Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 171 EGO


__ADS_3

Setelah menidurkan Marvel, Keira segera kembali ke kamarnya.


''Mas, belum tidur?'' tanya Keira saat melihat suaminya masih duduk di sofa dengan menghadap layar laptopnya.


''Kemarilah, sayang.'' Ucap Kevin. Keira lalu menghampiri suaminya. Di tariknya tangan Keira sampai Keira jatuh di pangkuan suaminya.


''Mas, kamu mengejutkan aku.''


''Kamu suka kan?''


''Kamu sedang sibuk untuk apa menggodaku?''


Kevin kemudian menutup layar laptopnya dan kini hanya fokus dengan wanita yang sudah berada di pangkuannya. ''Aku ada kabar baik, sayang.''


''Kabar baik apa, Mas?''


''Aku sudah meruntuhkan kekuasaan Tuan Sandi. Mereka berhasil menangkap mafia itu.''


''Mas yakin kalau mereka sudah tertangkap?''


''Yakin lah sayang. Mata-mata David kan masih di kantor. Dia merekam semua gerak-gerik Mauren. Tadi Mauren mendapat telepon dari asisten pribadi Papanya. Dan asisten pribadi Papanya sedang menuju Indonesia.''


''Lho kenapa dia bisa kabur? seharusnya asprinya di tangkap juga dong?''


''Iya, maka dari itu, setelah mendapat rekaman oborlan Mauren, pihak kepolisian Jerman berhasil meringkus asprinya itu. Jadi dia tidak bisa kabur dan sekarang Mauren sendiri.''


''Lalu apa yang akan kita lakukan pada Mauren?''


''Kita biarkan saja dia. Aku ingin melihatnya menderita dulu. Mereka sudah mempermainkan hidupku selama bertahun-tahun. Aku tidak akan menjebloskannya ke penjara langsung, sayang.''


''Mas, dendam berkepanjangan itu tidak baik. Kita sudahi saja semuanya.''


''Aku tahu itu sayang. Kalau kita memasukkan Mauren ke penjara sekarang, itu akan membuat keluarganya curiga kalau aku dalang di balik ini semua. Sudah, kamu jangan pikirkan itu. Biarkan itu menjadi urusanku. Yang jelas untuk sementara, kita pura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa. Kita kan masih akting marah di hadapan Mauren.''


''Terserah kamu sajalah, Mas. Yang penting kamu bisa menjaga diri kamu.''

__ADS_1


''Oh ya bulan depan kamu akan wisuda kan? kamu minta hadiah apa?''


''Aku tidak ingin hadiah apa-apa, Mas. Aku hanya ingin kita diberikan kesehatan, keberkahan dan kebahagiaan. Bagiku itu semua sudah cukup.''


''Kamu memang terbaik. Terima kasih sudah datang dalam hidupku.'' Kevin kemudian memberikan kecupan di kening Keira.


''Oh ya Mas, bagaimana pertemuanmu dengan Nona Nadia? apa dia cantik?''


''Mmmm sebagai pria normal, dia memang cantik apalagi dia seorang jaksa.''


''Lalu rencana kita pada Kak Miko?''


Kevin tersenyum. ''Sepertinya dia memang terpengaruh dengan ucapanku. Apa kamu tidak mendapat kabar dari Gina?''


''Tidak, Mas. Mungkin mereka juga sedang mesra-mesraan,hehehe.''


''Mau mesra-mesraan kalau ada Tante Rosa, mood sudah hilang.''


''Husss jangan begitu, Mas. Walau bagaimanapun dia itu Tante kamu.''


''Aku yakin kalau Mbak Gina bisa melewati ini semua. Ada saatnya nanti Tante Rosa akan menghargai dan menyayangi Mbak Gina.''


''Semoga saja itu segera terjadi ya, sayang.''


''Amin, Mas. Kita doakan saja yang baik-baik untuk mereka, supaya dia baik itu berbalik ke diri kita juga.''


-


''Mas, aku barusan ke kamar Mama mau ajakin Mama sarapan, tapi Mama tidak menjawab.'' Ucap Gina sambil memindahkan makanan ke meja makan.


''Mungkin Mama masih tidur, Gin.''


''Mas, sebaiknya kamu samperin Mama deh. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu seperti kemarin.''


''Baiklah kalau begitu aku ke kamar Mama dulu ya.'' Miko kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Mamanya.

__ADS_1


''Mama, ini Miko, Mah.'' Panggil Miko sambil mengetuk pintu kamar. Saat Miko berusaha membuka gagang pintu, rupanya pintu tidak terkunci. Miko melihat Mamanya meringkuk di atas tempat tidur. Miko kemudian mendekat dan duduk di bibir tempat tidur.


''Mama kenapa?'' tanya Miko pelan. Namun Nyonya Rosa tetap diam dan tidak mau menjawab.


''Mah, ayo kita sarapan. Mama kenapa sih? jangan menyusahkan Miko seperti ini, Mah.''


''Bagaimana Mama tidak susah, putra Mama satu-satunya tidak subur dan tidak bisa memberikan Mama keturunan. Kamu pikir Mama tidak malu dan terluka karena hal ini? bagaimana mungkin keluarga kita ada keturunan mandul?'' ucapan Nyonya Rosa, benar-benar menusuk hati Miko. Hati Miko terluka oleh ucapan Ibu kandungnya sendiri. Rupanya dari balik celah pintu yang terbuka, Gina mendengar itu. Gina sangat sedih, bagaimana mungkin seorang Ibu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu pada putra kandungnya sendiri.


''Mah, ini di luar kuasa Miko sebagai manusia. Lalu apa yang Mama inginkan? apa yang harus Miko lakukan untuk bisa memberikan Mama cucu? seharusnya sebagai seorang Ibu, Mama mendukung Miko dan mendoakan Miko, supaya Miko dan Gina bisa segera di beri momongan. Kami bahkan konsultasi dengan profesor.


''Apa Gina tahu kalau kamu tidak subur?''


''Justru Gina tahu semuanya. Gina sengaja menutupi itu semua dari Miko karena dia tidak ingin Miko terluka. Bahkan ia rela mendapat cacian dari Mama. Dan yang paling parah, Mama tega meminta Gina untuk di madu. Mama seharusnya bersyukur, Gina tidak meninggalkan anak Mama yang tidak sempurna ini. Sedangkan dia bisa melakukannya kapan pun dia mau.''


Nyonga Rosa hanya terdiam mengetahui fakta mengejutkan itu. Ada rasa marah, sedih, kecewa dan juga malu di dalam hatinya.


''Sekarang terserah Mama saja. Maafkan Miko yang belum bisa memberikan cucu pada Mama.'' Miko kemudian pergi meninggalkan kamarnya. Ia sangat terkejut saat ada Gina sudah berdiri di luar sana. Gina memberikan senyuman untuk Miko, lalu memeluk lengan Miko dan mengajaknya untuk sarapan.


''Mas, kamu jangan masukin hati ucapan Mama ya.''


''Sekarang aku tahu bagaimana rasanya mendengar ucapan itu. Apalagi sekarang, itu adalah Ibu kandungku sendiri yang mengucapkannya. Terima kasih kamu masih mau bertahan dan berjuang dengan ku hingga detik ini ya, Gin. Maafkan aku yang tidak sempurna ini.'' Miko menangis, ia merasa tidak berguna sebagai seorang pria. Hati Gina pun teriris melihat penderitaan suaminya. Gina lalu beranjak dari duduknya dan memeluk suaminya itu.


''Mas, jangan seperti ini ya. Aku merindukan mu yang selalu ceria, semangat dan konyol seperti biasanya. Kamu yang seperti, bukan kamu, Mas. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai kapanpun. Kita bisa mengadopsi anak dulu, kita gunakan sebagai pancingan. Siapa tahu dengan itu, aku bisa secepatnya hamil. Kalau kata orang di kampungku begitu, Mas. Banyak kok yang seperti itu, eh nggak lama mereka hamil. Toh merawat anak yatim piatu itu akan membawa rezeki, Mas. Selain itu kalau kita tulus merawat mereka, banyak sekali pahala yang kita dapat. Aku tidak masalah kalau harus mengadopsi bayi lain. Kita usaha sudah, berdoa setiap hari dan yang terakhir kita harus ikhtiar.''


''Tapi bagaimana kalau seumur hidupku, aku tidak bisa memberikanmu anak?''


''Tidak masalah, Mas. Anak itu titipan dari Tuhan, Mas. Kalau memang Tuhan belum menitipkan atau tidak menitipkannya pada kita, lebih baik kita adopsi anak lagi. Mungkin itu amanah juga dari Tuhan, supaya kita menjaga mereka yang kurang beruntung. Sama saja titipan dan amanah kan, Mas?''


''Gina, aku tidak tahu hati kamu terbuat dari apa. Kamu benar-benar malaikat tanpa sayap. Sungguh beruntung sekali aku mendapatkanmu. Belum tentu aku bisa bertahan sampai detik ini kalau bukan kamu.''


''Kita sama-sama beruntung kok, Mas. Aku juga belajar banyak hal dari kamu. Sudah ya Mas, jangan sedih lagi. Kita nikmati saja kebersamaan kita sekarang. Jangan pernah mendengar omongan apapun dari luar sana.''


''Sekali lagi terima kasih. Hanya kamu yang bisa mengerti dan memahami aku.''


Dari lantai dua, Nyonya Rosa melihat dan mendengar bagaimana Gina begitu tulus kepada putranya. Ada rasa penyesalan karena ia memperlakukan Gina dengan buruk. Namun egonya masih belum bisa ia kalahkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2