
CEKLEK. Pintu kamar Krisna tidak terkunci. Laras kemudian masuk begitu saja ke kamar Krisna. Kamar yang bernuansa putih itu tampak rapi sekali. Laras mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.
''Kak Krisna sepertinya masih mandi.'' Gumamnya. Laras lalu berjalan melihat foto-foto Krisna saat masih kecil dulu. Foto-foto itu tertata rapi diatas meja laci. Melihat Krisna kecil yang gendut dengan pipinya yang chuby, membuat Laras tersenyum gemas. Terdapat sebuah almari yang berisi piala penghargaan karena prestasi Krisna dalam bidang akademik. Laras semakin kagum dengan sosok seorang Krisna. Pria yang membuatnya begitu mudah jatuh cinta, bahkan dengan mudahnya membuatnya bertingkah sangat bodoh. Krisna begitu terkejut, saat melihat Laras ada di kamarnya.
''Laras? A-apa yang kamu lakukan?'' tanya tergagap. Laras menoleh ke arah Krisna. Laras terpesona dengan dada bidang dan perut six pack Krisna. Karena saat itu Krisna hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
''Oh so sexy!" Melihat reaksi Laras yang seolah ingin menerkam, membuat Krisna mendekat ke arah tempat tidur dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
''Kak, kenapa di tutup sih? Kan aku mau lihat roti sobeknya,'' goda Laras.
''Laras, kamu jangan aneh-aneh ya. Kamu itu perempuan lho.''
''Kenapa kalau aku perempuan, Kak? Kakak yang laki-laki saja penakut.''
Krisna lalu berjalan ke arah almari untuk mengambil pakaiannya.
''Laras, kamu kan tahu apa yang terjadi padaku.''
Laras kemudian berjalan mendekati Krisna. ''Tapi Kakak normal kan? Kakak sayang kan padaku? Kakak ada rasa kan padaku?'' Laras terus mendesak Krisna. Laras kemudian memeluk Krisna dari belakang. Krisna sangat terkejut mendapat pelukan dari Laras. Tubuhnya mendadak kembali bergetar.
''Kak, jangan membuatku menjadi perempuan bodoh untuk kedua kalinya. Katakan padaku kalau Kakak menyukaiku.'' Mendengar apa yang Laras ucapkan, Krisna teringat nasihat Keira beberapa waktu lalu. Krisna kemudian berusaha mengatur nafasnya yang mendadak terasa sangat sesak.
''Tenangkan dirimu, Krisna. Ayo berani! Jangan sampai kebodohanmu, membuatmu kehilangan Laras. Kalau kamu tidak mencintainya atau bahkan menyukainya, tentu saja kamu tidak akan mengajaknya menemui Ibumu, sekalipun dia yang memaksa.'' Batin Krisna. Krisna perlahan melepaskan tangan Laras yang melingkar di pinggangnya. Selimut yang membungkus Krisna pun ikut terlepas. Kini terpampang nyata otot perut yang seksi di hadapan Laras namun Krisna justru menundukkan pandangannya sambil *******-***** tengannya. Laras bisa melihat kecemasan di wajah Krisna.
''Kak, kalau Kakak menggantungku dan tidak memberiku jawaban, Papa dan Mama pasti akan menjodohkan aku dengan pria lain. Untuk itu aku mendesakmu supaya kamu segera datang ke rumah melamarku.''
Krisna lalu mengarahkan pandangannya pada Laras, saat mendengar Laras akan di jodohkan.
''Di jodohkan?''
''Iya Kak. Kalau memang Kakak menyukai aku dan berniat melamarku, maka katakanlah sekarang. Berikan aku kepastian, setelah itu aku akan menceritakan pada Papa dan Mama tentang kedekatan kita. Tapi kalau Kakak tidak mengatakan apapun, aku akan berhenti sampai disini.'' Laras memasang wajah sedihnya di hadapan Krisna. Ia kemudian menundukkan pandangannya dan tiba-tiba air mata mengalir membasahi pipinya. Krisna pun mematung. Namun saat melihat Laras menangis, ia menjadi merasa bersalah. Krisna perlahan mengangkat wajah Laras. Dengan lembut Krisna menyeka air mata Laras. Krisna bisa melihat ketulusan di mata Laras. Krisna dengan sekuat tenaga, mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasannya pada Laras.
''Lar-Laras. Cinta itu tidak perlu di ungkapkan. Seharusnya kamu sudah tahu bagaimana perasaanku padamu. Aku memang tidak panda mengobral kata cinta tapi hanya sikap yang bisa aku tunjukkan. Maaf kalau itu saja tidak cukup membuatmu mengerti. Yang jelas perasaanku sama denganmu.''
__ADS_1
Dengan sesenggukan, Laras membalas ucapan Krisna. ''Apa itu berarti Kakak mencintaiku?''
Krisna hanya menggangguk sambil tersenyum. Laras kemudian memeluk Krisna dengan erat.
''Aku akan segera mempersiapkan acara lamaran kita. Tentunya setelah kamu selesai wisuda. Aku ingin kamu menyelesaikan wisudamu dulu.'' Krisna menghela nafas panjang, akhirnya ia bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Meksipun suaranya terdengar gemetar.
''Terima kasih, Kak. Sekarang bilang I love you,'' paksa Laras yang masih berada dalam dekapan Krisna.
''Un-untuk apa? Bukankah semua itu sudah mewakili.''
''Ayo lah, Kak. I love you, cepat.'' Krisna semakin tertekan, ia memijit keningnya. ''Lepaskan aku dulu.'' Laras kemudian melepaskan pelukannya pada Krisna.
''Baiklah, sekarang ucapkan itu.'' Paksa Laras.
''Huft! I-i-i el-el-love y-y-you.'' Ucap Krisna dengan tergagap.
''I love you too, muach.'' Balas Laras seraya mengecup pipi Krisna.
''Sekarang berikan aku ciuman pertama Kakak.''
''Iya. Disini.'' Kata Laras sambil menunjuk bibirnya.
''Ak-aku tidak bis-bisa berciuman.''
''Tisak harus berciuman dulu. Aku akan mengajari Kakak. Tempelkan bibir Kakak pada bibirku. Tapi mustahil sih kalau Kakak tidak bisa berciuman.''
''Berdekatan dengan wanita saja aku gemetar, bagaimana aku bisa berciuman, Laras.''
''Makanya sekarang coba, Kak. Supaya Kakak bisa segera sembuh dan tidak gemetar lagi saat berdekatan dengan ku.'' Laras lalu meraih kedua tangan Krisna dan melingkarkan pada pinggannya.
''Kak, peluk pinggangku. Jangan gemetar dan aku akan memejamkan matamu.'' Lanjut Laras. Kini jantung Krisna berdegup tidak karuan. Kini bukan hanya gemetar tapi jantungnya seakan ingin meloncat keluar. Laras lalu mengangkat wajahnya sambil memejmkan matanya. Tidak di pungkiri, pria normal yang mendapatkan wanita agresif seperti Laras, tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Tapi kali ini Krisna harus membuktikannya daripada Laras harus dimiliki pria lain. Krisna lalu mendekatkan tubuh Laras pada tubuhnya. Laras merasakan tubuhnya begeser lebih dekat sehingga ia bisa merasakan kulit perut Krisna. Perlahan Krisna menurunkan bibirnya dan menempelkannya pada bibir Laras. Tidak terlalu lama, bahkan hanya hitungan detik, Krisna lalu melepaskannya. Laras lalu membuka matanya. Terlihat jelas pipi Krisna memerah.
''Su-sudah kan?'' ucapnya masih tergagap. Laras tersenyum. ''Lagi,''
__ADS_1
''Apa? Lagi?''
''Iya, lebih lama. Aku akan mengajari Kakak bagaimana cara berciuman.'' Ucap Laras dengan tatapan menggoda. Kedua telapak tangan Laras laku menyentuh dada bidang itu. Bahkan Laras memberikan sentuhan lembutnya.
''Ayolah Kak! Jangan sampai saat menikah, aku juga mengajarimu bagaimana caranya bercinta. Ayolah Kak, gentle dong.''
''Iya aku adalah seorang pria. Masa iya seorang pria tulen ciuman harus di ajari wanita. Sungguh memalukan.'' Gumam Krisna dalam hati. Krisna lalu menarik nafas, lalu menghembuskannya. Ia mengumpulkan keberanian dan kejantanannya untuk mencium Laras.
''Pejamkan mata kamu, Laras. Kalau kamu menatapku, aku tidak bisa melakukannya.'' Pinta Krisna. Tanpa menjawab, Laras dengan senang hati memejamkan matanya. Krisna perlahan mendaratkan bibirnya pada Laras dan kali ini cukup lama. Laras lalu membuka bibirnya dan membalas ciuman Krisna. Tangan Laras kemudian menyentuh dan membuka perlahan bibir bawah Krisna. Krisna memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut bibir Laras yang mengulumnya. Laras mulai menikmati ciumannya, ia lalu mengalungkan tangannya pada leher Krisna. Dan kini Krisna berusaha menggerakkan bibirnya seperti yang Laras lakukan padanya. Krisna semakin menekan tubuh Laras pada tubuhnya saat ia mulai menikmati ciuman itu. Krisna lalu mengangkat tubuh Laras dan Laras melingkarkan kakinya pada pinggang Krisna. Laras memberikan serangan ciuman semakin panas dan Krisna perlahan mengikutinya. Di luar dugaan Laras, Krisna memainkan lidahnya berusaha menerobos bibir Laras. Laras pun tak mau kalah, mereka pun saling menghisap hingga terdengar kecapan yang memecah keheningan ruangan itu. Krisna melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, aksi ciuman itupun beralih di atas tempat tidur. Naluri Krisna sebagai seorang pria pun akhirnya bangkit setelah sekian lama. Laras bisa merasakan sesuatu mengeras di bawah sana saat tubuh Krisna menindihnya. Bahkan terlihat jelas di mata Laras, sesuatu itu menyembul di balik handuk. Krisna menggenggam kedua tangan tangan Laras dengan erat. Ciuman panas itu berlangsung cukup lama, sampai nafas keduanya pun terengah. Krisna lalu mengakhiri ciuman panas itu, mengingat Laras belum sah menjadi istrinya. Hampir saja ia hilang kendali siang itu. Ciuman itu berakhir, saat Krisna memberi kecupan di kening Laras. Krisna kemudian mengajak Laras beranjak dari tempat tidur. Kemudian ia kembali memeluk Laras.
''Maafkan aku. Aku hampir kehilangan kendali. Apakah itu terlalu lama?''
''Sangat lama tapi aku suka. Bibirku sampai memerah.'' Kata Laras dengan manja.
''Baiklah sekarang kamu keluar. Ibu bisa curiga dan berpikiran buruk tentang kita.'' Krisna lalu melepaskan pelukannya pada Laras. Laras hanya mengangguk sambil tersenyum. Krisna lalu mengusap lembut bibir Laras yang baru saja ia lahap dengan ganasnya.
''Aku ke bawah dulu ya.'' Pamit Laras. Krisna hanya mengangguk dan membiarkan Laras pergi. Krisna kemudian terduduk, melihat juniornya yang menyembul di balik handuk.
''Tidurlah kembali, belum saatnya. Tapi aku senang akhirnya kamu ikut bereaksi.'' Gumam Krisna sambil mengusap juniornya di balik handuknya.
Sementara Laras berlari dengan cerianya seperti seorang bocah yang telah mendapatkaj hadiah. Laras berlari mencari Nyonya Dewe yang ternyata sedang mencuci piring di dapur.
''Ibu!" seru Laras sambil memeluk Nyonya Dewi dari belakang.
''Sepertinya kamu sangat bahagia? Apa yang membuat Krisna mengakui perasaannya?''
''Aku menangis dan mengatakan padanya, kalau dia tidak secepatnya melamarku, orang tuaku akan menjodohkanku. Tapi sebelumnya aku memarahinya dan mengatakannya kalau dia pengecut, Bu. Maaf ya Bu, kalau akau memarahi dan memaki putra kesayangan Ibu.''
''Tidak apa-apa, Ibu mengijinkannya. Supaya dia sadar dan secepatnya mau menikah. Terima kasih ya kamu sudah membantu Krisna keluar dari rasa traumanya. Ibu lega sekali akhirnya dia mau menikah dan sebentar lagi Ibu akan menimang cucu.''
''Sama-sama Ibu. Aku juga bahagia sekali.'' Laras tidak bisa menutupi kebahagiaannya, apalagi ia selaku terbayang adegan ciuman panasnya bersama Krisna. Dan itu membuatnya tidak sabar untuk segera di unboxing oleh Krisna yang perkasa itu.
''Terongnya sangat menggoda, meskipun hanya tampak menyembul dari handuk. Tahan Laras, stop berpikiran sejauh itu. Ciuman saja sudah cukup, jangan melewati batasanmu.'' Gumam Laras dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....