnya, segera masuk ke dalam gudang itu. Gudang yang gelap tanpa ada celah cahaya.
''Keira? Apa kamu disini?'' tanya Kevin dengan tetap waspada.
''Mmmmm, mmmmm, mmmmm,'' itulah yang bisa Keira lakukan karena lakban mengunci bibir Keira. Kevin kemudian menyalakan flash ponselnya untuk menemukan Keira. Mata Kevin berkaca-kaca, saat melihat kondisi Keira berantakan yang menyisakan darah dan memar. Kevin lalu melepaskan ikatan di tubuh Keira dan juga lakban yang membungkam mulutnya, mereka berdua lalu berpelukan.
''Mas, aku takut.'' Isak tangis Keira dalam pelukan Kevin.
''Kamu tenang ya aku sudah disini.''
''Seharusnya kamu tidak datang karena mereka semua bajingan.'' Kata Keira. Tiba-tiba ada yang menyerang Kevin dari belakang sampai Kevin tersungkur di hadapan Keira.
''Mas!" seru Keira yang berusaha membantu Kevin untuk bangkit dan lampu gudang itupun menyala. Mereka semua telah mengepung Kevin dan Keira.
''Suami yang sangat baik. Sunggu luar biasa pengorbanan mu, Tuan. Hanya demi wanita ****** ini, kamu mengorbankan nyawamu.'' Kata Tuan Jason.
''Jangan pernah memanggilnya ******. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?'' kata Kevin dengan geram.
''Mana uang yang aku minta? Uang ini sebagai ganti rugi karena sikapnya yang sudah merendahkan ku dan menolakku.''
Tanpa banyak bicara, Kevin melempar koper itu pada Tuan Jason.
''Habisi dia!" perintah Jason pada anak buahnya. Sepuluh anak buah bertubuh kekar itupun menyerang Kevin. Namun Keira justru dalam cengkraman Jason.
''Tuan, aku akan menikmati tubuh istrimu di dan matamu.'' Kata Tuan Jason dengan tawa menggelegarnya. Jason kemudian berusaha memeluk Keira namun Keira berusaha melawannya seperti waktu itu.
''Jangan sentuh istriku!" Tendangan mendaray di wajah Tuan Jason. Tuan Jason pun tersungkur dan pertandingan ini pun menjadi 1 lawan 11. Kevin lalu menarik Keira dalam pelukannya sambil terus melawan Jason dan anak buahnya. Keira pun dengan tenaga yang. tersisa membantu menghajar mereka dengan tetap berpegangan pada Kevin. Musuh yang di hadapi Kevin terlalu banyak dan terlalu kuat, bahkan hampir membuatnya tumbang, saat salah satu anak buah Kevin memukul bagian belakang kepala Kevin dengan balok kayu.
''Mas....!" Teriak Keira memekik saat melihat Kevin jatuh tersungkur.
''Seret dia dan buang ke laut!" perintah Tuan Jason. Namun Keira justru memeluk Kevin yang sedang tersungkur, supaya mereka tidak membawa Kevin.
''Jangan sakit dia! Dia suamiku!" histeris Keira sambil terus memeluk Kevin. Kepala Kevin terasa sangat berat karena pukulan itu. Tuan Jason yang geram lalu menarik paksa tubuh Keira.
''Ayo wanita ******, ikut aku! Kamu harus membayar karena sempat menolakku.'' Paksa Jason sambil terus menarik tubuh Keira. Tenaga Keira yang terkuras pun akhirnya, membuatnya lepas dari pelukan Kevin.
''Mas...!! Tolong aku!" teriak Keira dalam kungkungan pria bule itu. Pria bule itu terus menyeret Keira. Keira terus menangis karena melihat Kevin yang terkapar tak berdaya disana. Keira lalu menggigit tangan Tuan Jason dengan begitu kuat, membuatnya berhasil lolos dari cengkraman penjahat itu. Keira lalu berlali untuk menghampiri Kevin. Kevin kemudian berusaha bangkit untuk menyelamatkan Keira yang di kerja lagi oleh Tuan Jason.
Keira seolah mempunyai kekuatan untuk berlari memeluk Kevin. Kakinya yang sakit pun seolah tidak ia hiraukan lagi. Saat Tuan Jason mendekat, Kevin dengan sikap menendang dada Tuan Jason dengan sangat kuat sampai tersungkur.
''Jangan bergerak! Kalian sudah kami kepung!" suara David dengan lantang bersama anak buahnya. Kevin menghela nafas saat mendengar suara David. David dan anak buahnya pun dengan sigap meringkus mereka semua. Keira dan Kevin kemudian saling berpelukan sangat erat. Kevin pun mengecup kening Keira dengan sangat dalam. Namun Keira melihat darah di bagian belakang kepala Kevin.
''Mas, kamu berdarah.''
__ADS_1
''Sudah lupakan saja darah ini.'' Kata Kevin dengan lemas.
''Kevin, Keira!" seru Miko.
''Ya ampun Kevin-Keira, kalian sampai seperti ini.''
''Kak, bantu aku memapah Mas Kevin.''
''Iya Kei.''
Miko kemudian menemani Keira dan Kevin menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan, keduanya saling berpegangan tangan sangat erat.
''Semoga semua peristiwa ini, ada hikmahnya untuk mereka. Semoga dengan ini mereka bisa lebih saling menjaga dan menekan ego masing-masing,'' batin Miko.
-
Sesampainya di rumah sakit, luka Kevin pun segera di tangani begitu juga dengan Keira.
''Sykurlah kalian baik-baik saja. Bagaimana luka kepalamu, Kev?'' tanya Miko.
''Sudah tidak apa-apa. Hanya terasa pusing saja.''
''Memangnya mereka ini siapa? Sampai menculik Keira?'' tanya Miko.
''Ini semua salah ku, Kak. Dia pernah menyewa jasa ku tapi aku menolak bahkan menghajarnya karena dia mencoba memperkosaku. Sepertinya dia dendam padaku. Aku juga tidak menyangka kalau dia akan melakukan ini. Karena sebelumnya tidak ada klien yang seperti ini.'' Jelas Keira dengan pandangan menunduk.
''Kak, tolong jangan katakan apapun pada Ayah ataupun Kakakku ya. Aku tidak mau membuat mereka khawatir.''
''Dan tolong Mik, jangan ekspos berita ini di media.'' Pesan Kevin.
''Iya kalian tenang saja. Nanti aku dan Krisna akan mengatasinya.'' Jelas Miko.
-
Jam pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, Keira dan Kevin akhirnya sampai di rumah. Marvel, Gina, Bi Nani dan Mbak Rima sedang cemas menunggu kabar dari Kevin dan Keira.
''Mama-Papa!" seru Marvel seraya berlari memeluk kedua orang tuanya.
''Mama dan Papa baik-baik saja kan? Aku dan semuanya sangat khawatir.'' Kata Marvel dengan air mata yang membasahi pipinya.
''Kami baik-baik saja, sayang.'' Kata Keira.
''Tapi Papa dan Mama terluka.''
''Kamu tenang saja ini hanya luka kecil,'' sahut Kevin.
''Mas, Pak Wahyu bagaimana?''
__ADS_1
''Tuan-Nona, syukurlah kalian sudah kembali dengan selamat.'' Sahut Pak Wahyu yang datang saat mendengar Tuannya telah kembali.
''Pak Wahyu apa ada luka yang serius?"
"Tenang saja Nona, saya sudah membaik. Saya lega karena akhirnya Nona dan Tuan selamat."
"Bi, tolong siapkan air panas untuk mereka mandi ya." Sahut Gina.
"Iya Nyona Gina."
"Keira-Kak Kevin, syukurlah kalian selamat. Saat Miko menelepon, aku sangat panik tapi untung saja semuanya sudah membaik. Aku seperti orang yang sesak nafas, setiap menit, detik aku terus menelepon Miko sampai Miko marah padaku." Cerita Gina.
"Siapa yang nggak marah, keadaan genting telepon melulu, kamu ini." Kata Miko pada istrinya.
"Terima kasih ya Mbak dan semuanya, kalian sudah mengkhawatirkan kami."
"Kita ini keluarga Kei, jadi sudah seharusnya seperti ini."
"Marvel, sebaiknya kamu istirahat ya. Biarkan Papa dan Mama istirahat." Kata Miko.
"Iya Om tapi aku ada permintaan untuk Papa dan Mama."
"Permintaan apa Marvel? Pasti akan Papa kabulkan."
"Beneran ya Pah, di kabulin. Awas kalau bohong!"
"Iya, Papa tidak akan bohong."
"Janji ya Pah? Tadi aku sudah mengajukan permintaan ini pada Mama tapi Mama bilang harus bilang sama Papa juga." Kata Marvel sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya kamu sebutkan, Papa janji akan memenuhinya." Kevin lalu menautkan jari kelingkingnya pada Marvel.
"Aku ingin adik, Pah. Mau cowok atau cewek, aku akan tetap menjaga dan menyayanginya sepenuh hati." Kata Marvel dengan polosnya. Seketika permintaan Marvel membuat Kevin dan Keira saling pandang lalu terdiam. Mereka tidak berkutik dengan permintaan Marvel.
"Mmmm nanti ya, kalau sudah waktunya. Kamu tidak lihat Papa dan Mama terluka seperti ini?"
"Oke baiklah! Aku akan menunggu sampai luka kalian sembuh. Setelah itu aku akan menagihnya lagi karena Papa sudah janji padaku dan mereka semua jadi saksinya."
"Om dan Tante siap jadi saksi janji Marvel dan Papa." Sahut Gina
"Saya juga siap jadi saksi, Den." Sahut Pak Wahyu.
"Saya juga siap jadi saksi, Den." Sahut Mbak Rima.
"Apalagi Bibi, Bibi pun sangat siap!" sahut Bi Nani yang baru saja keluar dari kamar Kevin untuk menyiapkan air panas.
"Baiklah Kevin, Keira, sudah banyak saksi. Jadi jangan lupakan janji itu ya." Sambung Miko. Keira sendiri bingung tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Kevin hanya bisa menghela nafas panjang karena permintaan putranya itu.
__ADS_1
Bersambung... Yukkkkk yang belum gabung di Ig @dydyailee536 merapat yaaa, makasih 🙏❤️