
''Mana Kak list belanja dari Tuan Kevin?'' tanya Laras saat mereka sampai di supermarket.
''Ini Ras.'' Krisna memberikan ponselnya pada Laras. Mata Laras melotot melihat list belanja yang Kevin berikan pada Krisna.
''Kalau ini belanja bulanan lebih tepatnya, bukan hanya sekedar beli susu hamil. Ada sayuran, ikan, daging, minyak sayur, beras merah, aneka seafood, minyak telon, shampo, sabun mandi, sabun cuci, pengharum ruangan, pembersih lantai, wah ini banyak banget Kak.''
''Makanya itu, Ras. Aku sudah pasti pusing di suruh belanja seperti ini.''
''Bukannya di rumah ada pembantu ya kenapa kamu yang belanja ini semua?''
''Hmmmm entahlah. Sepertinya Tuan Kevin bucin akut sama Nyonya Keira.''
''Memangnya dulu saat istri pertamanya masih hidup, Tuan Kevin tidak seperti ini?''
''Tidak Ras. Ya mungkin Nyonya Keira lebih spesial. Kamu tahu sendiri kan ceritanya bagaimana, kalau Nyonya Keira adala seseorang yang di cari oleh Tuan selama ini. Awalnya Tuan mengira Nyonya Kania yang menyelamatkannya tapi ternyata bukan. Ini yang namanya takdir dan jodoh, akhirnya mereka di pertemukan kembali meskipun dengan keadaan yang berbeda.''
''Iya juga ya, mereka memang sweet meskipun cinta mereka berawal dari benci. Tapi ya udah lah Kak, kita bantu mereka belanja, sekalian kita belajar juga. Kebutuhan rumah tangga dan ibu hamil apa saja, apalagi sebentar lagi kita menikah. Seru ya kalau aku hamil.''
''Dasar kamu ini, Ras. Ya udah kita mulai dari mana nih?''
''Bahan mentah aja dulu ya. Sayur sama ikannya belakangan saja. Sepertinya kita butuh dua troli.''
''Oke baiklah, aku akan mengambilnya.'' Setelah mengambil troli keduanya segera mengambil barang yang di butuhkan oleh Kevin.
''Tuan Kevin memang ya, susu hamil saja belinya sampai di stok seperti ini.''
''Ya makanya aku bilang kalau Tuan Kevin bucin akut.'' Kata Krisna dengan senyum kecilnya.
''Aku juga mau dong di bucinin sama kamu. Aku juga mau di perlakukan seperti itu.''
''Bersyukur Laras kamu punya aku. Daripada mantan kamu yang suka nebeng doang. Romantis, mulut manis tapi bisanya nebeng,'' ledek Krisna.
''Ihh kakak nyebelin banget,'' marah Laras sambil memukul dada Krisna. Krisna hanya tertawa lalu ia merangkul Laras.
Dua jam sudah mereka menghabiskan waktu di supermarket. Bagasi mobil Krisna penuh bahkan bangku belakangnya juga ikut penuh.
''Ini bukan lagi belanja bulanan tapi mau buka toko,'' celetuk Krisna saat selesai memasukkan semua belanjaan ke dalam mobilnya. Ia dan Laras kemudian segera masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah Kevin.
''Oh ya, memangnya Kakak tidak pernah belanja bulanan seperti ini?'' tanya Laras.
''Tidak pernah Laras. Butuh shampo ya beli di warung dekat rumah.''
__ADS_1
''Hah? serius Kak?'' Laras seolah tidak percaya dengan ucapan Krisna.
''Tanya saja sama Ibu aku. Untuk apa juga aku berbohong, Laras. Sekalipun perekonomian aku berubah, gaya hidupku tetap sama Laras. Aku berusaha lebih bijak dalam menggunakan uang. Terlebih dengan apa yang pernah aku alami dulu. Ayah meninggal, aku hampir putus sekolah, ekonomi yang pas-pasan, bahkan aku harus bekerja demi menyambung hidup dan demi membantu Ibu. Semua hasil kerasku lebih aku arahkan pada investasi. Itu juga yang di ajarkan Tuan Kevin padaku. Aku tidak ingin penderitaan yang aku alami menimpa anak dan istriku kelak.'' Jelas Krisna. Laras merasa salut dengan cara berpikir sosok pria di sampingnya itu.
''Kak, aku bangga sekali padamu. Kenapa kita baru di pertemukan sekarang ya?''
''Kalau memang kita dulu di pertemukan, belum tentu juga kan kamu menerima aku? aku kan dulu masih miskin dan jelek.''
''Kalau tahu Kakak akan sukses, jelas aku mau, hehehe.''
''Dasar! asal kamu tahu Laras, ya walaupun Tuan Kevin terkadang cerewet, galak dan keras kepala tapi Tuan Kevin berjasa sekali untuk kehidupan aku. Aku mencoba melamar di berbagai perusahaan tapi hanya Tuan Kevin yang mau menerima aku. Dari pertama perusahaan hampir bangkrut sampai akhirnya perusahaan Kevin bisa sebesar ini. Aku ingin mengabdikan diriku bekerja dengannya sampai Tuan Kevin pensiun dan di gantian oleh putranya.''
''Apapun keputusan Kakak, aku akan selalu mendukung Kakak.''
''Terima kasih ya, Ras.''
''Sama-sama Kakak.''
-
''Keira!" seru Laras sambil berlari kecil memeluk Keira yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur.
''Laras? elo sama Pak Krisna?'' ucap Keira sambil membalas pelukan Laras.
''Elo masak? memang bisa?'' celetuk Keira sambil menahan senyumnya.
''Iya lah. Emang kenapa? kaget kalau gue bisa masak?''
''Pak Krisna, bagaimana masakan Laras? apa enak?'' tanya Keira.
''Mmmm bingung harus jawab jujur atau tidak.'' Jawab Krisna sambil menahan senyumnya.
''Iya-iya masakan gue nggak enak, asin kayal garam,'' sahut Laras dengan wajah kesalnya.
''Ehem!" Kevin berdehem untuk mengingatkan bahwa ini adalah rumahnya jadi harus menjaga sikap.
''Eh Tuan Kevin, maaf. Sampai lupa tidak menyapa anda.''
''Apa list belanjaku sudah semua Kris?'' tanya Kevin.
''Sudah semua, Tuan. Oh ya ini struknya.'' Ucapnya sambil memberikan struk belanjanya pada Kevin.
__ADS_1
''Mas, kamu belanja apa? itu kenapa struknya panjang banget?'' sahut Keira.
''Tadinya cuma beli susu hamil untuk kamu tapi sekalian saja aku meminta Krisna untuk belanja. Kebetulan semua stok menipis. Aku tidak mau kalau kamu ingin makan apa atau butuh apa, harus beli keluar dulu. Jadi aku stok semua sayuran, daging, ikan dan aneka seafood. Aku ingin kamu makan makanan yang sehat. Mulai dari pemakaian gula, minyak sayur bahkan beras, aku pilihkan yang terbaik untuk kamu.''
''Ya ampun Mas, kamu ini berlebihan sekali. Mood orang hamil kan beda-beda. Bisa saja hari ini aku ingin makan di luar dan yang lain.''
''Tidak apa-apa, sayang. Buat stok saja, biar Bibi dan Rima bisa di rumah jaga kamu juga. Jadi mereka tidak usah repot belanja dan mereka bisa menemani kamu setiap saat. Makanya aku suruh Krisna. Lagi pula bukan hanya keperluan dapur tapi juga keperluan rumah yang lain juga.''
''Kan biasanya aku yang mencatat semua kebutuhan di rumah ini, Mas.''
''Kan kamu sedang hamil muda sayang, kamu masih lemas terus seharian ini kamu juga selalu mual dan muntah. Jadi aku bernisiatif untuk mengeceknya sendiri. Kamu tidak usah khawatir, hanya pekerjaan ringan saja. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa.''
''Ya ampun Tuan Kevin perhatian sekali.'' Kata Laras dengan penuh rasa kagum.
''Aku juga perhatian sama kamu, bukan hanya Tuan Kevin.'' Sahut Krisna yang tidak terima kalau Laras memuji pria lain di hadapannya.
''Iya, aku juga tahu kamu perhatian Kak. Aku hanya merasa bahagia saja karena sahabat aku mendapatkan pendamping hidup yang tepat. Aku senang sekali mendengar kabar kamu hamil, Kei.''
''Aku juga bahagia karena kamu juga mendapatkan pria yang tepat seperti Pak Krisna.''
''Kris, total belanjanya sudah aku transfer ke rekeningmu. Maaf kalau aku merepotkanmu.''
''Tidak apa-apa Tuan. Saya senang melakukannya.''
''Oh ya bagaimana persiapan pernikahan kalian? apa semuanya lancar?'' tanya Kevin.
''Sejauh ini semuanya lancar, Tuan. Lagi pula kami hanya mengadakan pesta sederhana saja. Kami sudah sepakat dengan itu.''
''Tidak masalah Kris yang penting pernikahan kalian sah dan mendapat restu, itu poin utamanya. Aku akan memberikan kalian hadiah bulan madu. Terserah kalian ingin pergi kemana, akan aku siapkan.''
''Serius Tuan?'' Ucap Laras dengan begitu antusiasnya.
''Iya serius karena selama ini Krisna sudah begitu setia kepadaku. Dan aku sangat bahagia karena akhirnya kamu menikah juga. Aku akan memberikan cuti dua minggu. Setelah itu kamu kembali bekerja seperti biasa, Kris.''
''Terima kasih sekali, Tuan. Saya mendapat cuti walaupun seminggu sudah cukup Tuan.''
''Ya aku paham Kris, tentu nanti Laras harus bekerja keras untuk menaklukkanmu.'' Ucap Kevin terkekeh.
''Kamu juga harus sabar ya, Laras. Kasihan Pak Krisna kalau kamu galak-galak. Nanti Pak Krisna malah takut,'' timpal Keira dengan tawa kecilnya.
''Ihhh Kei, apaan sih bikin malu aja. Gua nanti ngajarinnya bakal kalem kok apalagi Kak Krisna masih suka gugup dan tremor,'' celetuk Laras dengan polosnya. Krisna hanya bisa menunduk malu mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan.
__ADS_1
Kevin kemudian berbisik ke arah Krisna. ''Tunjukkan keperkasaanmu, Kris. Taklukkan Laras dan jangan beri ampun. Tenang saja, aku akan mengajarimu. Tidak usah malu, Kris.''
Krisna hanya bisa melotot mendengar bisikkan Tuannya. ''Tapi Tuan Kevin sepertinya memang jago, secara dua kali menikah. Kemarin saja menceritakan urusan ranjangnya denganku. Boleh deh aku berguru dengan Tuan Kevin, suhu dunia peranjangan,'' gumam Krisna dalam hati sambil mengangguk mengiyakan ucapan Kevin.