
“Marvel tunggu mama!” teriak Keira sekuat tenaga memanggil Marvel. Namun Marvel terus berlari menembus jalanan kota di tengah padatnya kendaraan dan orang berlalu lalang.
Marvel berlari sangat kencang. Ia sama sekali tidak peduli dengan panggilan Keira, ia benar-benar terluka dengan sikap papanya. Air mata kesedihan mengucur deras dari pelupuk matanya. Sampai akhirnya Marvel merasa energinya sudah habis dan kakinya sudah terasa lemas. Ia sudah berlari sangat jauh dari rumah Miko bahkan Keira hampir ingin menyerah untuk mengejar Marvel. Dan akhirnya Marvel benar-benar jatuh dan tersungkur di jalanan. Melihat Marvel terjatuh, Keira semakin menambah kecepatannya. Hells yang menyiksa kakinya itu, Keira lepas dan lempar begitu saja.
“Marvel, ayo berdiri!” ucap Keira seraya mebantu Marvel untuk kembali berdiri.
“Mama,” lirih Marvel sambil menatap Keira penuh dengan ketulusan. Hati Keira pun ikut terluka melihat air mata kesedihan di wajah Marvel. Keira pun lalu memeluk erat Marvel.
“Kamu ingat kan pesan mama? Biarkan papa sendiri dulu. Jangan paksa papa ya. Pasti ada alasan di balik semua sikap papa ini. Kalau papa sudah siap, dia pasti akan cerita sama kamu.” Usap Keira sembari mengusap lembut punggung Marvel. Sementara Marvel terus terisak dalam pelukan Keira. Dan tiba-tiba hujan pun turun dengan derasnya mengguyur tubuh keduanya. Keira lalu segera mengajak Marvel berteduh di emperan toko. Keira tampak bingung dengan pakaiannya yang basah. Dress putih itu tampak menerawang. Marvel memperhatikan kegelisahan Keira yang sibuk menutup tubuhnya dengan menyilangkan tangannya pada tubuhnya.
“Mah, maafkan aku ya. Aku menyusahkanmu dan sekarang hujan deras seperti ini.”
“Tidak apa-apa, Marvel,” jawab Keira sambil mengusap kepala Marvel. Marvel yang memakai setelan jas itu, melepas jasnya dan memakaikannya pada Keira.
“Pakai ini saja, Mah. Setidaknya bisa menutup bagian tubuh bawah mama.”
“Kamu gentleman sekali ya? Mama bangga sama kamu, terima kasih ya.”
“Sama-sama, Mah.”
Saat keduanya tengah berteuh dengan saling bergandengan tangan, sebuah mobil berhenti didepan Keira. Mobil itu tampak tidak asing bagi Keira.
“FERDI!” gumam Keira. Ferdi segera turun dari mobilnya dengan membawa payung.
“Kei, kamu ngapain disini? Hujan-hujanan lagi dan ini kan putra Tuan Kevin?”
“Bukan urusan kamu, Fer. Lebih baik kamu pergi dan tidak usah temui aku atau terlibat lagi dengan ku,” ketus Keira.
“Tapi setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang. Kasihan Marvel juga kan? Kamu tidak lihat kalau kakinya terluka? Bahkan Marvel tidak memakai sepatu dan kaki kamu juga,’’ kata Ferdi yang berusaha membujuk Keira. Keira pun merasa khawatir dan bersalah karena tidak memperhatikan Marvel.
“Marvel, maafkan mama ya karena tidak memperhatikanmu,’’ kata Keira.
“Tidak apa-apa Mah, hanya luka kecil saja,’’ kata Marvel. Ferdi yang melihat baju transparan Keira yang basah segera melepas jaketnya dan memakaikannya pada Keira.
__ADS_1
“Kalau kamu tidak mau aku antar, akau akan menelepon tuan Kevin saja.”
“Tidak usah, Om!” cegah Marvel.
“Mah, aku mau sama Om ini aja,” kata Marvel sambil berlalu masuk ke dalam mobil Ferdi.
“Marvel, kenapa malah menerima ajakan pria tak berprinsip ini sih?” gerutunya dalam hati.
“Ayo masuk, Kei! Kasihan Marvel,” bujuk Ferdi.
“Maafkan aku tante, aku terpaksa menerima ajakan pria yang sudah menyakiti tante. Aku melakukan ini hanya demi tante, supaya tante segera bisa berganti pakaian dan tidak kedinginan. Maafkan aku yang menyusahkanmu tante,” gumam Marvel dalam hati. Akhirnya Keira dengan terpaksa menyetujui dan menerima tumpangan dari Ferdi.
Selama di dalam mobil, mereka hanya terdiam. Keira sendiri duduk di bangku belakang bersama Marvel. Marvel pun sudah tertidur, ia menyelimuti tubuh Marvel dengan jaket yang di berikan oleh Ferdi. Marvel terlelap di pangkuan Keira. Sesekali Ferdi melihat Keira dari pantulan cermin sunvisor.
“Kei, sebenarnya kalian darimana dan mau kemana?” Tanya Ferdi kembali yang di penuhi rasa penasaran.
“Sebaiknya kamu jangan banyak tanya, Fer. Aku tidak ingin menjawabnya.”
“Oke, baiklah. Tapi sepertinya Marvel sangat dekat denganmu. Aku minta maaf ya Kei, atas semua prasangka burukku beberapa waktu lalu. Aku sangat menyesal dan aku sudah membaca semua email yang kamu kirimkan. Aku menyesal, Kei. Demi balas budi, aku menggadaikan perasaan kita dan juga mimpi-mimpi kita. Jujur saja aku sangat menyesal dan jika waktu bisa akuputar kembali, aku memilih untuk tidak mengambil beasiswa itu.”
Ferdi kemudian memilih membelokkan mobilnya menuju apartemen miliknya.
“Fer, untuk apa kita ke sini? Ini dimana? Ini bukan jalan ke rumah ku!"
“Kei, hujan sangat lebat dan rumah kamu masih jauh. Sebaiknya kamu dan Marvel bermalam di apartemen milikku. Kamu tenang saja Kei, aku tidak akan macam-macam. Kamu mengenalku dengan baik kan Kei? bahkan saat kita masih bersama, aku sama sekali belum mendapat ciuman pertama mu.”
“Tidak perlu kamu jelaskan sedetail itu. Sebaiknya kamu keluar dan ambilkan aku payung,’’ ketus Keira. Ferdi kemudian keluar dan membuka pintu belakang. Ia kemudian menggendong punggung Marvel.
“Sini biar aku yang memayungimu,” ketus Keira. Ferdi hanya bisa mengalah dan memberikan payung itu pada Keira. Entah kenapa Ferdi merasa bahagia, berjalan di bawah hujan bersama Keira apalagi ada Marvel yang sedang ia gendong. Ferdi merasa memiliki keluarga kecil bahkan apa yang terjadi sekarang adalah gambaran masa depannya bersama Keira. Meskipun Ferdi tahu kalau itu hanya khayalannya saja.
Akhirnya mereka sampai di apartemen Ferdi. Apartemen yang mewah dan luas tentunya. Ferdi pun segera merebahkan Marvel di atas tempat tidur.
“Biar aku yang melepas pakaian Marvel dan akan memasukkannya ke dalam mesin pengering. Biarkan dia tertidur dengan terbungkus selimut. Sebaiknya kamu juga segera ganti baju dan biarkan aku mengeringkan pakaianmu,” kata Ferdi sembari berjalan menuju almari. Keira tersenyum sinis saat melihat ada pakaian wanita di dalam sana bahkan bebrapa lingerie. Ferdi pun mendadak salah tingkah dan buru-buru menutup kembali almarinya setelah mengambil setelan piyama untuk Keira.
__ADS_1
“I-ini pakailah. Ini milik Lily. Nanti setelah pakainmu kering, kamu bisa menggantinya lagi,” kata Ferdi tergagap.
“Sepertinya kamu sudah tidak selugu dulu, Fer,’’ sindir Keira sembari beralu menuju kamar mandi. Rasanya hati Keira sangat sakit saat melihat ada pakaian wanita di almari Ferdi terlebih ada pakaian seksi. Bayangan Ferdi yang lugu, kalem dan hangat sepertinya sudah tidak ada di bayangan Keira. Hidup di luar negeri benar-benar merubah karakter Ferdi.
Selagi Keira berganti pakaian, Ferdi membuatkan minuman hangat untuk Keira. Ferdi juga mengambil P3K untuk mengobati kaki Marvel. Keira yang selesai berganti pakaian, melihat Ferdi yang telaten mengobati luka Marvel.
“Jangan luluh, Kei,’’ gumam Keira dalam hati.
“Bagaimana Marvel?”
‘’Sepertinya hanya luka tersandung biasa. Oh ya, aku sudah menyiapkan minuman hangat untukmu. Ada susu jahe diatas meja.”
“Kamu tidak usah sok baik, Fer.”
“Kamu tenang saja Kei, minuman yang aku buat itu aman. Tidak ada racun atau obat apapun,’’ jelas Ferdi yang seolah tahu apa yang sedang Keira pikirkan. Keira lalu mendekat dan duduk di sisi kanan bibir ranjang. Keira membelai kepala Marvel dengan lembut lalu mengecup keningnya.
“Selamat ulang tahun, Marvel. Panjang umur, sehat selalu, menjadi anak yang baik dan apa yang menjadi keinginanmu di kabulkan oleh Tuhan,” doa Keira pada Marvel.
“Rupanya dia sedang ulang tahun,’’ sahut Ferdi.
“Iya. Dia marah karena papanya tidak bisa hadir di hari ulang tahunnya karena sibuk bekerja.”
“Oh jadi tadi kamu mengejar Marvel untuk menenangkannya?”
“Iya, Fer. Dia hanya seorang anak kecil yang merindukan keutuhan kasih sayang orang tuanya,” cerita Keira dengan tenang saat menatap wajah Marvel.
“Memang dimana ibunya?”
“Sudah meninggal sejak dia berusia tiga tahun. Itulah cerita yang aku dengar.”
“Kasihan sekali dia. Apa kamu tahu Kei, apa yang terjadi dengan kita saat ini adalah gambaran kehidupan kita dimasa depan. Kita menikah dan kita memiliki seorang anak seperti ini. Menjadi keluarga yang bahagia.”
“Kubur dalam-dalam saja gambaran masa depan kita, Fer. Kamu yang menggambarnya dan kamu sendiri yang menghancurkannya. Lebih baik kamu melukis tentang gambaran masa depanmu bersma Nona Lily.” Tegas Keira. Keira kemudian beranjak dari bibir ranjang dan duduk di sofa. Ia menyesap secangkir susu jahe hangat yang telah dibuat oleh Ferdi, Keira pun merasa lebih hangat setelah meminumnya. Lagi-lagi Ferdi hanya bisa terdiam mendengar jawaban Keira.
__ADS_1
“Sebaiknya kamu istirahat, Kei. Besok pagi aku akan mengantar kalian pulang. Kamu tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Aku akan tidur di ruang tengah dan kamu bisa tidur di ranjang bersama Marvel.
Bersambung…. Yukkk tinggalkan jejak like, komen dan vote sebanyak-banyaknya yaaaa, terima kasih 🙏🙏❤️