
''Ya ampun, kalian basah kuyup! Kalian kenapa tidak menelepon Om atau Tante?'' Gina mengoceh begitu melihat dua keponakannya sampai dirumah.
''Maaf Tante, ponsel kita kehabisan baterai semua.'' Jawab Chika.
''Zidni, Om sudah bilang untuk bawa mobil kan? Kamu ini masih saja ngotot naik motor.''
''Sudah, kalian masuk sana ganti baju. Tante buatkan minuman hangat.''
''Iya Tante, terima kasih.'' Jawab Chika. Keduanya kemudian berlalu ke kamar masing-masing.
Gina kemudian membuatkan teh jahe panas untuk mereka berdua. Miko mendapat tugas dari Gina membawakan teh jahe untuk Zidni. Sementara Gina sendiri, membawakannya untuk Chika.
''Zidni, ini minuman dari Tante. Minumlah, supaya tubuhmu terasa hangat.'' Ucap Miko.
''Iya Om, terima kasih.''
Miko kemudian duduk di bibir ranjang. ''Zidni, duduklah. Om ingin kita bicara.'' Ucap Miko seraya menepuk sisi ranjang yang kosong. Zidni pun menurut.
''Zidni, kamu tidak bisa begini terus. Om memang tidak tahu semuanya tapi Mama kamu bercerita sedikit dengan, Om. Kamu tidak boleh terbelenggu dendam seperti ini Zidni. Sampai kapan kamu seperti ini? Semua itu sudah berlalu cukup lama. Perusahaan butuh kamu, begitu juga dengan Mama kamu. Om sebenarnya yang meminta kamu untuk datang kemari. Berharap disini kamu berubah dan bisa melupakan semuanya.''
''Tolong Om, jangan paksa aku. Aku juga butuh waktu. Aku tidak bisa melupakan semua itu begitu saja. Aku ingin hidup dengan caraku. Om tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.''
Miko menghela. ''Ya baiklah, kalau begitu istirahatlah.'' Ucap Miko sambil merangkul pundak Zidni. Miko kemudian berlalu meninggalkan kamar Zidni.
Tentu saja bagi Zidni tidak mudah melupakan semua kenangan tentang kekasihnya, Amora. Ya, keduanya saling mengenal saat mereka duduk di bangku SMP. Amora dan Zidni sama-sama menyukai musik. Kehadiran Amora membawa warna bagi hidup Zidni yang terlalu banyak tekanan dan tuntutan dari kedua orang tuanya terutama Papa Zidni, Tuan Tobi. Zidni ingin sekali menjadi seorang musisi hebat karena bagi Zidni, musik adalah hidupnya. Sementara Tuan Tobi menginginkan Zidni untuk fokus pada perusahaan. Karena bagi Tuan Tobi, masa depan musisi itu tidak jelas. Di tambah Zidni adalah anak tunggal dan satu-satunya pewaris perusahaan.
Saat SMA dan kuliah, Zidni memilih sekolah dan universitas yang sama dengan Amora. Perjalanan cinta diam-diam mereka di mulai saat keduanya duduk di bangku SMA. Padahal saat itu Tuan Tobi meminta Zidni untuk meneruskan sekolah dan kuliah di luar negeri. Namun Zidni menolak keras dengan tetap memilih sekolah dan universitas yang sama dengan Amora. Meskipun Zidni harus terpaksa masuk di fakultas bisnis, bukan musik. Namun bagi Zidni tidak apa, asal ia masih tetap bisa bersama Amora dan Papanya tidak curiga kalau selama ini dirinya diam-diam memiliki kekasih.
Kisah cinta mereka begitu indah dan romantis. Zidni mencintai Amora dengan tulus dan apa adanya. Zidni juga mendukung penuh keinginan Amora yang ingin menjadi seorang pianis. Setiap kali ada event perlombaan, Zidni selalu memaksa Amora untuk ikut. Hingga akhirnya Amora beberapa kali memenangkan lomba dan selalu menjadi juara satu. Keduanya bahkan sepakat untuk meniti karir bersama. Zidni diam-diam juga sering mengikuti lomba dan beberapa kali manggung di cafe tanpa sepengetahuan Papanya.
Sampai pada akhirnya, Tuan Tobi mengendus bangkai yang di tutupi oleh putranya. Malam itu Zidni diam-diam pergi untuk menghadiri festival musik bersama Amora. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Mamanya.
''Zidni, kamu mau kemana nak?''
''Mah, Zidni mau pergi ke acara festival musik.''
''Bersama Amora?''
''I-iya Mah.''
''Nanti kalau Papa tahu bagaimana?''
''Asal Mama tidak bilang, Papa juga tidak akan tahu.'' Dan suatu keadaan, akhirnya membuat Nyonya Kamila, mengetahui cinta diam-diam Zidni. Meskipun sudah menasihati Zidni tapi Zidni tidak bisa dicegah. Yang akhirnya membuat Nyonya Kamila juga diam-diam melindungi Zidni.
__ADS_1
Namun saat itu, Tuan Tobi sudah mengetahui hubungan Zidni dengan Amora.
''Zidni pergi, Mah.'' Akhirnya Zidni malam itu nekat untuk pergi ke acara festival musik.
Di acara festival musik itu, Zidni dan Amora juga ikut mengisi acara. Keduanya tampil kompak dan sangat romantis. Zidni bermain gitar sembari bernyanyi, sementara Amora memainkan pianonya.
Selesai mengisi acara dan menonton festival itu, Zidni mengajak Amora jalan-jalan disebuah taman. Disana Zidni memberikan sebuah kalung untuk Amora. Dimana hari itu adalah hari jadi mereka ke-4 tahun berpacaran.
''Happy anniversary!" ucap Zidni sambil menunjukkan sebuah kalung untuk Amora.
''Zidni, terima kasih. Kalung ini sangat cantik. Tapi kamu lebih penting dari semua yang ada.''
''Selamat hari jadi ke-4 ya. Terus selamat hari jadi ke-7 sejak perkenalan kita saat SMP dulu.''
''Kamu bahkan menghitung hari perkenalan kita juga.''
''Iya dong, aku bahkan masih ingat semuanya. Aku pakaikan kalungnya ya?''
Amora mengangguk dengan senyumnya. Zidni lalu memakaikan kalung itu di leher Amora.
''Sangat cantik. Apa kamu menyukainya?''
''Iya aku menyukainya tapi aku lebih menyukai kamu.''
''Tapi orang tua bagaimana? Apa mereka akan menerimaku?''
''Aku akan membuat mereka menerima mu. Kamu jangan pikirkan itu ya.'' Zidni dan Amora kemudian saling berpelukan.
''Aku sangat mencintaimu, Amora.''
''Aku juga sangat mencintaimu Zidni. Zidni, aku punya satu permintaan.''
''Apa itu Amora?''
''Aku ingin bertemu dengan orang tuamu. Ajak aku bertemu dengannya. Aku ingin meminta restu juga kepada mereka. Apalagi kita sudah saling mengenal selama tujuh tahun lebih. Banyak hal yang sudah kita lewati bersama. Aku tidak mau membuatmu menjadi anak durhaka.''
Zidni menghela, permintaan Amora sungguh berat bagi Zidni. Kalau sampai orang tuanya tahu, Zidni benar-benar akan di pisahkan dengan Amora.
''Tapi Amora...., ''
''Kita belum mencobanya, Zdini. Bagaimana kalau kita mencobanya? Aku mohon. Kalau kita akhirnya mendapat restu, bukankah kita akan semakin tenang menjalani hubungan ini?''
Zidni terdiam dan berpikir sesaat, sampai akhirnya ia mengangguk dan menyetujui permintaan Amora. Akhirnya malam itu Zidni membawa Amora kerumahnya. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba ada dua buah mobil yang menghadang Zidni. Zidni panik saat mengetahui itu adalah mobil Papanya bersama dengan anak buahnya. Zidni pun mematikan mesin motornya. Tuan Tobi sangat geram melihat Zidni bersama Amora. Tuan Tobi menghampiri putranya dan melayangkan tamparan begitu kerasnya. PLAK! Amora sangat terkejut melihat Zidni di tampar oleh Papanya sendiri.
__ADS_1
''Pukul saja Pah! Bunuh aku sekalian! " bentak Zidni.
''Gara-gara wanita ini, kamu melawan Papa ya? Wanita seperti ini yang kamu cintai. Jangan pikir Papa tidak tahu ya kalau ternyata selama ini kamu membohongi Papa.''
''Om, kami saling mencintai.'' Jawab Amora dengan suara bergetar.
''Cinta? Hhh sudah pasti harta yang kamu incar dari putraku. Wanita rendahan sepertimu, mana mungkin tulus mencintai putraku. Kamu jangan berharap lebih karena aku sudah menyiapkan jodoh untuk Zidni. Wanita yang bibit, bebet dan bobotnya lebih jelas daripada wanita sepertimu.''
''CUKUP, Pah! Aku mencintai Amora, aku tidak mau dengan siapapun selain Amora. Aku hanya mau Amora. TITIK! " Dan tamparan melayang lagi di wajah Zidni.
''Beribu kali Papa menamparku, aku tetap memilih Amora. Nyawa bahkan rela aku korbankan untuk Amora.''
''Jangan gila kamu, Zidni! Hanya demi wanita itu kamu menjadi bodoh.''
Zidni lalu menggenggam erat tangan Amora. ''Pah, Zidni ingin Papa merestui hubungan ku dengan Amora.''
''Sampai Papa matipun tidak akan memberikan restu pada kalian.''
''Baiklah, kalau begitu lebih baik Zidni mati saja.''
''Silahkan!'' kata Tuan Tobi yang menantang Zidni.
''Zidni, apa yang kamu lakukan? Kamu jangan bicara bodoh. Pulanglah Zidni.'' Bujuk Amora.
''Tidak Amora! Aku akan berdiri di tengah jalan, aku akan membuktikan kalau aku mencintai kamu.'' Zidni lalu nekat berdiri di tengah jalan, menanti mobil yang lewat.
''Pah, Papa sungguh tidak mau merestui kami?''
''Tidak! Lakukan saja apa yang kamu mau. Papa akan melihatnya, seberapa jauh ancaman kamu.'' Tuan Tobi begitu meremehkan ancaman Zidni.
''Om, aku mohon hentikan Zidni. Aku akan meninggalkan Zidni tapi tolong cegah Zidni Om. Bukankah dia putra Om satu-satunya?''
''Untuk apa aku memiliki seorang anak yang tidak bisa di andalkan. Kenapa kamu sekalian tidak ikut Zidni ditengah jalan sana? Hah?'' kata Tuan Tobi dengan tatapan sinisnya.
Dan sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi, Zidni sudah bersiap. Ia memejamkan matanya dan merentangkan tangannya. BRUG! Zidni tersungkur di tepi jalan namun lukanya tidak terlalu parah. Namun dengan setengah sadar, Zidni justru melihat tubuh Amora terpental jauh bahkan terguling di jalanan. Terlihat darah segar mengalir dari kepala, mulut dan telinga Amora. Ya, Amora berusaha menyelamatkan Zidni malam itu.
''Ammmora!" lirih Zidni dan akhirnya ia pingsan. Zidni dan Amora akhirnya di bawa ke rumah sakit. Namun nyawa Amora tidak bisa di selamatkan. Bahkan Amora meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit.
Keesokan harinya, Zidni baru tersadar dan mendapat kabar bahwa Amora meninggal. Dunia Zidni serasa runtuh. Zidni semakin membenci Papanya dan ia juga mulai membenci dirinya sendiri. Sejak saat itu untuk mengusir rasa sepinya, Zidni mengencani banyak wanita. Berharap ia menemukan sosok Amora pada wanita yang ia kencani. Namun tentu saja hubungan itu tak pernah bertahan lama. Bahkan Zidni tak segan untuk memutuskan hubungan dengan kejam saat ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Dunia malam bahkan menjadi sahabat Zidni. Zidni merasa hancur tanpa Amora.
Dan setelah setahun kepergian Amora, Tuan Tobi akhirnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Kepergian Tuan Tobi justru semakin membuat Zidni malas mengurus perusahaan. Rasa bencinya terhadap Papanya pun masih tetap membelenggu hatinya. Hanya dunia malam dan wanita yang menemani Zidni sampai detik ini. Walau sebenarnya semua kesenangan itu hanya semu dan tidak membuatnya bahagia. Hati dan perasaan Zidni tetap terasa kosong tanpa Amora disisinya. Kehilangan Amora yang di sebabkan keegoisan orang tuanya lah yang merenggut kebahagiaan dan senyum Zidni. Pengorbanan dan cinta Amora tentu saja sangat membekas di hati dan hidup Zidni. Bahkan sampai detik ini Zidni masih saja terus dihantui rasa bersalah.
Bersambung....
__ADS_1