
Setelah meninggalkan restoran, Kevin pergi menuju makam Kania.
''Hai sayang, aku disini.'' Ucapnya sambil mengusap nisan bertuliskan nama Kania Febiola.
''Lima tahun sudah kamu meninggalkan aku dan putra kita. Besok adalah ulang tahun ke-8 Marvel. Maafkan aku yang belum bisa menjadi seorang Ayah yang baik untuknya. Apa kamu tahu kenapa aku tidak pernah mau merayakan ulang tahunnya? karena di saat hari ulang tahun Marvel adalah hari dimana kamu meninggalkan aku. Maafkan aku yang terlalu egois, tapi setiap kali mengingat kejadian malam itu, sulit bagiku untuk melupakannya.'' Ucap Kevin dengan mata berkaca-kaca.
Flashback On ( 5 tahun yang lalu)
Tampak Kania sedang terbaring di ranjang tempat tidur. Ada Kevin yang duduk di bibir ranjang sambil memijat Kania dan ada Marvel yang berbaring sambil memeluk manja Mamanya.
"Mah, aku besok ulang tahun. Aku ingin kue buatan mama," rengek Marvel yang kala itu masih berusia tiga tahun.
"Marvel, mama sedang sakit. Kita beli cake di toko kue saja ya," bujuk Kevin.
"Tidak mau! aku mau kue ulang tahun buatan mama."
"Kasihan mama sayang, biarkan mama sembuh dulu."
"Memangnya mama sakit apa?" tanya Marvel dengan polosnya.
"Mama hanya demam, sayang." Jawab Kania dengan senyumnya.
"Memangya kamu mau kue seperti apa?" tanya Kania.
"Aku mau kue gambar spiderman, Mah."
"Baiklah, besok mama akan membuatkannya untukmu. Besok akan menjadi ulang tahun ketiga kamu yang sangat spesial dan sangat membahagiakan untukmu."
"Hore... asyikkkkk....!" seru Marvel dengan wajah cerianya.
"Karena mama sudah mengabulkan permintaanmu, sekarang kamu harus tidur ya. Ini sudah malam dan biarkan mama istirahat. Oke, jagoan papa?"
"Oke, Pah."
"Makasih ya, mah. Mama juga cepat sembuh supaya kita bisa merayakan hari ulang tahun bertiga.Muach!" sambung Marvel sambil memberikan kecupan di pipi mamanya.
"Pasti sayang," ucap Kania yang memberikan kecupan di kening putra kecilnya itu. Kevin kemudian menggendong Marvel lalu membawanya ke kamar. Setelah Marvel tertidur di kamarnya, Kevin pun segera kembali ke kamarnya. Ia kemudian duduk kembali di bibir ranjang.
"Sayang, kamu tadi pagi kan baru saja selesai kemoterapi, kenapa kamu mengiyakan permintaan Marvel?" kata Kevin pada Kania.
"Tidak apa-apa, sayang. Kebahagian Marvel itu adalah semangatku untuk segera sembuh. Kamu lihat kan wajahnya begitu ceria dan bahagia saat permintaannya aku kabulkan."
"Begitulah kamu yang selalu memanjakannya."
"Bukan memanjakannya tapi melimpahkan semua kasih sayang untuknya. Lagi pula ulang tahun pertama dan keduanya, kita juga beli cake untuk dia kan? wajarlah kalau dia ingin di buatkan oleh mamanya. Aku sendiri juga jauh-jauh hari sudah memikirkan ingin membuatkannya cake, Mas."
__ADS_1
"Aku tidak masalah sayang tapi kondisi kamu seperti ini."
"Mas, jangan menganggapku lemah dan tak berdaya seperti ini. Aku takut kalau ulang tahun selanjutnya, aku tidak bisa membuatkan cake lagi untuknya bahkan tidak bisa menemaninya merayakan ulang tahun. Jadi biarkan aku melakukannya untuk Marvel."
''Jangan bicara seperti itu, sayang. Sampai kapan pun, kamu akan selalu menemaniku untuk selamanya. Kita menua bersama dab menikmati hari tua kita dengan bahagia bersama anak, cucu dan cicit kita." Kata Kevin penuh dengan harapan.
"Amin. Aku juga ingin seperti itu, Mas. Besok temani aku membeli bahan membuat cake ya, Mas."
"Iya sayang. Besok aku akan menemani kamu. Sekarang istirahatlah." Ucap Kevin seraya memberikan kecupan di kening Kania.
Keesokan harinya saat sarapan pagi, ponsel Kevin berdering ada nama Krisna disana.
"Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting," kata Kania yang melihat Kevin mengabaikan panggilan Krisna. Kevin pun akhirnya menuruti permintaan Kania. Kevin mengangkat teleponnya dengan menyalakan mode loudspeaker.
"Iya Kris, ada apa?"
"Begini Tuan Kevin, baru saja sekretaris Tuan Glen menelepon dan beliau menyetujui proposal kerja sama kita. Sekarang beliau sudah berada di Indonesia dan meminta pagi ini untuk bertemu kita. Karena jam 11 nanti Tuan Glen akan melakukan perjalanan bisnisnya ke Tokyo." Jelas Krisna. Mendengar kabar baik itu, Kania pun sangat bahagia. Ini menjadi kesempatan bagi Kevin untuk menembus pasar international. Kania melihat ekspresi wajah Kevin yang tampal bingung karena ia tahu kalau Kevin sudah berjanji ingin mengantarnya membeli bahan kue. Kania lalu menggenggam tangan suaminya dan menganggukkan kepalanya. Memberi kode untuk mengiyakan ucapan Krisna.
"Baiklah Kris. Aku akan berangkat sekarang. Jangan lupa siapkan jamuan untuk menyambut Tuan Glen." Kata Kevin saat telah mendapat persetujuan dari Kania.
"Siap Tuan, saya akan melakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Kris." Panggilan pun berakhir.
"Mas, nanti aku akan pergi bersama supir saja. Ini kesempatan bagus untuk perusahaan kamu. Apalagi itu Tuan Glen, pebisnis handal dari Amerika yang sudah kamu incar sejak lama untuk bekerja sama kan? jadi jangan sia-siakan ini."
"Kan ada Pak Wahyu, supir kita. Lagi pula cuma beli bahan kue saja. Jangan perlakukan aku seperti orang yang sudah tidak bisa apa-apa, Mas. Aku masih sehat dan kuat melakukan apapun."
"Baiklah kalau begitu. Tapi sebelum pergi semua obat dan vitamin harus kamu minum ya."
"Iya sayang, sudah lebih baik kamu bersiap dan segera ke kantor."
"Terima kasih sayang, maafkan aku ya." Kata Kevin sambil mengecup kening istrinya. Kevin pun bergegas menuju ke kamar dan bersiap.
''Mah, papa mau kemana?'' tanya Marvel dengan polosnya yang duduk di samping Kania.
''Papa mau ke kantor sayang. Doakan papa ya semoga bisnisnya semakin lancar dan berkembang pesat.''
''Amin. Tapi papa akan tetap merayakan ulang tahun bersama kita kan?''
''Pasti dong, sayang. Oh ya setelah ini kamu baik-baik di rumah ya, jangan nakal dan menyusahkan Bi Nani. Mama mau keluar sebentar membelikan bahan untuk kue ulang tahun kamu.''
''Iya mah, aku janji.''
''Sekarang kita habiskan dulu sarapannya ya.'' Kata Kania sambil menyuapi Marvel.
__ADS_1
''Iya mah.''
Tak lama kemudian Kevin pun turun dan telah siap berangkat ke kantor. Melihat dasi Kevin yang belum terpasang rapi, Kania segera beranjak dari duduknya dan merapikannya.
''Mas, ini Tuan Glen. Jadi kamu harus selalu rapi dan buat Tuan Glen yakin untuk bekerja sama dengan kamu.''
''Iya, sayang. Aku buru-buru. Nanti kalau sudah selesai, aku akan menyusulmu ya.''
''Sudah jangan pikirkan itu, fokus saja pada pekerjaanmu. Aku akan menunggumu di rumah.''
''Aku janji begitu selesai akan langsung pulang.''
''Peluk aku dulu dong, Mas.'' Kata Kania dengan manja.
''Sini sayang,'' kata Kevin sambil membuka kedua tangannya. Kania pun memeluk Kevin dengan sangat erat seolah seperti pelukan terakhir untuk Kevin.
''Mas, kamu hati-hati ya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan juga Marvel. Aku sangat mencintaimu.''
''Terima kasih ya, sayang. Kamu yang terbaik dan paling sempurna dalam hidupku. Aku juga amat sangat mencintaimu.'' Kata Kevin.
''Marvel, papa ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di rumah dan jaga mama ya.''
''Siap pah!"
Tak lupa Kevin memberikan pelukan dan ciuman untuk putranya.
-
Setelah Kevin berangkat, Kania pun bersiap. Ia sedang merias dirinya di hadapan cermin. Ia muali menyisir rambutnya. Air matanya mengalir saat melihat rambutnya yang semakin rontok. Namun Kania tidak ingin terlihat lemah di hadapan suami dan anaknya. Bahkan Kania selalu menyembunyikan rasa sakit yang amat sangat dari suami dan anaknya juga. Ia selalu bersikap baik-baik saja dan selalu bersikap ceria di hadapan mereka. Padahal sebenarnya Kania sudah sangat lelah menghadapi penyakitnya. Bahkan ia pun sudah ikhlas jika Tuhan memanggilnya. Kania hanya bisa melakukan yang terbaik di sisa hidupnya.
Namun di hari itu, Kania tiba-tiba saja merasakan sakit yang luar biasa. Tapi demi Marvel, ia memutuskan untuk pergi membeli bahan kue bersama supir.
''Pak, tunggu disini saja. Biar saya menyeberang.'' Karena toko bahan kue berada di kanan jalan, Keira memutuskan untuk menyeberang.
''Jangan Nyonya, biar saya putar balik tidak apa-apa.''
''Tidak usah, lagi pula jaraknya dekat Pak. Kebetulan nanti sekalian mampir mini market sebentar jadi nanti tinggal lurus saja.''
''Baiklah Nyonya kalau begitu. Nyonya hati-hati ya.''
''Iya Pak tenang saja.''
Kania lalu keluar dari mobil dan segera menyeberangi jalan menuju toko tersebut. Tiga puluh menit sudah Kania berada di toko tersebut. Tiba-tiba saja rasa sakit itu menyerangnya kembali. Rasa sakit yang teramat di bagian perutnya.
''Kuat Kania, tinggal antre di kasir saja.'' Gumamnya dalam hati. Akhirnya Kania mampu bertahan sampai keluar dari toko kue itu. Dengan senyum lebarnya karena berhasil melawan rasa sakit itu. Ia kemudian bergegas untuk menyeberang jalan namun tiba-tiba ia sudah tidak kuat lagi dan pingsan. Di saat yang bersamaan ada mobil melaju cukup kencang dan kecelakaan pun tak terhindarkan. Betapa hancurnya hati Kevin saat mendengar kabar buruk itu. Sejak saat itulah, Kevin tidak pernah mau merayakan ulang tahun Marvel karena ia menganggap Marvel penyebab meninggalnya Kania. Namun Kevin berusaha menerima takdir hidupnya, sehingga di saat ulang tahun Marvel, Kevin hanya mengirimkan cake dan hadiah melalui Krisna. Dan setiap kali hari ulang tahun Marvel tiba, Kevin memilih menghabiskan waktu di kantor bahkan memilih untuk bermalam di kantor. Karena baginya hari ulang tahun Marvel adalah hari yang paling ia benci dan yang paling menyakitkan.
__ADS_1
Bersambung....