Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 238 Bestie


__ADS_3

Krisna dan Laras akhirnya mereka kembali ke tanah air setelah menikmati bulan madu. Krisna pun sudah mulai bekerja dan masuk kantor. Baru juga sampai di ruangannya, meja Krisna sudah penuh dengan tumpukan pekerjaan. Kevin sendiri sudah duduk manis sambil menyilangkan kakinya, menyambut kedatangan Krisna.


''Pagi Kris, sudah puas bulan madunya?''


Melihat ekspresi Tuannya yang sedang tidak baik-baik saja, membuat Krisna tampak gugup.


''Su-sudah Tuan. Terima kasih untuk hadiahnya Tuan. Maaf kalau mendadak, Laras merubah rencana bulan madu kami.''


''Ibarat peribahasa, dikasih hati malah meminta jantung.''


''Ma-maaf Tuan. Saya rela tidak mendapat gaji bulan ini. Saya juga tidak lupa membawa oleh-oleh untuk anda dan Nyonya Keira. Laras sendiri yang akan mengantarnya ke rumah.''


Kevin menghela, ia lalu beranjak dari duduknya.


''Syukurlah kalau kamu mengerti. Selesaikan pekerjaanmu!" ucap Kevin sambil menepuk pundak Krisna. Kevin kemudian berlalu meninggalkan ruangan Krisna. Krisna menghela nafas panjang melihat ekspresi Tuannya yang begitu seram. Krisna sendiri merasa tidak enak karena bulan madu di Italia selama satu minggu menelan biaya yang fantastis.


Sementara itu Laras sudah berada di rumah Keira. Ia membawa banyak oleh-oleh untuk Keira dan juga untuk orang-orang yang kerja di rumah Keira. Kini keduanya sedang asyik bercengkrama di gazebo taman.


''Ras, elo seharusnya nggak usah repot-repot kali bawa oleh-olehnya banyak banget. Semua orang yang kerja di rumah, sampai elo kasih segala.''


''Ya udah lah Kei nggak apa-apa. Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih gue sama elo dan Tuan Kevin. Kalian memang baik banget.''


''Sama-sama, Ras. Berarti Pak Krisna sudah mulai kerja dong?''


''Iyalah, dia langsung kerja takut suami elo marah kalau harus cuti lagi.'' Seloroh Laras dengan tawanya.


''Eh gimana nih, Pak Krisna nggak tremor kan pas malam pertama.'' Keira begitu penasaran menanyakan hal ini pada Laras.


''Bukan hanya tremor tapi drama, Kei. Sumpah nyebelin banget Kak Krisna. Elo tahu gue kan, gue mana bisa basa-basi.''


''Hahaha elo mah emang bar-bar, Ras. Tapi akhirnya berhasil kan?''


''Hehehe berhasil sih setelah melewati banyak drama. Ujung-ujungnya ketagihan deh, minta nambah deh. Ya walaupun gue sih yang lebih agresif. Di otak gue isinya cuma terong, terong dan terong.'' Mendengar celotehan sahabatnya, membuat Keira tertawa terbahak.


''Gila ya elo, Ras. Emang segitu nagihnya ya terong Pak Krisna.''


''Iya Kei, nagih banget.'' Ceplos Laras tanpa rasa malu.

__ADS_1


''Eh gimana kehamilan elo? Ada kendala nggak?''


''Makin kesini udah berkurang sih mualnya, Ras. Nafsu makan aja yang kadang mendadak rakus dan juga mendadak hilang selera.''


''Gue lihat-lihat semenjak hamil, elo makin cantik sih. Gue taruhan anak elo cewek.''


''Udahlah ngapain juga pakai acara taruhan segala sama Johan. Mau cewek atau cowok sama aja yang penting sehat.''


''Iya sih Kei tapi gue udah terlanjur gemes sama mulutnya Johan. Udahlah biarin aja, dia juga udah nyanggupin. Oh ya gue sampai lupa mau tanya, itu kenapa ada bodyguard segala? Grup chat juga udah sepi kayak kuburan.''


''Oh itu bermula dari si Ferdi.''


''Ferdi? Ferdi balik lagi gitu? Terus kalian ketemu lagi dimana?''


''Ya itu bermula pas kita ke villa. Pas gue ngidam pingin ikan bakar, kita ketemu sama Leon disana. Ya intinya akhirnya kita makan di villa Leon gara-gara si dede bayi ngidam dan pas disana ketemu deh sama Ferdi dan istrinya. Lily juga sudah hamil besar.''


''Terus apa yang di lakukan Ferdi setelah itu?''


''Setelah dari sana, dia ngirim gue buket bunga, Ras. Gue pikir Mas Kevin eh ternyata setelah Mas Kevin selidikin, ternyata itu Ferdi.''


''Gila banget tuh si Ferdi. Dia udah ninggalin elo, eh ketemu lagi malah bikin ulah lagi. Nggak mikirin apa kalau istrinya itu kayak mak lampir jahatnya. Gara-gara Ferdi deketin elo lagi, dia sampai fitnah elo kan dan elo di keluarin dari sekolah.''


''Iya sih, Kei. Lily pasti nyalahin elo lagi. Gue ngerti gimana khawatirnya suami elo sama kejadian ini.''


''Makanya gue kemana-mana harus di kawal, Ras.''


''Elo beruntung banget Kei, punya suami kayak Tuan Kevin. Dia cinta mati deh kayaknya sama elo.''


''Iya sih beruntung walaupun awal gue benci banget sama dia. Sampai gue julukin dia duda bawel.'' Seloroh Keira dengan tawanya.


''Dan sekarang suami kesayangan kan?'' goda Laras.


''Bukan hanya kesayangan sih, suami tercinta lah pokoknya.''


''Iyalah harus itu dan gue juga beruntung dapetin Pak Krisna.''


''Oh ya terus si Andy gimana?''

__ADS_1


''Nggak tahu deh, ke laut mungkin. Cek dari dia bener-bener gue sedekahin atas nama dia juga, Kei. Cerita kita hampir sama ya, pada akhirnya Andy dan Ferdi menyesal dengan keputusan bodoh mereka.''


''Iya elo benar, Ras. Dulu kita di sia-siakan eh sekarang udah pisah di kejar-kejar.''


''Dan alhamdulillah sekarang kita punya pengganti yang luar biasa. Iya nggak?''


''Iya dong. Bukan hanya tampan tapi juga mapan.'' Sambung Keira. Kedua sahabat itu kemudian saling berpelukan.


''Eh tapi tunggu si Johan sama Bu Tessa gimana? Nggak lega nih kalau Johan belum happy ending.'' Kata Laras seraya melepaskan pelukannya. Tiba-tiba ia teringat sahabatnya yang satu itu.


''Terakhir gue ketemu sebelum ke villa, sekitar dua minggu yang lalu. Bisnis cafenya makin lancar sih, soalnya ya gue paksa Mas Kevin tiap makan siang pesan camilan atau minuman untuk karyawannya. Atau pas meeting, gue paksa Mas Kevin buat pesen makanan atau desert sama Johan. Tahu sendiri kan, dia ngrengek minta gue bantu promosiin. Untung saja suami gue mau dan dari situ cafenya makin laris.''


''Ya dia belum apa-apa udah buy on get one, Kei. Apalagi dia kejar target supaya beli rumah.''


''Dan yang gue dengar terakhir dari Johan, mantan suami Bu Tessa itu deketin Bu Tessa dan Anrez lagi. Kata Johan juga mantan suaminya itu sakit sih sampai Johan ngutangin duit segala.''


''Masa sih, Kei? Bodoh banget si Johan. Tapi entah kenapa gue nggak percaya aja kalau mantan suami Bu Tessa itu jadi baik apalagi sakit.''


''Kok sama ya, Ras. Gue juga nggak percaya kalau mantan suami Bu Tessa mendadak baik.''


''Gue yakin karena dia udah habis uang, di campakkin selingkuhannya terus ngemis-ngemis deh.''


''Bisa jadi sih, Ras.''


''Gue harus konfirmasi langsung nih sama Johan. Gue nggak rela lah kalau sahabat gue sampai di manfaatin. Terus hubungan dia sama Bu Tessa gimana?''


''Sejauh ini sih baik karena kan Bu Tessa juga kerja di cafenya Johan. Johan kan sudah melamar Bu Tessa juga. Johan mau nikahin Bu Tessa kalau Johan udah bisa beli rumah.''


''Kelamaan deh kalau nunggu beli rumah. Mending nikah langsung aja, gue khawatir kalau Bu Tessa luluh sama mantan suaminya. Kasihan Johan kan?''


''Tapi menurut pengamatan gue, Bu Tessa nggak bakal mau balik sama mantan suaminya. Gue pingin ketemu mantan suaminya Bu Tessa. Dengan seperti itu, gue bisa baca gerak-geriknya. Dia beneran sakita dan beneran tulus apa nggak.''


''Ya udah gue nanti tanya Johan deh kapan dia ada waktu luang, kita hangout bertiga aja. Ngomongin masalah ini. Elo santai saja Kei, elo kan sedang hamil jangan ikutan mikir terlalu berat.''


''Yaelah santai aja kali, Ras. Gue juga belum lega kalau di Johan belum happy ending sama Bu Tessa.''


''Kita doakan yang terbaik buat mereka ya.''

__ADS_1


''Amin.''


Bersambung....


__ADS_2