
Keesokan harinya...
''Untuk apalagi kamu datang kesini?'' suara tegas Tuan Handi saat melihat Andy ada di hadapannya. Ekspresi marah dari wajah Tuan Handi bahkan sangat terlihat.
Andy menundukkan pandangannya saat berhadapan dengan kedua orang tua Laras. ''Om-Tante tujuan saya datang kemari baik. Saya ingin meminta maaf pada Om dan Tante atas semua kesalahan saya di masa lalu.''
Tuan Handi mencibir permintaan maaf Andy. ''Minta maaf? setelah empat tahun berlalu, kamu baru minta maaf. Laki-laki macam apa kamu, untung saja Laras tidak meneruskan hubungannya denganmu.''
''Maafkan saya, Om. Saya memang salah dan saya pria yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu saya datang kemari ingin menebus kesalahan saya.'' Andy mengeluarkan selembar cek yang sempat ia berikan pada Laras.
''Ini untuk Om dan Tante.''
''Apa maksud kamu memberikan cek ini?'' tanya Tuan Handi begitu melihat isi cek yang di berikan oleh Andy.
''Saat bersama Laras, saya terlalu menyusahkannya. Dia yang begitu baik dan tulus, justru saya manfaatkan demi kepentingan pribadi saya. Saya sudah berjanji pada diri saya, akan bekerja keras untuk menggantikan uang yang pernah di keluarkan Laras untuk saya. Sejak meninggalkan Laras, saya di hantui rasa bersalah. Saya sadar bahwa yang saya berikan tidak cukup untuk mengobati luka Laras selama ini.''
''Elo nggak perlu repot mikirin luka gue. Karena gue sebentar lagi udah mau nikah. Jadi please jangan ganggu hidup gue.'' Sahut Laras tiba-tiba.
''Laras? kamu benar ingin menikah?'' ucap Andy seolah tidak percaya dengan apa yang Laras katakan.
''Iya. Dan calon suami gue, bukan cowok pengecut kayak elo. Sebaiknya elo jangan ganggu hidup gue lagi.''
''Pah, jangan terima cek itu. Apa Papa dan Mama rela harga diri anak Papa di tukar dengan uang 100juta?'' Lanjut Laras sambil menatap sinis Andy.
''Laras, aku mohon terima cek itu. Aku janji tidak akan mengganggu hidup kamu setelah kamu menerima cek itu. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalahku.''
Mendengar permohonan Andy, Laras sama sekali tidak peduli. Ia kemudian memilih berlalu untuk segera pergi ke butik.
''Andy, kamu sudah tahu jawabannya, sebaiknya kamu pergi dan bawa cek ini. Kami sudah memaafkan bahkan melupakan apa yang terjadi di masa lalu.'' Kata Nyonya Dila.
''Tolong jangan ganggu kehidupan Laras lagi. Dia sebentar lagi akan segera menikah jadi cukup doakan untuk kebahagiannya. Untuk apa yang terjadi di masa lalu, kami sudah mengikhlaskannya. Jadi sekarang silahkan pergi tidak ada lagi yang harus kita berikan.'' Jelas Tuan Handi.
''Baiklah Om-Tante, kalau begitu saya permisi.'' Akhirnya Andy meninggalkan rumah Laras dengan segudang rasa bersalah. Tak di pungkiri hati kecil Andy masih menyimpan rasa untuk Laras. Sejak berpisah dengan Laras, Andy mengunci pintu hatinya untuk wanita lain.
__ADS_1
-
''Istriku, bangun sayang. Aku sudah mau berangkat ke kantor.'' Ucap Kevin sambil membelai wajah cantik istrinya yang masih tertidur pulas itu. Mendengar suara suaminya, Keira akhirnya terbangun. Dengan perlahan ia mengerjapkan matanya. Mengetahui istrinya yang mulai susah bangun pagi, Kevin selalu membangunkan istrinya saat ia sudah bersiap untuk ke kantor.
''Mas, kamu sudah sarapan?'' tanya Keira dengan suara malasnya.
''Sudah semuanya sayang. Aku juga sudah menyiapkan sarapan, susu dan vitamin untuk kamu.''
''Maaf ya Mas, kalau aku semakin susah bangun pagi. Aku juga tidak tahu kenapa yang jelas, aku merasa sangat mengantuk sekali. Bawaannya pingin rebahan dan tidur terus. Malas mau ngapa-ngapain. Sampai beberapa hari aku mengabaikan Marvel.''
''Tidak Kei, kamu sudah jadi Ibu yang baik. Kamu masih bisa menemaninya belajar, hanya saja saat sarapan, kamu tidak menemaninya.''
''Iya Mas. Tapi dia selalu menciumku saat dia akan berangkat ke sekolah. Dan selalu mengajak adiknya mengobrol. Setelah Marvel pamit, aku tidur lagi.''
''Aku sudah memberi pengertian pada Marvel jadi dia juga memahami keadaan kamu kalau dedek bayinya sedang ingin di manja di dalam perut.''
Keira kemudian berusaha untuk bangun dan duduk sambil bersandar.
''Kamu hamil kan harus happy sayang jadi aku mengerti sekali.''
''Oh ya Mas, nanti jam makan siang kamu pulang ya? aku mau di bawain bakso beranak.''
''Bakso beranak? memang ada?'' Kevin terheran dengan permintaan istrinya.
''Adalah Mas. Memang manusia saja yang beranak. Bakso beranak juga ada. Semalam aku pas lihat-lihat sosmed, ada kedai bakso beranak baru buka. Kedainya tidak jauh dari kantor kamu. Beliin ya Mas? aku semalam sampai mimpi makan bakso lho.''
''Iya-iya nanti aku belikan. Lalu apalagi yang kamu mau?''
''Itu disana juga ada es kelapa mudanya. Jadi aku mau kelapanya yang utuh dan aku mau dua buah.''
''Satu saja sudah banyak lho sayang, nanti kamu sakit perutnya.''
''Tapi aku maunya dua sayang, boleh ya.'' Keira merajuk pada suaminya seperti anak kecil.
__ADS_1
''Iya nanti aku belikan. Kamu dari kemarin minta ini itu aku turutin tapi kamu sama sekali belum memberikan aku jatah.''
''Oh jadi kamu tidak ikhlas? minta timbal balik gitu?'' emosi Keira kembali terpancing.
''Eh bukan sayang, bukan begitu. Aku kan juga kangen gituan sama kamu, sayang. Kamu jangan marah dulu. Masa suami minta nggak di kasih.''
''Iya-iya maaf, Mas. Ya sudah nanti siang setelah pulang kantor ya.'' Kata Keira yang merasa bersalah karena memang sejak tahu dirinya hamil, ia sampai melupakan kewajiban untuk melayani hasrat suaminya. Kevin tersenyum kemudian memeluk istrinya.
''Terima kasih sayang. Aku sekarang akan ke kantor dulu dan pastikan nanti siang bener lho ya.''
''Iya Mas tapi bakso beranak dan kelapa mudanya jangan lupa ya?''
''Beres sayang.'' Kevin kemudian mengecup kening istrinya dan segera berangkat ke kantor.
-
Saat jam makan siang tiba, Laras yang masih di butik merasa bingung lantaran ada seorang kurir yang mengantarkan makanan untuknya. Namun kurir itu juga tidak tahu siapa yang menyuruhnya.
''Terima kasih, Pak.'' Ucap Laras saat menerima makanan itu.
''Sama-sama Mbak.'' Ucap kurir itu seraya berlalu.
''Siapa yang mengantar makan siang untukku? Ummmm pasti Kak Krisna. Coba aku buka ah, isinya apa. Ternyata di sela kesibukannya, dia tetap memperhatikan aku.'' Gumam Laras.
''Wah, dimsum. Ini ada martabak manis coklat keju kesukaan aku dan ini es teler. Ya ampun Kak Krisna perhatian banget. Dia kok bisa tahu makanan kesukaan aku? padahal aku belum cerita tentang makanan favorit aku karena memang aku dasarnya rakus,'' gumam Laras sambil tertawa kecil. Laras menemukan secarik kertas di dalamnya.
''Selamat makan siang, Laras. Semoga harimu selalu menyenangkan.'' Kata Laras yang membaca isi pesan dari secarik kertas itu.
''Gini dong Kak Krisna perhatian, jadi makin cinta dan nggak sabar nikah. Langsung sikat! emang udah lapar banget.''
Padahal sebenarnya yang mengirim semua makanan itu bukanlah Krisna tapi Andy. Semua itu Andy lakukan untuk menebus rasa bersalahnya pada Laras. Sedangkan Krisna sendiri masih disibukkan dengan pengujian produk perusahaan yang sebentar lagi akan di launching.
Bersambung....
__ADS_1