Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 48 Kevin Sakit


__ADS_3

Setelah Leon selesai mengisi jadwalnya, Bu Rini lalu mengajak Keira untuk masuk ke dalam.


''Halo Kakek-Nenek yang selalu sehat dan semangat! hari ini saya mau memperkenalkan teman baru. Silahkan perkenalkan diri kamu, Keira.'' Kata Bu Rini pada Keira yang berdiri di sampingnya.


''Halo Kakek-Nenek, Oma-Opa. Perkenalkan nama saya Keira dan panggil saja Kei. Kakek dan nenek bagaimana kabarnya? sehat semua?'' tanya Keira dengan suaranha yang lantang.


''Kami sehat luar biasa!" jawab mereka semua dengan kompak.


''Kakek dan nenek semangat sekali ya. Semangat yang harus di tiru untuk kami yang muda. Senang sekali rasanya hari ini saya bisa bertemu dengan kakek dan nenek disini. Disini saya akan bergabung bersama kakek dan nenek selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Kebetulan juga ini untuk tugas akhir kuliah saya. Mohon doanya juga yakek-nek, supaya nanti saya bisa lulus dengan nilai memuaskan.''


''Amin,'' jawab mereka semua dengan kompak. Sejak Keira datang, perhatian Leon sudah teralihkan dengan adanya Keira yang berdiri di samping Bu Rini.


''Oh ya Mas Leon, apa tidak ingin berkenalan dengan Mbak Keira juga?'' goda Bu Rini sambil melirik kearah Leon yang masih duduk sembari memeluk gitarnya. Leon tersenyum lalu mendekat ke arah mereka.


''Namaku Leonardo panggil saja Leo jangan pakai Mas ya karena sepertinya kita seumuran. Senang bisa bertemu dengan mu dan aku harap kita selalu bisa membuat mereka bahagia,'' kata Leon sambil mengulurkan tangannya pada Keira.


''Iya kamu juga panggil aku Kei saja, jangan pakai Mbak. Aku juga senang bisa bertemu denganmu, Leon. Semoga kita bisa menjadi partner yang pas untuk menjaga dan merawat mereka.''


''Pasti Kei!"


Setelah berkenalan, keduanya lalu kompak mengajak para lansia itu untuk bercerita dan bercengkarama. Keira sangat senang melihat senyum terukir di bibir para lansia itu. Namun tiba-tiba saja ponsel Keira berdering, ada panggilan telepon masuk. Keira lalu sedikit menjauh untuk menerima panggilan dari Miko.


''Halo Kak Miko, ada apa?''


''Kei, aku sedang di rumah Kevin. Dia sakit Kei, badannya demam, perutnya terasa seperti di tusuk-tusuk dan beberapa kali dia muntah. Semalaman dia tidak pulang untuk mencari Marvel. Kamu bisa kan ke rumah sebentar untuk tengokin dia. Aku paksa ke rumah sakit dia tidak mau dan aku panggilkan dokter pun dia tidak mau. Sepertinya dia sedang menyiksa dirinya sendiri, Kei.'' Cerita Miko diseberang sana dengan khawatir. Mendengar cerita Miko, Keira teringat cerita Marvel yan mengatakan kalau Kevin punya penyakit maag karena pola makannya yang tidak teratur.


''Baiklah Kak, aku akan kesana. Apa aku bawa Marvel sekarang?''


''Jangan dulu, Kei. Lebih baik kamu kesini saja dulu. Tapi Marvel baik-baik saja kan?''


''Marvel baik-baik saja kok. Dia bahkan ingin di rumahku untuk sementara.''

__ADS_1


''Syukurlah kalau begitu. Kamu langsung ke rumah saja ya, Kei. Aku setelah ini ada meeting dengan klien. Maaf kalau aku harus merepotkanmu untuk mengurus Kevin, habis bagaimana lagi. Semua makanan yang di buatkan oleh Bi Nani tidak ada yang dimakan. Ya siapa tahu kamu bisa membujuknya.''


''Iya Kak. Aku kesana sekarang.''


''Terima kasih ya, Kei. Kamu hati-hati.''


''Hmmmm.'' Panggilan pun berakhir.


''Bisa sakit juga di kepala batu itu. Kenapa juga Kak Miko harus menelponku? memang aku siapa untuknya,'' gumam Keira dalam hati dengan wajah cemberutnya.


''Kei, apa ada masalah?'' tanya Leon yang tiba menepuk pundak Keira. Keira pun tercekat.


''E... tidak apa-apa kok. Leon, sepertinya aku harus pergi karena ada urusan penting. Maaf ya kalau aku cuma bisa menemani kamu sebentar. Besok aku pastikan kita full menemani mereka.''


''Tidak apa-apa, Kei. Mmmm bisa simpan nomor ponselmu di ponsel ku?'' kata Leon sambil menyodorkan ponselnya. Keira mengangguk dengan senyum. Ia kemudian menyimpan nomornya di kontak ponsel Leon.


''Sudah Leon. Aku permisi, sekali lagi maaf banget kalau aku harus buru-buru.''


''Pasti Leon. Aku akan meluangkan waktu untukmu.'' Kata Keira sambil memberikan senyuman pada Leon.


''Di luar negeri sana memang banyak yang cantik dan menarik tapi kenapa Keira justru yang bisa menarik perasaanku seperti ini?'' gumam Leon dalam hati saat menatap Keira pergi.


-


Dua puluh menit kemudian Keira sampai di rumah Kevin.


''Syukurlah Non Keira datang. Saya khawatir dengan kondisi tuan Kevin,'' kata Bi Nanti saat membukakan pintu untuk Keira.


''Memangnya sakit apa sih, Bi? kenapa tuan Miko harus meneleponku?''


''Maaf ya kalau tuan Miko merepotkan, Non. Non tahu sendiri tuan Miko punya urusan, sedangkan tuan Kevin hanya sendirian saja tidak ada yang merawatnya. Saya sama Rima juga bingung, semua makanan yang saya buat sama sekali tidak di sentuh oleh tuan. Sejak pulang tadi pagi, badannya lemas. Sepertinya tuan kepikiran tentang keadaan Den Marvel yang sampai sekarang belum di temukan.'' Cerita Bi Nani dengan nada suara sedih.

__ADS_1


''Bibi tolong telepon dokter yang biasa di hubungi oleh tuan ya? dokter keluarga ada kan, Bi?''


''Ada kok, Non. Nona Keira silahkan saja ke atas untuk melihat kondisi tuan.''


''Sebenarnya aku malas banget Bi sama kepala batu itu. Sangat menyebalkan sekali, kalau bukan karena Kak Miko, aku tidak akan pernah datang.'' Kata Keira dengan kesal.


''Yang sabar ya, Non. Bagaimana lagi? di usianya yang masih muda, Tuan Kevin harus kehilangan orang tuanya dengan cara yang tragis. Setelah itu berusaha mengelola dan mempertahankan perusahaan peninggalan orang tuanya yang saat itu hampir bangkrut. Apalagi sejak nyonya Kania meninggal, hidup tuan Kevin semakin terpuruk. Orang-orang yang dia cintai meninggalkannya begitu saja. Saya sendiri bekerja sudah lama disini, sejak tuan Kevin masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi dia sebenarnya baik bahkan tidak pernah bersikap merendahkan saya yang hanya seorang pembantu.'' Kata Bi Nani yang sedikit menceritakan tentang masa lalu Kevin yang di anggap indah oleh semua orang yang melihatnya. Mendengar cerita Bi Nani, membuat Keira menyimpan rasa iba di sudut hatinya pada Kevin.


''Bibi tenang ya, saya akan membujuknya.''


''Terima kasih ya, Non.''


''Iya sama-sama. Jangan lupa segera hubungi dokter keluarga.''


''Iya Non.''


Keira lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Kevin. Di bukanya perlahan kamar Kevin. Keira melihat si kepala batu mendadak tak berdaya di atas tempat tidur. Wajahnya tampak pucat dan sangat berbeda dengan sikap dingin dan ketusnya yang selalu Keira lihat.


''Marvel, maafkan papa,'' lirih Kevin yang mengigau memanggil nama Marvel. Keira lalu menempelkan punggung tangannya di kening Kevin.


''Astaga! badannya panas sekali,'' gumam Keira. Melihat Kevin yang demam, Keira segera turun kebawah untuk mengambilkan kompres. Tak lupa ia membuatkan jahe hangat untuk Kevin. Setelah semuanya siap, Keira kembali ke kamar sambil menunggu dokter. Keira kemudian mengompres kening Kevin dengan handuk kecil yang sudah ia siapkan.


''Marvel, kamu dimana?'' ucap Kevin yang masih tetap mengigau dengan mata terpejam.


''Hmmm kasihan juga si kepala batu. Sepertinya dia sudah menyesal,'' gumam Keira dalam hati. Saat Keira selesai memakaikan kompres di kening Kevin, ia pun beranjak pergi namun tiba-tiba tangan Kevin menariknya.


''Jangan pergi, Marvel! maaf kan papa. Papa sangat merindukanmu.'' Kevin terus meracau. Ia lalu menarik Keira dalam pelukannya. Keira sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Kevin namun dia hanya diam karena ia tahu apa yang di lakukan Kevin adalah di alam bawah sadarnya. Tubuh Keira pun terjatuh di dada bidang Kevin, sementara Kevin memeluk eraf Keira seolah Keira adalah Marvel.


''Peluk papa! maafkan papa, nak. Papa sangat mencintaimu,'' ucap Kevin lagi. Keira bisa merasakan kalau sebenarnya Kevin juga sangat mencintai Marvel. Keira sendiri tidak tahu sampai kapan Kevin akan memeluknya seperti ini. Karena saat ia berusaha bangun, Kevin terus menahannya dan tidak melepaskannya.


Bersambung..... Kok author ya yang dag dig dug, hehehehe di peluk duda tampan mempesona 😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2