Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 213 Berbagi Cerita


__ADS_3

Krisna benar-benar kesal karena Laras mengganti password ponselnya. Lima menit sudah Krisna berkutat dengan ponsel di genggamannya itu. Krisna yang frustasi karena tidak berhasil membuka password ponsel Laras, memutuskan untuk segera berganti pakaian terlebih dahulu supaya Laras tidak curiga.


Setelah selesai mandi, Laras tampak cuek dengan Krisna. Laras justru sibuk memakai skin care di wajahnya.


''Kita mau makan malam apa, Ras?''


''Mmmm terserah Kakak saja deh.'' Jawab Laras sambil tetap fokus duduk di hadapan cermin sambil mengusapkan toner di wajahnya.


''Tumben terserah, biasanya kamu sangat antusias.''


''Ya memang sedang ingin bilang terserah saja, Kak.''


''Gimana kalau makan seafood?''


''Aku oke-oke saja sih. Ya udah aku make up-an dulu ya.'' Kata Laras.


''Mau makan malam saja harus memakain make up juga ya?''


''Iya dong. Supaya tetap cantik.'' Jawab Laras dengan santainya. Setelah selesai bersiap, Laras dan Krisna keluar dari hotel untuk pergi makan malam. Laras sengaja tidak bergelayut seperti biasanya. Mereka berjalan beriringan tampak seperti pertama kali bertemu.


''Tumben Laras tidak menggandeng lenganku?'' gumam Krisna dalam hati penuh tanda tanya.


''Aku ingin tahu bagaiana Kak Krisna inisiatif duluan untuk menggandengku. Kalau memang dia tidak ada inisiatif, ya sudah aku akan tetap cuek sampai pernikahan itu tiba.'' Kata Laras dalam hati.


Sesampainya di restoran, seorang waitres datang memberikan buku menu untuk mereka berdua.


''Laras, kamu mau apa?''


''Terserah kamu saja, Kak. Apapun aku makan.''


''Baiklah kalau begitu.'' Jawab Krisna. Krisna kemudian memilih dua porsi cuma saos teriyaki, kentang goreng, kepiting asam manis dan dua gelas jus jeruk.


''Kamu baik-baik saja kan?''


''Iya aku baik-baik saja, Kak. Aky senang sekali bisa prewed sekaligus liburan tipis-tipis.''


''Jujur saja aku salut dengan semua konsep dan ide yang kamu buat untuk prewed kita ini.''


''Ya syukurlah kalau Kakak menyukainya.''


''Maaf ya kalau aku memasrahkan semuanya padamu. Maaf juga kalau aku tidak menyumbang ide atau konsepnya untuk semua ini. Karena kamu juga tahu kalau aku sangat sibuk sekali.''


''Iya tidak apa-apa kok, Kak. Kakak juga sudah terbiasakan menyerahkan semua keputusan padaku.''

__ADS_1


''Apa Laras marah karena aku cuek saja? Tapi kan aku selalu setuju dengan pendapatnya.'' Kata Krisna dalam hati. Krisna merasa aneh karena Laras yang biasanya ceria dan periang mendadak menjadi pendiam. Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan pun datang. Saat pesanan datang, tanpa banyak bicara Laras langsung menyantapnya dengan lahap.


''Pelan-pelan Ras nanti kamu bisa tersedak.'' Kata Krisna berusaha mengingatkan. Krisna kemudian mengambil sehelai tisu untuk menyeka bibir Laras yang belepotan itu karena asyik memakan kepiting.


''Kamu lucu banget kalau makan sampai belepotan,'' kata Krisna dengan senyum kecilnya.


''Nah gini dong Kak, peka.'' Gumamnya dalam hati.


''Baru di lap aja gue udah meleleh. Seharusnya Kak Krisna itu aktif bukannya pasif,'' sambungnya lagi dalam hati.


''Setelah makan malam kita jalan-jalan kepantai lagi bagaimana? Ya hitung-hitung olahraga kecil setelah makan sebanyak ini.''


''Boleh saja Kak.''


-


''Akhirnya kamu mentraktirku makan juga. Setelah sekian purnama aku menunggu kabar darimu. Sepertinya kartu nama yang aku berikan terlupakan olehmu.'' Kata Leon sambil mengunyah makanan di hadapannya itu. Nadia tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Leon.


''Maafkan aku karena banyak sekali kasus yang aku tangani sampai aku lupa untuk menepati janjiku.''


Leon tertawa kecil. ''Aku mengerti Nadia. Menjadi seorang jaksa memang sebuah pekerjaan yang menyita waktu, tenaga dan pikiran. Tapi selagi kamu masih muda nikmatilah waktumu sebaik mungkin.''


''Aku memang selalu bersemangat untuk bekerja karena pekerjaan ini merupakan cita-cita yang aku dambakan sejak dulu.''


''Aku tinggal di apartemen glory residence.''


''Lantai dan kamar berapa?''


Nadia menatap selidik Leon. Mengerti maksud tatapan Nadia, Leon segera meralatnya. ''Jangan berpikiran aneh dulu Nadia. Kalaupun kamu tidak menerima tamu pria juga tidak masalah. Siapa tahu aku sedang tersesat di daerah sana, aku bisa langsung menemuimu. Tenang saja aku bukan pria mesum.''


Nadia kemudian tertawa mendengar penjelasan Leon. ''Aku hanya bercanda Leon. Ekspresi wajahmu serius sekali.''


''Ya, aku takut kamu salah paham saja. Padahal kan siapa tahu aku butuh bantuan kamu.''


''Santai saja, Leon. Kamu bisa datang ke lantai 12. Kamu bisa meneleponku jika kamu ingin datang menemuiku atau langsung saja datang ke kantorku.''


''Baiklah aku akan datang ke kantormu untuk promosi minuman. Boleh kan?''


''Tentu saja boleh. Memangnya minuman apa yang sedang kamu buat?''


''Aku sedang memproduksi minuman kopi kemasan botol. Kemarin aku juga sempat buka bazar di mall untuk promo.''


''Kamu terjun langsung ke bazarnya?''

__ADS_1


''Iya lah. Kerja kan harus total. Kalau aku melihat langsung, aku langsung bisa lihat respon konsumen seperti apa. Jadi aku bisa langsung segera berbenah.''


''Benar-benar direktur yang patut di contoh,'' puji Nadia.


''Jangan memujiku, aku bisa besar kepala Nadia. Oh ya setelah makan kamu mau kemana?''


''Sepertinya aku harus segera kembali ke apartemen.''


''Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengajakmu melihat festival kembang api. Refreshing tipis-tipis lah setelah seharian kerja, itu juga kalau kamu tidak keberatan.''


''Sepertinya kamu memang sedang butuh teman. Aku merasakan kesepian di sudut hatimu, Leon.''


''Kamu ini seperti peramal saja bisa membaca isi hatiku.''


''Memangnya kamu tidak punya pacar? Pria tampan dan sukses sepertimu pasti punya kekasih.''


''Aku masih sendiri, Nadia. Aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Tapi sekali jatuh cinta aku akan menjaganya sampai kapanpun.''


''Ah itu ucapan klise seorang pria sepertimu.''


''Hahahaha rupanya kamu tidak mudah di tipu oleh pria ya. Tapi aku serius dengan yang aku ucapkan. Lalu bagaimana denganmu?''


''Aku juga masih sendiri, Leon. Aku sebenarnya pernah punya cinta pertama tapi sayang cinta pertamaku memilih wanita lain dan dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Jadi sejak saat itu aku ingin fokus dengan karirku ini. Kejadian itupun sudah lama, sudah bertahun-tahun yang lalu sejak aku kuliah.''


''Memang sih tahta tertinggi mencintai adalah dengan melepaskannya dan membiarkannya bahagia.''


''Sepertinya kamu juga mengalami hal yang sama,'' tebak Nadia.


''Kamu mungkin beruntung karena kejadian itu sudah berlalu sangat lama. Tapi tidak denganku, Nadia. Ketika aku mulai jatuh cinta, eh dia sudah di miliki orang lain. Itu lebih menyakitkan apalagi diam-diam dia sudah ada yang punya.''


''Kok bisa? Apa dia sudah menikah?''


''Awalnya aku ada harapan untuk menjalin cinta dengannya karena hubungan pernikahan itu hanya sebuah kontrak. Dia juga menceritakan semua masalah itu padaku. Tapi ya pada akhirnya pernikahan kontrak itu membuahkan cinta di antara mereka. Jadi harapanku pupus sudah, impianku merajut hubungan dengannya kandas di tengah jalan. Tidak mungkin kan aku merebut istri orang. Jadi aku memilih mencintai dalam diam, bukankah itu lebih menyakitkan?''


''Seorang Direktur yang punya segalanya ternyata menyimpan luka yang begitu dalam ya. Tapi jaman sekarang masih ada pernikahan kontrak?''


''Entahlah tapi nyatanya memang ada. Dan mereka kini sudah hidup bahagia.''


''Percayalah Leon, suatu saat akan ada wanita yang mencintai kamu dengan sepenuh hati. Mungkin untuk sekarang, kamu harus belajar melepaskan dia dari hatimu.''


''Iya kamu benar juga meskipun itu sangat sulit.'' Ucap Leon dengan senyum samarnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2