
Setelah mengetahui ternyata pengirim bunga itu adalah Ferdi. Keira mulai menyusun rencana yang sudah Keira sepakati dengan Kevin. Keira mencari referensi kata-kata romantis di internet untuk ia tulis dalam secarik kertas yang akan ia berikan pada Lily.
''Ferdi, Ferdi, sudah tahu punya istri, cinta kita kamu gadaikan dengan harta, eh sekarang masih ganggu kehidupan orang saja.'' Gumam Keira dengan senyum sinisnya. Tak lama kemudian Kevin mengirim pesan pada Keira, pesan itu berisi alamat apartemen Lily. Keira tersenyum dan mulai menjalankan aksinya.
-
''Ya ampun, suami aku romantis banget. Dia mengirim dua buket bunga sekaligus untukku. Apalagi kata-katanya sangat romantis.'' Gumam Lily sambil mentap buket dan rangkaian bunga berbentuk hati yang ia letakkan di atas meja. Lily berdecak bahagia mendapat kiriman bungan yang sebenarnya Keira lah yang mengirimnya.
''Aku harus dandan yang cantik dan menyiapkan makan malam yang sangat enak untuk Ferdi. Mmmm sebaiknya aku pesan saja lah, perut sudah besar begini malas untuk memasak.'' Ucap Lily. Lily lalu mengambil ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Ia segera memesan makanan online yang akan ia sajikan untuk Ferdi. Lily pun sengaja mengganti pakainnya dengan pakaian yang tipis. Meskipun perutnya sudah mulai membuncit, tidak membuat Lily lemah di atas ranjang. Justru kehebatannya di atas ranjang lah yang membuat Ferdi bertekuk lutut padanya.
''Aku pulang!" seru Ferdi seraya membuka pintu. Mendengar suara suaminya, Lily menghambur ke pelukan Ferdi.
''Sayang, kamu sudah pulang.''
''Iya. Bagaimana denganmu sayang? Apakah dia menyusahkanmu?'' tanya Ferdi sambil mengelus perut istrinya.
''Tidak. Dia menunggu kedatangan Papinya.''
''Syukurlah kalau begitu. Kamu cantik sekali, menyambutku dengan pakaian yang sangat seksi.'' Ucap Ferdi sambil melingkarkan kembali tangannya pada pinggang Lily.
''Aku sengaja menyambutmu.'' Lily lalu melayangkan kecupan pada bibir Ferdi dengan lembut. Tanpa ragu-ragu Ferdi membalas kecupan dari Lily. Ferdi yang sudah terburu oleh gairah hendak melorot gaun seksi istrinya namun Lily mencegahnya.
''Jangan dulu sayang.''
''Kenapa Lily? Aku sudah tidak sabar.'' Ucap Ferdi dengan nafasnya yang memburu.
''Kamu mandi dulu, lalu kita makan setelah itu baru kita melakukannya.''
Ferdi tersenyum. ''Huh, baiklah. Padahal aku sudah tidak sabar ingin meringkus tubuh istriku ini.''
Ferdi kemudian segera berlalu menuju kamar mandi. Ferdi tidak tahu kalau buket dan rangkaian bunga itu sudah berada di rumahnya. Lily juga segera menyiapkan pakaian untuk Ferdi. Beberapa menit kemudian, Ferdi keluar dari kamar mandi. Ia segera memakai pakaiannya dan segera menyusul Lily ke ruang makan.
''Aku sudah selesai, sayang.'' Kata Ferdi dengan senyum lebarnya. Senyum Ferdi lenyap, kala melihat dua bunga yang ia kirim pada Keira berada di apartemennya. Ia merasa panik dan khawatir kalau Lily tahu bahwa ia masih mengganggu Keira.
''Kenapa bunga ini ada disini?'' ucapnya dalam hati penuh tanya. Lily beranjak dari duduknya, ia lalu memeluk dan masuk dalam dekapn suaminya.
''Sayang, kamu memang sangat romantis. Terima kasih ya, kamu hari ini memberiku kejutan yang sangat manis.''
Ferdi bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Lily. Karena ia tidak merasa mengirim bunga-bunga itu untuk istrinya, melainkan bunga itu ia kirim untuk mantan kekasihnya. Namun demi menghindari masalah, Ferdi memilih berbohong.
''I-iya sayang. Aku tadi begitu merindukanmu jadi aku sengaja mengirim bunga-bunga itu untukmu. Apa kamu menyukainya?''
''Iya tentu saja aku menyukainya. Makanya aku hari menyambutmu dengan makan malam istimewa. Tapi maaf semua makanannya aku beli. Aku tidak mau repot-repot memasak.''
''Tidak masalah, kandunganmu kan semakin besar jadi kamu juga tidak boleh lelah.''
''Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan.'' Kata Lily seraya melepaskan pelukannya pada Ferdi.
''Iya.''
Keduanya lalu makan malam bersama. Namun pikiran Ferdi sudah berlari-lari kemana.
''Kei, apa kamu sudah tahu bahwa aku yang mengirim bunga ini untukmu? Makanya kamu mengembalikannya.'' Gumam Ferdi dalam hati.
__ADS_1
''Melihatmu kemarin, membuat perasaanku bangkit kembali. Kamu selalu cantik dan semakin cantik. Bukan hanya cantik tapi hatimu yang baik selalu membuatku jatuh cinta. Rasanya tidak rela kalau kamu di miliki pria lain, padahal aku sendiri di miliki wanita lain. Tapi aku tidak peduli, aku akan tetap mengirimkan hadiah untukmu.'' Ucap Ferdi dalam hati.
-
''Mas, masih sibuk juga? Aku membawakan teh hangat untukmu.'' Kata Keira saat memasuki ruang kerja suaminya.
''Iya sayang.''
''Kapan sih kamu tidak sibuk? Di kantor sudah seharian kerja, eh di rumah masih juga kerja.'' Ucap Keira seraya meletakkan nampan di atas meja yang berisi secangkir teh. Kevin tersenyum sambil menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya.
''Aku bekerja kan juga untuk kamu dan anak-anak kita. Selagi aku masih punya banyak tenaga, aku harus semangat bekerja. Aku harus menyiapkan masa depan anak-anak kita.''
''Iya aku nengerti tapi kan kamu juga harus tahu waktu, mana saatnya istirahat dan bekerja.''
''Ya mau bagaimana lagi, Krisna juga belum pulang. Memangnya kenapa sih? Mau minta jatah ya?'' goda Kevin sambil mencolek hidung Keira.
''Tidak, siapa yang mau minta jatah.''
''Yakin tidak mau?''
''Jatah apa dulu tapi?''
''Mmmm jatah apa ya? Kamu mau yang mana? Mau yang bikin puas atau yang bikin kamu happy?''
''Aku mau dua-duanya.''
''Dasar wanita! Serakah sekali. Oh ya sebelumnya aku mau tanya, apa sudah kamu kembalikan bunga-bunga itu?''
''Yang lebih aku takutkan adalah kemarahan istrinya kalau sampai dia tahu tingkah si Ferdi itu. Yang jelas sekarang kemana-mana kamu harus ada pengawal ya. Aku khawatir sekali dengan mu sayang terutama sama baby kita.''
''Apa tidak berlebihan Mas? Aku bukan artis atau presiden.''
''Memangnya kenapa? Aku akan lebih tenang kalau kamu bersama pengawal.''
''Sudahlah Mas, aku bisa jaga diri kok.''
''Kamu jangan membantahnya sayang. Aku akan lebih prtotektif sama kamu karena aku tidak mau hal dulu terulang lagi. Apalagi aku tidak bisa setiap hari menemani kamu.''
''Iya-iya terserah kamu saja, Mas. Pastikan setiap kamu mau pergi, kamu harus memberiku kabar. WAJIB!"
''Kalau aku lupa bagaimana?''
''Kamu harus di hukum.''
''Di hukum? Kayak sekolah saja.''
''Iya dong. Makanya kamu jangan lupa buat kasih kabar.''
''Memang aku mau di hukum apa?''
''Kamu maunya di hukum apa?''
''Mmmm hukumannya di kasih uang saja.'' Ucap Keira terkekeh.
__ADS_1
''Kalau di kasih uang, yang ada kamu bakal lupa terus.'' Kevin pun terkekeh.
''Hehehe tahu saja kamu.''
''Oh ya sayang, tagihan kartu bulan lalu kenapa sedikit sekali? Tidak sampai satu juta lho. Kamu tidak pakai belanja ya? Aku lupa mau bertanya padamu.''
''Mas, semua yang aku butuhkan sudah ada. Kamu sudah menyediakan semua yang ada di rumah ini. Jatah bulanan dari kamu saja hampir sebagian aku simpan untuk masa depan anak-anak nanti. Memangnya aku mau beli apalagi? Paling aku belanja untuk kebutuhan Marvel saja.''
''Ya kamu beli tas, sepatu, perhiasan dan pakaian baru gitu.''
''Pakaian ku sudah banyak, Mas. Semuanya masih bagus. Tas, sepatu, perhiasan juga masih bagus semua. Toh aku juga jarang keluar. Semua itu juga sudah kamu sedikan untukku Mas. Lalu aku mau apalagi?''
''Jadi kartu itu cuma buat pajangan?''
''Bukan pajangan, aku simpan kok.''
''Ya setidaknya kamu belanja lah sayang. Kalau tagihannya sedikit, aku di kira suami pelit. Ini rekor tagihan terkecil lho.''
''Kamu ini aneh deh, istri nggak boros kamu malah jadi bingung. Jatah bulanan dari kamu saja sudah bisa membackup semua kebutuhan rumah, Mas. Gaji satpam dan pembantu kamu yang mengaturnya. Jadi aku pakai kartu seperlunya saja.''
''Kamu ini memang ya, istri yang unik. Kamu tidak ingin hadiah apa-apa dariku sayang?''
''Hadiah apa lagi, Mas? Kamu sudah memberiku banyak sekali.''
''Perhiasan, tas, sepatu atau mobil mungkin.''
''Ini hadiah dari kamu.'' Kata Keira sambil mengelus perutnya. Kevin tersenyum, bersyukur memiliki istri seperti Keira yang menurutnya langka di jaman sekarang.
''Skin care kamu masih?''
''Kamu ini apa sih nanyain skin care segala.''
''Iya dong. Jangan-jangan kamu makainya di koretin." Ucap Kevin seraya tertawa.
"Ya ampun Mas, kamu sampai mikirin skin care segala. Semuanya masih lengkap Mas. Aku pakaianya juga awet, tiga bulan baru habis."
"Apa? Tiga bulan? Ya ampun, jangan irit-irit dong sayang. Pokoknya satu bulan semuanya harus habis. Sama lipstik-lipstiknya juga. Beli sekalian dengan warna yang berbeda. Jadi hari senin-minggu warnanya beda-beda. Sama perawatan gitu sayang ke salon. Kalau kamu malas keluar, panggil saja orang salonnya ke rumah. Kamu sedang hamil jadi harus happy dan rileks."
"Kamu lebay, Mas. Nanti kalau aku dandan cantik, kamu yang heboh. Katanya ketebelan lah, katanya mau caper sama berondong lah, mau apalah, serba salah jadinya."
"Hehehe ya kamu dandan di depan aku saja. Habis cantiknya kamu kelewatan sampai di kejar-kejar sama si Ferdi dan Leon."
"Gombal! Sudah Mas, jangan bahas itu lagi. Aku ngantuk. Itu tehnya cepetan diminum."
"Iya baiklah." Kevin lalu menurunkan Keira dari pangkuannya. Kevin meraih teh dan menyeruputnya sampai habis.
"Sekarang kita ke kamar karena aku mau minta jatah dari kamu." Kata Kevin dengan tatapan menggoda.
"Boleh tapi pelan-pelan ya, Mas."
"Iya sayangku. Aku akan sangat pelan. Kalau kamu minta cepat, aku bakal cepat juga." Kevin lalu menggendong Keira ala bridal style. Setelah itu keduanya pergi ke kamar dan melakukan ritual suami istri.
Bersambung....
__ADS_1