Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 164 Akhir Penantian


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Miko dan Gina mengantar Mamanya untuk beristirahat di kamar.


''Mas, setelah ini aku butik ya. Tadi salah satu pegawai aku telepon katanya ada masalah.''


''Ya sudah, kamu berangkat saja. Kalau bisa jangan pulang larut ya, kasihan Mama.''


''Iya Mas, aku usahakan.'' Tak lupa sebelum pamit, Gina mencium punggung tangan Ibu mertuanya, sekalipun Nyonya Rosa tidak menatapnya.


''Tuh lihat, dia saja masih berat pekerjaannya daripada menjaga Mama.''


''Mah, sudahlah. Gina susah payah membangun karirnya sampai detik ini dan aku bangga padanya. Aku tidak pernah membatasi ruang geraknya begitu pula dia tidak pernah membatasi ruang gerakku. Sebelum menikah kami adalah sahabat, Mah. Jadi baik-buruknya Gina, aku sudah tahu begitu juga sebaliknya. Hanya Gina yang mau menerima semua kekuranganku.''


''Kamu terus saja membelanya. Miko, menikahlah dengan Nadia.''


Miko sontak terkejut mendengar ucapan Mamanya. Ia tidak percaya bahwa Mamanya akan mengatakan itu.


''Mah, Mama jangan aneh-aneh ya. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang.''


''Dengarkan Mama, Miko. Sebenarnya gadis pilihan Mama adalah Nadia. Nadia adalah jodoh yang Mama persiapkan untuk kamu. Dia berasal dari keluarga yang terpandang. Saat pertama kali bertemu dengan Nadia, Mama sudah menyukainya. Dia adalah putri salah satu rekan bisnis kamu. Salahnya Mama tidak buru-buru memperkenalkan kalian karena Nadia ingin fokus menyelesaikan kuliah hukumnya. Kamu saja yang tidak sabaran dan memilih Gina. Mama jadi merasa bersalah padanya. Meskipun Mama mengecewakannya, dia tetap baik dengan Mama. Dia merawat dan menjaga Mama, saat Mama sedang sakit. Dulu dia hanya bisa melihat wajahmu lewat foto. Dia dulu memang tidak ingin memikirkan pacaran sebelum kuliah dan cita-citanya sebagai jaksa itu tercapai.''


''Mah, jangan membahas masa lalu. Itu berarti kami tidak berjodoh. Belum tentu dia juga mau menerima Miko yang playboy ini.''


''Nah kamu kan dulu playboy banyak pacar, kenapa sekarang tidak tambah istri saja?''


''Mama semakin kacau saja ya? Memangnya Nadia mau apa jadi istri ke-2? Dia gadis yang pintar, tentu saja banyak pria yang mendekatinya.''


''Bagaimana kalau dia mau? dan bagaimana kalau sebenarnya dia itu masih mempunyai rasa padamu?''


''Mah, memang apa alasan Mama memaksaku untuk menikahi Nadia?''


''Mama segera ingin memiliki cucu, Miko. Sepertinya Gina itu tidak subur.''

__ADS_1


''Kami sudah pernah periksa dan semuanya baik-baik saja, Mah. Kita menikah juga baru jalan empat tahun dan itu masih baru, Mah. Aku dan Gina menikmati pernikahan kami. Mungkin saat ini rezeki kami ada pada karir yang sedang di atas dan belum saatnya memiliki momongan.''


''Miko, Mama ini sudah tua. Usia Mama tidak lama lagi. Mama ingin segera punya cucu. Kamu kan bisa menikah siri dengan Nadia tanpa sepengetahuan Gina. Mama hanya ingin anak dari darah daging kamu, bukan anak adopsi.''


''Mah, itu sama saja menyakitkan untuk Gina dan Nadia. Aku tidak mau melakukan itu. Aku dan Gina akan mencoba bayi tabung lagi.''


''Terserah kamu lah. Yang jelas hari ini Nadia akan ke rumah. Di itu istri paket lengkap. Karir oke, cantik sudah pasti, pintar masak, mandiri pula sekalipun berasal dari keluarga berada.''


Miko memilih diam dan tidak menggubris ucapan Mamanya.


-


''Akhirnya selesai juga kita mengecat ulangnya.'' Kata Johan.


''Sangat melelahkan tapi aku bahagia melakukannya.''


''Terima kasih ya kamu sudah membantuku. Dan ternyata kamu bisa melukis sebagus ini.''


''Pasti aku bayar lah. Kamu adalah karyawan yang penuh loyalitas.''


''Aku bercanda lagi, Jo. Aku senang membantumu, kamu sudah banyak membantuku jadi ini yang bisa aku lakukan untukmu.''


''Tessa, aku ikhlas melakukan semua ini untuk kamu dan Anrez. Karena aku sangat menyayangi Anrez.''


''Anrez juga sangat bahagia saat bersama kamu, Jo. Sudah lama sekali dia tidak tersenyum lebar seperti hati. Apalagi Papanya sama sekali tidak pernah peduli padanya.''


''Tes, kalau memang kamu sudah siap, aku juga siap menjadi Ayah untuk Anrez tapi tunggu aku sampai aku bisa memiliki rumah. Aku ingin memberikan kalian kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.''


Mendengar pengakuan Johan, Tessa merasa sangat tersentuh. Ia tidak menyangka bahwa perasaan Johan akan bertahan sampai detik ini.


''Jo, kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? aku ini janda dan aku punya anak. Sementara kamu masih bujangan, kamu berhak mendapatkan gadis yang jauh lebih baik daripada aku.''

__ADS_1


Johan meletakkan kuasnya lalu meraih kedua tangan Tessa.


''Tessa, jujur saja perasaanku tidak pernah berubah padamu. Entahlah sejak penolakanmu saat itu, aku sama sekali tidak pernah memiliki hubungan serius dengan seorang wanita. Lagi pula siapa yang mau dengan pria yang belum mapan seperti aku. Dan saat bertemu denganmu kembali, aku semakin terpacu untuk menjadi orang sukses. Tuhan mempermudah semua jalanku. Saat bertemu denganmu, aku ingin sekali memiliki sebuah mobil supaya aku bisa mengantar jemput Anrez. Aku kasihan kalau harus melihat dia kepanasan saat naik motor bersamamu. Dan Tuhan memudahkan semuanya, meskipun itu mobil bekas. Apa yang aku lakukan saat ini adalah untuk menata masa depanmu dan Anrez. Tapi aku juga tidak memaksamu, Tessa. Kamu berhak memilih kebahagiaanmu di luar sana, aku ikhlas untuk melepaskanmu kembali asal kamu bahagia.''


Hati Tessa bergetar mendengar apa yang Johan katakan, ia bisa merasakan bahwa Johan tulus padanya. Tessa berpikir sejenak, memang sudah lama sekali ia tidak pernah di tatap dan di perlakukan seorang pria selembut ini. Hanya siksaan batin yang Tessa rasakan selama menikah.


''Jo, yakinkan dulu perasaanmu. Jangan buru-buru, Jo. Aku tidak mau kamu nantinya menyesal menikahi janda seperti aku.'' Tessa melepaskan genggaman tangan Johan, ia berbalik memunggungi Johan. Johan menatap kecewa Tessa yang justru memunggunginya.


''Bagaimana dengan orang tua mu nanti? apa mereka bisa menerimaku dan Anrez? menikahi seorang janda bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi dengan status kamu yang seorang bujangan. Belum lagi omongan para tetangga dan orang-orang.''


''Untuk apa peduli omongan tetangga dan orang-orang? aku makan juga tidak meminta mereka. Masalah orang tuaku, mereka tidak pernah ikut campur urusan kehidupan ku, Tes. Bagi mereka, melihat anaknya bahagia sudah cukup. Aku yakin mereka akan senang saat melihat Anrez.''


''Jo, apa yang membuatmu bertahan mencintaiku sampai detik ini?'' Tessa masih berbalik memunggungi Johan. Johan kemudian mendekat, ia dengan ragu-ragu memeluk Tessa dari belakang. Tessa sangat terkejut dengan sikap Johan tapi entah kenapa ia juga tidak bisa menolak pelukan dari Johan itu.


''Aku tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya, Tessa. Apakah mencintai harus menggunakan alasan? apakah alasan itu penting? Bagaimana kalau aku mencintaimu karena kamu cantik? pasti kalau kecantikanmu hilang, bisa jadi aku sudah tidak mencintaimu. Bukankah begitu? jadi bagiku mencintai itu tidak butuh alasan, Tessa.''


''Ternyata kamu sudah dewasa ya, Jo.'' Ucap Tessa. Tessa terdiam, ia merasakan begitu nyaman dalam dekapan Johan. Dekapan seorang pria yang mampu mebuatnya nyaman dan membuatnya merasa di lindungi.


''Lalu, apa jawabanmu Tessa? apa kamu mau menemaniku merintis karir ku ini? aku memang bukan pria kaya raya tapi aku bisa bertanggung jawab kepadamu dan Anrez sepenuhnya. Aku akan berusaha membahagiakan kamu dan Anrez dengan semampu ku.''


''Johan, aku siap mendampingi kamu. Aku yakin suatu saat kamu akan menjadi orang yang sukses. Aku mau menemani mu dalam suka dan duka. Aku tidak melihat miskin ataupun kaya. Bagiku pria yang bertanggung jawab itu segalanya.''


''Apakah itu berarti iya, Tes?''


''Iya, Jo. Jawaban apalagi yang kamu butuhkan?''


Johan melepaskan pelukannya, lalu membalik tubuh Tessa dan kembali memeluk Tessa sampai tubuh Tessa terankat lalu mengayunnya.


''Terima kasih, Tessa! Akhirnya aku mendapatkanmu juga.'' Kata Johan dengan perasaan bahagia tak terkira. Tessa pun tertawa bahagia melihat sikap konyol Johan itu.


''Johan, lepaskan aku. Aku pusing.'' Kata Tessa dengan tetap tersenyum. Johan lalu menurunkan Tessa, nafasnya terengah namun kebahagiaan itu tidak dapat ia tutupi. Ia lalu meraih kedua tangan Tessa dan menciumnya berkali-kali. Mereka lalu kembali berpelukan dengan sangat erat.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2