
Keesokan harinya, Gina dan Miko sangat terkejut saat di meja makan sudah penuh dengan makanan.
''Lho Mas, mejanya kok sudah penuh. Apa pembantu yang kita cari sudah datang?''
''Tapi aku belum mengkonfirmasi ke yayasan penyalur, Gin.''
''Mama yang memasak semua ini,'' sahut Nyonya Rosa mengagetkan Miko dan Gina. Nyonya Rosa sendiri baru saja dari taman samping rumah.
''Serius Mama semua yang masak?'' Miko seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Mamanya.
Nyonya Rosa kemudian mendekat lalu menggenggam tangan Miko dan Gina.
''Kamu tidak percaya kalau Mama memasak? Mama sengaja bangun pagi sekali. Ini masakan pertama Mama untuk menantu Mama. Semoga kamu suka ya, Gin. Ya, meskipun Mama bisanya masak itu-itu saja.''
Gina sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh Ibu mertuanya. ''Gina pasti suka kok, Mah. Gina akan menghabiskannya. Terima kasih ya Mah,'' Gina kemudian memeluk Nyonya Rosa.
''Sama-sama Gina. Mama akan menebus semua kesalahan Mama selama ini.''
''Mama tidak perlu melakukan itu, Mah. Mama tidak perlu menebus kesalahan itu. Mama tidak salah apapun.''
''Gina sikap baik kamu, semakin membuat Mama bersalah. Mama hampir saja menghancurkan pernikahan kalian karena ego Mama.'' Nyonya Rosa pun menangis tersedu. Gina tersenyum lalu menyeka air mata Ibu mertuanya. ''Semua yang Mama lakukan hanya ingin Mas Miko mendapatkan yang terbaik.''
''Iya tapi ternyata hanya kamu yang terbaik Gina.''
''Mah, sudah ya jangan nangis-nangis lagi. Miko sudah sangat lapar, kapan sarapannya di mulai.'' Kata Miko yang berusaha mencairkan suasana.
''Iya baiklah, mari kita sarapan dulu.''
Pagi hari yang menyenangkan untuk Gina dan Miko. Miko sangat bersyukur, akhirnya semua keadaan semakin membaik. Bagi Miko dan Gina ini adalah lembaran baru dalam hidup keduanya.
-
''Sayang, kamu muntah lagi?'' ucap Kevin begitu ia masuk kedalam kamar dan melihat Keira di kamar mandi.
''Namanya hamil muda ya seperti ini, Mas.''
''Tapi tetap saja aku khawatir. Ini aku sudah membuatkanmu susu.'' Kevin kemudian meletakkan susu di atas meja lalu memapah Keira menuju tempat tidur.
''Apa aku panggilkan dokter ke rumah?''
''Tidak perlu, Mas. Aku ingin keluar hari ini. Sejak kemarin kamu mengurungku di rumah.''
''Baiklah kalau memang itu kemauan kamu. Oh ya, sekalian aku bawakan sarapan untuk kamu.''
''Mas, aku tidak mau sarapan dengan itu.''
''Lho itu kan makanan sehat.''
''Iya tapi aku kemarin sudah bilang ingin makan mie ayam dekat kampus. Kamu lupa ya?'' kesal Keira.
''Ya, aku pikir kamu sudah lupa. Ya sudah, kami sekarang ganti baju kita ke rumah sakit setelah itu kita beli mie ayam.''
''Nah gitu dong Mas, bikin aku seneng. Jangan bikin aku kesel melulu,'' gerutu Keira.
__ADS_1
''Sepertinya apa yang aku lakukan selalu salah.'' Gumam Kevin dalam hati.
-
Saat Leon hendak pergi ke kantor, ia melihat sebuah mobil berhenti dengan kap mesin terbuka. Sepertinya mobil itu mogok. Terlihat seorang gadis sibuk mengotak-atik mesin padahal sebelumnya tidak mengerti apapun. Gadis itu ternyata Nadia. Leon menepikan mobilnya dan menghampiri gadis itu.
''Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?'' tanya Leon.
Nadia menoleh kearah Leon. ''Kebetulan mobil saya sedang mogok. Dan saya tidak mengerti mesin.''
''Coba saya bantu periksa.'' Pertama kali yang di periksa oleh Leon adalah air radiator. Leon tersenyum saat melihat air radiator habis.
''Air radiatornya habis, Nona. Seharusnya harus rajin-rajin mengontrolnya.''
''Namanya perempuan Tuan, tidak pernah berpikir sejauh itu.'' Kata Nadia dengan senyum kecilnya.
''Baiklah, tunggu sebentar. Kebetulan aku ada di mobil.'' Leon kemudian mengambil air radiator di dalam mobilnya yang kebetulan baru saja ia beli. Setelah mengambilnya, Leon mengisi kembali radiator mobil Nadia.
''Tolong, Nona nyalakan lagi mobilnya.''
Nadia mengangguk dan mencoba menstarter mobilnya. Mesin mobil pun menyalah kembali.
''Terima kasih Tuan sudah menolongku. Berapa aku harus menggantinya?''
''Tidak perlu Nona, itu hanya masalah kecil.''
Nadia tersenyum lalu mengulurkan tangannya. ''Saya Nadia.''
''Tidak usah terlalu formal. Panggil nama saja.''
''Baiklah kalau begitu panggil aku Leon.''
''Oke, Leon. Ini kartu namaku, aku ingin mentraktirmu makan untuk membalas kebaikan mu hari ini jika kamu ada waktu luang.''
Leon menerimanya dengan senang hati. ''Dan ini kartu namaku, kapan pun Nona ingin mentraktirku, hubungi aku. Aku permisi dulu.''
''Iya, aku akan menghuhungi mu. Sekali lagi terima kasih.''
''Sama-sama Nona.''
Leon kemudian berlalu menuju mobilnya kembali. Sembari menyetir, Leon membaca kartu nama Nadia.
''Nadia Fernanda. Oh, dia seorang jaksa? wah hebat sekali.'' Gumam Leon sambil menyimpan kartu nama dari Nadia.
Di mobilnya, Nadia melakukan hal yang sama, membaca kartu nama Leon. ''Sepertinya usianya lebih muda dariku dan dia seorang direktur. Jabatan yang bagus.''
-
Setelah dari rumah sakit memerika kandungan Keira. Kevin dan Keira akhirnya sampai di warung mie ayam dekat kampus.
''Mas, aku minta sawinya yang banyak juga ayamnya yang banyak. Pokoknya porsi yang jumbo ya.'' Bisik Keira pada Kevin.
''Iya istriku sayang.''
__ADS_1
''Oh ya satu lagi, minumnya aku mau es teh manis porsi jumbo juga.''
''Iya istriku sayang.'' Jawab Kevin dengan senyum lebarnya. Kevin segera memesankan mie ayam pesanan Keira.
Tak lama kemudian pesanan pun datang. Mata Keira membulat sempurna melihat mie ayam porsi jumbo di hadapannya. Ia kemudian melihat ke arah Kevin yang hanya memesan minuman.
''Mas, kenapa kamu tidak makan?''
''Aku masih kenyang sayang. Aku saja baru saja sarapan. Katanya kamu ingin mie ayam, sudah aku turuti dan sekarang makanlah.''
''Aku tidak mau kalau makan sendiri. Kamu harus menemani aku makan juga.''
''Aku kan sudah menemani kamu makan sayang. Aku sudah duduk di samping kamu dan menemani kamu juga. Lalu apalagi yang kurang?''
''Kurangnya karena kamu tidak mau makan dengan ku. Masa aku makan sendiri tapi kamu cuma minum. Nanti semua berpikir bahwa aku istri yang jahat, aku istri yang maruk dan aku istri yang serakah.'' Ucap Keira dengan mata berkaca-kaca.
''Ya ampun sayang, siapa yang akan berpikir seperti itu? itu hanya perasaan kamu saja. Sudah ya kamu makan, kenapa malah jadi mewek gitu.'' Kata Kevin sambil menghapus air mata Keira yang membasahi wajahnya.
''Pasti semua orang beranggapan seperti itu. Lihat saja porsi makan ku besar sekali. Minumnya juga jumbo, sedangkan kamu cuma minum satu gelas saja. Pasti mereka menganggap kamu miskin juga, Mas.'' Keira semakin meracau dengan segala persepsinya. Kevin mendengus, ia harus sabar karena mood orang hamil berbeda-beda.
''Darimana bisa mereka menganggapku miskin? kita saja naik mobil. Barang yang aku pakai branded semua, begitu juga dengan kamu.''
''Mereka mana percaya, sudah lah pasti mereka menganggapku istri yang jahat. Aku tidak mau makan!''
''Eh jangan gitu dong, sayang. Baiklah aku akan memesan juga. Supaya mereka tidak berpikir buruk tentang kamu. Kamu jangan menangis, lihat mereka semua melihat ke arah kita.''
''Habis kamu nyebelin, Mas. Kalau dari awal ikut makan juga kan enak. Sekalian yang makan disini kamu traktir semua ya? hitung-hitung sedekah rasa syukur karena aku hamil lagi.''
Lagi-lagi Kevin mendengus, permintaan Keira semakin aneh. ''Oke baiklah, akan aku lakukan untuk menyenangkan hati kamu sayang.''
''Terima kasih ya Mas, sudah mengerti perasaan aku.'' Ucap Keira sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
''Terus, selama ini aku tidak mengerti kamu gitu?'' gerutu Kevin dalam hati.
''Perhatian semuanya!" Ucap Kevin sambil berdiri. ''Semuanya yang makan disini, saya yang bayar ya. Kebetulan istri saya sedang mengandung jadi anggap saja bentuk rasa syukur dan ingin berbagi dengan kalian.''
Mereka semua bertepuk tangan dengan gembira. ''Wah, terima kaish Tuan. Semoga diberikan kesehatan ya.'' Kata salah satu pembeli.
''Amin, terima kasih.'' Kata Kevin dengan senyum lebarnya. Para pembeli yang lain pun ikut mengucapkan terima kasih dan memberikan doa untuk Keira serta calon bayinya.
''Tuh kan Mas, kita mendapat doa dari mereka semua. Itulah poin utama kita berbagi. Doa yang kita harapkan, bukan balasan yang serupa.''
''Iya istriku sayang. Sekarang di makan ya, mie nya keburu dingin.'' Kata Kevin dengan sangat lembut.
''Ah bahagianya sekali punya seperti kamu, Mas. Kamu sayang kan sama aku?''
GUBRAK! Kesabaran Kevin di uji dengan pertanyaan yang sudah jelas Keira tahu jawabannya.
''Iya sayang. Aku sayang banget sama kamu.'' Kata Kevin sambil memberikan kecupan di pipi Keira. Keira sangat bahagia dan senyum lebar mengembang dari bibirnya.
''Ya Tuhan, istriku yang satu ini memang sangat unik. Dari pertama bertemu sampai detik ini selalu membuatku darah tinggi. Untung cinta, sudah terlanjur cinta mati malah.'' Kevin merutuk dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1