
Setelah selesai makan siang, Keira kembali ke dapur untuk mencuci piring yang kotor. Sementara Marvel kembali lagi ke kamarnya. Tiba-tiba Kevin datang memeluk Keira dari belakang.
"Kei....," ucapnya lirih sambil berbisik tepat di telinga Keira.
"Mas, aku sedang mencuci piring. Sebaiknya kamu jangan ganggu aku."
''Aku hanya ingin memakaikan kalung ini kembali ke lehermu, Kei.'' Kata Kevin.
''Ya sudah kamu pakaian saja, Mas.''
''Tapi hentikan dulu aktivitasmu itu dan berbalik menatapku,'' tegas Kevin. Keira lalu menghentikan aktivitasnya dan menuruti perintah Kevin. Kevin tersenyum lalu memakaikan kembali kalung itu ke leher Keira.
''Mas, terima kasih ya kamu sudah menemukan kalung ini juga. Padahal aku sudah mengikhlaskan kalau kalung ini hilang.''
''Ini masih menjadi hak milikmu Kei, jadi kalung ini kembali kepadamu setelah hilang bertahun-tahun.''
''Aku juga ingin berterima kasih kepada Nyonya Kania yang sudah menyimpan kalung ini. Sekali lagi terima kasih ya, Mas.''
''Kei, aku lah yang berterima kasih. Aku bisa saja mati saat itu juga kalau tidak ada kamu disana. Maafkan aku yang akhirnya berhenti mencarimu dan mencintai Kania.''
''Tidak Mas. Jangan pernah mengatakan itu. Pertemuan kamu dengan Nyonya Kania itu sudah takdir. Jadi jangan pernah sesali apapun yang pernah terjadi di masa lalu. Nyonya Kania juga adalah bagian hidup kamu dan dia adalah ibu kandung yang melahirkan Marvel.''
''Aku berharap kamu segera ingat kembali dengan kejadian 11 tahun lalu. Karena bisa jadi kamu adalah saksi kunci disana. Tapi aku juga tidak mau memaksa ingatanmu. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk hidup.''
''Jangan berterima kasih padaku, Mas. Terima kasihlah pada Tuhan.''
''Iya, itu pasti Kei. Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu ya. Kita menginap saja di rumahmu sampai renovasi kamar kita selesai."
"Oke, Mas. Kamu hati-hati ya."
"Udah, gitu aja?"
"Memangnya mau apalagi, Mas. Kamu berangkat saja dan hati-hati. Aku akan menjaga Marvel disini. Atau ada request untuk makan malam?''
''Kenapa tidak peka sama sekali sih?'' gerutu Kevin dalam hati.
__ADS_1
''Aku nanti malam ingin kita belah duren.'' Celetuk Kevin.
''Belah duren?''
''Iya belah duren. Apa kamu sudah siap, Kei?''
''Aku siap kok, Mas. Ya udah Mas berangkat saja nanti aku akan siap-siap untuk memenuhi keinginanmu.''
''Baiklah kamu baik-baik ya di rumah dengan Marvel.''
''Iya Mas.''
''Ini dulu,'' kata Kevin sambil mengetuk bibirnya. Keira tersenyum dan tidak habis pikir kenapa suaminya ini sangat suka berciuman. MUACH, kecupan manis untuk Kevin dari Keira. Kevin yang gemas membalas kecupan Keira dengan sedikit gigitan.
''Auw, sakit Mas!" rintih Keira sambil memukul bahu Kevin.
''Tapi enak kan? Aku pergi dulu ya, bye!" Kevin pun berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah.
''Memangnya bibir ini apa? Di gigit segala,'' gerutu Keira.
Hari itu Kevin bukan ke kantor tapi justru kembali ke rumah Kenny untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
''Nak Kevin, kamu kemari lagi?'' kata Pak Ammar saat membuka pintu ruang tamu.
''Iya, Ayah. Ada yang ingin aku bicarakan.'' Kata Kevin dengan serius.
''Duduklah kalau begitu.''
''Ayah, apa Ayah ingat sebuah peristiwa kecelakaan 11 tahun lalu?''
''Kecelakaan?'' kata Pak Ammar sembari mengingat kembali kejadian itu. Kevin kemudian menunjukkan kalung milik Keira pada Pak Ammar.
''Ayah, apa ini milik Keira?''
''Kamu dimana menemukannya, Nak?''
__ADS_1
''Ayah, ceritakanlah padaku. Aku adalah korban kecelakaan sebelas tahun lalu.''
''Jadi, kamu anak remaja itu?'' kata Pak Ammar berusaha meyakinkan.
''Iya Ayah. Apa Ayah bisa menceritakannya padaku? Karena saat kejadian, Keira ada disana untuk menolongku. Aku tahu ini semua saat melihat foto masa kecil Keira memakai kalung ini. Aku mohon Ayah,'' kata Kevin sambil menggenggam erat tangan Pak Ammar. Pak Ammar pun menghela nafas panjang, ia tidak mau mengingat hal buruk yang pernah menimpa putrinya itu.
''Jadi saat itu, kami bertiga sedang bertamasya menghabiskan waktu akhir pekan. Tapi saat berhenti di jalanan dekat hutan, tiba-tiba ban mobil kami pecah. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti. Kenny dan Ayah turun untuk mengganti ban mobil. Tapi saat kita berhenti itu, Keira keluar dari mobil tanpa sepengetahuan kami. Kami sangat kebingungan mencari Keira sampai akhirnya kami menemukan Keira pingsan di tepi jalan. Dan dari kejauhan kami melihat mobil terbakar, yang ada di pikiran kami saat itu hanyalah menyelamatkan Keira. Kami lalu membawa Keira ke rumah sakit tanpa berani mendekat ke arah mobil yang terbakar itu. Tapi saat perjalanan menuju rumah sakit, Ayah menelepon polisi untuk memberitahu kalau ada kecelakaan disana. Karena jalanan di daerah sana memang sangat sepi karena kawasan hutan. Lalu setelah Keira sadar, dia berteriak memanggil KAKAK, dia sangat ketakutan. Bahkan saat melihat percikan api, atau mendengar suara dentuman dia pasti terkejut dan sangat takut, mendengar petir saja dia sangat takut. Bertahun-tahun kami berusaha melawan rasa takut Keira yang membuat kami tidak mengerti. Kami tidak tahu apa yang dia lihat dan lakukan disana. Karena setiap kami bertanya dia selalu diam dan ketakutan. Bahkan saat melihat kakaknya memasak, dia selalu marah dan menyiram kompor itu. Dia selalu bilang, jangan Kak nanti meledak. Hal itu benar-benar membuat kami sangat sedih tapi lambat laun, Keira akhirnya bisa berdamai dengan rasa takunya. Tapi untuk gelap dan suara petir atau gemuruh, sepertinya itu masih dia bawa sampai dewasa. Tidak ada yang tahu kalau Keira pernah mengalami hal buruk itu termasuk sahabatnya Johan dan Laras. Memangnya apa yang terjadi saat itu nak Kevin?''
''Saat itu aku sedang menunggu Papa dan Mama menjemputku di bandara. Aku sedang liburan kuliah dari luar negeri. Tapi ada seseorang yang menjemputku dan mengatakan kalau orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Aku yang panik pun segera menyusul Papa dan Mama menuju rumah sakit. Namun naas, mobil yang aku tumpangi tergelincir dan kecelakaan karena menghindari sebuah truk yang melaju kencang berlawanan arah apalagi saat itu baru saja turun hujan. Mobil yang aku tumpangi pun sampai terbalik. Aku yang terjebak di dalam, seolah tidak punya tenaga untuk keluar. Sampai pada akhirnya ada seorang gadis yang sangat pemberani menolongku. Dengan segala kekuatannya dan wajahnya yang penuh kekhawatiran, ia membuka pintu mobil dan menarikku keluar cukup jauh dari mobil. Karena aku sempat melihat ada percikan api. Bahkan saat itu dia berkali-kali jatuh untuk menyeretku lebih jauh. Saat itu aku tidak bisa mengingat wajah itu, hanya kalung itu yang aku ingat. Sampai akhirnya aku pingsan dan tidak ingat apa-apa karena aku sempat tidak sadarkan diri selama satu minggu, Yah.''
''Ya Allah, Nak. Maafkan Ayah karena tidak tahu kalau ada korban disana. Yang Ayah lakukan hanya berusaha menolong putri Ayah.''
''Bukan salah, Ayah. Ayah juga sudah menghubungi polisi dan putri kecil Ayah, sudah menyelamatkan nyawaku. Mungkin kalau tidak ada Keira aku tidak akan berada disini. Tapi maaf Ayah karena aku tidak berhasil menemukan Keira. Aku malah mengira kalau almarhum istriku yang menolongku karena dia memakai kalung yang sama persis dengan milik Keira.''
''Iya kalung Keira memang hilang. Kami bahkan baru menyadari beberapa hari setelah Keira keluar dari rumah sakit.''
''Jadi setelah satu minggu, aku bertemu Kania almarhumah istriku. Disanalah awal kami bertemu dan saling jatuh cinta karena aku mengira kalau dia adalah malaikat penolongku. Tapi dia akhirnya menceritakan asal usul kalung itu kalau dia hanya menemukannya dan sengaja memakainya, supaya siapapun yang memiliki kalung itu akan dengan mudah menemukannya. Tapi kejujuran itu sama sekali tidak membuat cintaku pada Kania goyah, Yah. Kania hanya berpesan, jika suatu saat aku menemukan pemilik kalung yang menyelamatkan ku, aku harus mengucapkan terima kasih dan membalas budi pada mereka. Sampai akhirnya Kania memilih untuk menyimpan kalung itu saja.'' Jelas Kevin.
''Ya Allah ternyata putriku melakukan hal seperti itu. Sungguh nak Kevin, Ayah tidak tahu bahkan kami berusaha keras membuat Keira tenang sangatlah sulit. Mimpi buruk selalu menghantuinya.''
''Tapi kenapa Keira sama sekali tidak ingat Yah? Dia hanya mengingat ledakan dan kobaran api saja.''
''Dia mengalami amnesia jangka pendek yang disebabkan oleh trauma itu. Jadi dia lupa, yang dia ingat hanya api, ledakan dan memanggil Kakak.''
''Sejujurnya Yah. Aku sangat membutuhkan kesaksian Keira karena aku sampai detik ini merasa ganjil dengan semua peristiwa yang menimpa keluargaku. Tapi aku juga tidak memaksanya untuk mengingat. Biarlah waktu yang mengingatkan Keira akan hal itu.''
''Iya, Ayah mengerti apa yang kamu rasakan. Ayah akan membantu sebisa Ayah.''
''Sekali lagi terima kasih ya, Ayah. Takdir telah membawaku bertemu dengan seseorang yang aku cari selama ini. Dia sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan sangat baik.'' Ucap Kevin seraya memeluk Pak Ammar.
''Tolong jaga dia ya, Nak.''
''Pasti Ayah. Aku pasti akan menjaganya.''
Bersambung...... Next episode besok ya, kebetulan authornya habis vaksin jadi harus istirahat lebih awal, oke... Salam sehat untuk kalian semua, love you all 😘😘😘🙏🙏
__ADS_1