
Setelah makan siang bersama di rumah, Kevin memutuskan untuk kembali ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
''Wuidih, rajin amat bos!" seru Miko saat masuk ke ruangan Kevin.
''Elo, ada apa Mik?'' sahut Kevin dengan senyumnya.
''Tumben, elo senyum? Ceria banget tuh wajah,'' kata Miko seraya duduk di hadapan Kevin.
''Biasanya elo jutek,'' imbuh Miko dengan tatapan penuh selidik.
''Masa sih? Emang gue gitu ya?'' kata Kevin.
''Yaelah, emang selama ini elo nggak ngerasa kalau wajah elo itu kayak uang lecek, kusut. Oh gue tahu, pasti udah jebol gawang ya?''
''Jebol gawang? Maksudnya?'' tanya Kevin tak mengerti.
''Halah, sok polos. Jebol gawangnya Keira.''
''Oh itu, belum sih!" singkatnya dengan suara memelan.
''Belum? Sampai detik ini belum juga?''
''Belum Mik. Memangnya kenapa? Ya wajarlah kita nikahnya kontrak.''
''Tapi kan kontraknya udah gue bakar. Masa nggak ada kemajuan sih? Ah, kurang gercep lo. Nanti Keira di ambil Leon, baru tahu rasa!"
''Leon? Apa hubungannya dengan Leon?''
''Leon kan suka sama Keira. Apalagi Leon tadi nembak Keira.''
''Nembak? Maksudnya mengatakan cinta?''
''Iyalah. Gue tadi mampir ke panti alias rumah lama elo, gue nitip makanan. Keira aja nggak tahu gue disana. Eh pas gue mau balik, gue lihat mereka ngobrol dan gue kuping deh obrolan Keira. Nah disitu Leon nyatain perasaannya sama Keira. Di tambah tadi kayaknya Leon ngasih sesuatu sama Keira deh.''
''Elo serius? Nggak salah denger?'' kata Kevin yang mendadak merasa gelisah.
''Iyalah. Elo lihat muka gue, ada tampang kebohongan nggak?''
''Terus Keira jawab apa?''
''Nggak tahu. Sebelum Keira jawab, gue dapat telepon penting, terus gue pergi. Emangnya sikap Keira gimana sama elo? Apa ada yang berubah? Atau mungkin dia cerita sama elo?''
__ADS_1
''Nggak sih! Dia cuma cerita kalau di kasih miniatur scooby sama Leon.''
''Terus ada yang aneh nggak sama gelagatnya?''
''Nggak juga. Bahkan dia udah mau balas ciuman gue,'' ceplos Kevin.
''Apa? Ciuman? Wah, kemajuan nih!" seloroh Miko sambil bertepuk tangan dan tertawa.
''Perkembangan yang luar biasa sekali, Kevin. Gue yakin Keira juga pasti punya rasa yang sama ke elo.''
''Dia bilang punya sedikit, seujung kuku.'' Jawabnya polos.
''Nah, elo harus bikin Keira cinta mati sama elo. Jangan sampai Leon bisa menggeser posisi elo. Apalagi perasaan Keira masih sedikit sama elo, bisa jadi itu akan tumbuh berkembang atau mungkin mati.''
''Terus gue harus gimana?''
''Ya elo perjuangin Keira lah. Apalagi kalau elo bisa bikin Keira hamil, nah itu baru namanya cinta kalian bersatu.''
''Hamil? Tapi Keira belum siap.''
''Ya, elo usaha lebih keras, Kevin! Ya sering-sering aja cium dia. Nanti dia lama-lama juga mau. Kalau dia udah berani balas ciuman elo, itu artinya dia mau yang lebih. Masa elo nggak paham sih? Elo kan udah pernah nikah dan punya anak, masa seperti itu harus gue ajarin.''
''Elo kan tahu selama Kania pergi, nggak ada satupun wanita di hati gue.''
''Ya terus gue mesti gimana Mik? Elo tahu sendiri kan, kalau gue Kania adalah segalanya buat gue.''
''Tapi kan sekarang elo udah nikah. Kalau elo udah niat membuka lembaran baru sama Keira, ya elo tutup lembaran lama. Elo bisa simpan semua kenangan elo sama Kania. Itu lebih menghargai Keira dan bisa jadi bikin Keira lebih nyaman. Itu kalau elo udah siap lembaran baru sama Keira tapi kalau elo belum siap, ya nggak masalah.''
Untuk beberapa saat Kevin terdiam, mencoba untuk memahami apa yang di ucapkan oleh sepupunya itu.
''Ya udah, elo ganti interior kamar gue. Sehari bisa nggak?''
''Bisalah, Miko gitu! Tapi elo mau desain seperti apa?''
''Terserah elo aja deh, Mik.''
''Warna kesukaan Keira apa?''
''Mana gue tahu. Dekat juga baru sebulan.''
''Baru sebulan udah berani ngajakin nikah dan nyosor aja ya?'' ledek Miko.
__ADS_1
''Gue masih mending, lha elo? Berapa ratus cewek yang udah elo sosor?'' ketus Kevin sambil melempar bolpoin ke arah Miko.
''Ya, you know what lah! Miko the king of playboy yang udah insyaf,'' seloroh Miko seraya tertawa.
''Hampir semua rumah elo kan gold, gimana kalau kamarnya gue ganti ke warna yang lebih soft. Kalau lihat karakter Keira, dia lebih suka sesuatu yang natural dan apa adanya. Jadi kesan sederhana tapi terlihat elegan itu adalah dia. Mungkin kalau gue single, gue bisa embat Keira juga.''
''Elo jangan macam-macam ya, Mik! Awas aja kalau sampai penyakit playboy elo kumat! Elo bisa berhadapan sama gue.''
''Hahaha tenang aja lah. Itu kalau gue single, takut amat!"
-
Setelah mendapat saran dari Miko, Kevin memutuskan untuk pulang lebih cepat. Keira yang baru saja keluar dari kamar mandi, sangat terkejut melihat Kevin yang sudah berada di kamar. Kevin tampak berdiri membelakanginya sambil menatap foto pernikahannya dengan Kania.
''Mas, kok sudah pulang? Tumben!" ucapnya tergagap.
''Iya, Kei. Aku mau memindahkan foto ini.'' Ucapnya lalu menoleh kearah Keira. Kevin sangat terkejut saat melihat Keira yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang ia lilit seperti kemben. Apalagi rambut Keira yang basah setelah keramas. Biasanya Keira memakai handuk kimono, disaat Kevin masih belum ke kantor. Dan ia akan memakai handuk seperti itu setelah mandi, saat Kevin sudah tidak ada di kamar alias berangkat ke kantor. Naluri Kevin bangkit saat melihat Keira yang tampak segar dan menggoda. Melihat sorot mata Kevin, Keira buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
''Mmmm kenapa mau di pindah? Dan mau di pindah kemana Mas? Maaf ya Mas, hehehe.'' Kata Keira yang merasa tidak enak.
''Aku mau pindah foto ini di satu ruangan kosong. Semua kenangan tentang Kania akan aku simpan disana. Lagipula kenapa harus di tutupi? Kita kan suami istri.'' Kata Kevin sambil berjalan mendekat kearah Keira. Melihat Kevin yang melangkah maju, Keira pun melangkah mundur.
''Ya tidak apa-apa, Mas. Aku merasa tidak enak saja dengan Nyonya Kania. Mmmm sebaiknya aku ganti baju dulu,'' ucap Keira seraya berlari untuk menghindari Kevin. Namun justru Keira terjatuh karena kakinya terbelit oleh selimut yang ia kenakan untuk menutupi tubuhnya. Ia pun tersungkur di lantai.
''Aduh, pakai acara jatuh lagi,'' gumamnya pelan.
''Kei, kamu tidak apa-apa?'' kata Kevin yang ingin berusaha menolong Keira.
''Jangan mendekat, Mas! Mas disitu saja!" kata Keira dengan tegas. Keira lalu memulih untuk berdiri sendiri tanpa meminta bantuan Kevin. Namun Kevin justru merasa gemas dengan tingkah Keira. Tanpa pikir panjang, Kevin lalu membantu Keira bangun dan memindahkannya di atas tempat tidur. Keira tidak bisa memberontak karena handuknya hampir melorot, ia hanya bisa menahan selimut untuk menutupi tubuhnya.
''Aku akan mengambilkan pakaianmu dan aku akan menunggu di luar. Jadi jangan menganggap aku mesum atau kamu ya yang ingin berbuat mesum denganku?'' goda Kevin.
''Ish, siapa juga?''
''Atau mau aku cium lagi? Sepertinya kamu menyukainya.'' Goda Kevin yang kemudian memberikan kecupan kilat di bibir Keira. Keira terkejut namun kali ini dia tidak mau membalasnya.
''Mas, cepat ambilkan pakaianku!" pinta Keira.
''Tapi cium aku dulu, baru aku akan ambilkan.'' Kata Kevin sambil menunjuk ke arah bibirnya.
''Mas, ayolah! Aku kan kedinginan.''
__ADS_1
''Kamu kan pakai selimut. Cium atau aku buka paksa selimut kamu?'' ancam Kevin. Tanpa banyak bicara Keira mengecup sekilas bibir Kevin. Kevin pun tersenyum puas karena berhasil membujuk Keira untuk menciumnya. Ia kemudian berlalu untuk mengambilkan pakaian Keira, setelah itu ia kemudian keluar dan membiarkan Keira untuk berganti pakaian.
Bersambung.....