Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 71 Klarifikasi


__ADS_3


Lagi-lagi perjalanan menuju kantor kembali hening. Namun kali ini Keira memberanikan diri untuk bicara.


''Tuan terima kasih.'' Kata Keira dengan lirih.


''Terima kasih untuk apa?''


''Terima kasih karena tadi di cafe sudah menolongku. Dan kedua terima kasih karena sudah mau menggendongku.''


''Hmmmmm,'' singkat Kevin sambil terus fokus untuk menyetir.


''Eh tapi bagaimana Tuan bisa datang tepa waktu? Padahal aku menyuruh Tuan untuk menunggu di mobil.''


''Mmm aku tidak sengaja saja. Tadinya aku ingin menumpang ke toilet tapi ternyata disana ada drama cinta segitiga. Daripada nanti kamu viral lagi dan semakin membuat citra buruk, jadi aku terpaksa melakukan itu.''


Padahal sebenarnya, Kevin diam-diam masuk ke cafe bahkan mendengar semua percakapan antara Ferdi dan Keira. Bahkan saat Lily masuk, Kevin terus melihatnya dari kejauhan. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak di inginkan.


''Oh begitu. Ya apapun itu terima kasih untuk hari ini. Sekarang aku lebih lega dan plong.'' Kata Keira dengan senyumnya yang terlihat sangat ceria.


Kevin kemudian membelokkan mobil menuju sebuah toko sepatu.


''Lho katanya mau ke kantor? Kenapa malah kesini Tuan?''


''Sepatumu basah. Dan masa iya seorang Kevin membiarkan calon istriny nyeker. Setidaknya jangan sampai hal ini semakin merusak reputasiku.''


''Selalu saja memikirkan reputasi. Dasar, gila reputasi,'' gerutu Keira.


''Jangan turun dulu! Biar aku bukakan pintu. Tidak mungkin kamu masuk dengan kaki seperti itu.'' Sambung Kevin. Kali ini Keira hanya bisa diam dan pasrah saja. Daripada harus berdebat dan semakin membuang energinya. Kevin lalu turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Keira.


''Ayo naik!" Kata Kevin sambil menyodorkan punggungnya lagi. Keira hanya terdiam dan menurut saja. Setelah Keira naik ke punggungnya, Kevin kemudian membawa Keira masuk ke toko sepatu itu. Sambil menggendong Keira, ia berkeliling ke setiap sudut rak supaya Keira memilihnya. Tentu saja sikap keduanya menjadi pusat perhatian para pegawai dan pembeli yang lain.


''Sekarang pilih mana kamu suka."


''Tuan membelikanku sepatu?''


''Memang kamu pikir, aku masuk kesini untuk apa?''


''Iya-iya. Kenapa selalu marah-marah sih?''


''Makanya kamu cepat pilih!"


''Aku bingung, disini bagus semua.'' Kata Keira. Kevin kemudian menurunkan Keira di sofa.


''Duduk disini saja! Biar aku yang carikan.''


Keira hanya mengangguk mendengar ucapan Kevin. Kevin kemudian mencarikan heels warna pink magenta untuk Keira. Karena Keira sendiri mengenakan midi dress di bawah lutut dengan warna pink muda. Setidaknya sepatu pilihan Kevin membuat Keira lebih ceria.

__ADS_1


''Aku tidak tahu ukuran kakimu jadi cobalah ini.'' Kata Kevin yang kemudian berdiri dengan dengan satu lutut di hadapan Keira.


''Mmmm apa tidak ada sepatu seperti punyaku tadi?''


''Pakaianmu sudah bagus jadi memakai heels lebih cocok daripada memakai sneakers.'' Kata Kevin. Keira tampak ragu-ragu untuk mengenakannya. Kevin yang melihat keraguan di wajah Keira, lalu meraih kaki Keira dan membersihkan telapak kakinya sebelum mengenakan sepatu itu. Seketika Keira tertegun. Tertegun dengan sikap Kevin yang tampak perhatian dan hangat. Bahkan Ferdi tidak pernah melakukan hal seperti ini. Keira terus menatap Kevin yang membersihkan telapak kakinya menggunakan tangannya sendiri. Bahkan Keira menurut saja saat Kevin memasangkan sepatu di kakinya.


''Sepertinya sepatu ini pas,'' kata Kevin seraya mendongak. Membuat Keira gugup karena ia merasa terpergok sedang memperhatikan Kevin.


''E... i... iya. Tapi ini terlalu mewah dan bagus Tuan.''


''Sudah jangan cerewet. Masa iya mau pakai sandal jepit? Reputasiku taruhannya, Kei.'' Kevin kemudian bangkit dan segera menuju kasir. Keira yang masih duduk di sofa, memandang sepatu yang kini berada di kakinya itu sambil tersenyum.


''Cantik! Selera Tuan Kevin memang bagus sih,'' kata Keira dalam hati. Setelah membayar, ia kembali menghampiri Keira.


''Ayo jalan! Tapi jalan sendiri, punggungku rasanya mau patah karena menggendongmu.''


''Aku juga tidak minta di gendong. Tuan sendiri yang memaksa.''


''Bukannya terima kasih tapi malah menyalahkan aku.''


''Aku juga tidak minta di belikan.''


''Dasar kamu ya! Benar-benar tidak tahu terima kasih.''


''Ssstttttt jangan marah-marah Tuan. Hehehe aku bercanda saja. Melihat wajah Tuan yang marah, sangat lucu.'' Kata Keira dengan tawa kecilnya. Kevin tak bisa berkutik kala Keira menggodanya. Seketika rasa kesalnya pun hilang.


''Sekarang kita ke kantor.'' Kata Kevin seraya berlalu menuju mobilnya. Keira kemudian menyusul dengan mengekor di belakang Kevin.


''Pastikan kita masuk bergandengan tangan. Lihatkan kalau wartawan sudah banyak yang menunggu disana.'' Kata Kevin sesaat sebelum keduanya turun dari mobil.


''Wah, seberpengaruh itukah diri Tuan?'' kata Keira yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


''Makanya cari tahu siapa aku sebenarnya.''


''Sombong! Tapi popularitas Tuan mengalahkan selebritis papan atas saja.''


''Asal kamu tahu, dunia bisnis itu lebih kejam dan mengerikan. Tak jarang mereka bersaing dengan cara kotor demi mendapatkan keuntungan dan menjatuhkan lawan. Sekarang ayo turun.''


''Oke baiklah. Kali ini aku akan membantu Tuan karena Tuan juga sudah membantuku.'' Keira dan Kevin kemudian kompak turun dari mobil. Kevin menggandeng erat tangan Keira menerobos kerumunan para awak media yang menanti klarifikasi dari Kevin. Sorotan kamera dan kilatan foto, merekam mereka yang menerobos kerumunan. Namun jajaran security mampu membantu mereka untuk lolos. Dengan masih bergandengan tangan bahkan tanpa mereka sadari, Kevin membawa Keira menuju ruangannya.


''Tuan, aku merasa seperti buronan saja.''


''Ya begitulah. Kamu pikir aku senang dengan ini semua. Aku lebih senang mereka menyorotku karena prestasi, bukan sensasi seperti ini.'' Ucap Kevin yang hanya membuat Keira manggut-manggut. Saat tiba di ruangannya, Miko, Krisna dan Siska sudah berada disana. Pandangan mereka bertiga tertuju pada tangan Keira dan Kevin yang saling bergandengan dengan kuat.


''Kayaknya tuh tangan sudah ada lemnya deh,'' sindir Miko dengan senyum tipisnya. Mendengar ucapan Miko, Keira dan Kevin kompak melihat kearah tangan mereka. Lalu keduanya kompak melepaskannya begitu saja.


''E... hanya untuk meyakinkan wartawan saja,'' bantah Kevin.

__ADS_1


''Oh begitu, alasan di terima.'' Kata Miko.


''Kita sudah menyiapkan tempat klarifikasi. Kalian hanya cukup membuat vidio tanpa harus bertemu dengan wartawan langsung.'' Sambung Kevin.


''Tuan dan Nona, silahkan duduk di sofa. Kami akan mulai merekam vidio klarifikasi kalian.'' Jelas Siska yang berusaha mengatur mereka.


''Lalu naskahnya mana?'' tanya Kevin.


''Naskah apa Tuan?'' sahut Krisna.


''Naskah klarifikasi lah.''


''Kevin, ini bukan pidato. Kalau pakai naskah, sudah pasti ini terlihat tidak natural. Jadi harus bicara dari hati supaya terlihat natural. Anggap saja ini akting, demi perusahaan.'' Kata Miko.


''Ayo Tuan, kasihan karyawan Tuan. Mereka pasti juga tertekan dengan kondisi seperti ini apalagi dengan pemberitaan negatif tentang Tuan. Atau memang Tuan ini beneran gay ya?'' kata Keira dengan begitu polosnya.


''Hei, jaga ucapanmu Kei. Aku masih normal. Kamu jangan malah menambah bumbu tidak sedap dengan pemberitaan ini. Kamu pikir aku tidak pusing apa dengan berita ini.'' Kata Kevin dengan suara meninggi dan mata melotot.


''Aduh, kalian malah berantem lagi. Sudah-sudah pasang wajah kalian yang paling manis. Coba gandengan tangan dan saling menggenggam. Aku sendiri saja pusing tapi kalian selalu saja bertengkar.'' Kata Miko yang kini bergantian marah. Ada keraguan saat Kevin hendak menggenggam tangan Keira, begitu juga dengan Keira. Miko yang gemas, menghampiri keduanya lalu menyatukan tangan keduanya.


''Masa seperti ini harus di ajari sih,'' gerutu Miko.


''Oke Tuan-Nona, menghadap ke kamera ya.'' Intruksi Siska.


''Kamera rolling and action!" seru Miko bak sutradara film.


''Baiklah langsung saja, aku Kevin Harris Sanjaya selalu pemilik Sanjaya Group, sebelumnya meminta maaf atas pemberitaan tak sedap di luar sana. Yang jelas aku masih normal dan wanita di samping ku ini adalah benar calon istri ku. Namanyanya adalah Keira.....,'' Kevin berpikir karena tidak tahu nama lengkap Keira.


''Keira Nensia Putri,'' sahut Keira dengan lembut.


''Iya dia adalah Keira Nensia Putri. Dia bukan hanya wanita pilihan ku tapi juga sosok Ibu pilihan putra ku, Marvel. Justru putraku lah yang pertama kali mengenalnya dan jatuh cinta padanya, setelah itu aku sendiri yang di buat jatuh cinta olehnya. Pertemuan dan perkenalan kami memang singkat bahkan keputusan menikah kami pasti membuat semuanya terkejut. Karena aku sendiri bukan seorang remaja lagi dan aku mencari sosok Ibu sekaligus istri bukan kekasih lagi. Kejadian waktu itu pun hanya kesalahpahaman saja. Kami bertengkar kecil saja dan tidak tahu akan ada yang merekam bahkan menyebarkannya. Dan pria dalam foto itu dia sekretaris pribdaku, Krisna namanya. Dia sudah bertahun-tahun bekerja dengan ku. Jadi aku sudah menganggapnya seperti saudara. Apa yang aku lakukan hanyalah membenarkan posisi dasinya saja bukan seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak ingin memaksa kalian untuk percaya padaku tapi memang itulah yang sebenarnya terjadi. Kami juga memohon doa dari kalian karena Minggu depan kami akan memutuskan untuk menikah. Baiklah itu saja yang dapat kami sampaikan, terima kasih.'' Jelas Kevin panjang lebar. Kamera pun mati dan semua sudah terekam dengan baik.


''Huft akhirnya,'' gumam Keira yang bisa menarik nafas lega.


''Berakting seperti tadi saja sangat melelahkan,'' gumam Keira.


''Tuan-Nona kalian serius akan menikah minggu depan?'' tanya Krisna.


''Iya. Memamg kenapa?''


''Tidak apa-apa. Saya ikut bahagia, Tuan. Selamat ya!" kata Krisna sambil menjabat tangan keduanya.


''Kevin-Keira, selamat ya. Sebentar lagi kalian akan menikah, aku senang sekali mendengarnya. Baiklah biar Gina yang mengatur gaun pengantin kalian. Aku dan Gina akan memberikan gratis untuk kalian . Nanti kalian bisa fitting, oke!" cerocos Miko yang merasa puas dengan hasil kerja kerasnya.


''Tuan-Nona, selamat ya. Saya juga bahag sekali karena Tuan tidak sendiri lagi,'' kata Siska.


''Semoga harga saham bisa kembali normal dan klien bisa kembali lagi dengan kita,'' sahut Kevin.

__ADS_1


''Ehem.. memang ya aura pengantin itu kiiat sekali. Kamera sudah off tapi tangan kalian masih saja lengket,'' sindir Miko. Keduanya saling menatap lalu kompak saling melepaskan genggaman tangan. Kevin dan Keira pun mendadak salah tingkah. Sementara Miko, Krisna dan Siska menahan tawa dengan sikap mereka berdua yang malu-malu.


Bersambung.....


__ADS_2