
''Ras, thanks banget ya soalnya mobil gue masih laku lumayan.'' Ucap Johan sambil menyantap makanannya. Setelah menjual mobilnya, Johan mengajak Laras untuk makan siang sekalian.
''Ya soalnya kan elo tangan kedua, Jo. Jadi masih dapat harga mahal.''
''Iya dari 400 masih dapat 300an. Sebenarnya gue sayang banget, Ras. Soalnya itu mobil impian gue dulu. Rezeki banget dulu gue dapat model terbaru, baru di pakai setahun sama orangnya. Kebetulan orangnya dulu juga butuh uang.''
''Iya Jo, Om gue baik banget tahu. Apalagi mobil elo masih mulus banget.''
''Iyalah, gue rawat siang dan malam, Ras. Thanks juga udah bantuin gue dapat mobil lagi tadinya gue mau naik motor aja.''
''Bekas dan kecil nggak apa-apa lah Jo, yang penting elo nggak kehujanan. Disini yang gue pikirin Anrez, Jo. Kasihan dia kalau misal ke sekolah pas hujan, masa iya mau hujan-hujanan naik motor. Memang sih itu Agya keluaran 2018 tapi masih worth it kok untuk keluarga kecil elo. Nanti kalau uang udah kekumpul, elo bisa tukar tambah lagi. Om gue itu jujur Jo kerjanya jadi gue jamin mobil elo itu bakal awet. Om gue juga belinya dari tangan pertama kok. Jadi sisa uang penjualan mobil masih bisa buat DP rumah.''
''Iya Ras. Uang yang kemarin dari elo sama Keira juga masih setengahnya karena gue tambahin buat bayar ganti sewa ruko. Terus hasil jual barang cafe masih sisa dan semalam Tessa juga ngasih gue uang. Dia jual cincin nikah dan kalungnya. Gue sebenernya nggak mau nerima karena gue cowok, masa iya minta-minta sama cewek. Apalagi Tessa ngancam bakal tinggalin gue kalau gue nggak mau nerima uang itu.''
''Mbak Tessa pasti ngrasa bersalah banget sama elo, Jo. Tentu saja karena mantan suaminya yang udah nipu elo. Emangnya elo beli rumah yang kayak gimana sih?''
''Tuan Kevin ngasih brosur ini ke gue. Tessa sih mintanya yang biasa aja tapi mengingat gue dan Tessa bakal nikah dan punya anak jadi gue milih yang ini type 60 dua lantai dan ada empat kamar. Terus yang halaman belakang ini, mau gue buat kolam renang, Ras. Terus kolam renangnya gue kasih kayak pintu geser gitu diatasnya. Jadi pas nggak lagi di pakai, tetap bisa di pakai buat jemuran. Ya untuk hemat tempat, Ras. Apalagi Anrez juga pingin punya kolam renang. Apapun akan gue lakuin buat bahagiain mereka. Kalaupun kredir rumah kan nggak ada ruginya, Ras. Soalnya harganya tiap tahun juga naik.''
''Bagus juga ide elo, Jo. Elo makin kesini makin dewasa aja elo, Jo. Sumpah gue salut banget sama elo. Pokoknya semangat ya, Jo.''
''Thanks ya, Ras. Elo sama Keira emang sahabat terbaik gue. Rencananya setelah pindah rumah, gue langsung mau nikahin Tessa. Nggak perlu mewah yang penting sah.''
__ADS_1
''Sip, gue dukung elo. Gue doain semoga elo semakin sukses ya, Jo.'' Kata Laras sambil menepuk lengan Johan.
Setelah jam makan siang selesai, Johan pun segera kembali ke kantor dengan membawa uang hasil penjualan mobil dan juga yang lain. Sesampainya di kantor, Johan segera menuju ruangan Kevin.
''Tok tok tok tok!" Johan mengetuk pintu ruangan Kevin.
''Masuk!" sahut Kevin.
''Selamat siang Tuan.'' Sapa Johan dengan sopan.
''Eh kamu, Jo. Selamat siang. Silahkan duduk. Ada perlu apa?''
''Masalah rumah Tuan.''
''Saya pilih yang ini, Tuan. Type 60 dua lantai.''
''Kamu serius?'' Kevin menatap Johan berusaha meyakinkan.
''Iya Tuan. Sebenarnya dari Tessa memilih yang kecil ini saja. Tapi mengingat kami nanti akan menikah dan mempunyai anak, sudah pasti rumah yang itu terlalu kecil. Saya sebagai seorang laki-laki ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil saya. Saya tahu rumah ini tidak murah tapi saya akan bekerja siang dan malam untuk membahagiakan mereka. Dan ini saya membawa uang untuk deposit rumah ini. Di amplop itu ada uang 300 juta, Tuan. Maaf karena saat ini hanya itu yang saya punya.'' Jelas Johan sambil menyodorkan amplop berwarna coklat itu. Kevin lalu membuka isi amplop itu.
''Kamu dapat uang ini darimana? Kamu tidak menipu kan? Bukan maksud apa-apa, mengingat kondisi kamu saat ini, Jo.''
__ADS_1
Johan tersenyum tanpa rasa tersinggung. ''Saya jual mobil saya, Tuan. Lau saya gabungkan dengan uang sisa jual barang-barang cafe, uang dari penjualan perhiasan milik Tessa dan uang yang di pinjamkan Laras dan Keira beberapa waktu lalu. Saya tahu Tuan memberi keringanan tanpa memberikan DP tapi untuk pilihan rumah yang ini, tentu saja saya sangat sadar diri, Tuan. Apalagi sebagai karyawan baru, Tuan sudah memudahkan saya untuk memiliki rumah. Itu adalah hal yang sangat jarang terjadi bahkan sangat jarang di lakukan oleh seorang bos besar seperti anda. Kalaupun untuk type 60 ini tidak ada potongan hargapun, saya tidak masalah Tuan.'' Ucap Johan panjang lebar.
Kevin tersenyum dan salut dengan pemikiran Johan. ''Johan, kamu memang seorang laki-laki yang hebat. Kamu sangat bertanggung jawab dengan calon keluarga kecilmu. Penawaran rumah ini biasanya aku berikan untuk seluruh karyawanku yang memang belum memiliki rumah. Dengan cara aku memotong setengah dari gaji mereka dan itupun sesuai kesepakatan bersama. Melihat perjuanganmu sebagai seorang pria hebat, selama satu tahun aku bebaskan kamu dari angsuran ini. Karena aku tahu kamu akan memulai hidupmu kembali dari nol. Dan aku tentu saja menerima DP darimu, aku berbisnis tapi aku juga membantumu sebagai sahabat istriku, sekaligus sebagai sesama manusia. Karena berada di posisimu saat ini tidak mudah. Apalagi kamu seorang pemuda yang berani mengemban tanggung jawab dengan menikahi single mother. Aku tetap memberimu potongan angsuran 10% Jo. Kamu tentu sudah tahu kalau harga rumah itu bernilai M jadi kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan Jo?''
''Tentu saja saya tahu, Tuan. Saya akan semangat bekerja dan memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan.''
''Aku memberimu chalenge, kalau dalam satu bulan kamu bisa menjual masing-masing 50 pcs smart bag dan smart watch, aku akan memberimu reward. Karena aku dengar dari Keira, kamu pintar marketing. Tentu saja bukanlah hal yang sulit untuk seorang Johan.''
''Siap Tuan! Saya akan menjual dan kalau bisa melebihi ekspetasi anda.''
''Oke Jo, buktikan ucapanmu. Lusa Krisna akan mengajakmu menemui notaris dan melihat rumah itu.''
''Baik Tuan, sekali lagi terima kasih. Saya hanya bisa membalas kebaikan anda dengan bekerja keras serta memberikan kontribusi untuk perusahaan anda.''
Kevin tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Johan. Johan dengan senang hati menerima uluran tangan dari Kevin.
''Selamat berjuang Johan! Hidup ini keras.''
''Siap Tuan! Saya pasti akan bekerja keras dan memberikan yang terbaik.''
''Baiklah kamu silahkan kembali dan lanjutkan pekerjaanmu.''
__ADS_1
''Baik Tuan. Saya permisi.''
Bersambung...