Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 167 Curahan Hati


__ADS_3

Sesampainya di tempat fesival layang-layang, Laras menggandeng tangan Krisna dan mengajaknya untuk membeli layang.


''Kak, aku mau layang-layang bentuk panda itu. Dia sangat lucu.'' Laras kegirangan seperti seorang bocah. Tanpa banyak bicara, Krisna segera membayarnya.


''Kak, kamu bisa menerbangkan layang-layang ini kan?''


''Tentu saja bisa. Saat aku masih kecil, aku suka sekali bermain layang-layang.''


''Baiklah, kalau begitu ayo kita terbangkan sama-sama.'' Dengan mudahnya Krisna menerbangkan layang-layang itu.


''Keira!" panggil Laras saat melihat Keira di seberang sana.


''Hai, Ras. Elo disini juga.''


''Iya, Kei.''


''Wah-wah, sepertinya kita semua kebetulan sekali berkumpul disini,'' sahut Miko.


''Lho, Kak Miko, Mbak Gina, kalian disini juga?'' seru Keira.


''Iya. Sekali-kali lah kita mengenang masa kecil,'' sahut Gina.


''Tante Rosa bagaimana, Mik?'' tanya Kevin yang berdiri di samping Keira.


''Mama sudah semakin membaik, Kev.''


''Syukurlah aku senang sekali mendengarnya.''


''Oh ada Leon juga disana,'' seru Miko.


''Halo Tuan Miko, apa kabar?''


''Aku baik, Leon. Seperti yang lihat sekarang. Oh ya mana-mana layangmu?''


''Itu bentuk hati.''


''Wah, keren. Apa itu hasil karya mu sendiri?''


''Iya.''


''Sepertinya kamu membuatnya benar-benar menggunakan hati ya. Memang hati siapa yang sedang kamu tarik ulur?'' goda Miko.


''Aku tidak tahu. Berharap menerbangkan hati ini, supaya ada hati lain juga yang tersangkut.'' Ucapnya sambil melirik ke arah Keira. Kevin yang melihat lirikan mata Leon pada Keira, segera meminta Keira untuk pindah di sebelah kirinya supaya tidak bersebelahan dengan Leon.


''Ya, berdoa saja Leon, supaya ada hati yang tersangkut juga,'' ucap Miko seraya tertawa.


''Kak, sepertinya layang-layang kita tersangkut dengan yang lain,'' suara heboh Laras membuat semua melihat ke arah Laras.


''Jangan sampai layang-layang kita yang putus. Buat layang-layang domba itu kalah. Tarik terus dia, Kak.'' Kata Laras sambil memberi semangat pada Krisna.

__ADS_1


''Ayo Pak Krisna, semangat!" sahut Keira.


''Wah, sepertinya ada yang mengajakku beradu juga nih,'' seru Miko.


''Ayo sayang, jangan sampai milik kita putus.'' Kata Gina.


Hari itu menjadi hari yang menyenangkan untuk mereka semua, terkecuali Kevin yang merasa kesal dengan kehadiran Leon. Apalagi Marvel juga dekat dengan Leon. Sinar matahari mulai naik dan semakin terik. Kevin lalu mengajak Keira dan Marvel begitu saja tanpa pamit terutama dengan Leon.


''Pah, kenapa kita pulang duluan sih? kan belum selesai?'' protes Marvel.


''Itu sudah siang, Marvel. Kita makan siang dulu ya.''


''Iya nih, Mas. Kamu kurang seru, ah. Padahal lagi asyik main tarik ulur.''


''Kei, kamu baru sembuh. Luka kamu bahkan belum kering, kamu tidak boleh terlalu capek, mengerti!"


''Iya-iya, Mas.''


''Tapi aku masih mau jalan-jalan, Pah.''


''Iya setelah makan siang, kita pergi ke pantai ya.''


''Papa serius?''


''Iya Marvel.''


''Aku juga setuju, Mas.''


''Papa, kemarilah! Ayo kita main kejar-kejaran.'' Panggil Marvel yang melihat Papanya melamun.


''Mas, ayo! kamu untuk apa cuma duduk. Ayo main bersama kita,'' ajak Keira. Kevin lalu beranjak dari duduknya dan mulai mengejar mereka berdua. Hari itu Kevin benar-benar meluangkan waktunya bersama Keira dan Marvel. Marvel sendiri sangat bahagia, bisa menghabiskan akhir pekan bersama Papa dan Mamanya.


-


Malam harinya, Miko dan Gina berkunjung ke rumah Kevin. Sesampainya di sana, Gina segera menuju dapur menghampiri Keira.


''Kei, masak apa?''


''Eh, Mbak Gina. Masak sederhana saja, Mbak. Ini aku cuma bantu Bibi saja.Sudah dari tadi, Mbak?'' tanya Keira yang tampak terkejut dengan kedatangan Gina.


''Baru saja sampai, Kei. Habis dsri festival, aku mampir kesini. Pingin di ajari masak sama kamu. Aku tidak pandai memasak.''


''Tumben, Mbak. Bukanya ada Bibi di rumah juga ya?''


''Iya tapi lagi pulang kampung, Kei. Apalagi ada Mama di rumah, jadi aku ingin bisa masak. Mama bosan kalau aku bisanya masak itu-itu saja.''


''Aku masak juga nggak jago-jago banget kali, Mbak.'' Keira terkekeh.


''Tapi setidaknya kamu lebih jago dari aku, Kei.''

__ADS_1


''Ya sudah Mbak, sebaiknya kita makan malam sama-sama dulu ya.''


''Oke, kebetulan aku juga sudah lapar.'' Kata Gina sambil menepuk perutnya. Setelah selesai makan malam, Gina mengajak Keira untuk duduk bersama di sebuah gazebo di halaman belakang rumah Keira.


''Kei, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu.''


''Tanya saja, Mbak.'' Keira bisa membaca bahwa saat ini suasana hati Gina sedang tidak baik-baik saja.


''Kei, menurutmu aku ini seperti apa?''


''Menurut ku Mbak Gina baik, hebat, desainer terkenal tapi rendah hati sekali.'' Mendengar pendapat Keira, Gina terdiam sambil menunduk. Keira lalu menyentuh tangan Gina.


''Mbak, sebenarnya ada apa? cerita saja, Mbak.''


Gina lalu mengangkat wajahnya dan terlihat air mata sudah membasahi wajahnya.


''Mbak, Mbak kenapa?'' tanya Keira sekali lagi. Gina lalu memeluk Keira dengan sangat erat. Ia hanya bisa menangis sambil sesenggukan dalam pelukan Keira.


''Menangislah Mbak, kalau itu bisa membuat Mbak tenang.'' Ucap Keira sambil menepuk pelan punggung Gina.


''Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi Mama Rosa. Mama sengaja mendekatkan Miko dengan wanita lain. Aku mengerti Mama ingin segera punya cucu tapi aku tidak sanggung jika harus berbagi suami dengan wanita lain.''


Keira sudah menduga bahwa itulah yang mengganggu pikiran Mbak Gina.


''Mbak, asal Kak Miko tetap teguh dengan pendiriannya itu tidak masalah.''


''Tapi Mama selalu berusaha mendekatkan Miko dengan wanita itu.''


''Percayalah pada Kak Miko, Mbak.''


''Aku percaya pada Miko tapi aku takut kalau dia tergoda. Apalagi sikap Mama yang belum bisa menerima aku sampai detik ini. Aku selalu berusaha bersikap baik bahkan aku sudah menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Tapi hasilnya sama saja, Mama tidak pernah menerimaku. Apa aku harus menyerah, Kei?''


''Jangan Mbak! Jangan pernah menyerah. Aku sendiri menghadapi masalah yang sama dengan Mas Kevin. Mbak pasti tahu siapa wanita yang berusaha menganggu kami. Tapi kami justru saling menguatkan dan saling menjaga. Hujani Kak Miko dengan cinta, Mbak. Kami bahkan harus berteman dengan musuh untuk mencari kelemahannya.''


''Lalu apa yang harus aku lakukan?''


''Selama wanita itu tidak bersikap nekat seperti Mauren, Mbak masih bisa tenang lah. Yang jelas Mbak juga harus dekat dengan wanita itu juga. Supaya Mbak bisa membaca gerak-geriknya. Karena saat ini yang bisa melindungi Kak Miko itu Mbak, sama halnya dengan aku yang harus menjaga Mas Kevin dari wanita ular itu.''


''Kei, Miko justru berencana meminta bantuan wanita itu untuk membantu kasus Kak Kevin.''


''Memang apa pekerjaan wanita itu?''


''Dia seorang jaksa, namanya Nadia. Dia memang jaksa muda yang berprestasi, banyak sekali kasus yang di menangkannya. Jadi aku ingin meminta bantuanmu untuk mengawasi dia.''


''Oh begitu, baiklah Mbak. Mbak tenang saja ya, aku akan melakukannya. Yang penting saat ini, tetaplah bersikap biasa pada Kak Miko dan pada Tante Rosa. Tante Rosa sendiri tidak menyukai ku tapi itu tidak penting bagiku, Mbak. Yang terpenting adalah Mas Kevin selalu berada bersamaku.''


''Terima kasih ya, Kei. Aku merasa lebih lega.''


''Buat happy saja, Mbak. Hanya kita yang bisa membuat diri kita bahagia. Aku yakin Mbak bisa melalui semuanya.''

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2