Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 280 Kecupan


__ADS_3

''Sudah meetingnya? Sampai lupa ya ada aku disini.'' Protes Leon setelah pengacara itu pergi.


''Leon, aku sudah bilang kalau aku kerja. Kamu sendiri kan yang ngotot untuk ikut.''


''Iya tapi kenapa pakai acara pelukan segala? Sedangkan kita saja tidak pernah berpelukan seperti itu.''


''Astaga, pelukan juga biasa tidak ada rasa apapun. Sudah ya aku malas berdebat. Kasus ini sungguh membuatku pusing. Aku mau kembali ke kantor.''


''Tapi kita belum makan siang, Nad.''


''Aku tidak lapar!"


''Nad, kamu harus makan. Banyak orang yang membutuhkan bantuanmu. Maaf kalau tadi aku marah itu karena aku cemburu.'' Jawab Leon apadanya. Nadia menyembunyikan senyumnya mendengar apa yang Leon ucapkan.


''Baiklah kita mau makan dimana?''


''Terserah kamu saja.''


''Bagaimana kalau disini saja?''


''Tidak mau! Bayang-bayang kebersamaanmu dengan pengacara tadi membuatku trauma.'' Ucap Leon seraya berlalu.


Nadia tersenyum geli mendengar apa yang Leon ucapkan. ''Dasar Leon! Memang apa yang aku lakukan sampai membuatnya trauma. Dasar bocah.'' Gumam Nadia dalam hati.


Akhirnya Nadia mengajak Leon ke sebuah resto Jepang. Sesampainya disana, Nadia dan Leon segera memesan makanan. Tak butuh waktu lama, akhirnya pesanan keduanya pun di sajikan.


''Nadia, kalau boleh tahu sejak kapan kamu dan pengacara itu kerja sama?''


''Sudah lama sekali. Memangnya kenapa?''


''Mmm tidak apa-apa. Apa sebelum kita bertemu?''


''Iya, sebelum kita bertemu. Setiap aku punya klien yang tidak mampu untuk membayar pengacara, dia dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu. Dia sangat baik dan jiwa sosialnya sangat tinggi. Selain itu dia juga tampan bukan?'' cerita Nadia dengan wajah cerianya. Leon pun tampak kesal mendengar Nadia memuji pria itu dihadapannya


''Lalu dia single, duda atau sudah menikah?'' tanya Leon semakin penasaran.


''Dia single, memangnya kenapa lagi?''


''Ti-tidak apa-apa. Sejak kapan kalian dekat?''


''Sejak lama. Di teman SMA ku dan aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya kembali.''


''Gawat nih! Apa Nadia belum menerimaku karena pria itu?'' gumam Leon dalam hati penuh tanya.


''Apa itu penyebab kamu belum menerima ku?'' selidik Leon.

__ADS_1


''Tidak ada hubungannya dengan dia, Leon.''


''Lalu kapan aku menerima jawabannya?''


''Kamu bilang akan menungguku sampai siap?''


''I-iya sih.'' Jawab Leon.


''Huft Nadia sangat rumit dan sangat sulit di taklukan. Tapi aku terlanjur mencintainya jadi aku harus memperjuangkannya,'' batin Leon. Nadia sangat puas mengerjai Leon hari ini. Entah kenapa melihat ekspresi cemburu Leon, membuat Nadia merasa bahagia.


''Oh ya setelah ini, aku antar kamu kembali ke kantor ya. Aku ingin berkenalan dengan rekan kerjamu.''


''Hah? Berkenalan dengan rekan kerjaku? Untuk apa?'' Nadia terkejut dengan ucapan Leon.


''Ya aku ingin memperkenalkan diri sebagai calon suami mu.'' Celetuk Leon.


''Untuk apa Leon? Aku sangat tertutup di kantor.''


''Tidak masalah. Aku tidak ingin ada yang mengganggumu.''


''Astaga, kenapa kamu jadi posesif begini?''


''Aku tidak posesif. Aku hanya ingin mereka tahu kalau kamu adalah milikku.''


''Tapi aku kan belum memberikan jawaban.''


''Percaya diri sekali kamu ya?''


''Harus dong, Nad. Aku akan membuktikan kalau perasaanku ini sungguh-sungguh bukan hanya sekedar pelampiasan saja.''


Nadia terkejut namun juga bahagia melihat dan mendengar kepercayaan diri Leon. Saat ini Nadia hanya ingin melihat perasaan Leon yang sesungguhnya. Sesampainya di kantor, Leon dengan percaya dirinya menggandeng tangan Nadia menuju ruangannya. Beberapa orang yang tergabung dengan tim Nadia, terkejut ketika seorang Nadia, Ibu jaksa yang terkenal tegas dan dingin datang dengan seorang pria muda.


''Halo semuanya!'' sapa Leon dengan senyum lebarnya.


''Halo juga.'' Jawab empat orang tim dengan semangat. Empat tim yang terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita. Satu dari mereka mahasiswa magang, yang lainnya usianya sebaya dengan Nadia.


''Si-siapa Bu Nadia?'' tanya Tio penasaran.


''Tanyakan saja padanya, Tio.'' Jawab Nadia dengan entenganya.


''Oh ya perkenalkan namaku Leon. Aku calon suami dari Ibu Jaksa Nadia yang cantik dan baik hati ini.'' Ucap Leon dengan begitu percaya diri. Mereka berempat melongo mendengar jawaban Leon. Mereka tidak menyangka bahwa seorang pria muda seperti Leon bisa meluluhkan hati Nadia. Leon lalu bergiliran menjabat rekan kerja Nadia.


''Tio.''


''Marina.''

__ADS_1


''Adit, aku mahasiwa magang Pak Leon.''


''Senang bertemu denganmu, Adit.'' Ucap Leon.


''Robi.''


''Senang bertemu kalian semua.''


''Kita harus memanggil nama atau Pak?'' tanya Marina.


''Panggil Leon saja. Usiaku saja masih 23 tahun.'' Jawab Leon dengan jujur.


''Wah? Berondong nih,'' kata Marina dengan mata berbinar.


''Wah, Bu Nadia hebat bisa mendapatkan yang muda.'' Sahut Robi.


''Bagaimana kamu bisa meluluhkan hati Bu Nadia, Leon?'' tanya Tio penasaran.


''Kita tidak beda jauh ya Pak. Aku panggil Kakak saja ya,'' sambung Adit. Leon tersenyum melihat respon mereka semua yang sangat terkejut dengan usianya yang masih muda.


''Ehem!'' suara deheman Nadia, membuat rasa penasaran mereka semua sirna. Mereka mendadak diam seribu bahasa.


''Ayo kembali ke meja kalian masing-masing. Bukan saatnya bergosip.'' Ketus Nadia.


''I-iya Bu Nadia,'' jawab mereka semuanya dengan kompak. Nadia lalu menyeret Leon keluar dari ruangannya.


''Sudah puas berkenalan dengan mereka?''


''Sudah-sudah. Mereka sangat ramah ya.''


''Setelah ini mereka pasti akan membuliku karena aku memiliki suami yang usianya jauh dari ku.''


''Jauh bagaimana? Selisih 5-6 tahun saja tidak masalah Nadia. Apalag arti sebuah usia, aku tidak memikirkan hal itu. Sepertinya mereka semua di bawah kendalimu. Dan sepertinya kamu senior yang menakutkan.'' Ucap Leon terkekeh.


''Bukan menakutkan. Hanya bersikap tegas saja.'' Kata Nadia.


''Baiklah kalau begitu semangat kerjanya. Sepertinya kamu juga harus lebih banyak senyum dengan mereka. Mereka adalah tim mu. Tanpa mereka kamu tidak akan bisa kerja sendiri. Sesekali ajak mereka keluar untuk makan bersama. Jangan terlalu kaku, Nadia. Kalau suasananya lebih cair, pekerjaan juga akan terasa lebih ringan. Aku tahu kamu melakukan ini karena kamu merasa ini tanggung jawab yang besar tapi ada kalanya kita juga rileks. Mereka juga butuh bercanda juga. Jadi tidak ada salahnya kan ikut bercanda dengan mereka. Apalagi dengan berbagai macam kasus yang kalian tangani, tentu saja itu menguras emosi, pikiran dan tenaga.''


''Apa kamu juga seperti itu dengan para karyawan kamu?''


''Iya tentu saja. Ramah itu poin utama. Ada kalanya serius, ada kalanya bercanda. Kita membangun suasana pekerjaan dengan cara kekeluargaan, supaya semuanya bisa di jalankan dengan muda dan menyenangkan. Kalau kita care dengan mereka, mereka juga akan care dengan kita.''


''Leon sangat bijak juga ternyata,'' gumam Nadia dalam hati.


''Jadi jangan terlalu serius bekerja ya calon istriku,'' ucap Leon sambil membelai wajah Nadia.

__ADS_1


''Aku ke kantor dulu ya, kamu semangat.'' Sambung Leon. Leon kemudian memberikan kecupan di kening Nadia. Leon pun berlalu. Nadia seketika terpaku mendapat kecupan dari Leon. Kecupan pertama yang ia dapat dari seorang pria dan itu membuat jantungnya berdebar sangat cepat.


Bersambung.....


__ADS_2