
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Keira sedang berada di kamar, berusaha untuk berjalan sendiri tanpa bantuan.
''Mama!" seru Marvel saat membuka pintu kamar Kevin.
''Marvel,'' kata Keira dengan mata berbinar. Marvel kemudian berlari memeluk Keira.
''I miss you, Mom.''
''Mama juga sangat merindukan kamu.''
''Mama kenapa seperti ini?'' tanya Marvel tampak khawatir.
''Mama hanya jatuh saja, sayang.''
''Maaf ya Kei, kalau Marvel harus tahu. Marvel memaksa pulang, sepertinya dia tahu kalau Mamanya sedang tidak baik-baik saja,'' kata Gina yang berdiri di ambang pintu bersama Miko.
''Tidak apa-apa Mbak. Ini juga sudah baikan kok. Aku sudah bisa berdiri dan tidak sakit lagi.''
''Dimana Kevin?''
''Mas Kevin belum pulang.''
''Belum pulang? Istri sakit bukannya pulang tapi malah kerja terus,'' gerutu Miko.
''Mungkin sedang banyak pekerjaan, Kak. Oh ya lebih baik kita makan malam bersama saja. Kalian pasti belum makan malam juga.''
''Iya nih, kebetulan lapar banget,'' sahut Miko sambil mengusap perutnya.
''Mama duduklah, biar aku yang mendorong kursinya.''
''Memangnya kamu kuat? Mama berat lho.''
''Kuatlah!" Kata Marvel menyanggupi. Keira kemudian duduk di kursi roda dan di dorong oleh Marvel juga Gina.
Saat makan malam berlangsung mereka terlibat dalam obrolan.
''Mah, apa Papa dan Mama sudah membuatkan adik untukku?'' sontak pertanyaan Marvel membuat Keira tersedak. Miko dan Gina pun berusaha menahan tawanya saat mendengar ucapan Marvel.
''Adik?''
''Iya Mah, adik. Aku juga ingin punya adik. Bebas deh Mah, mau cewek atau cowok, aku pasti akan menjaganya.''
''Iya Kei, sudah waktunya Marvel punya adik lho. Apalagi dia sudah 8 tahun. Kalian sedang tidak menundanya kan?'' tanya Gina.
__ADS_1
''E... tidak kok Mbak.'' Jawab Keira merasa gugup.
''Jangan lama-lama Kei, kasihan Marvel dia tidak punya teman main.'' Sahut Miko.
''Bagaimana mau punya anak, kita belum melakukan apapun Kak.'' Jawab Keira dengan polosnya.
''Apa?'' kata Miko dan Gina bersamaan.
''Sayang, sepertinya rencana kita di hotel tidak berhasil,'' bisik Gina.
''Iya. Sepertinya mereka tidak terpengaruh dengan minuman yang sudah aku campurkan itu. Aku berfikir mereka berdua khilaf lalu melakukannya.'' Balas Miko berbisik.
''Melakukan apa Mah?'' tanya Marvel dengan polosnya.
''Melakukan, apa ya? Mama lupa. Kalau kamu mau adik bicara saja sama Papa.'' Kata Keira.
''Memangnya Papa bisa hamil, Mah?'' tanya Marvel dengan polosnya yang mengundang tawa Miko dan Gina.
''Kamu ini lucu sekali, Marvel. Papa jelas tidak bisa hamil. Contoh, anggap saja Papa itu bibit jagung ya dan supaya jagung tumbuh, harus di tanam di tanah. Nah tanah itu ibarat Mama Keira, supaya jagung itu bisa tumbuh butuh di siram dan di pupuk, supaya besar dan menghasilkan buah jagung. Seperti itulah perumpamaannya. Kalau tanahnya ada, tapi bibit jagungnya tidak ada ya sama saja. Makanya selagi proses penamanam bibit, tanahnya harus sering di semai dan di beri pupuk supaya tanahnya subur dan cepat berbuah,'' kata Miko diringi tawa kecilnya.
''Jadi tanah itu sebelum di tanami harus selalu di siram ya, Om?''
''Iya lah, biar tanahnya subur. Kalau tanahnya subur, siap di tanam bibit. Jadi sebelum dan sesudah biji tanam, tanahnya harus di kasih pupuh,di semai biar subur dulu.''
''Sayang, aku kan sedang memberikan Marvel pengetahuan tentang bercocok tanam. Apanya yang salah sih?''
''Asumsi kamu yang salah! Menyesatkan kamu," sambung Gina.
''Aku berbagi ilmu kok menyesatkan. Begini saja, besok Om ajari kamu cara menanam jagung atau menanam bunga deh, biar tabu prosesnya. Gimana?''
''Boleh deh, Om. Aku ingin di belakang rumah punya kebun seperti milik Kakek Ammar. Disana ada sayuran dan bunga yang cantik.'' Kata Marvel.
''Oke siap! Om pasti bantu kok.''
''Terus adiknya gimana cara buatnya?''
''Kamu minta saja sama Papa dan Mama. Terus kamu berdoanya sama Tuhan. Supaya doa kamu di kabulkan, kamu harus rajin berdoa, biar Papa dan Mama yang berusaha. Kamu berdoanya yang kenceng banget pokoknya.'' Kata Miko yang berusaha memberi semangat untuk Marvel.
''Oke Om. Aku akan rajin berdoa semoga aku cepat punya adik. Papa dan Mama juga harus berusaha ya.'' Kata Marvel sambil melihat ke arah Keira. Keira hanya bisa terdiam dan memaksa senyumnya.
-
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Keira sedang berada di kamar Marvel, untuk menemaninya tidur. Marvel sudah terlelap dengan tidurnya, sementara Keira sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
''Mas Kevin jam segini kok belum pulang ya? Ini sudah jam 11 lewat. Kenapa aku jadi gelisah? Apa dia benar-benar marah? Bahkan dia sama sekali tidak memberiku kabar,'' batin Keira.
''Apa benar kalau aku mulai menyukainya? Atau sekedar rasa bersalah padanya saja? Ah kenapa sekarang menjadi semakin rumit sih? Biasanya mau tidur tinggal tidur aja, ini kenapa pakai mikir segala.'' Batin Keira terus berkecamuk. Ia bahkan merasa sulit menelisik perasaannya sendiri.
Keira kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar Marvel dan menuju ruang tamu. Keira memilih berjalan pelan sambil merayap pada dinding karena ia berusaha melatih kakinya.
''Syukurlah, kakiku sudah semakin membaik. Aku harus sampai di ruang tamu sana.'' Gumam Keira sambil terus berusaha berjalan. Keira sangat kesulitan saat menuruni tangga karena pinggulnya masih terasa sedikit ngilu. Baru setengah setengah jalan, Keira sudah merasa ngos-ngosan. Akhirnya ia memilih duduk sambil memijit kaki dan pinggulnya.
''Berasa jadi nenek deh gue,'' gumamnya sendiri dalam kesunyian. Tiba-tiba ia mendengar suara deru mobil Kevin.
''Itu suara mobil Mas Kevin. Aku harus buru-buru kembali. Jangan sampai dia tahu kalau aku khawatir apalagi aku duduk disini. Nanti dia bisa kege-eran.'' Keira dengan sekuat tenaga berusaha naik kembali keatas sambil merangkak seperti bayi. Keira semakin panik, saat Kevin membuka pintu dan langkah kakinya semakin dekat.
''Kenapa kayak di kejar setan ya? Aku mau merangkak cepat seperti ada yang menarik kakiku,'' gumamnya. Belum juga sampai di ujung, Keira di buat kaget dengan suara Kevin.
''Kei, kamu sedang apa?'' tanya Kevin dengan heran.
''Kenapa kamu merangkak seperti ini? Dimana kursi rodamu?'' sambung Kevin.
''E... Aku-aku sedang belajar berjalan. Aku sudah tidak betah duduk di kursi roda, hehehe.'' Ucapnya dengan gugup sambil meringis.
''Ini sudah waktunya tidur, bukan waktunya belajar berjalan. Bagaimana nanti kalau kamu jatuh? Akan semakin merepotkan aku.''
''Oh jadi aku merepotkan. Baiklah kalau begitu, aku akan secepatnya belajar berjalan, supaya tidak merepotkan Tuan Kevin yang terhormat.'' Keira kemudian berusaha berdiri dengan berpegangan pada railing tangga. Namun tiba-tiba ia terpeleset tapi Kevin dengan sigap menangkap tubuh Keira. Kevin dengan tanggap segera menggendong Keira.
''Makanya jangan keras kepala. Apa kamu tidak ingin cepat sembuh? Mana ada malam-malam merangkak seperti ini. Aku pikir tadi babi ngepet masuk ke rumah ku.''
''Apa? Babi ngepet? Kamu bilang aku babi ngepet?''
''Ya siapa suruh jam segini merangkak seperti babi. Mana sudah gelap karena lampu sudah di matikan. Bagaimana kalau aku salah memukul? Sebaiknya sekarang aku membawamu ke kamar dan segera tidur.'' Kevin lalu membawa Keira ke kamarnya. Keira hanya bisa terdiam dengan bibir yang sudah mengerucut.
''Memang aku seperti babi apa? Enak saja menganggapku babi,'' batin Keira dengan kesal.
Sesampainya di kamar, Kevin lalu membantu Keira berbaring.
''Tidurlah, aku mau mandi.''
''Mas Kevin sudah makan malam?''
''Aku tidak lapar. Kamu tidur saja, kalau aku lapar, aku juga bisa ambil makan sendiri. Aku sudah terbiasa melakukan apapun sendiri.'' Ucapnya sambil berlalu menuju kamar mandi.
''Hmmm jutek amat sih? Tapi sudahlah, yang penting dia sudah pulang dengan selamat.'' Batin Keira.
Bersambung.... Part selanjutnya di tunggu yaaa 😁😁🙏❤️
__ADS_1