Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 45 Marvel


__ADS_3

MARVEL 💞



Keira pun mulai menyisir jalanan dengan motornya, begitu juga dengan Kevin. Keira tidak bisa menutupi rasa gelisahnya.


''Beginilah yang aku khawatirkan kalau Marvel tahu semunya. Dia pasti akan lebih terluka. Memang dasar kepala batu, aneh banget! namanya juga udah takdir, eh anak kecil di salahin,'' gumamnya dengan kesal.


''Marvel, maafkan papa. Papa salah! kamu kemana Marvel?'' gumam Kevin yang amat sangat gelisah. Beberapa kali ia berhenti karena seperti melihat Marvel tapi ternyata salah. Kevin mulai frustasi!


Sementara itu Keira menghentikan laju motornya, saat ia mendengar dering ponselnya. Ada nama Miko disana.


''Halo Kak Miko, ada apa?''


''Kei, kamu tahu kalau Marvel kabur dari rumah?''


''Iya Kak, aku tahu. Barusan Tuan Kevin menelponku dan meminta bantuan ku untuk mencarinya.''


''Apa dia tidak bersama-mu sama sekali, Kei?''


''Tidak, Kak. Bahkan setelah kamu berdebat, aku langsung pergi ke sekolah.''


''Aku sekarang juga sedang di jalan mencari Marvel.''


''Kei, kalau Marvel sudah ketemu, beri tahu aku dulu. Jangan beri tahu Kevin, dia sudah menceritakannya padaku dan aku sangat marah padanya.''


''Memangnya sebelumnya Kak Miko tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya?''


''Aku sama sekali tidak tahu, Kei. Dan dia baru menceritakannya tadi, setelah aku melihat rekaman CCTV itu. Kalau kamu sudah menemukan Marvel, sebaiknya dia tinggal dulu bersamamu, sembunyikan dia untuk sementara waktu. Aku ingin memberikan Kevin pelajaran, supaya dia sadar betapa berharganya Marvel.''


''Baiklah, Kak. Aku setuju. Tapi sampai kapan?''

__ADS_1


''Aku akan mengurusnya dan aku akan memberimu kabar, kapan saat yang tepat untuk Marvel kembali.''


''Tapi bagaimana kalau Tuan Kevin, lapor pada polisi?''


''Sudah itu biar jadi urusanku. Setidaknya hari ini aku ingin tahu perjuangan Kevin.''


''Baiklah Kak kalau begitu. Semoga Marvel segera di temukan.''


''Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati ya, Kei.''


''Iya, Kak.'' Panggilan pun berakhir. Keira lalu melanjutkan kembali perjalanannya. Keira menyusuri kembali ke sekolah Marvel dan sepanjang jalan menuju rumahnya tapi NIHIL.


''Marvel, kamu kemana? tante khawatir sekali,'' gumam Keira sambil terus mengelilingi jalanan kota.


Keira yang lelah memutuskan berhenti sejenak untuk membeli minuman di sebelah warung pinggir jalan. Satu botol air mineral sudah cukup untuk melepas dahaga Keira karena hari sudah mulai petang dan matahari mulai kembali peraduannya. Kemudian ponsel Keira berdering dan ia segera mengangkatnya.


''Halo Kak, ada apa?''


''Aku lagi di jalanan nyari murid aku yang kabur dari rumah Kak.''


''Kamu peduli banget sih sama dia? sampai kamu ikutan nyari juga. Memang dia sangat penting?''


''Pentinglah, Kak. Dia kan murid aku. Memangnya ada apa Kak?''


''Kamu nggak pingin pulang? kamu dari semalam nggak pulang. Kluyuran melulu.''


''Iya, kalau murid aku ketemu, aku akan segera pulang.''


''Sudah lebih baik kamu pulang sekarang, Kei.''


''Tidak bisa, Kak! aku harus menemukannya.''

__ADS_1


''Yang kamu cari ada di rumah, Kei.''


''Maksud Kak Kenny?''


''Apa kamu mencari Marvel?''


''Kok Kakak bisa tahu?''


''Sebaiknya kamu pulang. Dia nyariin kamu, kasihan dia. Saat aku ziarah ke makam bunda, aku dan Cindy bertemu dengannya.''


''Syukurlah Kak, aku senang sekali mendengarnya. Baiklah aku akan pulang secepatnya.'' Kata Keira dengan perasaan yang begitu lega. Seperti beban dalam pundaknya terlepas. Keira lalu mengirmkan pesan pada Miko.


Keira : Kak Miko, aku sudah menemukan Marvel. Kakak ku lah yang menemukan Marvel. Kakak ku menemukan Marvel di makam Nyonya Kania, saat Kakakku melakukan ziarah ke makam bunda kami.


Miko : Syukurlah, Kei. Aku senang sekali mendengarnya. Biarkan Marvel disana sementara waktu, kasihan dia. Kevin memang harus di beri pelajaran. Terima kasih untuk kebaikan kalian semua, sisanya biar aku yang mengatur.


Keira : Sama-sama, Kak.


Setelah mengirim pesan pada Miko, Keira pun bergegas untuk pulang. Sedangkan Kevin memutuskan untuk beristirahat di tepi jalanan. Ia duduk di trotoar tepi jalan sambil membuka galeri foto dalam ponselnya. Kevin tersenyum melihat foto pernikahannya bersama Kania. Apalagi saat foto kehamilan Kania dulu. Senyumnya semakin melebar, saat melihat foto Marvel pertama kali lahir ke dunia. Matanya terlihat sipit dengan hidung yang mancung serta kulitnya yang putih. Ia menggeser layar ponselnya, melihat perkembangan Marvel yang selalu tersimpan dalam ponselnya. Kemudian Kevin memutar vidio saat pertama kali Marvel bisa memanggilnya 'PAPA'. Kevin pun kembali menangis, penyesalan terdalam kini ia rasakan. Saat pandangan Kevin mengedar, ia melihat seorang pemulung bersama anak laki-lakinya sedang beristirahat. Keduanya saling bercengkrama dan berbagi makanan. Sang Ayah tampak senang menggoda putranya, bahkan sang anak memberikan kecupan di pipi Ayahnya. Kesedihan Kevin berhenti sejenak saat mendengar percakapan dan melihat kedekatan Ayah dan anak itu.


"Ayah sayang sekali padamu, nak. Ayah akan menjaga kamu dan tidak akan membuatmu sedih. Ayah janji akan meneruskan cita-cita almarhum ibu mu untuk menjadikanmu seorang dokter. Supaya nanti tidak ada orang miskin seperti kita yang di abaikan oleh rumah sakit. Meskipun ayah sadar kalau jodoh, rezeki dan maut, Tuhan lah yang mengaturnya. Dan meskipun Ibu mu sudah di surga bersama Tuhan, tapi ayah akan berada disini untukmu sampai kapanpun. Kita doakan saja Ibu ya, Tuhan terlalu menyayangi ibumu jadi sudah pasti Ibu mu bahagia di surga sana."


"Iya Ayah. Aku akan selalu berdoa untuk Ibu supaya Ibu selalu bahagia disana. Aku juga akan membahagiakan Ayah dan tidak akan membuat Ayah bersedih. Aku juga janji akan menjadi anak yang baik untuk Ayah. Dan aku juga akan menemani ayah sampai kapanpun."


"Baiklah kalau begitu kita sepakat untuk saling membahagiakan, saling menjaga dan selalu saling menyayangi ya. Terus jangan lupa untuk selalu mendoakan Ibu disana."


"Pasti Ayah dan aku juga akan berusaha mewujudkan keinginan ibu." Anak itu lalu menyodorkan jari kelingkingnya pada Ayahnya dan sang ayah menautkan jari kelingkingnya pada anaknya. Lalu keduanya saling berpelukan dan pergi melanjutkan perjalanan.


Melihat itu semua, Kevin merasa malu dan bodoh. Betapa egois sekali dirinya, menyiksa batin seorang anak kecil karena tidak bisa menerima takdir. Mata Kevin pun tampak sembab dan memerah, ia kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari Marvel.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2