Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 185 AKUR


__ADS_3

Sepulang dari acara makan malam di rumah Kevin, Nyonya Rosa dengan wajah sendunya masuk ke kamar begitu saja tanpa banyak bicara. Melihat sikap Mamanya seperti itu, justru membuat Miko semakin tertekan. Gina yang melihat itu, mencoba memeluk lengan Miko dan mengajaknya masuk ke dalam. Setelah sampai di kamar, Miko duduk di bibir ranjang sambil menopang dagu. Tatapannya tampak sendu.


''Mas, kamu kenapa?'' Gina menyusul duduk di samping Miko.


''Aku iri dengan mereka. Tuhan begitu mudah mempercayakan anak kepada mereka. Kenapa kita sulit sekali? aku merasa gagal menjadi seorang pria. Gin, kalau memang kamu ingin menyerah denganku, menyerah saja. Jangan paksa diri kamu untuk bertahan dengan ku.''


''Mas, kamu ini bicara apa? jangan aneh-aneh lah kamu ini. Aku sama sekali tidak ada pikiran kesana. Kamu selalu saja bicara seperti itu. Kalau memang aku niat seperti itu, sudah dari lama aku meninggalkan kamu, Mas. Cintaku tidak selemah yang kamu pikirkan, Mas.''


Air mata Miko menetes lagi. ''Tapi aku tidak subur!" teriak Miko dengan penuh emosi. Gina sangat terkejut dengan sikap Miko barusan. Seumur hidup Miko tidak pernah membenrai atau berteriak.


''Mas, tidak subur bukan berarti tidak bisa kan? kita saja masih berobat. Kita harus sabar.''


''Iya tapi sampai kapan? kamu tahu sikap Mama selalu membuatku tertekan. Bahkan diam kamu selama ini menerima semua makian Mama, membuatku menjadi pria yang paling bodoh. Apa kamu memang sengaja ingin membuatku terlihat bodoh?'' amarah Miko semakin memuncak. Namun Gina berusaha untuk mengerti betapa tertekannya Miko saat ini.


''Tidak Mas. Aku sungguh tidak berniat seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu terluka saat tahu semua itu.'' Mata Gina mulai berkaca-kaca melihat sikap Miko yang semakin tidak terkendali.


''Tapi aku tidak butuh di kasihani, kamu pikir aku lemah, Gina? dan kamu seolah wanita yang paling kuat? pergilah dari hidupku dan cari pria lain yang bisa memberimu anak."


''Cukup Miko! aku tidak mau bertengkar dengan kamu. Sebaiknya kamu tenangkan diri mu.'' Gina kemudian berlalu meninggalkan kamarnya. Gina memilih menenangkan dirinya daripada harus meladeni suasana hati Miko yang sangat kacau itu. Gina memilih duduk di tepian kolam renang untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Miko masih bergelut dengan amarahnya. Ia mengacak rambutnya sampai memberantakkan tempat tidurnya. Dari balik celah pintu, Nyonya Rosa melihat pertengkaran keduanya. Karena suara Miko terdengar sangat kencang dan lantang. Nyonya Rosa merasa bersalah karena selalu menekan Gina dan Miko. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.


Nyonya Rosa kemudian pergi untuk mencari Gina dalam diamnya. Ia melihat Gina menangis sesenggukan di tepian kolam renang. Tampak Gina duduk sambil memeluk kakinya. Nyonya Rosa dengan ragu melangkahkan kakinya untuk mendekati Gina. Di sentuhnya bahu Gina dengan lembut.


''Gina,'' lirih Nyonya Rosa. Mendengar suara Ibu mertuanya, Gina buru-buru menyeka air matanya. Nyonya Rosa lalu duduk bersimpuh di samping Gina.


''Eh Mah, ada apa?'' tanya Gina sambil berusaha untuk tersenyum di hadapan Ibu mertuanya itu.

__ADS_1


''Tidak ada apa-apa Gina.''


''Kalau memang ada yang Mama butuhkan, Mama bilang saja.'' Ucap Gina lagi. Nyonya Rosa menggeleng pelan, ia kemudian menunduk berusaha menyembunyikan air matanya.


''Maafkan Mama, Gina.'' Lirih Nyonya Rosa berusaha menahan rasa malunya.


''Mah, Mama bilang apa? maaf Gina tidak mendengar. Suara Mama pelan sekali.''


Nyonya Rosa menyeka air matanya, ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Gina. ''Maafkan Mama ya. Maafkan sikap Mama selama ini. Mama jahat, Mama egois. Bahkan Mama merasa tidak pantas menjadi seorang Ibu.''


Mendengar ucapan mertuanya, Gina kemudian memeluk Ibu mertuanya itu.


''Mah, Mama tidak salah. Mama tidak perlu meminta maaf.''


''Mah, justru kami yang salah. Kami menikah diam-diam tanpa meminta restu Mama. Gina dan Mas Miko lah yang salah, Mah. Seharusnya kami meminta restu Mama terlebih dahulu sebelum menikah.''


''Tidak Gina. Mama tidak memberiku restu karena melihat latar belakang keluargamu. Tapi sekarang Mama sadar, betapa tulusnya cinta kamu untuk Miko. Kamu rela menerima semua caci maki Mama demi menjaga dan melindungi perasaan Miko. Mungkin wanita lain belum tentu bisa bertahan dalam mendampingi Miko. Seharusnya Mama bersyukur, bisa memiliki menantu seperti kamu. Kamu sangat baik dan sangat tulus. Maafkan Mama Gina, maafkan Mama. Mama terlalu naif untuk mengakui, bahwa kamu yang terbaik untuk Miko.''


''Mah, maafkan Gina juga ya Ma. Maaf kalau Gina menyakiti hati Mama.''


''Seharusnya kata-kata itu yang Mama ucapkan kepadamu, Gina. Maafkan Mama, maaf. Tapi Mama mohon, jangan pernah tinggalkan Miko. Miko sangat membutuhkan kamu.''


''Itu tidak akan terjadi, Mah. Sampai kapanpun Gina akan selalu bersana Mas Miko. Tidak ada alasan bagi Gina untuk meninggalkan Mas Miko.'' Tangis keduanya pecah, mereka saling berpelukan dengan sangat erat. Gina kemudian perlahan melepaskan pelukannya.


''Mah, sebaiknya kita menemui Mas Miko juga di kamar. Saat ini Mas Miko butuh dukungan kita.''

__ADS_1


''Iya Gina. Mama juga akan meminta maaf pada Miko.''


Gina dan Nyonya Rosa kemudian beranjak lalu menuju kamar Miko. Gina dengan perlahan membuka pintu kamar Miko. Tampak Miko terduduk di lantai samping tempat tidur sambil menundukkan kepalanya. Melihat putranya yang tampak frustasi, Nyonya Rosa kemudian mendekat dan memeluk putranya.


''Miko, maafkan Mama.'' Miko sangat terkejut dengan sikap Mamanya.


''Mah, Mama kenapa? kenapa Mama meminta maaf?''


''Maafkan untuk semua kesalahan dan keegoisan Mama, Nak.''


''Mama tidak salah apa-apa. Untuk apa minta maaf?''


Gina yang masih berdiri di ambang pintu kemudian mendekat ke arah mereka berdua.


''Mas, Mama juga minta maaf padaku.'' Mendengar apa yang di ucapkan Gina, Miko seolah tidak percaya.


''Mama sadar atas semua kesalahan yang Mama perbuat pada kalian terutama pada Gina. Mama sadar kalau cinta Gina begitu tulus dan besar kepada kamu, Miko. Gina mengorbankan dirinya untuk menjaga perasaan kamu. Sekarang tentu saja, Mama memberikan restu kepada hubungan kalian. Seharusnya sejak awal Mama sadar, kalau Mama harus memberikan restu dan mendoakan hal baik pada kalian. Bukannya Mama bersikap sebaliknya dan justru memaksa kamu untuk meninggalkan Gina. Maafkan Mama ya, Miko.'' Miko benar-benar merasa bahagia dan terharu mendengar apa yang keluar dari mulut Mamanya. Miko kemudian memeluk dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


''Mah, terima kasih untuk restunya. Maafkan Miko juga yang dulu bandel dan tidak mendengarkan apa kata Mama. Sikap Miko pasti melukai Mama. Percayalah Mah, alasan Miko memilih Gina bukan sekedar cinta melainkan hanya Gina yang bisa menerima semua keburukan Miko. Dia tidak menuntut Miko untuk sempurna tapi justru dia melengkapi semua kekurangan Miko.''


''Iya Miko, Mama mengerti. Mungkin sikap buruk Mama ini juga yang membuat Tuhan marah dan tidak memberikan Mama cucu. Tapi bagi Mama itu tidak penting sekarang. Saat ini yang paling penting untuk Mama adalah kamu dan Gina bahagia sampai akhir hayat kalian. Mama akan ikut bersabar dan berjuang bersama kalian.''


''Terima kasih ya, Mah. Terima kasih sekali.'' Ucap Miko. Miko dan Gina bahagia sekali karena Nyonya Rosa telah berubah dan menyadari kesalahannya. Nyonya Rosa benar-benar menyadari akan semua kesalahannya. Terlebih dengan Gina, ia selalu bersikap kasar dan kerap mencaci maki Gina bahkan memandang rendah Gina juga keluarganya. Namun melihat sikap Gina dan keluarganya yang selalu baik dan tidak pernah membalas keburukannya, semakin membuat Nyonya Rosa membuka mata dan merasa bersalah. Yang membuat egonya luluh adalah saat ia melihat Miko begitu terpuruk dan meminta Gina untuk meninggalkannya. Nalurinya sebagai seorang Ibu pun tidak bisa berbohong, bahwa Gina adalah wanita terbaik untuk putranya.


Bersambung..... Gaskennn like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2