Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 177 Wawancara


__ADS_3

Hari ini Gina menyiapkan penampilan spesialnya untuk wawancara eksklusif dengan majalah fashion ternama. Gina merasa sangat gugup sekali. Miko yang juga sedang bersiap, melihat istrinya termenung di depan meja riasnya. Miko kemudian mendekatinya. "Sayang, aku sengaja cuti hari ini untuk menemani kamu lho. Jadi, apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku gugup, Mas. Huft, lebih gugup daripada pagelaran fashion." Ucapnya sambil *******-***** tangannya.


"Kenapa harus gugup? lagi pula acara di butik kamu juga kan? karir kamu sudah berada di titik ini, itu sangat luar biasa sekali. Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita berangkat. Lagi pula kamu hari ini cantik sekali."


"Iya Mas. Oh ya Mama bagaimana?"


"Mama masih di kamar. Katanya dia tidak mau ikut. Maafkan Mama ya."


"Tidak apa-apa, Mas. Ya sudah kita berangkat sekarang ya."


Persiapan wawancara eksklusif pun sudah siap 100%. Sesampainya disana, Gina sangat senang melihat ke dua orang tuanya.


"Ayah, Ibu!" seru Gina seraya memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


"Gina, Ayah dan Ibu kangen sekali, nak." Kata Nyonya Mira.


"Ayah lebih kangen lagi karena sekarang anak Ayah sudah tidak main bola apalagi kelereng," sahur Tuan Surya, Ayah Gina sambil tersenyum. Miko kemudian mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.


"Ayah dan Ibu sehat kan?"


"Alhamdulillah kami sehat-sehat saja, Nak."


"Terima kasih ya, Ayah dan Ibu sudah mau datang."


"Sama-sama, Nak. Ibu dan Ayah ingin melihat kamu di wawancara. Kami bangga sekali, Nak."


"Semua ini berkat doa Ayah dan Ibu juga. Ya sudah Ayah dan Ibu tunggu sini ya, biar di temani Mas Miko. Gina ke sana dulu karena sebentar lagi acaranya di mulai."


"Iya, Nak. Semangat ya!" kata Tuan Surya.

__ADS_1


"Iya Ayah."


"Semangat ya sayang." Sahut Miko sambil memberi kecupan di kening Gina.


"Terima kasih ya, Mas."


*Sesi Wawancara (langsung poin pertanyaan saja ya, hehehe)


"Apa yang menginspirasi anda sampai bisa berada di posisi ini Nona?"


"Jujur saja, saya tidak menyangka ada di posisi ini. Saya dulu bahkan seorang gadis yang sangat tomboy dan tidak mengerti fashion. Tapi anehnya saya sangat suka menggambar desain pakaian. Apalagi jika mengingat perjalanan kebelakang kalau dulu saya hanya seorang anak petani dari sebuah kampung kecil. Saya bisa kuliah karena beasiswa. Saya sebenarnya dulu mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negeri tapi saya tidak mengambil itu."


"Memangnya kenapa Nona? sayang sekali kalau harus di lewatkan."


"Itu karena orang tua, saya. Saya tidak mau membebani mereka. Mungkin saya bisa sekolah gratis tapi kehidupan disana tidaklah murah. Jadi seiring bertambahnya usia dan pola pikir saya, saya akhirnya dengan semangat mencoba menjahit baju sendiri. Dan saya jual ke teman-teman di kampus juga teman kerja yang lainnya. Dari sanalah awal mula, pintu dunia fashion berubah. Saya memiliki tekat yang kuat ingin mengubah nasib dan menjunjung derajat orang tua saya. Hingga akhirnya saya bertemu dengan suami saya yang mana dia dulu adalah sahabat saya dari SMP. Dia kembali setelah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri dan dari sana kami di pertemukan kembali. Dia begitu mensuport saya, bahkan dia tidak berhenti memberi saya semangat. Dia bukan hanya suami tapi partner hidup yang sangat hebat. I love you suamiku, Miko Angelo."


"Oh sungguh cerita yang mengagumkan sekali ya. Bukan hanya karir yang sukses tapi juga kehidupan rumah tangga yang sukses pula. Lalu apa langkah anda selanjutnya Nona?"


"Yang jelas kedepannya saya ingin membuka sekolah fashion. Bukan hanya mendesain baju atau gaun tapi juga make up serta kelas model. Selain membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas, saya juga ingin menggali potensi para generasi muda yang akan datang. Yang lebih utama lagi, saya ingin membawa nama negara kita ke kancah Intenational. Saya juga sedang merancang desain pakaian dengan mengkombinasikan pakaian tradisional seperti songket, tenun, batik dan mengambil tema pakaian-pakaian adat dari seluruh penjuru negeri untuk saya bawa ke pagelaran busana di New York bulan depan. Tentu saja saya berharap brand saya bisa go international juga." Jelas Gina dengan senyum ramahnya.


Miko dari kejauhan, menatap bangga Gina yang duduk disana. Rasa cintanya pada Gina semakin bertambah, bahkan ia semakin takut kehilangan Gina. Orang tua Gina pun menangis haru melihat putri kecilnya, seorang gadis kampung anak petani bisa sesukses itu bahkan bisa mengangkat derajat orang tuanya. Di rumah, Nyonya Rosa nyatanya melihat siaran eksklusif Gina dari layar televisi. Ada rasa penasaran namun cacian dan makiannya tidak ketinggalan.


"Halah pasti juga putraku yang memberimu modal. Kamu kan orang miskin, mana bisa punya modal sebanyak itu."


Setelah sesi wawancara selesai, Gina dan Miko mengajak Tuan Surya dan Nyonya Mira menuju rumah Miko. Miko meminta kedua orang tua Gina untuk menginap disana selama beberapa hari.


''Sayang, aku bangga melihatmu hari ini. Apalagi melihat Ayah dan Ibu yang sekarang bisa punya mobil dan sekarang ada supir, aku ikut bahagia."


''Semua ini berkat kamu juga, Mas.''


''Tapi aku khawatir dengan Mama. Aku khawatir kalau Mama membuat masakah dengan Ayah dan Ibu.''

__ADS_1


''Ayah dan Ibu sudah paham bagaimana watak Mama. Paling mereka hanya diam saja.''


''Tapi aku tidak enak. Padahal maksud aku baik, ingin Ayah dan Ibu sesekali menginap di rumah bersama kita. Aku khawatir kalau sikap Mama membuat mereka sakit hati.''


''Sudahlah Mas, tidak apa. Mereka sudah paham betul bagaimana sikap Mama.'' Ucap Gina berusaha menenangkan Miko.


Sesampainya di rumah, dugaan Miko benar kalau Mamanya masih bersikap judes kepada orang tua Gina.


''Nyonya Rosa, senang sekali bisa berjumpa besan disini.'' Kata Nyonya Mira sambil mengulurkan tangannya namun Nyonya Rosa hanya menyentuh ujung jemari Nyonya Mira dan Tuan Surya.


''Hmmm untuk apa sih mereka disini. Menyebalkan sekali,'' gerutu Nyonya Rosa dalam hati.


''Oh ya nak Miko, dimana Tuan Wildan?'' tanya Tuan Surya.


''Papa tidak ikut, Ayah. Papa sibuk dengan pekerjaannya.'' Jawab Miko.


''Oh ya bagaimana apa sudah ada tanda-tanda cucu untuk kami?'' seketika pertanyaan Nyonya Mira merubah ekspresi kesal Nyonya Rosa menjadi ekspresi sedih. Miko dan Gina pun saling pandang.


''Mmmm kami masih program, Bu. Doakan saja ya semoga secepatnya.''


''Kamu dan Nak Miko kalau bisa di kurangi kerjanya, biar lebih santai untuk program. Kalian juga jangan stres ataupun banyak pikiran. Tentan saja Ibu bawa ramuan tradisional dari kampung, nanti Ibu buatkan untuk kalian. Terus di mobil juga ada sayuran segar dari hasil kebun sendiri untuk penyubur kandungan.'' Kata Nyonya Mira dengan sikap ramah tamahnya.


''Dan satu lagi Nak, banyak berdoa ya. Sebenarnya Ayah dan Ibu terserah Tuhan baiknya bagaimana? lagipula kalian menikah juga baru mau empat tahun kan? pokoknya jangan di jadikan beban ya masalah ini, supaya kalian tidak stres karena takutnya hal itu akan mengganggu program kehamilan kalian,'' sambung Tuan Surya dengan bijaknya.


''Terima kasih ya Ayah untuk nasihatnya. Kalau begitu Miko antara Ayah dan Ibu istirahat di kamar tamu ya. Ayah dan Ibu pasti sangat lelah.''


Nyonya Rosa hanya bisa terdiam sambil menahan kesal mendengar jawaban besannya itu.


''Seandainya Mama bisa bersikap bijak seperti orang tua Gina, aku tidak menjadikan beban masalah ini. Tapi Mamaku sendiri dengan ucapannya begitu tega melukai perasaan anaknya sendiri,'' gumam Miko dalam hati.


**Bersambung.....

__ADS_1


Miko dan Gina ❤️**



__ADS_2