
Nadia tersenyum, ia menatap lekat Leon. Tangan lembutnya menyeka air mata yang membasahi wajah tampan itu. Leon lalu menggenggam tangan Nadia dan mengecupnya.
''Ternyata kamu cengeng juga ya.'' Goda Nadia.
''Bukan cengeng tapi air mata ini menjadi bukti kalau aku tulus, Nad.''
''Terima kasih ya. Terima kasih untuk semua perjuanganmu.''
''Cinta itu tidak perlu berterima kasih.'' Kata Leon.
''Aku lapar, bagaimana kalau kita makan? Aku ingin memakan masakanmu.''
''Iya, duduklah.'' Leon lalu menggeser kursi, memberikannya pada Nadia.
''Oh ya ada satu pertanyaan yang belum kamu jawab.''
''Pertanyaan yang mana?''
''Kenapa kamu meniup lilinnya?''
''Kita kan mau makan, bukankah sangat menganggu kalau ada lilin menyala di tengah meja, meskipun aku tahu kalau kamu ingin membangun suasana romantis. Tapi bagaimana aku bisa menyuapimu? Yang ada tanganku kepanasan.''
''Mmm-maksudnya kamu mau menyuapiku?'' Leon tidak percaya dengan sikap manis Nadia.
''Iya. Bukankah dengan saling menyuapi, itu lebih romantis?''
''Iya kamu benar. Aku bahagia sekali, Nad.''
''Begitu juga denganku. Baiklah, sekarang buka mulutmu, aku akan memberikan suapan pertama untuk suamiku.''
''Sebaiknya aku dulu yang menyuapi kamu. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu dengan masakan ini.''
''Baiklah.'' Nadia lalu membuka mulutnya, siap menerima suapan pertama dari Leon.
''Mmmmm enak banget. Kamu pinter banget masak. Sepertinya aku harus banyak belajar dari kamu.''
''Aku juga ingin masak masakan kamu, boleh kan?''
''Tapi masakan ku ala kadarnya. Aku lebih sering beli.''
''Tidak apa, Nad. Kalau kamu yang memasak, pasti semuanya terasa sangat enak.''
''Hmmm dasar gombal.''
Setelah selesai makan malam, Leon kemudian berpamitan untuk pulang.
''Aku pulang dulu ya.''
''Iya, kamu hati-hati ya.''
''Mmmm aku boleh memelukmu?'' tanya Leon.
''Boleh.'' Jawab Nadia malu-malu. Leon dengan canggung memeluk Nadia. Kemudian Leon memberikan kecupan di kening Nadia dengan lembut.
__ADS_1
''Aku pulang ya.''
''I-iya hati-hati.'' Nadia menjadi gugup setelah merasakan Leon mengecup keningnya.
''Kamu segera istirahat ya. Besok jam makan siang, aku akan membawamu menemu kedua orang tuaku.''
''Iya Leon.'' Jawab Nadia. Namun Leon masih mematung di ambang pintu. Rasanya Leon enggan pergi meninggalkan Nadia.
''Nad, aku boleh memelukmu lagi?'' tanya Leon dengan gugup. Kali ini Nadia yang mendekat, memeluk Leon terlebih dahulu. Nadia sendiri merasa sangat bahagia karena tidak ingin waktu berlalu begitu saja, begitu pula dengan Leon. Leon sangat senang karena Nadia memeluknya terlebih dahulu.
''Aku bisa mendengar degup jantung kamu. Kencang sekali, Leon.''
''I-iya. Jantungku selalu berdegup saat bersama kamu, Nad.''
''Biarkan aku mendengarnya untuk beberapa menit.'' Kata Nadia.
''Dengan senang hati.'' Jawab Leon. Mereka berdua saling berpelukan dengan waktu cukup lama. Leon tidak ingin malam itu berlalu begitu saja. Setelah cukup lama, Nadia lalu melepaskan pelukannya.
''Sekarang kamu boleh pulang.'' Sebuah kecupan mendarat di pipi Leon. Tubuh Leon mendadak kaku mendapat kecupan dari Nadia.
''I-iya. Ak-aku pulang.'' Leon menjadi tergagap.
''Hati-hati ya calon suamiku.''
''Pas-pasti calon istriku.'' Jantung Leon rasanya ingin copot mendapat perlakuan manis dari Nadia. Tadi Nadia hampir meremukkan jantungnya sesaat namun seketika Nadia membawanya terbang ke awan. Malam yang indah bagi Leon karena perjuangan tidak sia-sia.
-
''Pah-Mah, aku sudah membawa wanita yang aku cintai.'' Ucap Leon kepada Papa dan Mamanya.
''Kamu cantik sekali, Nadia. Nama Tante Lita, senang sekali bertemu denganmu.'' Ucap Nyonya Lita seraya membelai wajah Nadia.
''Selamat datang di keluarga kami, Nadia. Nama Om, Handoko. Om tidak menyangka Leon akan membawa calon istri secepat ini.'' Ucap Tuan Handoko dengan tawa kecilnya.
''Sudah Pah, sebaiknya kita makan siang saja dulu. Nanti ngobrolnya di lanjut lagi.'' Kata Nyonya Lita.
''Iya-iya Mah.'' Ucap Tuan Handoko. Nyonya Lita lalu mengajak Nadia menuju ruang makan.
''Ini semua Tante yang masak. Tante memasak ini khusus untuk menyambut kamu. Karena Leon bilang kalau dia mau ajak kamu ke rumah.''
''Saya minta maaf ya Om-Tante. Karena waktu itu saya tidak bisa datang. Saat itu saya sedang menangani kasus, di tambah Leon sangat mendadak memberitahu saya.''
''Tidak apa-apa Nadia. Kami mengerti profesi kamu sebagai seorang jaksa. Tentu saja mencari waktu yang longgar cukup sulit.'' Sahut Tuan Handoko.
''Iya Nadia, kami tidak apa-apa. Walaupun saat itu kami sangat menanti kehadiran kamu. Tapi saat itu ada yang sangat sedih. Dia murung dan tidak mau keluar kamar.'' Kata Nyonya Lita sambil melirik kearah Leon.
''Mama ini apaan sih, buka kartu aja.'' Kata Leon malu-malu.
''Ya, memang kenyataan kan?'' goda Nyonya Lita terkekeh.
''Sebenarnya Om sudah sangat memaksa Leon untuk menikah karena dia di langkahi oleh adik perempuannya. Apalagi sekarang adik perempuannya juga sudah mempunyai seorang anak.''
''Jadi Leon punya adik ya, Om? Lalu dimana sekarang? Kenapa tidak kelihatan? Leon belum cerita apa-apa pada saya.''
__ADS_1
''Saudara kembar lebih tepatnya tapi tidak identik. Namanya Lily, dia sekarang menetap tinggal di Amerika bersama suami dan anaknya.'' Jelas Tuan Handoko.
''Maaf ya Om, Leon belum cerita tentang itu pada Nadia.''
''Iya karena aku terlalu fokus mengejar dan memperjuangkan kamu, Nadia.'' Celetuk Leon dengan sedikit kesal.
''Namanya cinta harus di perjuangkan lah, Leon. Kamu tidak tahu saja, bagaimana usaha Papa kamu dulu untuk mendapatkan hati Mama. Berkali-kali Mama tolak sampai akhirnya Mama luluh dan menerima cinta Papa.''
''Mama ini, seharusnya cerita tentang penolakan di skip saja, Mah. Malu di ketawain Nadia.'' Kata Tuan Handoko.
''Tidak apa-apa, Om. Itu artinya Om memang sangat mencintai Tante dan menganggap Tante adalah wanita yang sangat berharga. Jadi sudah jelas bagaimana Om terus maju memperjuangkan Tante. Dan Tante akhirnya luluh juga.'' Sambung Nadia.
''Oh ya Nadia, kapan kami bisa menemui orang tua kamu untuk melamar secara resmi?'' tanya Tuan Handoko. Nadia terdiam sejenak lalu menunduk, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
''Kenapa Nadia? Apa ucapan Om menyinggungmu?''
''Tidak Om tapi saya yatim piatu.''
''Maafkan Om ya.''
''Tidak apa-apa Om.''
''Nadia, kasihan sekali kamu sayang. Lalu kamu tinggal dimana dan bersama siapa?''
''Saya tinggal di apartemen sendirian Tante. Saya sudah terbiasa hidup mandiri, lebih tepatnya harus mandiri.''
''Kamu memang sangat hebat ya. Pantas saja Leon mati-matian memprjuangkan kamu. Bagaimana kalau kalian langsung menikah saja?'' kata Nyonya Lita.
''Mah, menikah itu butuh persiapan. Apalagi dengan pekerjaan Nadia ini, masih ada kasus yang harus ditangani.''
''Mama kasihan saja dengan Nadia kalau dia tinggal sendiri. Kalau kalian menikah, Nadia tidak sendiri lagi.''
''Bagaimana dengan kamu Nad? Aku sendiri sangat khawatir kalau kamu tinggal sendirian.'' Kata Leon pada Nadia.
''Soal itu, aku bisa bicara dengan atasanku dulu, Leon. Tapi usia saya dengan Leon terpaut 5 tahun.''
''Nadia, cinta itu tidak memandang usia. Selisih 5 tahun itu bukan suatu masalah. Om dan Tante tidak pernah memaksakan Leon atau Lily dalam memilih pasangan. Asalkan mereka berdua bahagia, kami juga akan bahagia sebagai orang tua.'' Jelas Nyonya Lita. Nadia merasa lega karena orang tua Leon memang sangat baik.
''Baiklah Om-Tante, Nadia ikut saja kapan Leon siap menikahi Nadia.''
''Leon, Nadia sudah siap. Tinggal kamu bagaimana?'' tanya Tuan Handoko pada putranya.
''Baiklah Pah, lebih cepat lebih baik.'' Kata Leon.
''Tapi setidaknya selesaikan dulu pekerjaanmu ya, Nad. Aku ingin kita menikah dengan tenang tanpa terbayang-bayang kasusnya Bu jaksa yang satu ini.'' Ucap Leon dengan senyum lebarnya.
''Iya kamu tenang saja, terima kasih ya untuk pengertiannya.''
''Iya sama-sama. Terima kasih ya Pah-Mah untuk restu yang Mama dan Papa berikan.''
''Sama-sama Nak. Asalkan kamu bahagia, kami juga bahagi.'' Kata Nyonya Lita.
''Baiklah Papa akan mencari hari baik untuk kalian.''
__ADS_1
Dan makan siang itupun berakhir dengan hangat. Nadia sangat bahagia bisa diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Leon. Apalagi orang tua Leon yang tidak terlalu mengatur siapa pasangan anak-anaknya. Bahkan dengan tangan terbuka menerima pasangan anak-anaknya.
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️