Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 194 Ujian Kehidupan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah mengawali hari Tessa, seperti biasa ia selalu bersemangat membuatkan sarapan untuk putra semata wayangnya itu. Namun sejak kembali dekat dengan Johan, ia harus membuat porsi lebih banyak.


''Selamat pagi, Tessa.'' Suara Johan mengagetkan Tessa yang sedang sibuk memasak.


''Selamat pagi Jo.''


''Apa Anrez sudah bangun?''


''Sepertinya dia belum mau bangun dan menunggu kamu membangunkannya.''


''Baiklah kalau begitu aku akan membangunkannya.'' Ucap Johan seraya berlalu. Ya, sejak mereka semakin dekat apalagi Johan yang mengajak Tessa berkomitmen, setiap pagi Johan selalu sarapan di rumah Tessa sembari membantu Tessa mengurus Anrez untuk bersiap ke sekolah.


''Anrez, banguan jagoan.'' Kata Johan sambil memberikan kecupan di pipi anak itu. Mendengar suara Johan, Anres langsung membuka matanya dan tersenyum lebar.


''Aku sudah bangun, Om. Hanya saja aku menunggu Om membangunkanku.''


''Dasar kamu nakal ya! sengaja membuat Mama menjadi kesal?''


''Hehehe iya Om. Habisnya Mama kalau pagi berisik sekali.''


''Baiklah sekarang ayo bangun anak tampan.'' Anrez kemudian bangun dan langsung naik ke punggung Johan. Johan kemudian membawa Anrez ke kamar mandi. Melihat Johan dan Anrez semakin kompak, Tessa bahagia sekali.


''Anrez jangan lupa gosok gigi,'' sahut Tessa dengan suara meninggi dari dapur.


''Iya Mama.'' Jawab Anrez.


''Tuh kan Om, Mama selalu seperti itu. Padahal aku selalu ingat dan tidak pernah lupa untuk gosok gigi.''


''Itu artinya Mama sayang sama kamu. Mama berusaha mengingatkan kamu supaya kamu tidak lupa.'' Kata Johan sambil membantu Anrez untuk keramas.


''Om tolong ya jangan sakiti Mama. Jaga Mama dan sayangi Mama ya Om. Sudah cukup Mama menderita karena Papa. Hampir setiap hari aku melihat Mama menangis dan di pukuli oleh Papa.'' Mendengar apa yang di katakan Anrez, hati Johan terenyuh.


''Iya, Om pasti akan menjaga Mama dan juga menyayangi. Ummmm bukan hanya Mama tapi kamu juga.''


''Terima kasih ya, Om. Sejak bertemu dengan Om, aku bisa melihat Mama tersenyum lagi. Sepertinya Mama sangat bahagia sekali. Begitu juga dengan aku, aku juga bahagia sekali karena Om akan menjadi Papaku.''


''Om juga bahagia bisa bersama kalian. Baiklah selesaikan mandimu, Om akan siapkan seragammu ya.''


''Siap Om!"


Beberapa menit kemudian, Anrez, Johan dan Tessa sudah duduk bersama di ruang makan yang kecil. Tessa tampak telaten melayani Johan dan Anrez. Tessa menuangkan nasi, lauk dan sayur ke dalam piring mereka berdua.


''Terima kasih, Mama.'' Kompak Johan dan Anrez bersamaan. Tessa tersenyum lebar melihat kekompakan mereka berdua. ''Sama-sama.''


Setelah menyelesaikan sarapan, Anrez siap berangkat sekolah bersama dengan Johan dan Tessa. Saat mereka bertiga keluar rumah dan hendak masuk ke dalam mobil, Tessa di kejutkan dengan kedatangan mantan suaminya.

__ADS_1


''Mas Rendy,'' gumam Tessa.


''Tessa-Anrez.''


''Papa? untuk apa Papa kesini?'' kata Anrez dengan nada tidak suka saat melihat Papanya.


''Untuk apa kamu datang kemari Mas? kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Dan darimana kamu tahu aku disini?''


''Aku sengaja mencarimu karena aku ingin menemui Anrez.''


''Setelah bertahun-tahun, kamu baru ingat anakmu? apa selingkuhanmu mencampakkanmu? makanya kamu mencari Anrez.''


''Mah, sebaiknya kita berangkat sekarang nanti kita terlambat.'' Kata Anrez sambil menggandeng tangan Tessa dan Johan. Johan hanya diam dan tidak mau ikut campur urusan mereka.


''Oh jadi karena sudah ada anak ingisan itu? kamu dan Anrez bahkan tidak melihatku?'' ucap Rendy dengan nada sinis. Tessa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap mantan suaminya itu.


''Untuk apa aku dan Anrez melihatmu? kamu saja tidak pernah melihat kami. Sebaiknya pergi dan jangan ganggu kami. Aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini.'' Kata Tessa sambil menekan dada Rendy dengan telunjuknya.


''Sudah berani melawanku rupanya,'' sikap tempramen Rendy tersulut. Ia meraih tangan Tessa dan mencengkeramnya erat. Tessa merintih sakit, melihat itu Johan juga mencengkeram erat tangan Rendy.


''Lepaskan! jangan kasar dengan perempuan.'' Kata Johan dengan geram.


''Jangan ikut campur urusanku!''


''Tentu saja aku harus ikut campur karena aku calon suaminya.'' Johan mengeratkan rahangnya lalu memelintir tangan Rendy kebelekang.


Rendy meringis kesakitan sambil memijit lengannya. Ia kemudian berusaha berdiri dari jatuhnya.


''Tessa sudah mulai sombong rupanya. Awas saja!" ucapnya dengan penuh amarah.


Saat dalam perjalanan bahkan sampai menurunkan Anrez di sekolah, Johan memperhatikan Tessa yang duduk di sampingnya itu tampak gelisah. Terlihat tangan Tessa seperti gemetar. Sejujurnya Tessa masih menyimpan trauma saat bertemu mantan suaminya. Apalagi dengan kekerasan fisik dan batin yang selalu ia terima. Membutuhkan sebuah keberanian untuk bisa menghadapi manusia seperti Rendy.


''Tessa, apakah kamu baik-baik saja?''


''I-iya,'' jawab Tessa tergagap. Tangan kiri Johan kemudian meraih tangan Tessa dan ia menggenggamnya.


''Tenanglah tidak perlu khawatir. Ada aku disini, Tes. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu juga Anrez.''


''Aku takut kalau dia akan menyakiti aku dan Anrez.''


''Tessa, buang rasa takut kamu ya. Setidaknya kamu harus kuat dan berani di hadapan Anrez. Karena dia sangat khawatir dan sangat sayang padamu. Sekarang sudah ada aku disini jadi aku pasti akan menjaga kamu.''


''Dia itu bukan hanya tempramen tapi lebih seperti seorang psikopat. Bodohnyanya aku yang dulu terjebak dengan ucapannya.''


''Sudah jangan di ingat lagi ya. Lebih baik kamu fokus dengan masa depan Anrez dan juga masa depan kita.'' Ucap Johan seraya mengecup punggung tangan Tessa yang berada dalam genggamannya.

__ADS_1


-


''Kak, terima kasih ya sudah menjemputku. Aku senang sekali dan aku sangat merindukanmu.'' Kata Laras sambil memeluk lengan Krisna yang tampak fokus menyetir.


''Sama-sama. Sebenarnya semalam aku ingin ke rumah hanya untuk melihatmu tapi kamu pasti juga sudah tidur.''


''Iya sih, aku jam 9 sudah tidur. Aku pulang dari butik, langsung tepar.''


''Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bilang saja ya. Ya kebutuhan butik kamu tentunya.''


''Iya Kak, aku pasti bilang kok. Oh ya Kak, terima kasih ya untuk makan siangnya kemarin.''


''Makan siang? makan siang apa?'' Krisna tampak bingung dengan ucapan Laras.


''Ih masa Kakak lupa sih? kemarin bukannya Kakak mengantar makan siang untukku lewat g-food ya?''


''Tidak. Aku tidak mengirim makan siang untuk kamu. Untuk mengirim pesan kamu saja, aku harus mencuri waktu dan mencuri mata Tuan Kevin. Kemarin saja aku dan Tuan Kevin sampai tidak sempat makan siang.''


''Lho, terus siapa yang mengirim makan siang untukku? ada kartu ucapannya juga kok.'' Laras semakin bingung apa yang terjadi kemarin.


''Apa kartu ucapannya masih ada?'' tanya Krisna.


''Ada kok, ini aku simpan di tas. Aku pikir itu dari Kakak.'' Laras kemudian mengeluarkan kartu ucapan itu dan memberikannya pada Krisna. Krisna terdiam sejenak melihat isi tulisan kartu itu.


''Memang dia mengirim makanan apa?''


''Makanan favorit aku semua. Ada dimsum, martabak coklat keju dan es teler. Aku juga sempat heran karena Kakak kan belum tahu makanan favoritku apa. Jadi aku pikir Kakak asal beli atau tanya sama Papa dan Mama. Tapi percuma juga Papa dan Mama tidak tahu. Yang mereka tahu aku pemakan segala,'' ucapnya terkekeh.


''Apa kamu sedang dekat dengan pria lain akhir-akhir ini?'' selidik Laras.


''Tidak Kak. Sumpah, aku tidak dekat dengan siapapun.''


''Coba kamu ingat-ingat lagi. Aku, Mama dan Papa kamu saja tidak tahu makanan favorti kamu, sedangkan pengirim makanan itu tahu. Pasti dia adalah seseorang yang pernah ada di hidup kamu dan sudah mengenal kamu sangat dalam. Apa Johan atau Nyonya Keira?''


Laras terdiam sejenak dan berfikir. ''Kalau memang Johan atau Keira, mereka pasti langsung menelepon tanpa memberi kartu ucapan. Justru aku pikir itu Kakak karena Kakak mengirim pesan saat aku menerima makanan itu.''


''Baiklah kita lihat saja nanti. Kalau memang ada yang mengirim kamu sesuatu lagi, segera hubungi aku ya.''


''Iya Kak. Tapi kenapa aku jadi takut ya? apa ada orang yang berniat jahat dengan ku?''


''Kamu tenang ya, ada aku disini. Kalaupun ada yang mengirim sesuatu kamu terima saja, oke. Setelah itu segere telepon aku.''


''Iya Kak.''


Tak di pungkiri Krisna merasa sangat khawatir. Namun ia berusaha tenang untuk mencari tahu siapa orang yang mengirimkan makanan untuk Laras. Dan tiba-tiba Laras teringat sesuatu.

__ADS_1


''Apakah itu Andy? selain Johan dan Keira, Andy lah yang tahu.'' Gumam Laras dalam hati. Mendadak ia pun menjadi gelisah namun ia berusaha tenang untuk mencari tahu apakah itu benar-benar Andy atau bukan.


Bersambung..... Yukkkk Gaskeeennn like, komen dan votenya ya, terima kasih 🙏❤️


__ADS_2