
Belum sempat menjawabnya, ponsel Keira berdering, membuat ia melepaskan tangannya yang tergenggam dengan Kevin.
''Maaf ya, mama terima telepon dulu,'' kata Keira seraya menjauh dari keduanya. Ada nama Leon disana.
''Halo Kei, kamu dimana? aku sudah di panti.''
''Halo juga, Leon. Maaf ya sepertinya aku akan datang terlambat, aku ada urusan penting.''
''Oh begitu, baiklah aku akan menunggumu disini. Mereka menunggu kedatangan kamu, Kei.''
''Iya Leon, kalau urusanku selesai, aku akan segera kesana. Maaf ya kalau hari pertama aku sudah terlambat.''
''Its okay. Ya udah hati-hati ya, sampai bertemu nanti.''
''Okay Leon, bye.'' Panggilan pun terputus. Marvel dan Kevin kompak memperhatikan Keira yang sedang menerima telepon. Tatapan mereka penuh dengan selidik.
''Siapa mah?'' selidik Marvel.
''Teman mama, hari ini kami sama-sama membantu di panti jompo. Sepertinya mama harus pergi.''
''Laki-laki atau perempuan?'' tanya Marvel kembali. Pertanyaan Marvel, seolah mewakili pertanyaan yang ada di pikiran Kevin.
''Laki-laki, Marvel. Nanti setelah pulang dari panti mama akan kembali ke sini lagi.''
''Mmmm bisakah buatkan aku nasi tim sebelum pergi?'' sahut Kevin dengan suara tergagap.
''Minta buatkan Bibi saja, tuan. Aku sedang buru-buru.''
''Tapi rasanya beda dengan yang kamu buatkan kemarin,'' kata Kevin dengan tetap sok cool.
''Mama, sebelum pergi buatkan papa makanan dulu ya. Aku ingin sekali papa cepat sembuh,'' bujuk Marvel dengan tatapan memelas. Keira mendengus kesal, tampaknya ayah dan anak ini semakin kompak untuk membuatnya terjebak di antara mereka.
''Oke baiklah. Mama akan buatkan sebentar.'' Keira lalu meletakkan tasnya dan menuju ke dapur.
''Marvel, kamu sungguh menginginkan tante Keira untuk menjadi mama kamu?''
''Iya pah. Aku tidak ingin apa-apa lagi selain itu. Aku ingin rumah ini kembali ceria seperti dulu dengan kehadiran mama. Papa mau kan?''
''Dalam sebuah pernikahan itu harus ada cinta Marvel.''
''Kenapa tidak menikah saja dulu pah? cinta akan datang dengan seiring berjalannya waktu. Iya kan?''
__ADS_1
''Darimana kamu dapat kata-kata itu?'' selidik Kevin.
''Dari buku tentang cinta yang aku baca di kamar mama Keira, hehehe.''
''Dasar kamu! masih kecil baca buku seperti itu. Baiklah kalau kamu menginginkan tante Keira menjadi mama kamu, jaga dia jangan sampai dia bersama pria lain. Apa kamu rela dia bersama pria lain? lalu menikah dengan pria lain, mereka punya anak, lalu melupakan kamu, apa kamu yakin akan baik-baik saja?'' ucap Kevin yang seolah menakuti Marvel. Lebih tepatnya menakuti Marvel atau Kevin sendiri yang mulai takut kehilangan Keira?
''Tidak! tidak! aku tidak akan membiarkan itu. Aku hanya ingin mama Keira dan tidak mau yang lain, pah. Papa benar akan mengabulkan keinginanku?''
''Papa akan mengabulkan apapun keinginanmu. Karena sekarang papa sadar dan tahu tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan kamu.'' Ucapnya seraya meneluk putra semata wayangnya itu.
''Terima kasih ya, pah. Aku sangat mencintai papa.''
''Papa juga sangat mencintaimu, nak.'' Kevin pun mengecup pucuk kepala Marvel.
-
Di dapur, Keira mulai memasak untuk Kevin.
''Non, ada yang bisa Bibi bantu?''
''Tidak usah, Bi. Ini juga membuatkan makanan untuk tuan kepala batu itu.''
''Masa sih, Bi? padahal ini kan menunya sederhana sekali. Nasi tim dan ayam bawang. Ayamnya di suwir terus di tumis dengan bawang merah dan putih yg sudah di haluskan, lalu di tambahkan kaldu ayam dan jamur untuk kuahnya. Untuk sayurnya saya cincang halus wortel dan di beri daun bawang. Ya, saya masak ini sesuai dengan kondisi lambung tuan Kevin yang tidak boleh makan pedas dan asam.''
''Saya sudah meniru masakan Non tapi tetap saja tuan marah dan tidak mau. Sepertinya bukan masakan saya yang salah, Non. Tapi memang tuan ingin memakan masakan Non Keira, soalnya kan ada bumbu cinta didalamnya,'' gurau Bi Nani dengan senyum lebarnya.
''Ihhh Bibi ini apa-apaan sih? bukan bumbu cinta, Bi tapi bumbu kebencian. Habis kepala batunya menyebalkan sekali,'' kata Keira seraya tertawa.
''Sabar ya, Non.'' Kata Bi Nani sambil mengusap bahu Keira. Setelah selesai memasak, Keira segera menuju kamar Kevin. Tak lupa ia membawa air lemon yang bagus untuk penderita maag. Namun saat Keira masuk, ia melihat Kevin muntah lagi. Sementara Marvel tampak bingung mengatasi papanya.
"Tuan!" seru Keira dengan panik. Ia meletakkan makana itu begitu saja di atas meja.
''Anda muntah lagi?''
''Perutku mual lagi,'' ucapnya lirih.
''Marvel, minta tolong sama Bi Nani untuk menyiapkan air hangat dan du handuk kecil ya?'' kata Keira dengan panik.
''Iya mah,'' jawab Marvel yang tak kalah khawatir. Marvel segera berlari menuju dapur. Keira mengambil tisu lalu menyeka bibir Kevin. Kevin pun lemas tak berdaya sambil bersandar pada dipan. Baju dan selimut yang di pakai Kevin pun kotor.
''Maaf tuan, aku harus melepas pakaianmu.'' Kali ini Kevin hanya mengangguk karena mual di perutnya sungguh luar biasa.
__ADS_1
''Ini kan piyama yang aku pakaikan kemarin? kenapa tidak ganti baju tuan? sepertinya dokter harus memeriksa kondisi tuan lagi. Kalau seperti ini terus, lambung tuan bisa terinfeksi. Lihat saja muntahan tuan hanya air yang keluar. Kenapa keras kepala sekali sih? makan saja tidak mau seperti anak kecil,'' cerocos Keira seraya membuka pakaian Kevin dan membereskan selimut yang kotor. Kevin hanya terdiam dan menatap Keira diam-diam. Untung saja kali ini, muntahan Kevin tidak sampai di lantai.
''Mama, ini airnya." Kata Marvel sambil membawa baskom dan handuk.
''Terima kasih ya, Marvel.''
''Mama bisa minta tolong lagi?''
''Sebutkan saja mah.''
''Tolong berikan selimut ini pada Bibi ya, biar di cuci langsung.''
''Siap mah!" Marvel pun bergegas membantu mamanya.
''Seharusnya tuan bisa minta tolong Bi Nani untuk membersihkan tubuh tuan seperti ini kalau memang belum bisa terkena air.'' Kata Keira sambil mengusap tubuh Kevin dengan handuk yang basah. Entah berapa kali Keira melihat dada bidang dengan tubuh yang atletis itu. Kali ini Kevin diam dan tidak melawan. Dia hanya bisa memperhatikan dan merasakan sentuhan Keira diam-diam.
''Aku ambil pakaian untuk tuan dulu.'' Kata Keira. Tak lama kemudian, Keira membantu Kevin memakai pakaian.
''Celananya tuan?''
''Tolong papah aku ke kamar mandi ya?''
''Oke baiklah.'' Keira lalu membantu Kevin untuk berdiri. Keira mengalungan tangan kiri Kevin di lehernya, sementara Keira merangkul erat pinggang Kevin. Karena tangan kanan Kevin masih terpasang infus jadi ia harus membawanya. Kevin lalu segera masuk kamar mandi untuk ganti celana, sementara Keira menunggu di luar. Kevin sekaligus mencuci muka dan menggosok gigi. Sembari menunggu Kevin, Keira memutuskan untuk menelepon Dokter Alan.
''Halo Dokter Alan, selamat pagi. Ini Keira.''
''Oh Keira, pagi Kei. Ada apa?''
''Dokter bisa kerumah untuk memeriksa kondisi tuan Kevin kan? pagi ini dia muntah lagi dan aku lihat cairan infusnya tinggal sedikit.''
''Baiklah, Kei. Aku akan segera bersiap menuju kerumah Kevin.''
''Terima kasih dokter.'' Panggilan berakhir.
CEKLEK. Pintu kamar mandi pun terbuka.
''Sudah selesai tuan?''
Kevin hanya mengangguk lemah. Keira kembali memapah Kevin menuju tempat tidur. Namun tubuh Kevin yang lemas, membuat.ya mendadak kehilangan keseimbangan. Kevin pun terjatuh bersama Keira. Keduanya terjatuh di lantai dengan posisi tubuh Keira berada di atas tubuh Kevin. Hingga tanpa sengaja bibir keduanya saling bersentuhan. Kedua mata mareka saling bertemu sangat dekat. Untuk pertama kalinya, bibir Keira bersentuhan dengan seorang pria. Begitu pula dengan Kevin, untuk pertama kalianya setelah empat tahun, bibirnya menyentuh seorang bibir wanita dan itu Keira.
Bersambung.... Next? sabar sebentar yaaa, nanti author lanjut lagi 🙏😁❤️
__ADS_1