
Jam sudah menunjukkan pukul 11, Keira pun mulai menguap dan merasakan kantuk tak tertahan. Akhirnya ia pun tertidur di sofa ruang tamu. Sepuluh menit kemudian, terdengar deru suara mobil Kevin. Wajah Kevin tampak lelah sekali hari itu. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum hari pernikahannya tiba. Saat Kevin baru masuk ke dalam rumahnya, ia di kejutkan dengan Keira yang tertidur di sofa. Dan disaat bersamaan Bi Nani juga berjalan menuju ruang tamu karena mendengar suara mobil Kevin.
''Bi, dia kenapa tidur disini?'' tanya Kevin dengan suara lirih.
''Nona sedari tadi khawatir karena Tuan belum pulang dan selalu bertanya pada saya, biasanya Tuan pulang jam berapa, begitu Tuan.''
Mendengar penjelasan Bi Nani, Kevin tersenyum kecil.
''Ya sudah Bibi istirahat saja dan tolong letakkan tas ku di ruang kerja. Biar aku yang mengurusnya.'' Kata Kevin sambil memberikan tasnya pada Bi Nani.
''Baik Tuan.'' Bi Nani pun segera berlalu menuju lantai dua, ruang kerja Kevin.
''Hmmm dia khawatir? Jangan-jangan dia sudah jatuh cinta padaku juga,'' batin Kevin. Kevin lalu menggendong Keira menuju kamar tamu di lantai bawah. Sesampainya di kamar, perlahan Kevin menurunkan Keira di tempat tidur dan diselimutinya tubuh Keira. Kevin lalu duduk di tepi ranjang, memandang Keira yang tampak tidur pulas. Tangan Kevin bergerak, berusaha menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Keira. Lagi-lagi pandangan Kevin tertuju pada bibir yang tampak manis itu.
Kevin yang terbawa perasaan, mendekatkan bibirnya ke arah bibir Keira. Namun Kevin segera sadar dan memilih mengecup pipi Keira.
''Kevin, apa kamu lakukan? Kamu mencium pipinya?'' gumam Kevin yang baru saja menyadari apa yang baru saja di lakukannya.
''Astaga, apa yang aku lakukan? Kevin, kenapa kamu jadi bodoh seperti ini?'' gumamnya lagi.
Keira kemudian terbangun dan melihat Kevin sudah ada di kamarnya.
''Mas Kevin!" ucap Keira lirih. Kevin terkejut saat mendengar suara Keira dan ia mendadak salah tingkah.
''Mas sudah pulang?''
''Iya baru saja. Aku melihatmu tertidur di sofa ruang tamu jadi aku membawa kamu ke kamar. Kata Bibi kamu sedang menungguku?''
''Menunggu? Mmmm tidak. Ya sudah terima kasih sudah membawaku ke kamar. Aku mau tidur.'' Kata Keira yang berusaha menyangkal ucapan Kevin.
''Hhhh dasar! Ngapain juga bohong,'' batin Kevin. Kevin kemudian keluar dan meninggalkan kamar Keira.
''Huh, ngapain sih pakar ketiduran di ruang tamu. Ketahuan kan? Dia jadinya ge-er,'' kata Keira yang menggerutu sendiri.
''Tapi syukurlah dia sudah pulang.'' Imbuhnya.
Kevin mendadak merasa lapar dan mengurungkan niatnya menuju kamar. Karena ia belum makan sejak tadi siang. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mengecek apakah masih ada sisa makan malam. Dan ternyata hanya tinggal nasi saja itupun cuma sedikit.
''Kenapa Bi Nani masak sedikit? Pasti mengira aku makan di luar. Mau minta tolong Bibi juga udah jam segini,'' gumamnya lagi.
Keira yang terbangun, tiba-tiba merasa haus. Ia memutuskan untuk pergi ke dapur. Namun ia mendengar suara gaduh di dapur.
__ADS_1
''Siapa tengah malam di dapur? Si Bibi juga sudah pasti tidur.'' Ucap Keira sembar mengendap menuju dapur.
''Tuan Kevin!" serunya yang membuat Kevin tercekat.
''Ke... Keira! Mengagetkan saja.'' Ucapnya sambil menepuk dadanya.
''Aku pikir ada maling atau apa? Mas Kevin ngapain disini?''
''Menurutmu? Apa aku terlihat mau mencangkul?''
''Ditanya seperti itu saja jutek banget.'' Keira lalu membuka kulkas untuk minum. Selesai minum, Keira berbalik namun suara Kevin menghentikannya.
''Keira, bisa masak untukku? Mmmm aku lapar.''
''Bukannya sudah makan di luar? Jam segini darimana saja? Sampi di rumah kelaparan,'' ketus Keira.
''Aku seharian ini menyelesaikan pekerjaanku. Pernikahan kita tinggal dua hari lagi.'' Jawab Kevin dengan kesal. Keira yang merasa kasihan akhirnya mengalah.
''Tuan mau makan apa?''
''Apa saja terserah kamu. Karena nasi juga tinggal sedikit. Aku akan menunggu di meja makan. Tapi bisa kan buatkan secangkir teh hangat untukku?''
''Hmmmm,'' jawab Keira dengan malas. Kevin tersenyum sambil berlalu. Keira lalu membuat secangkir teh untuk Kevin setelah itu ia memilih memasak mie goreng saja untuk Kevin. Karena tidak mungkin kalau harus memasak nasi dulu. Mie goreng dengan toping sosis, ayam suwir dan sawi hijau. Tak butuh waktu lama bagi Keira membuat mie goreng ala abang-abang pinggir jalan.
''Ini sudah jadi, Mas.'' Kata Keira sambil menyodorkan mie goreng di hadapan Kevin. Kevin mencium aroma yang sangat sedap bahkan begitu menggugah seleranya.
''Kalau begitu, aku tidur dulu.''
''Kei, bisa temani aku makan.'' Kata Kevin malu-malu. Tanpa banyak bicara, Keira lalu duduk berhadapan dengan Kevin. Kevin kemudian mulai melahap mie goreng buatan Keira. Asin, itulah yang Kevin rasakan. Kevin lalu buru-buru menenggak minuman yang ada di hadapannya itu. Melihat ekspresi aneh Kevin, membuat Keira melotot penuh selidik.
''Dia sengaja apa ngasih garam?'' batin Kevin.
''Kenapa Mas? Enak atau tidak enak?'' selidik Keira.
''Mmmmm enak-enak, apalagi lapar seperti ini.'' Ucapnya sambil menahan rasa asin.
''Oh syukurlah. Aku pikir kenapa,'' ucap Keira dengan santai. Dengan menahan rasa asin, Kevin mengahabiskan mie buatan Keira. Mau tidak mau, ia sudah terlanjur lapar.
Setelah selesai makan, Kevin lalu membawa piring itu ke dapur namun Keira mencegahnya.
''Biar aku saja. Mas pasti capek jadi sebaiknya Mas istirahat saja.'' Kata Keira.
''Baiklah kalau begitu, aku ke kamar dulu.''
__ADS_1
Keira kemudian pergi ke dapur dan ia melihat ada sisa mie di pan.
''Si kepala batu ini makannya sampai habis. Pasti masakanku enak banget. Coba ah aku icip, ada sisa sedikit di pan.'' Keira lalu mencicipinya.
''Asin banget,'' ucapnya sambil mengerutkan keningnya.
''Ini kenapa bisa asin gini? Apa aku salah masukin garam ya? Seharusnya kan kaldu bubuk, bukan garam. Tapi kenapa Mas Kevin bohong? Aduh, kasihan juga udah lapar malah aku suruh makan mie goreng rasa garam.'' Kata Keira yang merasa tidak enak pada Kevin namun ia juga merasa kasihan karena merasa seperti menjebak Kevin.
''Ya udahlah besok aku ganti aja makanan hari ini. Habis ngantuk di suruh masak, ya harap maklum,'' ucap Keira yang bicara dengan dirinya sendiri.
...****************...
Keesokan harinya, Keira bangun pagi-pagi sekali. Ia bergegas menuju dapur untuk memasak mie goreng seperti semalam. Ia ingin menebus rasa bersalahnya pada Kevin semalam. Entah apa yang membuat Keira ingin melakukan itu. Ia hanya berusaha menuruti kata hantinya. Bahkan Bi Nani pun tidak di ijinkan untuk membantu.
Tiga porsi nasi goreng dengan irisan sosis, ayam suwir serta bakso sudah tertata di atas meja, tak lupa Keira menyertakan sayuran hijau di dalamnya. Dengan tiga gelas jus jeruk, di tambah satu gelas susu untuk Marvel, serta secangkir teh untuk Kevin sudah siap. Kevin dan Marvel dengan kompak menuruni anak tangga. Keduanya sudah bersiap untuk perhi ke kantor dan ke sekolah.
''Taraaaaa, sarapan pagi sudah siap! Mama masak mie goreng hari ini,'' kata Keira dengan senyum cerianya.
''Emmmmm aromanya sedap sekali, Mah. Pasti rasanya enak.'' Kata Marvel yang bergegas untuk duduk. Kevin yang melihat menu diatas meja, menjadi enggan untuk sarapan.
''Aku berangkat saja ya. Kamu antar Marvel ke sekolah dengan Pak Wahyu saja,'' kata Kevin yang berusaha menghindar. Kevin seolah merasa trauma melihat menu yang ada di atas meja. Keira yang tahu bahwa Kevin menghindar, ia menarik lengan Kevin dan memaksanya duduk. Bahkan secara langsung, Keira menggenggamkan sendok serta garpu di tangan Kevin.
''Ayo Mas, makanlah. Ini tidak asin! Kenapa wajahmu seperti sedang tertekan?'' kata Keira dengan penuh penekanan.
''Pah, ini beneran enak lho.'' Sahut Marvel.
''Ayo makanlah, Mas. Aku hanya mengganti masakanku yang keasinan semalam.'' Kata Keira.
''Iya semalam karena kelaparan, aku terpaksa menghabiskannya. Awas saja kalau ini asin lagi!"
''Siapa suruh minta di masakin tengah malam? Udah tahu lagi ngantuk.''
''Oh jadi semalam Papa dan Mama main masak-masakan ya?'' goda Marvel.
''Bukan seperti itu Marvel. Papa lapar terus kebetulan Mama di dapur untuk minum, jadi ya minta di buatkan saja. Toh Mama Keira sebentar lagi sudah menjadi istri Papa jadi wajar saja kan.''
''Wajar kok Pah. Marvel senang kalau kalian sudah akur.''
''Kami akan selalu berusaha semakin akur, Marvel,'' kata Kevin sambil mengusap kepala putranya.
''Apa maksud Tuan Kevin bicara seperti itu?'' batin Keira.
''Mie ini lebih enak dari semalam, Kei. Terima kasih untuk sarapan dan tehnya. Hari ini kamu di rumah saja dan jangan kemana-mana. Hanya boleh mengantarkan Marvel saja. Aku nanti juga akan pulang lebih cepat.''
__ADS_1
''Iya.'' Kata Keira yang kehilangan semangat.
Bersambung....