
''Selamat pagi Ibu jaksa. Bagaimana, apakah sudah ada jawaban?'' kata Leon begitu Nadia membuka pintu apartemennya.
''Leon, kamu ini pagi-pagi sudah membuat ulah.''
''Aku tidak di suruh masuk?''
''Iya masuklah.'' Kata Nadia. Leon kemudian duduk di sofa. Sementara Nadia menuju pantry-nya untuk membuatkan Leon minuman.
''Bagaimana Nadia? Aku sudah menunggun terlalu lama tapi kamu tidak ada kepastian juga.''
''Maafkan aku Leon. Aku sangat sibuk, kasusku kemarin saja baru selesai. Mencari kebenaran sungguh membuatku tidak punya waktu, bahkan untuk diriku sendiri.'' Ucap Nadia dengan wajahnya yang tampak lelah.
''Iya dan itu membuat perasaanmu menghambur entah kemana, begitu kan? Apa karena pengacara itu? Kita bahkan tidak ada waktu dan kamu selalu bersamanya.''
''Memang harus bagaimana lagi, Leon? Dia yang bisa aku andalkan.''
''Nadia, apakah bagimu berat untuk menjawab iya ataupun tidak?''
''Bukan masalah berat atau tidak Leon.''
''Apakah bukti aku mencintaimu kurang cukup?'' Leon kemudian beranjak dari duduknya. Ia menyusul Nadia ke pantry lalu memeluk Nadia dari belakang. Nadia sangat terkejut mendapat pelukan dari Leon. Mendadak tubuhnya bergetar.
''Le-Leon, apa yang kamu lakukan?'' Nadia tergagap.
''Nad, aku hanya ingin memelukmu. Aku sangat merindukanmu. Kenapa ya aku merasa kamu tidak mencintaiku? Aku merasa kamu mengabaikan dan tidak peduli padaku. Bahkan sampai detik ini, kamu belum mau aku ajak ke orang tuaku.''
''Leon, bukan begitu. Aku memang sangat sibuk. Kalau memang kamu mencintaiku, kamu juga harus tahu dan paham bagaimana profesiku ini.'' Kata Nadia. Leon lalu melepaskannya dan memutar tubuh Nadia untuk menghadapnya.
''Nad, aku hanya butuh jawaban iya atau tidak. Kalau untuk jawaban menikah, aku akan menunggumu. Tapi untuk saat ini saja kamu bilang kalau kamu juga mencintaiku.''
Sebenarnya Nadia sangat gugup berhadapan begitu dekat dengan Leon. Bahkan untuk bilang cinta, bibir Nadia seolah terkunci.
''Leon, aku....,''
''Iya, apa Nadia? Katakan saja. Sepahit apapun kenyatannya akan aku dengarkan. Aku sudah siap, Nad.''
''Aku....,'' belum selesai berbicara, terdengar suara bel pintu apartemen.
__ADS_1
''Sepertinya ada tamu, aku bukakan pintu dulu.'' Kata Nadia dengan gugup.
''Tommy!" ucap Nadia.
''Hai Nad, maaf aku menganggumu. Aku hanya membawakanmu sarapan saja. Karena kita harus segera ke TKP dan menemui klien juga.''
''Masuklah.'' Kata Nadia. Leon seketika memasang wajah kesalnya karena ternyata yang datang adalah pengacara itu.
''Oh ada tamu. Sepertinya aku menganggu.'' Kata Tommy saat melihat Leon ada disana.
''Apa dia kekasihmu Nad?'' tanya Tommy.
''E...dia...,''
''Iya, aku kekasihnya. Lebih tepatnya aku ini calon suaminya. Perkenalkan namaku Leon.'' Sela Leon. Leon dengan super percaya diri, mengulurkan tangannya pada Tommy. Tommy tersenyum lalu membalas uluran tangan Leon.
''Aku Tommy. Aku pengacara dan partner kerja Nadia. Kenapa kamu tidak cerita kalau sudan punya calon suami, Nad? Tahu begini aku tidak datang. Aku jadi tidak enak.'' Kata Tommy.
''Ti-tidak apa-apa. Kamu kesini juga untuk membicarakan pekerjaan. Oh ya kamu bawa apa?''
''Oh tidak apa-apa, kamu kan juga tidak tahu kalau ada dia disini.''
''Sini Nadia, biar aku suapin kamu ya. Kamu pasti capek kan? Jadi aku suapin kamu saja ya.'' Leon berusaha menunjukkan perhatiannya pada Nadia di hadapan Tommy. Memberi isyarat supaya Tommy tidak mendekati Nadia.
''Ayo Nadia, buka mulutnya.''
''Tapi aku bisa makan sendiri, Leon.'' Kata Nadia.
''Ayolah, setidaknya ijinkan aku menyuapimu, sebelum kamu berangkat kerja. Kalau kamu tidak mengijinkanku menyuapimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi.'' Leon berusaha mengancam Nadia.
''Kamu tidak malu di lihat Tommy?''
''Kenapa harus malu? Seharusnya dia yang malu karena pagi-pagi sudah mengirim makanan kepada calon istriku.'' Celetuk Leon dengan kesal.
''Maafkan aku ya kalau kedatanganku menyinggungmu. Sungguh, ini hanya urusan pekerjaan saja.'' Kata Tommy.
''Sudah tidak apa-apa Tom, ayo kita makan sama-sama.'' Kata Nadia.
__ADS_1
''Its okay, tidak masalah.'' Ucap Tommy.
''Sebelum kamu makan, aku akan mencicipinya terlebih dahulu. Aku pastikan makanan ini aman.'' Ucap Leon.
''Astaga Leon, kamu berlebihan.''
''Tidak apa-apa. Setidaknya kalau terjadi sesuatu, kamu tahu bahwa aku rela mengorbankan nyawaku untuk kamu.'' Leon lalu mencobanya satu suap.
''Oke lah lumayan. Sekarang buka mulutmu.'' Pinta Leon. Nadia akhirnya pun menurut pada Leon. Ia menerima suapan dari Leon. Sementara Tommy merasa serba salah dengan kehadirannya. Selesai sarapan, Nadia dan Tommy bersiap pergi.
''Kamu mau disini saja? Kamu tidak ke kantor?'' tanya Nadia.
''Tidak. Aku hari ini akan menunggumu pulang. Apa kamu satu mobil dengan Tommy?''
''Sepertinya iya.''
''Oke baiklah, nanti aku akan menjemputmu. Katakan saja nanti dimana aku harus menjemput.'' Kata Leon. Nadia hanya mengangguk dengan senyumnya.
''Leon, aku pergi dulu ya.'' Kata Tommy.
''Awas ya, jangan goda Nadia.''
''Tenang saja, aku akan menjaganya untukmu.'' Kata Tommy. Nadia dan Tommy lalu menghilang dari pandangan Leon.
''Aduh, kenapa rasanya panas sekali? Dulu melihat Keira bersama Tuan Kevin, aku tidak merasa sepanas ini. Aku bahkan merasa tidak tenang. Sepertinya perasaanku memang sudah terlanjur dalam pada Nadia. Eh tapi tadi Nadia tidak menyangkal saat aku mengatakan kalau aku ini calon suaminya, bukankah itu artinya Nadia setuju?'' Leon mencoba menerka sikap Nadia. Ia kemudian tertawa sendiri seperti orang yang tidak waras. Akhirnya Leon memilih untuk membersihkan apartemen Nadia yang lumayan berantakan.
''Nadia pasti senang, saat dia pulang nanti rumahnya menjadi bersih. Aku akan menyiapkan makan malam romantis dan sebotol anggur untuk menyambutnya pulang. Aku akan memasak dengan tanganku sendiri.'' Leon akhirnya memutuskan pergi belanja. Ia begitu antusias untuk menyiapkan kejutan kecil untuk Nadia.
''Biasanya wanita sangat suka dengan kejutan. Aku harus membuatnya terkesan malam ini. Aku harus membuatnya terharu dengan makan malam yang aku siapkan ini. Setidaknya aku harus menunjukkan padanya, kalau perasaanku ini tulus.'' Gumam Leon sambil memilih bahan makanan yang ia butuhkan. Tak lupa Leon membeli buket bunga untuk Nadia. Leon juga membeli beberapa pernak-pernik untuk menghias apartemen Nadia.
Setelah belanja cukup lama, Leon kembali ke apartemen Nadia dengan membawa banyak belanjaan. Sesampainya di apartemen, Leon memulai dengan menghias ruangan. Ia begitu semangat, meskipun cukup melelahkan menghias ruangan itu sendirian. Setelah di rasa cukup, Leon lalu menuju pantry untuk memasak. Leon mengeluarkan semua belanjaannya dan segera mengeksekusinya.
''Saat Nadia pulang, aku akan mematikan lampunya. Begitu dia masuk, lampunya aku nyalakan, dia pasti terkejut. Dan malam ini, dia pasti akan memberikan jawabannya padaku. Nadia tidak boleh lolos. Kali ini aku benar-benar harus mendapatkannya. Jangan sampai aku gagal lagi. Semoga si Tommy itu tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku harus menunjukkan pada Nadia, kalau aku bisa bersikap dewasa dengan membiarkannya bekerja bersama si Tommy itu. Ayo Leon, semangat!" Leon berdialog panjang lebar dengan dirinya sendiri. Untuk menghibur suasana hatinya yang sebenarnya sangat gelisah. Membayangkan Nadia satu mobil dan pergi bersaka Tommy. Entah apa yang terjadi dengan Nadia dan Tommy di luar sana. Setidaknya itulah yang berkecamuk di hati dan pikiran Leon.
Bersambung... Yukkk like, komen dan votenya yaa, makasih 🙏❤️
''
__ADS_1