
Keira tidak habis pikir dengan apa yang Kevin lakukan padanya di depan semua orang. Namun ia juga tidak marah apalagi kini statusnya adalah sebagai istri sah Kevin. Permainan pun berlanjut dan kini giliran Leon yang kalah. Kevin yang kesal, dengan sengaja menaburkan bedak yang sangat banyak pada wajah Leon.
''Mas, itu kebanyakan ih,'' tegur Keira.
''Tidak apa-apa lah. Namanya juga game, semakin banyak, semakin seru, iya kan?''
''Tidak apa-apa Kei. Kan cuma bedak saja. Sekarang giliran kamu, Kei.'' Kata Leon.
''Baiklah, aku mau mengusapkannya dimana ya?'' kata Keira yang merasa bingung.
''Di pipi aku saja,'' pinta Leon.
''Oke.'' Jawab Keira. Saat Keira hendak mengusapkan bedak itu ke pipi Leon, Kevin buru-buru mencegahnya.
''Biar aku saja yang mengusapkannya di pipi Leon.'' Kata Kevin. Tanpa menunggu jawaban Keira, Kevin mengusapkannya di pipi Leon.
''Tidak apa-apa kan, aku membantu istriku.'' Ucap Kevin dengan senyum kecilnya.
''Ihhh si kepala batu nyebelin banget sih,'' gerutu Keira dalam hati.
Hari itu Keira bisa melihat tawa Kevin yang lepas. Bahkan saat Kevin mendapat hukuman, Keira dengan sengaja menaburkan bedak ke seluruh wajah Kevin.
''Ya ampun, Mas lucu banget. Udah kayak kue moci,'' kata Keira dengan tawanya.
''Memangnya kamu juga tidak seperti kue moci?'' sahut Kevin.
''Sangat aneh melihat si kepala batu yang judes ini bisa tertawa seperti ini. Syukurlah kalau kamu tidak sedih lagi, Mas.'' Batin Keira sambil mencuri pandang pada Kevin.
Jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Kevin pun sudah memesan makanan untuk semua lansia di panti. Jadi Kevin memutuskan untuk makan siang bersama mereka semua.
Kevin lalu mengajak Keira untuk makan siang di halaman samping rumah. Keduanya tengah duduk berhadapan sambil menyantap makan siang.
''Mas, terima kasih ya kamu sudah peduli dengan mereka.'' Ucap Keira saat melihat mereka makan dengan lahap.
''Aku sendiri sudah tidak memiliki orang tua, Kei. Jadi sudah pasti mereka semua adalah orang tua ku. Marvel juga pasti akan senang kalau bertemu mereka. Dia pasti merasa punya banyak Kakek dan Nenek.''
''Iya Mas, saat libur sekolah kita ajak Marvel kemari ya. Rasanya senang sekali bisa berbagi dengan mereka. Oh ya kira-kira pantinya akan selesai berapa lama Mas?''
__ADS_1
''Belum tahu juga sih, paling cepat 6 bulan. Soalnya aku meminta Miko membuatkan taman sekaligus air mancur di lahan yang masih kosong. Jadi supaya suasana disana semakin nyaman. Dan aku juga akan membenahi administrasi serta peraturan baru disana. Sekalipun panti jompo, tetap saja itu aku anggap sebagai tempat penitipan. Mereka yang mampu atau sekedar menitipkan orang tua mereka, tetap akan kita kenai biaya. Supaya mereka tidak lepas tanggung jawab begitu saja. Saat kecil mereka dibesarkan tapi untuk merawat orang tua saja, mereka menelantarkannya begitu saja. Toh biaya itu juga bisa di kelola untuk kebutuhan para lansia lagi. Dan untuk mereka yang memang di telantarkan, kita harus tetap merawatnya dengan baik. Selagi ada walinya, kita harus tegas. Bukannya apa-apa atau bagaiamana tapi itu mengajarkan mereka untuk tidak sembarangan menelentarkan orang tua, sekalipun sudah di titipkan di panti. Apalagi mereka yang berada disini, adalah mereka yang di telantarkan oleh anak kandung mereka sendiri. Sungguh miris sekali kenapa ada anak yang durhaka seperti itu. Aku juga akan menjadi donatur utama panti itu, sekaligus aku akan mengajak rekan bisnisku untuk menjadi donatur juga. Supaya kedepannya banyak orang tua yang tidak kesepian di hari tuanya. Aku juga sudah bicara pada Alan untuk mengontrol mereka setiap satu minggu sekali.'' Jelas Kevin panjang lebar. Selama Kevin berbicara panjang lebar, Keira hampir tidak berkedip karena tidak menyangka hati seorang kepala batu sangat bijak dan lembut.
''Terima kasih ya, Mas. Aku bangga dan salut sama kamu.'' Kata Keira sambil mengusap punggung tangan Kevin.
''Sama-sama Kei.'' Kata Kevin seraya menimpali tangan Keira yang mengusapnya. Dari dalam Leon melihat itu, entah kenapa ia merasa sangat sedih melihat itu semua. Namun ia berusaha bersikap baik-baik saja.
''Apa aku harus mengatakan pada Keira, kalau akau mencintainya?'' gumam Leon dalam hati.
...****************...
Setelah dari panti, Keira memaksa Kevin untuk pulang ke rumah. Karena Keira tidak tega kalau harus meninggalkan Marvel sendirian di rumah.
''Lho Tuan dan Nona sudah pulang?'' kata Bi Nani saat membukakan pintu untuk mereka.
''Iya Bi. Saya merindukan Marvel. Dimana dia?''
''Den Marvel menginap di rumah Tuan Miko sejak kemarin.'' Kata Bi Nani.
''Yah, padahal aku ingin pulang hanya karena ingin bertemu Marvel.'' Kata Keira dengan sedih.
''Nanti kita jemput Marvel,'' sahut Kevin sambil merangkul Keira.
''Kei, kamarmu ada di atas!" panggil Kevin.
''Maksudnya Mas? Kamar ku di pindah disana?''
''Kita kan sudah suami istri, jadi mulai hari ini kamu tidur di kamar ku.''
''APA? Ki-kita tidur satu kamar?'' ucap Keira terbelalak.
''Iya lah. Memangnya kamu mau satu rumah curiga kalau kita pura-pura,'' bisik Kevin.
''Oh iya lupa, hehehe. Maaf.'' Kata Keira dengan akting lupanya. Kevin lalu menggandeng Keira dan membawanya ke kamar.
Sesampainya di kamar Kevin, Kevin melepas kemejanya begitu saja dan menunjukkan dada bidangnya pada Keira.
''Mas, mau ngapain?'' tanya Keira tergagap.
__ADS_1
''Kamu kan istriku, menurutmu aku mau ngapain?'' tanya Kevin yang berjalan mendekat ke arah Keira. Keira yang takut pun berjalan mundur menjauh dari Kevin, sampai tubuhnya tersandar pada dinding.
''Mas, jangan macam-macam ya! Aku- aku benar-benar akan membunuhmu.'' Ancam Keira dengan suara gemetar. Kevin lalu menyandarkan dua tangannya pada dinding, berusaha mengunci Keira.
''Bagaimana kalau kita langgar saja kontrak itu?'' tanya Kevin dengan tatapan menggoda.
''Maksudnya melanggar kontrak? Mas berarti harus mengganti rugi dong?'' ucap Keira yang semakin deg-degan karena Kevin semakin dekat dengannya.
''Iya. Aku akan ganti rugi dua kali lipat asal kamu mau melanggar kontrak kita.''
''Mem-memangnya Mas mau ngapain?'' ucap Keira yang semakin tergagap.
''Ya mau melakukan apa yang seharusnya menjadi kewajiban suami istri.''
''Enak saja! Kamu pikir kesucian ku bisa di tukar dengan uang segitu.'' Kata Keira sambil menelan ludahnya, merasa takut dengan apa yang di lakukan oleh Kevin.
''Yakin tidak mau? Bagaimana kalau 20 Milyar?'' tawar Kevin.
''Tidak!'' tolaknya dengan tegas.
''Tadi saja Mas sudah melanggar aturan dengan mencium keningku.''
''Apa kamu lupa kalau kamu juga pernah mencium bibirku?''
''Aku? Ka-kapan?''
''Waktu di kantor, lebih tepatnya di ruanganku. Kamu memelukku lalu mengecupku tiba-tiba. Berarti kamu duluan yang melanggar kontrak kita. Daripada kamu kena denda, lebih baik kita langgar saja, bagaimana?''
''Bohong! Aku tidak percaya dengan ucapanmu.''
''Kamu bilang, boneka kesayanganku. Jangan ambil boneka ku,'' kata Kevin menirukan ucapan Keira.
''Itu aku pasti mengigau. Jadi itu tanpa sadar.'' Bantahnya. Kevin lalu terdiam menatap Keira lebih dalam. Kevin lalu mendekatkan wajahnya pada Keira dan mengarahkan bibirnya ke arah bibir Keira. Keira semakin terdesak dan tubuhnya mendadak kaku. Ia lalu menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
''Makanya jangan macam-macam. Aku akan menciummu kalau kamu dekat-dekat dengan pria lain,'' ancam Kevin tepat di telinga Keira. Kevin kemudian tersenyum tipis dan berlalu menuju kamar mandi. Ingin sekali tertawa melihat ekspresi Keira yang ketakutan. Keira lalu menghela nafas panjang, merasa lega karena Kevin akhirnya melepaskannya.
''Ancaman macam apa itu. Yang ada dia berusaha mengambil keuntungan dariku,'' gumam Keira sambil menepuk dadanya yang merasa dari tadi berdegup sangat kencang.
__ADS_1
Bersambung....