Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 267 Kerikil Pernikahan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kevin sudah berangkat ke kantor tanpa berpamitan pada Keira, istrinya. Keira yang tiba-tiba terbangun, mengusap sisi ranjangnya sudah kosong.


''Mas!" seru Keira seraya membuka matanya. Keira kemudian mengecek ponselnya, ada pesan singkat dari Kevin.


Kevin : Sayang, maafkan aku ya. Aku buru-buru. Jangan lupa sarapan, minum susu dan vitaminnya. I love you.


Keira menghela kesal mendapati pesan singkat dari suaminya itu. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Namun sebuah notifikasi dari ponselnya berbunyi. First Annyerversary, itulah yang muncul dalam notifikasinya.


"Mas Kevin pasti lupa. Ini kan hari pertama annversary kita. Bukannya ngucapin malah sibuk kerja. Tega sekali melupakan hari sepenting ini," gerutu Keira dengan kesal. Keira kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Selesai mandi, ia menuju ruang makan.


"Selamat pagi, Nyonya!" sapa Bi Nani dengan hangata.


"Pagi juga, Bi."


"Sarapannya sudah saya siapkan Nyonya."


"Terima kasih ya, Bi."


"Sama-sama Nyonya."


"Oh ya Bi, Tuan Kevin tidak menitipkan sesuatu?"


"Sesuatu? Ummm sepertinya tidak ada, Nyonya."


"Atau bicara sesuatu begitu, Bi?"


"Tidak ada juga Nyonya. Tuan justru pagi-pagi sekali sudah berangkat dan melewatkan sarapan. Tapi tadi Tuan bilang kalau akan lembur jadi meminta saya untuk memberitahu anda, Nyonya."


"Apa Bi? Lembur?"


"Iya Nyonya.''


''Marvel juga sudah sarapan kan, Bi?''


''Sudah Nyonya. Den Marvel tadi ke sekolah bersama supir.''


''Memangnya Tuan tadi berangkat jam berapa?''


''Jam 6 pagi sudah berangkat Nyonya.''


''Apa Tuan tidak berpesan ingin di bawakan sarapan atau makan siang?''

__ADS_1


''Tidak Nyonya. Tuan bahkan tidak menghabiskan secangkir tehnya,'' ungkap Bi Nani.


''Oh begitu. Ya sudah Bi, siapkan makan siang ya, biar saya antar ke kantor nanti.''


''Baiklah Nyonya. Kalau begitu, saya permisi ke belakang dulu Nyonya."


"Iya Bi, silahkan."


"Mas Kevin benar-benar keterlaluan. Malah ambil lembur lagi. Memang ya pekerjaan lebih penting daripada hari jadi pernikahan kita. Pertama lho ini, tapi dia sudah lupa. Pergi pamit juga cuma lewat pesan singkat saja. Sangat, sangat, menyebalkan. Ucapan pun tidak ada." Kesal Keira.


...****************...


Sementara itu Laras sedang di dalam kamar mandi. Ia harap-harap cemas melihat hasil tespeknya. Lima bulan sudah menikah tapi belum ada tanda-tanda kehamilan. Sekalipun suami dan mertuanya tidak menuntut tapi tetap saja Laras merasa sedih.


''Laras, kamu lama sekali? Kamu baik-baik saja kan?'' suara Krisna mengetuk pintu kamar mandi.


''Iya Kak, sebentar lagi. Aku baik-baik saja kok.'' Sahut Laras. Krisna akhirnya memutuskan untuk menunggu Laras di depan pintu kamar mandi karena khawatir. Tak lama kemudian, Laras keluar dengan mata sembab. Krisna terkejut melihat istrinya yang seperti habis menangis.


''Laras, kamu kenapa sayang?'' tanya Krisna. Laras lalu menunjukkan hasil tespeknya pada Krisna.


Krisna tersenyum dan menghela. ''Tidak apa-apa, Laras. Memang belum waktunya kan. Aku pun tidak menuntutmu.''


''Iya tapi aku ingin segera menjadi seorang Ibu, Kak.'' Tangis Laras pun pecah. Krisna kemudian memeluk erat untuk menenangkan Laras.


''Bagaimana aku tidak sedih? Aku belum bisa membuatmu bahagia, Kak.''


''Hei, siapa bilang kamu tidak bisa membuatku bahagia? Dicintai kamu itu adalah bahagia terbesarku, Laras. Sudah ya jangan menangis lagi. Kita banyak berdoa dan berusaha ya.''


''Kamu jangan pura-pura menghiburku, Kak. Padahal Kakak juga menginginkan aku bisa secepatnya hamil kan?''


''Semua orang pasti punya keinginan itu tapi kalau kita belum di percaya, ya sudah. Kita harus kerja keras lagi dan doanya di tambah. Sudah, ayo kita ke bawah sarapan ya. Aku harus ke kantor juga.'' Krisna melepaskan pelukannya. Ia kemudian menyeka air mata Laras dan memberikan kecupan di kening Laras. Krisna dan Laras kemudian turun kebawah dan menuju ke ruang makan. Disana Nyonya Dewi sudah menunggu untuk sarapan bersama. Namun Nyonya Dewi justru melihat mata sembab Laras.


''Laras sayang, kamu kenapa? Kok seperti habis nangis.'' Tanya Nyonya Dewi sambil membelai wajah menantunya. Laras pun langsung menghambur kepelukan Ibu mertuanya. Tangisnya pun kembali pecah dalam pelukan Ibu mertuanya.


''Ibu, maafkan Laras ya. Laras belum bisa memberi Ibu cucu. Ibu pasti sangat menantikan cucu dari kami. Maafkan Laras ya Bu, kalau hasil tesnya masih negatif.''


''Nak, tidak apa-apa. Sungguh Ibu tidak marah atau mempermasalahkan itu semua. Semua itu titipan dan ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Kita perbanyak usaha dan doa ya.''


''Tapi Laras sedih, Bu. Setiap ada ibu-ibu arisan dirumah, mereka selalu bertanya apa Laras sudah hamil apa belum? Mereka selalu membahas itu. Laras sedih karena mereka selalu mencecar Ibu seperti itu.''


''Ya ampun, kamu tidak usah pedulikan ucapan mereka. Biasalah nak, namanya juga Ibu-Ibu. Ibu sendiri sebenarnya tidak terlalu suka berkumpul ya untuk menghindari hal seperti itu. Tapi bagaimana lagi, arisan Ibu-Ibu Rt itu wajib disini. Kamu yang sabar ya, nak.'' Ucap Nyonya Dewi sambil mengelus lembut punggung menantunya itu.

__ADS_1


''Sayang, sebaiknya kita sarapan dulu ya. Jangan sedih terus, nanti kamu cantiknya hilang lho.'' Sahut Krisna.


''Iya Nak, ayo kita sarapan. Sudah jangan menangis lagi. Memang belum waktunya. Kalian juga masih terhitung pengantin baru.'' Nyonya Dewi kemudian menyeka air mata Laras dan mengajaknya duduk.


''Ibu ambilkan sarapan untuk kamu ya.'' Kata Nyonya Dewi dengan penuh kasih sayang. Laras hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.


''Sudah, ayo makan! Kamu juga harus ke butik kan? Jadi harus mengisi energi dulu.'' Sambung Nyonya Dewi.


''Terima kasih ya, Bu.''


''Sama-sama Laras.''


''Bu, aku juga mau di ambilkan.'' Sahut Krisna.


''Kamu ini iri saja sama Laras.'' Gurau Nyonya Dewi.


''Iya dong. Anak Ibu kan dua jadi harus adil,'' kata Krisna dengan senyum lebarnya.


''Dasar kamu ini!" Nyonya Dewi lalu giliran mengambilkan nasi serta lauk dan sayur ke dalam piring Krisna.


Selesai sarapan, Krisna dan Laras pun berangkat namun Krisna terlebih dahulu mengantar Laras menuju butik. Sesampainya di butik, Krisna mengantar Laras sampai masuk ke dalam.


''Laras, aku pergi dulu ya. Kamu semangat ya. Jangan sedih dan nangis lagi. Aku dan Ibu sangat menyayangi kamu.'' Mendengar ucapan suaminya Laras hanya mengangguk pelan. Krisna kemudian memberikan pelukan dan kecupan sebelum pergi.


''Ayo dong sayang, semangat. Mana Laras yang selalu ceria itu ya? Kok tiba-tiba melempem begini.''


Namun lagi-lagi air mata Laras lolos begitu saja.


''Lho kok nangis lagi? Kalau kamu seperti ini, aku cuti saja ya. Aku tidak tenang kalau kamu seperti ini.'' Kata Krisna. Laras tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis sesenggukan saja.


''Ayolah sayang, kamu jangan membuatku khawatir. Aku harus bagaimana supaya kamu tidak sedih dan menangis seperti ini? Aku benar-benar tidak tenang kalau harus meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini.'' Krisna semakin bingung dengan sikap Laras.


''Kita periksa juga sudah. Semua hasilnya baik, kita promil juga baru tiga bulan lalu kan? Jadi kita harus sabar ya. Atau kamu jangan pernah cek-cek lagi. Aku akan buang semua tespek yang kamu simpan suapaya kamu tidak sedih terus seperti ini. Jangan bebani pikiran kamu dengan hal-hal yang berat ya? Kalau kamu sedih, aku juga sedih sayang. Aku kerja juga tidak tenang.''


''Kita pergi saja. Jangan ke butik. Aku tidak mood kerja.'' Jawab Laras dengan sesenggukan.


''Oke baiklah, kamu ingin kita kemana? Apapun akan aku lakukan supaya kamu tidak sedih lagi.''


''Mau makan ice cream.'' Jawab Laras dengan polosnya seperti seorang bocah.


Krisna kemudian tersenyum lega, mendengar istrinya akhirnya bicara. ''Oke baiklah, kita makan ice cream. Kita hari ini lupakan pekerjaan ya. Apapun akan aku lakukan untuk mengembalikan senyuman kamu.''

__ADS_1


Krisna dan Laras kemudian meninggalkan butik. Krisna melakukan apapun yang Laras minta, asalkan wanita yang di cintainya itu berhenti menangis dan kembali tertawa. Karena Laras begitu sensitif jika harus bersangkutan dengan kehamilan dan anak.


Bersambung...


__ADS_2