Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 159 Plot Twist


__ADS_3

Tiga puluh menit sebelum kejadian...


Keira sedang dalam perjalanan menuju kantor Kevin. Keira menelepon Kevin dan memberitahunya kalau ia sedang dalam perjalanan.


''Mas, aku membawakanmu makan siang ya. Kita makan bersama di kantor. Sekaligus aku menunggu Marvel pulang sekolah. Dia hari ini ada ekstrakulikuler jadi pulang jam tiga.''


''Iya sayang tidak apa-apa. Tapi kamu nanti cukup duduk santai di ruangan ku ya.''


''Iya-iya aku tidak akan melakukan apapun selain mengganggumu.''


''Baiklah kamu hati-hati ya. Aku mau menemui Krisna dulu karena aku sudah menunggunya sejak tadi untuk membawakan aku berkas tapi dia malah tidak muncul-muncul.''


''Iya Mas. Sampai ketemu nanti.''


''I love you, sayang.''


''I love you too,'' panggilan berkahir. Setelah menemui Krisna, Kevin kembali ke ruangannya. Kevin berusaha bersikap biasa saja saat Mauren mendekatinya. Walaupun sebenarnya saat itu ia ingin sekali mencekik leher Mauren. Tapi yang ada Mauren justru menggodanya, setelah berhasil lepas dari Mauren, Kevin menjauh mendekat kearah meja kerjanya. Ia lalu menekan angka 1, panggilan cepat untuk Keira.


''Lho, Mas Kevin telepon lagi. Ada apa?'' gumam Keira. Keira lalu mengangkatnya namun justru yang Keira dengar adalah percakapan Kevin dengan Mauren. Keira mendengar bahwa Mauren sedang menggoda suaminya. Mendengar sambungan telepon itu, Keira meminta Pak Wahyu untuk ngebut.


''Pak, lebih cepat ya.''


''Siap Nyonya.'' Lewat sambungan telepon, Keira terus mendengarkan percakapan itu sampai akhirnya Keira tiba di kantor Kevin. Hal sangat mengejutkan melihat suaminya di tindih dan di goda oleh Mauren. Keira sangat geram dan ingin sekali menjambak Mauren, namun hal itu bukanlah pilihan yang tepat. Akhirnya Keira berakting marah dan pura-pura bersedih. Kevin yang melihat kedatangan Keira merasa khawatir kalau Keira salah paham. Kevin segera bangkit, merapikan pakaiannya, buru-buru menyambar ponselnya dan berlari mengejar Keira.


...-PLOT TWIST, END-...


Kevin berlari mengejar Keira dan masuk ke dalam mobil yang Keira tumpangi. Keira masih berakting marah untuk menggali informasi dari Kevin tentang apa yang terjadi.


"Jalan, Pak!" pinta Keira.


"Iya Nyonya." Pak Wahyu segera melajukan kembali mobilnya.


"Kei, apa kamu marah?"


"Menurutmu, Mas?"


"Aku kan tadi sudah meneleponmu. Aku terjebak dengan situasi tadi."


"Kamu kan bisa saja keluar atau kamu yang melemparnya keluar."

__ADS_1


"Sayang, aku tidak bisa melakukan itu. Kalau aku melakukan itu, dia bisa mengarang cerita dan menjebakku bahwa aku ingin memperkosanya. Mana mungkin aku bisa terpengaruh dengan seseorang yang sudah mencelakai kamu dan menghilangkan nyawa anak kita. Aku tadi bahkan sempat mendorongnya tapi dia berbalik mendorongku dan menindihku seperti itu. Makanya aku meneleponmu sayang, karena hanya kamu yang bisa menyelematkan aku. Sekarang dia pasti sangat senang karena berhasil membuat kita bertengkar. Maafkan aku ya." Kevin menggenggam tangan Keira sambil menyeka air mata istrinya itu. Keira kemudian tersenyum memperlihatkan giginya.


"Kenapa kamu malah tersenyum?" tanya Kevin heran.


"Karena aku sudah tahu apa yang ingin Mauren lakukan."


Kevin menghela nafas panjang, ia sungguh merasa lega bahwa Keira tidak benar-benar marah. Kevin langsung memeluk istrinya dengan erat.


''Aku tidak tahu kalau kamu sampai percaya padanya, sayang. Lebih baik aku mati dan melupakan masalahku, daripada kamu tidak mempercayaiku. Kamu tahu kan yang kita hadapi itu bukan manusia.''


''Mas, sebenarnya Tuan David sudah meneleponku dan menceritakan semuanya padaku. Makanya tadi aku memutuskan untuk ke kantor, meskipun kamu melarangku. Jujur saja tadi aku ingin menjambaknya karena dia sudah berani menyentuh tubuh suamiku. Sebaiknya kamu buang pakaianmu hari ini, Mas. Aku tidak mau melihatnya. Aku jijik melihat wanita itu.''


''Iya, aku akan membuang semua pakaian ini.''


''Pak, pergi ke apartemen ku.'' Pinta Kevin pada Pak Wahyu.


''Siap Tuan!"


''Lihat Mas, dadamu ada bekas luka cakar.''


''Iya dia menyerangku, memukulku bahkan hampir mencekikku. Aku bahkan tidak tahu kalau kancing bajuku terlepas. Jujur saja aku sangat takut saat dia melakukan itu. Aku takut dia akan menjebakku dengan situasi tadi, menyebarkan berita dan memintaku untuk menikahinya. Untunglah kamu datang tepat waktu, sayang.''


''Terima kasih ya kamu sudah mempercayai aku.'' Saat ini yang Kevin butuhkan adalah Keira. Keira yang selalu bisa menguatkannya untuk menghadapi semua masalah yang di hadapinya. Sesampainya di apartemen, Keira segera melucuti pakaian Kevin.


''Sayang, kamu ingin ya?'' goda Kevin.


''Iya, aku ingin memandikan kamu, supaya tidak ada jejak wanita iblis itu.'' Keira lalu membawa Kevin menuju kamar mandi. Keira mengguyur tubuh Kevin dengan shower. Keira seperti seorang Ibu yang sedang memandikan anaknya, yang begitu kotor karena telah bermain lumpur. Kevin hanya bisa pasrah saat istrinya menggosok tubuhnya, mengeramasinya bahkan menggosok giginya. Kevin pun tampak seperti bocah yang menurut saja saat dimandikan, seorang bocah yang takut melihat ibunya marah kalau dia banyak bergerak.


''Sayang, kita mandi sama-sama ya.'' Celetuk Kevin.


''Tidak bisa, Mas. Lukaku belum kering. Sebaiknya aku bersihkan dulu tubuhmu dari bayang-bayang wanita itu.'' Keira lalu mengambil handuk dan melilitkan pada pinggang Kevin. Ia kemudian menggandeng tangan Kevin dan mendudukkan Kevin di atas tempat tidur. Keira mengambil kotak P3K untuk mengobati luka cakaran Mauren.


''Apa kamu menikmatinya, Mas?''


''Menikmati apa maksudmu, sayang?''


''Menikmati di sentuh Mauren. Apalagi sampai dia membuka dadanya.''


''Sama sekali tidak, sayang. Bagaimana bisa aku berpikir sejauh itu. Juniorku saja tetap mengkerut dan sekarang malah turn on karena habis kamu mandikan.''

__ADS_1


''Huft, aku kesal sekali melihat pemandangan tadi. Berani-beraninya dia memperkosa suamiku. Sebaiknya kamu keluarkan dia dari kantor, Mas. Aku bukan marah dan cemburu tapi aku takut dia menjebakmu lagi.''


''Tapi bagaimana caranya sayang?''


''Biar nanti aku yang mencari cara. Aku sudah mengobati lukamu, Mas. Sekarang pakaialah bajumu. Aku akan membuang dan membakar baju menjijikkan itu.'' Keira benar-benar sangat kesal, demi melindungi semuanya ia dan Kevin harus bersabar menghadapi musuh mereka. Keira lalu memasukkan pakaian itu dalam kantong plastik. Keira lalu memilih berdiri di dekat jendela, Kevin merasa bersalah dan datang memeluk istrinya dengan masih bertelanjang dada.


''Sayang, maafkan aku. Apa kamu marah padaku? Aku sendiri ingin mencekiknya saat itu juga tapi keselamatan kamu dan Marvel taruhannya. Kamu tahu kan bertahun-tahun aku hidup seperti ini. Dulu dia juga pernah mengacaukan hubunganku dengan Kania. Jadi aku mohon maafkan aku ya.''


''Mas, aku tidak marah padamu. Justru aku tidak tega melihat kamu disakiti seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu tidak meneleponku. Bisa saja kita benar-benar bertengkar dan bisa saja aku akan meminta cerai.''


''Cerai? Sayang, jangan mengucapkan kata itu. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan aku.''


Keira lalu berbalik menghadap suaminya. Terlihat jelas tatapan mata Kevin yang menanggung begitu banyak permasalah. Bagi seorang Keira, tentu sangat mudah membaca mimik wajah seseorang yang pura-pura dan benar-benar tulus. Keira lalu memeluk suaminya menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang Kevin.


''Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Mas.''


''Apapun yang terjadi, aku mohon percayalah denganku. Sekalipun aku mati dengan cara yang hina, tetaplah percaya padaku, Kei.''


Keira lalu menutup bibir Kevin dengan telunjuknya.


''Jangan bicara seperti itu, Mas. Sampai detik ini, aku sangat percaya padamu. Kamu tidak perlu membuktikan apapun.''


Ucapan Keira, membawa angin segar bagi Kevin. Kevin lalu melayangkan ciuman pada kening Keira.


''Baiklah Mas, sebaiknya kita makan siang. Makanan yang aku bawa juga sudah berantakan di ruanganmu. Aktingku bagus kan?''


''Natural sekali. Sampai aku benar-benar takut kalau kamu akan marah dan meninggalkan aku. Tapi sayang, kita sudah berada apartemen, berdua, tidakkah kamu menginginkannya?''


''Mas, aku sedang masa nifas pasca keguguran.''


''Memang sampai kapan?''


''Kata dokter 1-3 minggu. Karena kalau di paksa rahim aku bisa infeksi.''


''Baiklah kalau begitu, aku pasti bisa menahannya sampai kamu sembuh. Aku akan segera ganti baju dan kita makan siang sama-sama ya.''


''Iya, Mas.'' Kevin lega sekali karena Keira tidak marah dan tidak meninggalkannya. Semakin hari, Kevin semakin ketergantungan dengan Keira karena hanya Keira yang mampu membuatnya tenang.


Bersambung... Gimana plot twistnya?? seru kan?? hehehe... Terima kasih ya buat kalian yg selalu mendukung author bagaimanapun alur yang author suguhkan, peluk online 🤗🤗🙏😍

__ADS_1


__ADS_2