
“Mas, aku lihat Marvel di belakang panggung dulu ya. Aku ingin memberi tahu dia kalau kita disini.”
“Iya sayang.”
“Ayo Mbak, kita lihat anak-anak. Kita beri mereka semangat supaya mereka tidak gugup.” Ucap Keria pada Tessa.
“Iya Kei, ayo.” Tessa dan Keira lalu pergi menuju belakang panggung melihat persiapan Marvel dan yang lain. Karena tadi Marvel berangkat sendiri lebih pagi.
“Marvel!” suara panggilan Keira, membuat mata Marvel berbinar. Ia lalu menghampiri Mamanya dan memeluknya.
“Mama. Akhirnya Mama datang juga. Apa Papa juga datang?”
“Tentu saja sayang. Bagaimana? Sudah siap?”
“Aku sangat gugup, Mah.” Ucap Marvel. Keira lalu menggenggam kedua tangan putranya.
“Marvel, anggap saja nanti dihadapan kamu hanya ada Papa dan Mama yang menonton kamu. Katakan pada dirimu kalau kamu ingin memberikan penampilan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Supaya kamu lebih santai dan tidak gugup. Dan satu lagi jangan lupa berdoa.”
“Iya Mah. Aku akan mencobanya.”
“Mama yakin, kamu pasti bisa. Kamu harus semangat ya!”
“Terima kasih ya Mah.” Marvel lalu memeluk Mamanya dengan erat.
“Sama-sama sayang.”
“Terima kasih juga karena Mama selalu menemani aku latihan.”
“Tidak perlu berterima kasih sayang, sudah menjadi tugas Mama sebagai seorang Ibu.”
“I love you Mama.”
“I love you too sayang. Baiklah kalau begitu Mama kembali ya. Semangat Kakak Marvel!” Keira lalu mengecup kening dan wajah Marvel. Namun tiba-tiba pandangan Keira tertuju pada Luna. Disaat para orang tua sedang membantu putri kecil mereka bersiap, Luna justru duduk sendiri sambil memegang sebuah pita. Ya, hari ini Luna akan menari bersama teman-temannya. Luna juga belum berganti pakaian. Dan ternyata sedari tadi Luna juga memperhatikan Marvel dan Keira.
“Ini gurunya bagaimana sih? Masa iya sampai ada yang kelewat.” Kesal Keira.
“Mama lihat siapa?” tanya Marvel.
__ADS_1
“Itu sayang, teman kamu yang duduk disana sendirian.”
“Oh itu Luna, Mah. Itu yang sering Marvel ceritakan pada Mama. Dia yang sombong dan tidak mau bicara. Sepertinya dia memang bisu, Mah. Atau mungkin tuli.” Ucap Marvel dengan polosnya.
“Husss, kamu jangan bicara seperti itu. Waktu itu Mama pernah menolongnya dan dia bilang terima kasih kok sama Mama. Ya, walaupun setelah itu dia pergi begitu saja.”
“Serius Mah, dia bicara?”
“Iya Marvel. Ya sudah, Mama mau coba samperin ya. Kasihan dia.”
“Iya Mah.” Jawab Marvel. Keira kemudian menghampiri Luna.
“Hai anak manis, kita bertemu lagi. Kenapa kamu belum ganti baju? Mama kamu mana sayang?” tanya Keira dengan lembut. Luna hanya menggeleng sambil menunjuk kearah tas yang berisi seragam pentasnya.
“Oh ya perkenalkan, nama Tante adalah Keira. Tante ini Mamanya Marvel. Senang sekali kita bertemu kembali. Jangan takut ya, kita bisa menjadi teman. Mau Tante bantu?” lagi-lagi Luna hanya megangguk. Keira lalu menggandeng Luna menuju ruang ganti. Keira senang karena Luna mendengarkan ucapannya. Keira juga mengepang rambut Luna seperti teman-temannya yang lain. Tak lupa Keira memasangkan pita itu pada rambut Luna. Keira lalu mengeluarkan bedak dari tasnya. Ia memberikan bedak tipis pada wajah Luna. Keira mendadani Luna seperti mendandani putrinya sendiri. Dalam benak Keira, ia sedang membayangkan Rachel ketika sudah sebesar Luna.
“CANTIK! Kamu sangat cantik sekali Luna. Tante tahu nama kamu dari Marvel. Oh ya apa kamu gugup?” tanya Keira. Luna pun hanya mengangguk.
“Dengarkan Tante ya, anggap saja nanti kamu seperti sedang menari di dalam kamar. Jadi tidak ada satupun yang melihat kamu hari ini. Kamu sangat cantik Luna. Sepertinya sedikit senyum akan membuat kamu semakin cantik. Nanti Tante akan duduk paling depan untuk memberimu semangat juga. Tante ingin sekali melihat kamu menari dengan sangat indah.” Ucap Keira dengan lembut sambil mengelus kepala Luna. Luna mengangguk dengan senyum tipis. Ia lalu memeluk Keira. Keira terkejut dengan sikap Luna yang tiba-tiba memeluknya itu.
“Terima kasih.” Bibir mungil itu akhirnya bersuara.
“Sama-sama Luna. Kalau begitu Tante keluar ya karena acara segera dimulai.” Ucap Keira. Luna lalu melepasskan pelukannya. Keira lalu pergi dan kembali duduk bersama suaminya.
“Kamu lama sekali sayang?” protes Kevin sambil berbisik.
“Aku sedang memberikan semangat Marvel, Mas. Dia merasa gugup. Aku kan juga menyapa teman Marvel yang lain. Sumpah ya Mas, mereka lucu-lucu dan menggemaskan. Apalagi ada teman Marvel yang bernama Luna. Aku sudah membayangkan Rachel sebesar itu. Dia dandan cantik dan menari diatas panggung. Sudah tidak sabar menunggu Rachel besar, Mas.”
“Kamu ini, untung saja Rahcel anteng dipangkuan Johan.”
“Lho iya ya, aku baru sadar kalau Rachel tidak ada sama kamu. Ya biarin lah, Mas. Setidaknya tangan kita bisa istirahat sebentar. Tuh, Johan saja kelihatan telaten dan nyaman juga dengan Rachel.”
“Iya juga sih,” ucap Kevin dengan senyum kecilnya.
...****************...
__ADS_1
Dan acara pun dimulai. Suasana di Aula semakin ramai karena para wali murid sudah memenuhi semua kursi undangan. Setelah beberapa kata sambutan mulai dari pemilik yayasan, kepala sekolah hingga wali kelas tingkat akhir, akhirnya acara hiburan pun di mulai. Acara hiburan di mulai dari penampilan kelas Luna. Melihat Luna keluar dari panggung, Keira memberikan senyuman lebarnya kearah Luna. Keira lalu mengacungkan dua jempolnya untuk Luna. Luna tersenyum tipis kearah Keira. Dan Luna berhasil memberikan penampilan terbaiknya tanpa rasa gugup dan penuh percaya diri. Setelah Luna turun panggung, giliran Anrez yang naik keatas panggung. Anrez masuk ke dalam kelompok paduan suara. Johan dan Tessa kompak memberikan jempol untuk putranya. Anrez memberikan senyum lebarnya pada kedua orang tuanya. Tessa dan Johan sangat bangga melihat Anrez memberikan penampilan terbaiknya. Dan penampilan yang sedari tadi di tunggu oleh Kevin dan Keira akhirnya tiba juga. Yaitu penampilan Marvel yang membawakan musiklalisasi puisi. Dengan guru kesenian yang mengiringi Marvel membaca puisi dengan sebuah piano.
“Semangat Marvel!” teriak Kevin sambil mengangkat kedua tangannya. Bukannya senang tapi Marvel justru malu dengan sikap Papanya yang dianggap terlalu berlebihan. Sedangkan Keira memberikan senyum lebar untuk putranya.
“Semangat sayang! Kamu pasti bisa.” Ucap Keira dengan hanya gerakan bibirnya. Marvel mengangguk dengan membalas senyum Mamanya.
“Wah, putraku hebat sekali. Dia yang dulu murung dan suka menyendiri kini berani tampil di hadapan banyak orang.” Gumam Kevin penuh dengan rasa kagum.
“Iya ya Mas. Aku bangga sekali melihat Marvel berdiri diatas panggung itu, Mas.”
“Semua itu berkat kamu sayang. Kamu ymemberinya banyak cinta dan kasih sayang. Apa kata-kata di puisi itu kamu juga yang membuatkannya?”
“Iya Mas. Itu tugas pribadi dari wali kelas Marvel. Aku pikir akan di ubah isinya tapi kata wali kelas bilang puisinya sangat bagus.”
“Bahkan Marvel bisa menyamakn tempo musik dengan setiap bait puisinya ya sayang. Wah, istriku memang sangat hebat. Aku bangga dengan kamu dan juga Marvel sayang. Terima kasih ya sayang.”
“Sama-sama Mas. Sudah kewajibanku juga kan, Mas.”
Akhirnya acara hari itu selesai dengan pengumuman juara umum mulai dari kelas 1-6. Kevin semakin bangga saat nama Marvel disebut sebagai juara umum kelas 1 yang terdiri dari lima kelas. Keira bahkan sempat menitikkan air matanya saat mendengar pengumuman itu. Marvel lalu naik keatas panggung disusul dengan kedua orang tuanya. Tak lupa Rachel sudah dalam gendongan Kevin.
“Selamat ya, Marvel. Tingkatkan terus prestasimu.” Ucap Kepala sekolah.
“Iya Pak.”
“Selamat ya Tuan-Nyonya. Perkembangan Marvel semakin hari semakin pesat. Pasti ini semua berkat kekompakan Tuan dan Nyonya.” Ucap Kepala Sekolah sembari menajabat tangan Kevin dan Keira secara bergantian.
“Terima kasih, Pak. Ini juga berkat anda dan semua guru pengajar disini.” Ucap Kevin. Pihak sekolah lalu mengambil foto Marvel bersama keluarganya.
“Selamat Kakak Marvel. Papa dan Mama bangga sekali dengan prestasi kamu, Nak.”
“Marvel juga bangga memiliki orang tua seperti Papa dan Mama. I love you too Pah-Mah.”
“I love yo too Kakak Marvel.” Ucap Kevin dan Keira dengan kompak.
Bersambung.....
__ADS_1