
Kevin akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar Marvel. Demi Keira, ia rela tidur di bawah dengan kasur lantai. Marvel sudah tampak terlelap dalam Keira, begitu pula dengan Keira. Namun Kevin justru tak bisa tidur. Ia berusaha membangunkan Keira.
''Kei, bangun.'' Kevin menepuk lengan istrinya itu.
''Mmmm apaan sih, Mas?'' jawab Keira dengan suara malasnya.
''Sayang, ayo kita melakukannya di bawah, Marvel kan sudah tidur.''
''Mas, maaf ya. Tapi aku lelah dan mengantuk sekali.''
''Lelah? memangnya apa yang Keira lakukan seharian? seharian ini dia selalu makan dan suka sekali jajan,'' gumam Kevin dalam hati.
''Ya sudah lah kalau begitu,'' ucap Kevin pasrah.
''Sebaiknya kamu tidur saja, Mas. Besok saja ya.''
''Baiklah aku akan menunggu besok.''
Akhrinya Kevin hanya bisa pasrah dan segera memejamkan matanya.
Hari pun berganti pagi, Keira terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat nyenyak sekali. Di lihatnya Marvel masih tampak pulas, begitu pula dengan Kevin yang tertidur lelap di kasur lantai.
Keira lalu beranjak dari tempat tidurnya dan menyibak tirai serta jendela. Namun tiba-tiba saja ia merasa mual. Keira segera menuju kamar mandi. Huek! huek! huek! rasa mual itupun tak tertahan. Kevin pun terbangun saat mendengar suara Keira dari dalam kamar mandi. Ia beranjak dari tidurnya dan menghampiri Keira yang sedang berada di kamar mandi.
''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Kevin dengan wajah paniknya.
''Perut aku mual sekali, Mas. Aku muntah.''
''Pasti kamu kebanyakan makan kemarin. Aku bilang apa kemarin? segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.''
''Aku lemas sekali, Mas.'' Kevin lalu menggendong Keira menuju kamar mereka sendiri.
''Pah, Mama kenapa?'' Marvel terbangun.
''Mama mual dan muntah, Marvel. Papa bawa Mama ke kamar ya.''
''Iya Pah.'' Marvel yang merasa khawatir, setelah mencuci muka menyusul ke kamar Papanya.
Baru juga sampai di kamar, Keira merasa mual lagi. ''Mas, aku mau muntah lagi.'' Kevin yang panik, membawa Keira ke kamar mandi lagi. Disana pun Keira kembali muntah, perutnya terasa seperti di remas.
Tak lama kemudian Marvel datang.
''Pah, Mama muntah lagi?''
''Iya, Marvel. Kamu temani Mama sebentar ya, Papa telepon Om Alan dulu.''
''Iya Pah.''
Kevin yang panik kemudian menyambar ponsel yang ada di atas nakas.
''Halo Alan, cepat ke rumahku. Keira muntah-muntah pagi ini.''
''Pelan-pelan dong, Kev. Ngomong kayak di kejar maling,'' sahut Alan di seberang sana.
''Sudah, pokoknya cepat ke rumahku.'' Tut tut tut tut panggilan berakhir.
__ADS_1
''Kebiasaan banget nih orang, belum selesai udah di matiin gitu aja. Hmmm pagi-pagi muntah, feelingku akan ada berita menggembirakan.'' Gumam Alan.
Kevin kemudian menggendong Keira dan merebahkannya di atas tempat tidur. Kevin lalu membalurkan minyak angin ke perut dan telapak kaki Keira.
''Gimana sayang? udah enakan?''
''Masih mual, Mas. Tapi badan aku lemes banget dan sekarang kepalaku rasanya pening sekali.'' Jawab Keira dengan suaranya yang melemas.
''Mama aku buatkan teh hangat ya?'' sahut Marvel.
''Iya sayang. Tapi kamu bisa?''
''Kan bisa minta bantuan Bibi, hehehe.''
''Itu lebih baik. Terlalu bahaya kalau kamu menyalakan kompor sendiri.''
''Tunggu sebentar ya, Mah.''
''Iya Marvel.'' Marvel kemudian berlalu menuju dapur.
''Kamu ini jangan bandel kalau di bilangin. Gini kan efeknya. Makan sembarangan, minum sembarangan, malah kamu muntah seperti ini. Aku melarang bukan berarti aku tidak suka tapi karena aku sayang kamu. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, Kei. Tapi kamu selalu begitu.'' Cerocos Kevin panjang lebar. Keira lalu menutup bibir Kevin dengan jari telunjuknya.
''Mas, tolong ya jangan berisik. Entah kenapa suara kamu mengganggu sekali.'' Protes Keira dengan kesal.
''Kenapa sih kamu dari kemarin bawaannya jutek melulu sama aku? aku salah apa sama kamu, Kei?''
''Siapa sih yang jutek, Mas? aku biasa aja kok. Kamu saja yang sensitif.''
''Ya sudah, kamu istirahat dulu sambil menunggu Alan ya.'' Ucap Kevin mengalah. Keira hanya mengangguk dengan bibir yang cemberut.
*Satu jam kemudian....
"Ada dengan Keira, Kev?" tanya Alan begitu sampai di kamar Kevin.
"Dia tadi muntah-muntah, itu pasti karena dia kebanyakan makan. Kemarin makan seperti orang kesurupan. Setiap aku ingatkan dia selalu marah padaku, Alan. Padahal aku hanya ingin dia makan sesuai dengan porsi dan gizi." Celoteh Kevin dengan kesalnya.
"Dia itu sangat cerewet sekali Dokter. Mau makan pizza saja tidak boleh. Mau makan gorengan tidak boleh. Ini itu di larang," sahut Keira dengan kesal.
"Tenang-tenang, sudah jangan berdebat ya. Aku akan memeriksa kondisi kamu dulu, Kei. Apakah ini gangguan pencernaan atau memang ada yang lain."
"Kalau sudah seperti ini, aku yang repot, aku juga sedih, begitu juga dengan Marvel ikut sedih lihat Mamanya sakit," sahut Kevin lagi.
"Kevin, tenanglah." Ucap Alan.
"Maaf ya Kei, aku harus memeriksamu sebentar."
"Silahkan dokter."
Setelah memerika Keira, Alan tersenyum penuh makna.
"Bagaimana Alan? apa istriku baik-baik saja?"
"Iya Kevin, tidak ada hal serius yang terjadi pada Keira. Dia baik-baik saja."
"Ah syukurlah, aku lega mendengarnya." Ucap Kevin sambul mengelus dadanya.
"Tapi ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada kalian mengenai kondisi Keira," ucap Alan dengan eskpresi sedihnya. Senyum Kevin dan Keira yang mengembang mendadak hilang.
__ADS_1
"Alan, kamu jangan bercanda ya? cepat katakan apa yang terjadi pada istriku?"
Alan lagi-lagi tersenyum. "Selamat, Marvel akan punya adik!" Alan begitu antusias mengucapkan berita bahagia itu.
"Alan? kamu serius?" tanya Kevin sekali lagi.
"Dokter yakin?" sahut Keira.
"Yakin 100%. Sebaiknya kalian segera periksa ke dokter kandungan di rumah sakit ku saja. Aku akan memberikan pelayanan gratis untuk Keira."
Mata Kevin berkaca-kaca, kemudian ia memeluk Keira dengan sangat erat. "Sayang, kamu hamil. Terima kasih, Tuhan. Aku tidak menyangka Tuhan akan memberikan kita anak secepat ini."
"Mas, aku beneran hamil lagi?" Keira masih tidak percaya dengan apa yang ia alami.
"Iya sayang, kamu hamil. Mulai sekarang kamu harus hati-hati dan tidak boleh pergi kemanapun."
Air mata Keira tiba-tiba menetes begitu saja. "Ya Allah aku hamil lagi. Terima kasih, akhirnya KAU menitipkan anak untuk kami."
"Kei, karena usia kandunganmu masih sangat muda dan rawan, sebaiknya kamu banyak istirahat ya dan jangan banyak-banyak pikiran." Kata Dokter Alan.
"Iya Dokter itu pasti. Aku baru ingat kalau aku sudah telat dua minggu, Mas. Karena kejadian kemarin, aku akhirnya memilih cuek dan membiarkannya saja. Aku takut kalau aku kecewa."
"Sudah sayang, pokoknya kamu harus hati-hati ya. Kamu jangan capek-capek pokoknya ya. Kalau perlu aku akan menambah asisten rumah tangga lagi. Marvel pasti akan sangat senang karena dia akan punya adik lagi. Nanti kita beri dia kejutan setelah pulang sekolah ya, sayang." Ucap Kevin seraya memberikan ciuman bertubi-tubi untuk istrinya.
"Iya, Mas." Kevin tidak bisa menutupi perasaan bahagianya. Ia tidak menyangka bahwa Tuhan akan memberikan pengganti secepat ini.
"Sekali lagi selamat ya, Kevin-Keira. Selalu ada pelangi setelah hujan datang."
"Alan, bisakah aku meminta Dokter ke rumah saja untuk melihat kondisi Keira?"
"Tentu saja boleh."
"Sekaligus alat USG nya datangkan ke rumah. Aku tidak masalah jika harus membayarnya. Aku tidak mau istriku dan anakku kenapa-kenapa."
Alan mengehela nafas panjang. Sepertinya Kevin masih merasa trauma atas kehilangan bayinya beberapa bulan lalu. "Tidak masalah, Kevin. Biar aku yang mengurusnya."
"Mas, apa itu tidak berlebihan? itu sangat merepotkan."
"Sudah tidak apa-apa sayang. Ini demi kamu dan anak kita."
"Oh ya Kevin, sepertinya di kehamilan Keira ini kamu harus lebih sabar. Karena moodnya pasti naik turun dan itu pengaruh hormon. Kamu harus paham kalau bawaan Ibu hamil itu berbeda-beda dan tidak bisa di samakan. Jadi kamu harus lebih sabar."
"Iya Alan, aku mengerti.''
''Seandainya aku tahu kamu hamil, apapun keinginanmu akan aku turuti, sayang. Maaf ya kalau aku marah-marah."
"Tidak apa, Mas. Aku yang minta maaf karena sejak kemarin aku merasa kesal sekali sama kamu. Entahlah bawaannya pingin marah terus sama kamu."
"Baiklah kalau begitu aku permisi. Sekali lagi selamat untuk kehamilan mu Kei."
"Sekali lagi terima kasih Dokter."
"Terima kasih ya Alan untuk semuanya."
"Sama-sama. Baiklah kalau begitu aku permisi."
"Sayang, aku antar Alan ke depan dulu ya."
__ADS_1
"Iya Mas."
Bersambung.....