Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 166 Festival layang-layang


__ADS_3

Keesokan harinya, Miko bergegas untuk menjemput Gina di butik. Namun di ruang tengah, terlihat Nyonya Rosa tengah sibuk membaca majalah. Nyonya Rosa melihat Miko tampak terburu menuruni anak tangga.


''Mau kemana, Mik? Ini masih pagi.''


''Eh Mah, mau bertemu klien.''


''Ini kan hari Minggu, masa iya hari Minggu masih memikirkan kerjaan.''


''Justru kalau hari minggu santai, Mah.''


''Terus istri kamu mana? dia tidak pulang?''


''Tidak, Mah. Dia terpaksa menginap di butik.''


''Istri macam apa itu, berat dengan pekerjaannya daripada suaminya apalagi Mama juga baru sembuh.''


Miko tersenyum miring, mendengar ucapan Mamanya. ''Gina tidak ada, Mama anggap dia tidak perhatian dan peduli. Tapi saat Gina di rumah, Mama tidak pernah menganggap bahkan mengabaikan perhatiannya. Kasihan Gina selalu serba salah di depan Mama. Miko pergi dulu.''


''Masa iya, mau bertemu istri sendiri harus berbohong,'' kata Miko dalam hati.


Mendengar ucapan putranya, Nyonya Rosa benar-benar geram sekali. ''Miko sudah kurang ajar kepada Ibunya sendiri. Pasti Gina yang meracuni pikirannya.''


Sesampainya di butik, terlihat pintu rolling door butik milik Gina terbuka setengah. Miko lalu segera masuk begitu saja.


''Say...ang,'' seru Miko. Namun Miko melihat Gina tertidur di sofa, bahkan butik masih tampak berantakan. Miko tersenyum menatap wajah cantik Gina.


''Nadia memang cantik tapi istriku lebih cantik,'' gumamnya. Ia kemudian mendekat dan duduk berlutut di depan Gina. Miko menyingkirkan beberapa rambut yang menutupi wajah cantik Gina.


''Sayang, bangun.'' Ucap Miko sambil membelai wajah Gina. Miko kemudian memberikan kecupan di kening Gina. Gina perlahan terbangun. Ia mengerjapkan matanya, melihat suaminya sudah ada di hadapannya.


''Mas Miko, ya ampun maaf. Aku malah ketiduran,'' ucap Gina sambil berusaha bangun dari tidurnya.


''Kamu sendirian?''


''Iya lah, memang mau siapa lagi?''


''Aku mandi dulu ya, Mas.''


''Oh iya, ini pakaian untuk mu. Aku sengaja memilih warna senada supaya kita kompak hari ini.''


''Ihh manis banget suami aku,'' gemas Gina sambil menjewer pipi suaminya.


''Ya sudah kamu mandi, gih. Aku tunggu kamu ya.''


''Iya suamiku.''


-


Krisna pagi itu menjemput Laras untuk pergi melihat festival layang-layang. Laras tengah bersiap dan menyiapkan penampilan terbaiknya untuk Krisna.


''Laras, Krisna sudah menunggumu. Kenapa kamu lama sekali?'' teriak Nyonya Dila sambil mengetuk pintu kamar Laras.


''Iya Mah, sedikit lagi.'' Jawab Laras sambil merapikan lipstiknya. Setelah semuanya Laras pastikan aman, Laras segera keluar dari kamarnya. Hari itu Laras terpesona dengan penampilan Krisna yang berbeda dari biasanya.


"Hai, Kak. Sudah lama menunggu?" sapa Laras.


"Ya lumayan." Jawab Krisna.


"Kamu itu kebiasaan ya. Di tunggu sudah dari tadi." Kata Tuan Handi yang ikut kesal dengan putrinya.


"Baiklah Om-Tante, kami keluar dulu ya." Krisna lalu mencium punggung tangan Nyonya Dila dan Tuan Handi secara bergantian.


"Iya, Krisna. Kalian hati-hati ya," pesan Nyonya Dila.


"Iya, Tante."


"Pah-Mah, kita pergi ya. Seneng banget lihat Papa dan Mama hari minggu di rumah, biasanya pada sibuk." Kata Laras seraya memberika pelukan pada Papa dan Mamanya.


"Ya sekali-kali kita juga ingin santai berdua di rumah. Kalian hati-hati ya." Kata Tuan Handi.


"Iya, Mah. Bye!"


-

__ADS_1


Sementara itu Keira dan Kevin baru saja tiba di acara festival itu.


''Mah, layang-layangnya keren banget ya.'' Seru Marvel dengan antusiasnya.


''Iya ya. Keren-keren banget. Mas, aku pingin dong ikut nerbangin layang-layangnya.'' Rengek Keira seperti anak kecil.


''Ya sudah, kita beli aja dulu layang-layangnya.'' Ajak Kevin.


''Pah, aku mau layang-layang yang bentuknya pesawat.'' Kata Marvel.


''Aku mau yang kupu-kupu ya, Mas.'' Pinta Keira. Hari itu Kevin seperti seorang Ayah yang sedang mengasuh kedua anaknya. Keira dan Marvel seperti anak kecil yang bingung memilih layangan mana yang mereka pilih.


''Kei, ayo cepet pilihnya. Kamu juga Marvel, katanya tadi pesawat sekarang malah bingung.''


''Maaf Pah, aku bingung mau yang mana. Ini yang avengers juga bagus.''


''Iya nih, aku juga bingung, Mas. Ini yang bentuk bunga juga cantik.'' Sahut Keira. Kevin menghela nafas panjang melihat Keira dan Marvel yang masih bingung.


''Mah, yang mana ya enaknya?'' Marvel meminta pendapat Mamanya.


''Mama lebih suka pesawat.''


''Baiklah aku pilih pesawat saja.'' Kata Marvel.


''Mmmmm menurut kamu, Mama pilih yang mana ya enaknya?'' giliran Keira yang bertanya pada Marvel.


''Mama pilih kupu-kupu saja lah, sayapnya kan indah dan cantik.''


''Baiklah, Mama pilih kupu-kupu saja.''


''Hmmm untuk apa tadi berlama-lama memilih kalau ujung-ujungnya mereka berdua sepakat dengan pilihan pertama,'' gumam Kevin dapam hati.


''Bagaimana Marvel, Keira, apa sudah selesai milihnya?'' tanya Kevin seperti seorang Ayah yang bertanya pada anaknya.


''Sudah Pah,'' jawab Marvel dan Keira dengan kompak. Marvel lalu meminta Kevin untuk menerbangkan layang-layangnya terlebih dahulu.


''Marvel, kamu pegang layang-layangnya ya, agak jauh kesana.''


''Mas, aku juga mau di terbangkan layang-layangnya,'' rengek Keira tak sabar.


''Iya deh,'' jawab Keira pasrah. Berkali-kali Kevin menerbangkannya tapi selalu gagal.


''Papa ini bisa nggak sih? Kenapa layang-layangku tidak bisa naik?'' protes Marvel dengan kesal.


''Pasti layang-layangnya yang tidak seimbang.'' Kata Kevin.


''Apanya yang tidak seimbang, Mas. Tuh yang bentuknya seperti milik Marvel, sudah sampai di atas sana.'' Sahut Keira sambil menunjuk ke angkasa.


''Papa payah nih. Papa tidak bisa,'' Marvel mulai kesal.


''Ayo, kita coba lagi.'' Kata Kevin yang berusaha tidak menyerah.


''Keira!" suara yang tidak asing bagi Keira.


''Leon.'' Gumamnya. Kevin melirik sinis ke arah Leon yang memanggil nama Keira.


''Kenapa harus bertemu dengan dia disini?'' gerutu Kevin dalam hati.


''Halo, Tuan Kevin. Senang sekali bisa bertemu dengan anda disini.''


''Tapi maaf, aku yang tidak suka denganmu disini.''


''Oh ya itu layang-layang milikmu?''


''Iya. Aku membuatnya sendiri.''


''Wah, itu bagus sekali. Bentuk hati terus ada panahnya lagi, lucu banget. Kamu hebat juga ya.'' Puji Keira dengan gemas.


''Apanya yang bagus, cuma begitu saja, aku juga bisa.'' Kesal Kevin.


''Kamu saja dari tadi tidak menerbangkan layang-layang milik Marvel apalagi membuat layang-layang, pasti kamu tidak bisa juga, Mas.'' Keira terkekeh mendengar apa yang suaminya katakan.


''Om Leon, apa Om Leon bisa menerbangkan layang-layangku?'' sahut Marvel.

__ADS_1


''Tentu saja bisa. Sini Om, bantu.'' Leon lalu menitipkan layang-layangnya pada Kevin. Kevin dengan polosnya mau saja membawakan layang-layang milik Leon.


''Marvel, tolong kamu pegang ya. Bawa ke arah sana. Sebelum menerbangkan layang-layang, kita harus tahu arah anginnya kemana.''


''Siap Om!"


''Leon, setelah ini punya ku ya?'' sahut Keira.


''Iya, Kei.'' Jawab Leon dengan senyum manisnya. Kevin menatap kesal ke arah Leon yang sok manis di depan istrinya.


''Sayang, sini biar aku saja yang menerbangkannya.'' Kata Kevin yang tidak mau kalah dengan Leon.


''Memang kamu bisa, Mas?''


''Aku akan mencobanya.'' Jawab Kevin meyakinkan Keira. Kevin meletakkan begitu saja layang-layang milik Leon.


''Kamu bawa kesana ya, sayang.''


''Baiklah, Mas.''


Layang-layang Marvel, dengan satu tarikan langsung membumbung tinggi.


''Wah, Om Leon hebat! Akhirnya layang-layangku bisa terbang.'' Marvel melompat kegirangan. Kevin lagi-lagi gagal menerbangkan layang-layang milik Keira.


''Setelah tinggi seperti ini, kamu cukup memegangnya saja, Marvel.'' Leon lalu memberikan gulungan benang pada Marvel.


''Oke, Om. Terima kasih ya.''


''Sama-sama, Marvel.''


''Mas, aku capek nih lari-lari dari tadi. Belum juga nyampai atas udah jatuh lagi,'' keluh Keira dengan nafas terengah.


''Sabar dong, sayang.''


Mendengar dan melihat Keira yang lelah, Leon lalu menghampiri Kevin.


''Sini, biar aku saja, Tuan.'' Kata Leon sambil mengambil gulungan benang di tangan Kevin. Namun Kevin menahan gulungan benang itu dan terjadilah tarik-menarik antara Kevin dan Leon.


''Mas, tolong berikan benangnya pada Leon.'' Pinta Keira. Keira lelah melihat mereka berdua rebutan seperti anak kecil. Akhirnya Kevin mengalah atas permintaan Keira. Leon lalu tersenyum penuh kemenangan.


''Kei, tolong kamu pegang sekali lagi ya,'' pinta Leon.


''Baiklah.''


Dan...., Leon pun berhasil menerbangkan layang-layang Keira. Keira tepuk tangan sambil melompat kegirangan. ''Yeay, akhirnya dia terbang juga.''


''Mas, layang-layangku terbang,'' seru Keira.


''Iya-iya tahu. Itu hanya faktor keberuntungan saja.'' Sinis Kevin.


''Kamu tidak boleh seperti itu, Mas. Kamu cemburu ya?''


''Cemburu? sama dia? tidak!" katanya dengan tegas.


''Kei, ini benangnya. Nanti kamu tinggal tarik ulur saja.''


''Iya Leon. Terima kasih ya.''


''Sama-sama, Kei.''


''Tuan Kevin, apa aku bisa meminta bantuanmu?''


''Bantuan apa?'' ketus Kevin.


''Tolong pegang layang-layang milikku. Aku juga mau menerbangkannya.''


''Hah? Aku? tidak mau!" ucapnya dengan ketus.


''Mas, Leon sudah membantu aku dan Marvel. Jadi kamu harus bantu dia.'' Pinta Keira.


''Baiklah, aku akan membantumu dan itu karena kamu yang memintanya.''


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Kevin membantu Leon untuk menerbangkan layang-layangnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2