Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 244 Suami Terbaik


__ADS_3

Dua minggu berlalu, akhirnya masalah Johan menemui titik terang. Tidak lain dan tidak bukan, semua ini berhubungan dengan mantan suami Tessa. Rendy bekerja sama dengan Pak Dino untuk menipu Johan. Karena diam-diam Rendy mengamati kedetakan antara Johan dan Tessa. Tentu saja Rendy melakukan itu karena dia membutuhkan uang untuk bersenang-senang.


PLAK! PLAK! Tamparan keras tangan Tessa mendarat di wajah Rendy berkali-kali. Saat ini Tessa dan Johan berada di penjara untuk menengok Rendy yang sudah berhasil di bekuk polisi setelah berhasil kabur. Tessa mengeluarkan seluruh amarahnya pada Rendy.


''Kamu sungguh keterlaluan, Mas. Tega ya kamu membohongi dan menipu kami. Johan melarangku berpikiran buruk tentangmu, tetapi lihat apa yang kamu lakukan? Kamu menipunya mentah-mentah. Sampai kamu berakting sakit dan bersikap manis pada Anrez. Anrez pasti kecewa karena Papanya seorang penipu dan penjahat. Aku pikir kamu sudah benar-benar taubat tapi ternyata malah sebaliknya.'' Marah Tessa sambil menunjuk wajah Rendy. Rendy hanya bisa terdiam dan menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap kearah Tessa. Tesaa menarik kerah baju Rendy dan mengguncang tubuh Rendy dengan kasar.


''Ba..jing..an kamu! Aku menyesal pernah mengenalmu. Dasar tidak tahu di untung. Jangan main-main dengan pura-pura sakit. Kalau sampai Tuhan mengabulkan keinginanmu itu, kamu baru tahu rasa. Manusia sepertimu memang seharusnya membusuk dipenjara, Mas.'' Air mata kekesalan dan kecewaan pun tumpah membasahi wajah Tessa. Dihianati, KDRT, diabaikan, bahkan sudah cerai sekalipun masih saja masalah.


''Tessa sudah, Tessa.'' Johan berusaha menenangkan Tessa untuk melepaskan cengkramannya pada Rendy.


''Ayo kita pergi! Sekarang dia sudah mendapat hukuman yang setimpal.'' Kata Johan. Tessa lalu kembali melayangkan tamparannya pada wajah Rendy, sebelum Johan dan Tessa meninggalkan ruangan itu. Rendy hanya bisa terduduk lemas dengan pipinya yang memerah karena tamparan dari Tessa. Air mata penyesalan yang keluar dari pelupuk mata Rendy pun sekarang tidak ada gunanya lagi.


''Jo, maafkan aku ya. Maafkan aku.'' Ucap Tessa dengan tangisannya. Tessa merasa malu pada Johan.


Johan kemudian memeluk Tessa. ''Tessa, kamu tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salah kamu.''


''Lalu bagaimana dengan pemilik ruko itu?'' tanya Tessa dengan sesenggukan.


''Mereka tidak jadi menuntut ku. Tapi aku harus pindah dan membayar uang sewa selama satu bulan terkahir ini.''


''Apa kita tidak bisa menyewa ruko itu?''


''Tidak bisa, Tessa. Karena tempat itu akan dijadikan kantor ekspedisi. Sudahlah itu urusan nanti. Sebaiknya kita kembali ruko untuk beberes ya.''


''Sekali lagi maafkan aku ya. Kamu harus kehilangan semuanya dan harus memulai dari nol lagi.''


''Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin ini yang harus aku jalani.'' Johan sebenarnya sangat sedih tapi ia tidak bisa menunjukkan kesedihan itu pada Tessa. Johan dan Tessa kemudian segera naik ke mobilnya lalu segera pergi ke ruko.


Sesampainya di ruko, Johan berdiri menatap ruko itu. Impiannya ingin memiliki restoran besar dan menjadi seorang wirausaha sukses pupus sudah. Harta satu-satunya yang tersisa hanyalah mobil yang kini ia tumpangi. Tak terasa air mata Johan mengalir dari pelupuk matanya.


''Kamu harus bisa Jo!" batin Johan yang berusaha memberi semangat kepada dirinya sendiri. Johan buru-buru menyeka air matanya, supaya Tessa tidak melihatnya. Johan dan Tessa lalu masuk ke dalam ruko itu. Johan dan Tessa mengambil semua barang-barang disana dan Johan berniat untuk menjualnya. Apalagi barang-barangnya juga masih bagus semua.


''Jo, kamu yakin ingin menjualnya?'' tanya Tessa.


''Iya aku akan menjualnya untuk membayar sewa ruko ini selama atu bulan.''

__ADS_1


''Memang sudah ada pembelinya?'' tanya Tessa.


''Belum sih. Yang jelas kita bereskan saja dulu. Kursi dan mejanya biar disini saja dulu. Pemiliknya juga memberi kita waktu satu minggu untuk beberes. Sebaiknya kita rapikan peralatan makan dan dapur saja dulu. Setelah itu kita jemput Anrez di rumah Keira.''


''Iya baiklah, Jo.''


Tessa bisa melihat dengan jelas bahwa Johan menyembunyikan rasa sedihnya di hadapannya. Tatapan mata Johan terlihat sendu dan penuh beban. Wajah Johan bahkan terlihat sangat tirus dan kusam.


...****************...


Kebetulan sekarang adalah weekend, Keira sedang bersantai di gazebo halaman belakang rumah sembari menemani Marvel dan Anrez bermain. Marvel sangat senang karena bisa bermain dengan Anrez. Sebelum berangkat ke kantor polisi, Johan sengaja menitipkan Anrez pada Keira. Johan tidak ingin Anrez tahu bahwa Papanya adalah seorang yang jahat. Meskipun lambat laun, Anrez juga akan mengetahuinya. Keira justru sangat senang karena Marvel ada teman mainnya.


''Sayang,'' sapa Kevin yang baru saja tiba dari kantor karena ada dokumen yang tertinggal.


''Hei, Mas. Sudah pulang?''


''Sudah sayang,'' ucap Kevin seraya mengecup kening istrinya.


''Lho Anrez disini?'' Kevin terkejut dengan kedatangan Anrez.


''Iya juga ya. Lalu bagaimana dengan Johan? Karena aku melimpahkan semua masalah pada Krisna dan pengacara. Kamu tahu sayang, ada banyak hal yang harus aku urus selain masalah Johan.''


''Iya Mas, aku mengerti. Masalah itu tidak akan selesai kalau tidak ada komando dari kamu kan?Dan bersyukurnya pemilik ruko itu, membatalkan tuntutannya. Tapi Johan tetap harus pindah dan juga Johan diminta untuk membayar biaya sewa selama satu bulan.''


''Berat juga ya masalahnya. Apalagi dia seorang yang belum pernah berumah tangga bisa langsung mengemban tanggung jawab dengan memilih Tessa sebagai pendamping hidupnya. Di tambah ada Anrez pula.''


''Kamu bisa kan Mas bantu Johan. Dia ingin menjual semua perabotan yang ada di cafenya untuk membayar biaya sewa satu bulan.''


''Baiklah aku akan membelinya, sayang.''


''Terus di kantor ada lowongan tidak Mas?''


''Memang untuk siapa?'' tanya Kevin.


''Hehehe untuk Johan juga.''

__ADS_1


''Huft sepertinya istriku beberapa hari memikirkan pria lain terus. Sampai mengorbankan perasaan suaminya,'' sindir Kevin.


''Ya ampun Mas, kamu cemburu?''


''Iyalah aku cemburu. Kamu selalu memikirkan Johan.''


''Mas, namanya sahabat. Kalau dia sedih aku juga sedih.''


''Bercanda sayang,'' ucap Kevin seraya mencolek bibir istrinya yang sudah terlanjur cemberut.


''Memangnya Johan dulu ambil fakultas apa saat kuliah?'' tanya Kevin.


''Manajemen bisnis, Mas. Kasihan Mas, dia pasti terpuruk sekali. Aku tidak tega melihatnya. Wajahnya sayu dan tirus karena masalah ini. Rumah masih ngontrak juga, hartanya yang tersisa cuma mobil doang. Tolong ya Mas, bantu dia. Kasihan Anrez juga Mas, masa depannya masih panjang. Jangan sampai dia putus sekolah. Lihat saja Anrez juga ikutan kurus. Anak kecil itu perasaannya peka lho Mas, kalau orang tuanya sedang dalam kesulitan.''


Kevin menghela. Kevin sendiri juga merasa kasihan pada Johan. Di tambah melihat Anrez yang juga tampak kurus. ''Iya sayang, aku akan mencari posisi yang pas untuk Johan. Aku juga akan menawarkan bantuan kredit rumah untuknya dan aku akan memberinya diskon juga. Itukan yang ingin kamu katakan padaku?''


''Hehehe iya Mas. Kok kamu tahu?''


''Aku bisa membaca pikiranmu, sayang. Apalagi kamu tidak bisa kalau hanya diam melihat orang kesusahan apalagi itu sahabat kamu.''


''Disini yang paling aku pikirkan adalah masa depan Anrez, Mas.''


''Iya sayang aku mengerti. Aku mengerti semua yang kamu pikirkan dan aku tahu apa yang akan kamu minta dari aku.''


Keira lalu memeluk suaminya itu dengan erat. Lalu di ciuminya wajah Kevin sampai merata. ''Terima kasih ya, Mas. Kamu memang suami terbaik di dunia. Aku sangat dan semakin mencintai kamu.''


''Untung saja ya, suami mu ini kaya raya jadi bisa membantu temanmu.''


''Iya dong, masa suami kaya tidak di manfaatin, hehehe.''


''Dasar kamu! Ya sudah, kamu panggil Marvel untuk makan siang gih sama Anrez sekalian. Sudah waktunya makan siang juga.''


''Iya suamiku sayang.''


''Aku ganti baju dulu ya.'' Ucap Kevin seraya memberikan kecupan di bibir Keira sebelum berlalu menuju kamarnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2