
Saat jam makan siang tiba, Kevin bergegas untuk menjemput Keira dan kini ia sedang dalam perjalanan menjemput Keira. Keira sendiri sedang berjalan menuju gerbang depan untuk menunggu Kevin.
''Kei!" panggilan Leon menghentikan langkah Keira.
''Ada apa Leon?''
''Aku ingin mengajakmu makan siang sekarang, apa kamu ada waktu?''
''Maaf ya Le, setelah ini Mas Kevin menjemputku. Setelah itu kita menjemput Marvel dan makan siang bersama. Maaf ya.''
''Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku lupa kalau kamu sudah memiliki seorang suami. Kei, apa kamu sudah terlibat perasaan dengan Tuan Kevin?'' tanya Leon penasaran.
''Aku tidak tahu, Leon. Yang jelas saat ini aku hanya berusaha menjadi ibu yang baik untuk Marvel. Dan sebenarnya aku dan Mas Kevin sudah membat......,'' belum selesai Keira berbicara suara klakson mobil sudah memekik di telinga. Kevin kesal karena melihat Keira bersama Leon.
''Eh itu Mas Kevin datang. Aku pergi dulu ya Le, sekali lagi terima kasih untuk hadiahnya.'' Kata Keira sambil menepuk bahu Leon. Keira pun berlalu dan segera masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak bicara Kevin melanjutkan perjalanannya. Leon menatap nanar Keira yang sudah perlahan hilang dari pandangannya.
Selama di dalam mobil, Keira hanya diam dan memainkan miniatur itu di tangannya.
''Apa itu?'' tanya Kevin.
''Ini miniatur scooby dari Leon.'' Jawab Keira.
''Dari Leon? Kenapa kamu menerimanya?''
''Namanya di kasih, masa iya aku tolak apalagi ini kan animasi favoritku.''
''Cihh, kembalikan saja padanya! Aku akan membelikan mu. Seharusnya kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang saja. Aku bisa membelikan yang banyak untukmu. Kenapa harus menerima pemberian dari pria lain? Ingat ya kita sudah tidak ada kontrak, jadi kamu sah menjadi istriku dan milikku.''
''Memang harus seperti itu? Meskipun tanpa cinta?''
''Apa kamu yakin kalau kamu tidak mencintaiku?'' tanya Kevin.
''Cinta? Mmmm sepertinya belum. Dan hanya ada rasa sedikit suka saja,'' jawab Keira apa adanya.
''Apa? Sedikit suka? Lalu kenapa kamu membalas ciumanku? Atau kamu selalu begitu dengan setiap pria?''
PLAK! Keira menampar lengan berotot itu dengan keras.
''Auw, sakit Kei!" rintih Kevin.
''Makanya jangan sembarangan bicara. Masa iya aku mau di cium sembarangan. Sudah tahu jawabannya, kenapa masih juga bertanya.''
Mendengar ucapan Keira, lagi-lagi Kevin meghentikan mendadak mobilnya.
__ADS_1
''Ih Mas, kenapa sih? Kok berhenti mendadak. Bikin kaget saja,'' kesal Keira.
''Apa itu artinya kamu mencintaiku?'' tanya Kevin seraya mencengkeram kedua lengan Keira penuh harap.
''Mas, sakit," rintih Keira. Kevin lalu melonggarkan cengkeramannya karena ia terlalu bersemangat untuk mendengar jawabannya.
''Jawab Kei!" paksa Kevin.
''Mmmmmmm.... Apa ya? Masih segini sih,'' jawab Keira sambil menunjukkan tanda seujung kuku.
''Apa? Hanya seujung kuku? Tega sekali kamu, Kei.'' Kata Kevin memelas.
''Ya memang itu adanya. Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, Mas. Kalau aku seperti itu, mungkin banyak sekali klien ku yang aku kencani sendiri. Kamu juga tahu hampir semua klien ku adalah pria tampan.'' Kata Keira dengan penuh percaya diri.
Kevin mendengus kesal. ''Baiklah, aku akan membuatmu mencintaiku bukan hanya seujung kuku tapi aku akan membuatmu untuk mencintaiku sedalam samudra yang tak berujung.'' Kata Kevin.
''Lakukan saja, Mas. Semangat!" kata Keira dengan senyum lebarnya sambil menepuk lengan Kevin. Sementara Kevin menatap heran tingkah wanita yang ada di sampingnya.
''Kalau begitu, berikan aku bukti kalau ada cinta seujung kuku di hatimu.''
''Bukti? Bukti apa, Mas?''
Kevin kemudian menyodorkan wajahnya pada Keira lalu jari telunjuknya mengetuk bibirnya, meminta Keira untuk mengecup bibirnya.
''Aku mau sekarang!" paksa Kevin.
''Ck, tidak mau! Kenapa malah seperti anak kecil sih?'' protes Keira. Kevin yang kesal, lalu meraih tengkuk Keira melahap bibir Keira. Keira tersentak, sampai membuatnya menjatuhkan miniatur dari Leon. Kevin terus mencium bibir Keira dengan kecupan yang sangat lembut, sampai Kevin berhasil membuat Keira membuka bibirnya. Kevin lalu mengangkat tubuh Keira ke atas pangkuannya tanpa melepaskan pagutan bibir itu. Keira mulai menikmati ciuman itu sampai membuatnya mengalungkan tangannya pada leher Kevin. Keduanya saling memejamkan mata, nafas Kevin pun terdengar memburu. Suara kecepan bibir keduanya memecah keheningan di dalam mobil. Keira benar-benar di buat mabuk kepayang oleh Kevin, sampai ia tidak menyadari, kalau ia duduk di pangkuan Kevin. Tubuhnya terasa panas dan debaran jantungnya seolah tak terkendali.
Keira merasakan sesuatu mengeras di bawah sana. Sesuatu yang sedang ia duduki. Keira kemudian membuka matanya dan mendorong pelan tubuh Kevin. Kevin pun membuka matanya. Keira baru tersadar kalau sejak tadi ia menikmati ciuman itu. Mendadak ia menjadi salah tingkah. Kevin kemudian tersenyum sambil mengusap lembut bibir Keira.
''Sepertinya bibir ini semakin lincah saja.'' Ucap Kevin. Keira hanya terdiam sambil menatap suaminya.
''Mas, apa ini yang aku duduki? Kenapa ada yang mengeras?'' tanyanya dengan tatapan polos.
''Hhh, dia sudah lama tertidur di dalam sangkarnya, Kei. Dan hanya kamu yang bisa membuatnya bangun.'' Jawab Kevin dengan senyum manisnya itu.
''Maksudnya?'' tanya Keira tergagap.
''Apa kamu siap kalau kita melakukan lebih dari ini? Membuatkan adik untuk Marvel?'' Mendengar ucapan Kevin, pipi Keira memerah. Ia lalu buru-buru turun dari pangkuan Kevin dan kembali ke tempat duduknya.
''Mas, kita sudah lama berhenti. Kasihan Marvel sudah lama menunggu.'' Kata Keira.
''Oke, baiklah.'' Kata Kevin. Kevin mengerti kalau Keira belum bisa menjawab pertanyaannya. Tapi ciuman tadi, sudah cukup meyakinkan Kevin kalau Keira mempunyai perasaan kepadanya.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, terlihat Marvel sudah menunggu dengan wajah kusutnya. Keira dan Kevin bergegas turun daru mobil.
''Papa dan Mama kenapa lama sekali? Disini sudah sepi,'' protes Marvel dengan kesal. Kevin dan Keira saling memandang.
''Mmmm maaf ya. Papa nih yang telat jemputnya.'' Kata Keira yang berusaha memberi alasan pada Marvel.
''Maaf ya Marvel, semua ini papa yang salah. Ada pekerjaan tambahan yang membuat Papa tidak bisa berhenti meninggalkannya. Karena itu menjadi satu pekerjaan yang menjadi favorit Papa,'' ucap Kevin sambil melihat kearah Keira. Keira yang kesal lalu mencubit perut Kevin.
''Sakit Kei,'' rintihnya.
''Itu hukuman untuk Papa karena membuat Marvel menunggu. Mmmm sebagai gantinya, kita makan siang di luar dan makan ice cream. Kamu setuju kan Marvel?''
''Setuju!" Jawab Marvel dengan semangat.
''Oke, Papa juga setuju!"
Kini mereka bertiga sudah berada di sebuah restoran. Keira dan Marvel kompak memesan ice cream dengan porsi besar.
''Wah, ice creamnya banyak sekali Mah.''
''Iya dong. Mama juga sedang ingin makan ice cream.''
''Papa tidak mau pesan?'' tanya Marvel.
''Tidak! Kalian berdua saja. Itu membuat gendut dan bisa membuat otot Papa menjadi kendor.''
''Hhh mana ada makan ice cream membuat otot kendor. Yang ada makan ice creak itu membuat kita happy. Iya nggak?'' kata Keira sambil menatap ice cream.
''Iya dong, Mah. Dan karena ada Mama, aku setelah sekian lama di ijinkan Papa makan ice cream.''
''Oke baiklah. Sekarang kita nikmati saja. Biarkan Papa minum teh saja.''
Keira dan Marvel lalu saling suap saat memakan ice cream. Kevin merasa bahagia melihat kekompakan antara Ibu sambung dan anak sambung di hadapannya. Tiba-tiba Keira menyodorkan tangannya pada Kevin.
''Aaaa buka mulutmu, Mas?'' kata Keira. Kevin hanya menggeleng. Keira lalu mendekat dan berbisik pada Kevin.
''Berciuman setelah makan ice cream itu sangat bagus loh Mas, bisa meningkatkan gairah. Makanya aku pesan banyak.''
''Hhh mana ada rumus seperti itu?''
Keira yang kesal lalu menyantap ice cream itu dengan bibir belepotan. Setelah itu ia mengecup bibir Kevin. Kevin terbelalak kaget saat Keira tiba-tiba mengecupnya dengan tiba-tiba secara sadar. Bahkan bibirnya kini pun belepotan karena ulah Keira. Keira tersenyum lalu mengerlingkan matanya, membuat Kevin terpaksa menggunakan lidahnya untuk membersihkan sisa ice cream yang menempel di bibirnya. Keira lalu menyuapi Kevin ice cream dan kali ini Kevin menerima suapan dari Keira. Keduanya saling pandang sambil terus saling menyuapi. Sementara Marvel merasa terabaikan oleh keduanya, ia merasa seperti obat nyamuk di antara Papa dan Mamanya. Namun ia bahagia karena Papa dan Mamanya mulai saling jatuh cinta.
Bersambung.... Maafkan author yang baru kembali ya 🙏😘
__ADS_1