
Akhirnya Miko dan Gina sampai juga di rumah sakit. Mereka segera menuju ruangan dimana Nyonya Rosa sedang di rawat.
''Kei, bagaimana kondisi Mama?'' tanya Miko saat ia melihat Keira duduk di bangku depan kamar Nyonya Rosa. Keira lalu berdiri dari duduknya saat melihat Miko dan Gina datang.
''Tante Rosa masih belum mau makan. Sepertinya Tante Rosa sedang menunggu kedatangan Kak Miko.''
''Mama ini memang keras kepala sekali. Kei, terima kasih ya kamu sudah menjaga Mama dengan baik. Sebaiknya sekarang kamu pulang dan istirahat, kamu sendiri juga belum pulih total.''
''Iya Kei, Mas Miko benar. Kamu sebaiknya pulang saja. Lagi pula sudah ada kami disini, kasihan Marvel. Dia pasti menunggumu di rumah.'' Sambung Gina.
''Baiklah kalau begitu, Mbak. Aku pulang dulu ya. Semoga Tante Rosa secepatnya pulih dan bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat.''
''Amin, makasih ya Kei.'' Kata Gina. Keira lalu memeluk Gina dengan erat. Gina merasa bingung dengan sikap Keira yang menurutnya aneh itu. Tapi disisi lain, Keira justru merasa sedih melihat Gina. Ia hanya bisa berdoa supaya rumah tangga Gina dan Miko baik-baik saja. Setelah berpamitan, Keira pun lekas pulang.
Setelah pergi, Miko dan Gina pun segera masuk.
''Mama,'' panggil Miko pelan. Nyonya Rosa senang sekali saat melihat Miko datang. Nyonya Rosa merentangkan tangannya untuk meminta pelukan dari putranya itu. Miko mendekat dan memeluk Mamanya.
''Miko, kamu sudah pulang?''
''Iya Mah. Kevin yang meneleponku. Kenapa Mama seperti ini sih? Penyakit Mama kambuh lagi?''
''Ya begitulah,'' ketus Nyonya Rosa.
''Mah, Gina suapi Mama ya? Kata Keira, Mama belum mau makan. Atau Mama mau makan yang lain?''
''Makan apa? Kamu saja tidak bisa memasak. Masakan itu-itu saja, bosan rasanya.''
Gina hanya bisa diam dan menahan semua ucapan Nyonya Rosa yang menyakitkan.
''Lalu, apa yang Mama inginkan sekarang? Mama mau makan apa biar Miko belikan.''
''Mama ingin makan bubur sumsum buatan Nadia.''
Miko dan Gina kompak saling melempar pandangan mendengar permintaan aneh Mamanya.
''Mah, Nadia itu bukan siapa-siapa kita. Jadi kita tidak boleh menyusahkannya.''
''Tapi dia justru yang paling peduli dengan Mama saat Mama berada di luar negeri. Kalian mana peduli sama Mama, selalu sibuk dengan urusan masing-masing.''
''Mah, biar Gina buatkan ya.''
''Tidak usah. Mana bisa kamu masak bubur itu. Berkali-kali membuatnya selalu gagal dan kosong.''
Lagi-lagi Gina hanya bisa terdiam dan harus menahan ucapan yang menyakitkan itu.
''Miko, tolong telepon Nadia. Dia sudah tahu kalau Mama sakit seperti ini, apa yang Mama butuhkan.'' Bujuk Miko. Miko manatap kearah istrinya, Gina tersenyum sambil mengangguk. Meskipun saat itu hati Gina terasa sangat sakit tapi semua itu ia tahan demi rasa cintanya pada Miko. Setelah mendapat ijin dari Gina, Miko kemudian berjalan keluar ruangan untuk menelepon Nadia.
__ADS_1
''Halo,'' sapa Nadia di seberang sana.
''Nadia, ini aku Miko.''
''Oh iya Miko, ada apa? Apa ada yang bisa aku bantu?''
''Nadia, apakah kamu sedang sibuk?''
''Tidak, kebetulan aku masih di rumah. Ada apa?''
''Mama sedang sakit dan dia ingin bubur sumsum buatanmu.''
''Tante Rosa sakit? Sakit apa Mik?''
''Ya biasalah tensi dan kolestrolnya naik, di tambah Mama demam.''
''Ya ampun, kenapa kamu tidak memberiku kabar, Mik?''
''Aku saja harus menyudahi bulan maduku bersama istriku karena mendapat kabar Mama opname. Kamu bisa kan? Aku akan membelinya, supaya waktumu tidak terbuang sia-sia begitu saja. Tidak mungkin seorang jaksa beralih profesi menjadi koki.''
Nadia tertawa mendengar apa yang di ucapkan Miko. ''Tidak usah membayarnya. Baiklah aku akan membuatkan bubur sumsum untuk Tante Rosa. Tolong kirim alamat rumah sakitnya ya.''
''Iya, nanti aku kirim lewat pesan saja ya.''
''Oke.''
''Sama-sama, Mik.''
''Ya sudah kalau begitu, aku tunggu di rumah sakit, bye.'' Panggilan berakhir. Setelah selesai menelepon, Miko segera masuk kembali ke ruangan.
''Nadia akan datang kemari, Mah. Mama sabar ya.''
''Iya. Kamu tahu Nadia itu pintar sekali memasak. Bukan hanya berkarir tapi dia sangat pintar mengurus rumah tangga.'' Ucap Nyonya Rosa sambil melirik kearah Gina. Miko tahu kalau Gina terluka dengan ucapan Mamanya. Ia lalu merangkul Gina yang berdiri di sampingnya. Di hadapan Mamanya, Miko mengecup pucuk kepala Gina.
''Istriku juga pintar, Mah. Dia serba bisa dan seorang designer terkenal. Aku bangga padanya.''
Gina bahagia sekali mendengar ucapan Miko. Setidaknya ucapan Miko, mampu memberikan Gina kekuatan di tengah hantaman badai ucapan Nyonya Rosa yang selalu menyakitkan.
-
Di kantor, Mauren memasang wajah penuh rasa bersalahnya sebelum ia masuk ke ruangan Kevin.
''Tok tok tok tok tok!" suara Mauren mengetuk pintu.
''Masuk!" sahut Kevin.
''Kevin,'' ucap Mauren dengan tatapan penuh penyesalan.
__ADS_1
''Ada apa lagi Mauren? Belum puas kamu membuatku dan Keira bertengkar.''
''Aku kesini ingin minta maaf atas apa yang terjadi kemarin. Aku tidak tahu kalau Keira akan datang di saat seperti kemarin. Apa kalian masih belum akur?''
''Bagimana bisa akur, kalau apa yang di lihat oleh Keira itu sangat menyakitkan. Dia bahkan tidak mau menemuiku.''
''Sekali maafkan aku tapi memamg apa yang aku katakan kemarin tulus dari hatiku.''
''Mauren, kenapa kamu tidak mencari pria lain saja? Jangan terus menggangguku. Sebaiknya sekarang kamu keluar. Aku ingin sendiri.''
''Belum ada pria manapun yang bisa membuatku jatuh cinta seperti dirimu. Aku harap apa yang terjadi kemarin tidak membuatmu membenciku. Aku akan tetap berada disisimu untuk membantumu melewati situasi ini.''
''Terima kasih Mauren. Tapi tolong kali ini keluarlah.''
''Baiklah kalau begitu, aku permisi.'' Mauren kemudian berlalu meninggalkan ruangan Kevin. Sebuah kabar bahagia saat mendengar bahwa Kevin dan Keira masih bertengkar. Sementara Kevin menghela nafas panjang merasa lega bisa menghadapi Mauren.
-
Akhirnya Nadia pun datang dengan membawa bubur sumsum untuk Nyonya Rosa.
''Siang Tante,'' sapa Nadia.
Nyonya Rosa menyambut kedatangan Nadia dengan penuh suka cita. ''Nadia, akhirnya kamu datang juga.''
Nadia kemudian menyapa Miko yang duduk di kursi samping ranjang Mamanya. '' Hai, Miko bagaimana kabarmu?''
''Aku baik. Oh ya ini istriku.'' Kata Miko memperkenalkan Gina yang berdiri di samping Miko. Gina menatap Nadia dari pucuk kaki sampai pucuk kepala. SEMPURNA. Itulah yang ada di pikiran Gina saat melihat Nadia. Postur tubuhnya yang tinggi bak seorang model profesional.
''Senang sekali bertemu dengan anda Nona. Aku Nadia.'' Nadia mengulurkan tangannya.
''Aku juga senang bertemu denganmu, Nona Nadia. Aku Gina.''
''Nadia, maaf ya kalau kami merepotkanmu.'' Ucap Miko.
''Tidak apa-apa, Miko. Aku sudah terbiasa membuatkan Tante Rosa makanan seperti ini. Oh ya ini sebaiknya segera Tante makan ya mumpung masih hangat.'' Kata Nadia. Nyonya Rosa hanya mengangguk.
''Mama mau minum apa?'' tanya Gina.
''Tidak perlu. Sudah ada air putih di meja,'' ketus Nyonya Rosa.
''Baiklah kalau begitu, Mah.'' Gina lalu beranjak dari sisi Miko dan duduk kearah sofa. Miko lalu menyusul dan memilih duduk bersama Gina. Mata Gina berkaca-kaca, merasa tidak di hargai sebagai menantu.
Miko lalu menggenggam tangan Gina. ''Sayang, sabar ya.''
Gina hanya memberikan senyuman kecil yang ia paksakan.
Bersambung.....
__ADS_1