Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 172 Penyelesaian Masalah


__ADS_3

''Aku tidak percaya kalau aku akan hidup miskin seperti ini,'' gerutu Mauren saat tiba di rumah kontrakan kecilnya malam itu juga. Karena semua akses kartunya telah di bekukan bersama dengan asetnya.


''Kenapa sih asprinya Papa juga tertangkap? jangan sampai setelah ini aku tertangkap juga. Setidaknya aku masih bisa bekerja dengan Kevin dan itu bisa menyambung hidupku disini.''


Mauren benar-benar merasa sial karena dalam sekejap ia mendadak miskin dan harus meninggalkan apartemen mewahnya.


Keesokan harinya ia harus pergi ke kantor dengan naik angkot. Pertama kali dalam seumur hidupnya, ia naik angkot dan berdesakan dengan banyak orang.


''Ini adalah hal paling menjijikkan untukku. Bersama manusia kampungan yang bau,'' gerutunya dalam hati sambil menutup hidungnya.


Setelah satu jam berada di dalam angkot, Mauren akhirnya sampai juga di kantor. Namun ada sesuatu yang aneh karena kantor tampak sepi.


''Kenapa kantor Kevin jadi sepi? pada kemana sih? ini kan bukan hari minggu atau tanggal merah,'' gumam Mauren. Mauren yang merasa heran lalu pergi menuju ruangan Kevin.


Tok tok tok tok! suara Mauren mengetuk pintu ruangan Kevin.


''Masuk!" sahut Kevin. Kebetulan disana juga ada Krisna dan Siska.


''Krisna, Siska, kalian tahu perusahaan kita sedang bermasalah. Kalau kalian ingin mengundurkan diri silahkan.'' Ucap Kevin. Mauren sangat terkejut mendengar apa yang ia dengar dari mulut Kevin.


''Tuan, kami tidak masalah kalau gaji kami tidak seperti biasanya.'' Sahut Krisna.


''Iya Tuan. Kita hadapi ini sama-sama.''


''Kalian tahu sendiri kan? hampir 80% karyawan aku PHK jadi aku tidak akan memaksa kalian untuk bertahan dengan ku. Apalagi kalian berdua memiliki potensi yang bagus dan pasti banyak perusahaan yang akan menerima kalian.''


''Kevin, ada apa dengan perusahaanmu?'' sela Mauren.


''Krisna-Siska, kalian silahkan keluar dulu.''


''Baik Tuan. Kalau begitu kami permisi,'' ucap Krisna. Krisna dan Siska lalu meninggalkan ruangan.


''Kevin, katakan apa yang terjadi?'' tanya Mauren sekali lagi. Kevin kemudian mengeluarkan sebuah surat untuk Mauren.


''Ini untukmu, Mauren.''


''Apa ini?''

__ADS_1


''Baca saja.'' Mauren lalu membaca isi surat itu. Mauren sangat terkejut saat membaca isi surat itu.


''Kevin, kamu serius? kamu memecatku?''


''Maafkan aku Mauren, aku sudah tidak bisa menggajimu lagi. Kamu tahu proyekku yang di sabotase itu, kerugiannya ratusan milyar, bisa di bilang aku hampir bangkrut. Sekali lagi maafkan aku, Mauren. Lagi pula kamu sudah memiliki segalanya, kamu bisa bekerja di perusahaan milikmu sendiri kan? jadi sekarang kamu tidak perlu bekerja di kantorku lagi. Sekali lagi maafkan aku, Mauren.''


''Kevin, aku mohon jangan pecat aku. Aku sangat butuh pekerjaan ini. Papa bangkrut, Kevin.''


''Apa? bangkrut? bagaimana bisa Mauren? perusahaan besar seperti itu bisa bangkrut,'' Kevin pura-pura terkejut.


''Aku tidak tahu, Kevin. Aku tidak bisa pulang bahkan sekarang aku tinggal di kontrakan kecil. Semua aset milik Papa di sita dan di bekukan, aku bingung.'' Mauren pun menangis, meratapi nasibnya kini akan seperti apa.


''Maafkan aku, Mauren. Aku sendiri juga seperti ini. Aku bahkan telah menjual beberapa aset perusahaanku untuk membayar ganti rugi dan juga membayar pesangon para karyawan. Dan ini pesangon untukmu, Mauren. Semoga ini bermanfaat.'' Ucap Kevin sambil menyodorkan amplop coklat pada Mauren. Mauren pun terpaksa menerimanya.


''Sekarang lebih baik kamu bereskan semua barang-barangmu dan pulang, Mauren. Sekali lagi maafkan aku.''


''Baiklah kalau begitu, aku permisi.'' Mauren akhirnya pasrah dengan keputusan Kevin.


''Aku harus mencari target baru, supaya aku bisa bertahan hidup. Kevin sendiri sebentar lagi akan bangkrut, apa yang bisa aku harapkan lagi darinya,'' gumam Mauren dalam hati.


-


''Maafkan Tante ya Nadia, harus menganggu waktumu.''


''Tidak apa-apa, Tante. Aku senang bisa melihat Tante sudah pulih kembali.''


''Iya itu semua berkat kamu juga. Oh ya Nadia, kenapa kamu belum menikah? maaf ya kalau pertanyaan Tante menyinggung. Karena di mata Tante kamu itu sempurna.''


Nadia tersenyum kecil. ''Belum ada yang cocok, Tante. Aku juga khawatir kalau nanti aku menikah dan punya suami, aku takut kalau suamiku tidak bisa menerima kesibukanku. Untuk saat ini aku ingin menggapai mimpi-mimpiku Tante. Karena menjadi seorang jaksa yang hebat adalah cita-citaku sejak kecil.''


''Kalau boleh tahu bagaimana perasaan kamu saat melihat Miko kembali?''


''Aku senang Tante tapi perasaan itu kan masa lalu. Lagi pula dari awal Miko sudah menolakku dan sekarang dia sudah bahagia bersama Gina.''


''Maafkan sikap Miko dulu ya. Tante sendiri sangat marah dan kecewa karena dia justru diam-diam menikah dengan Gina tanpa sepengetahuan Tante.''


''Tidak apa-apa Tante, namanya juga jodoh. Sebenarnya Papa sudah menyiapkan jodoh untukku tapi aku masih belum siap. Ya walaupun Papa ingin aku segera menikah karena Papa dan Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Maklum saja Tante, aku kan anak tunggal jadi mereka sangat ingin aku buru-buru menikah.''

__ADS_1


''Oh begitu,'' sahut Nyonya Rosa dengan kecewa.


''Oh ya Miko dan Gina sendiri bagaimana Tante? sepertinya mereka sudah siap menjadi orang tua. Apa mereka sengaja menundanya? ya apalagi Gina kan sangat sibuk sebagai seorang desainer ternama.''


''Sebenarnya Tante sudah ingin memiliki cucu tapi ya tahu sendirilah kalau mereka sama-sama sibuk, apalagi Gina.''


''Ya mungkin mereka ingin menikmati waktu berdua lebih lama dulu, sabar ya Tante. Namanya anak itu kan titipan dari Tuhan. Kita tidak bisa memintanya dengan paksa juga kan?''


''I-iya kamu benar.'' Nyonya Rosa semakin kecewa kala Nadia menyinggung soal cucu. Sudah tidak mungkin ia meminta Miko untuk menikah dengan wanita lain. Harapan Nyonya Rosa pupus untuk memiliki seorang cucu.


-


Saat jam makan siang, Keira sengaja datang ke kantor Kevin untuk membawakannya makan siang. Keira juga penasaran dengan kabar Mauren.


''Siang Mas,'' sapa Keira pada suaminya yang sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya.


''Hei, sayang, kemarilah.''


''Mas, kantormu sepi sekali. Kamu suruh kemana semua karyawan mu, Mas?''


''Mereka ada yang aku berikan voucher liburan. Ada yang aku berikan cuti dan ada yang aku suruh WFH, banyak lah alasannya,'' jawab Kevin tersenyum.


''Lalu, Mauren bagaimana?''


''Dia juga sudah aku pecat sayang dan rencana kita berhasil. Dia tadi cerita kalau dia tinggal di kontrakan kecil karena perusahaan Papanya bangkrut. Ya aku pura-pura saja tidak tahu dan berlagak bodoh.''


''Syukurlah dia mendapatkan hukuman yang setimpal.''


''Itu belum apa-apa, sayang. Belum lagi bukti kesalahannya yang lain. Bisa-bisa dia membusuk di penjara. Yang jelas untuk sekarang aku lega sekali, bebanku selama bertahun-tahun akhirnya lepas juga. Penderitaan yang mereka alami, belum seberapa jika di bandingkan dengan penderitaanku selama ini.''


''Sudah ya, Mas. Jangan ingat hal itu lagi karena itu akan membuatmu semakin sakit. Lebih baik kita fokus kedepan menata masa depan kita bersama. Masih ada Marvel, sumber kebahagiaan dan harta berharga kita satu-satunya.''


''Iya sayang, kamu benar. Bukan hanya Marvel tapi anak-anak kita yang lain nanti.''


''Amin, semoga setelah ini aku bisa segera hamil ya, Mas.''


''Iya Amin.'' Mereka berdua lalu saling berpelukan dengan sangat erat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2