Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 281 Tuan Bucin


__ADS_3

Hari berikutnya...


''Bagaimana sayang? Kamu sudah mewawancari Chika?'' tanya Kevin setelah Keira selesai mendapat tugas dari suaminya itu.


''Sudah Mas. Dia public speakingnya bagus lho. Dan tetap pilihanku jatuh sama Chika. Selain keponakannya Mbak Gina tapi dia benar-benar smart. Kalaupun dia tidak punya itu, jujur sih aku tidak akan menerimanya. Semuanya bagus-bagus kok, Mas.''


''Atau dia jadi sekretaris kamu saja sayang?''


''Sekretarisku? Untuk apa Mas?''


''Aku akan menjadikanmu wakil Ibu CEO, kita kelola perusahaan ini bersama-sama.''


''Ihhh kamu ini tidak kasihan apa sama Rachel. Nanti lah Mas kalau Rachel gedean sedikit. Saat ini dia masih butuh aku, belum juga ada satu bulan masa mau di tinggal kerja.''


''Iya nanti maksudnya, sayang. Nanti Chika bisa di rolling untuk jadi sekretaris kamu.''


''Terima kasih ya Mas sudah melibatkan aku untuk mengambil keputusan ini.''


''Sama-sama sayang. Karena aku tahu, kamu terbaik. Lalu kapan pengumuman di terimanya?''


''Lusa, Mas.''


''Oh ya nanti saat Chika masuk, kamu tolong ajari dia ya sayang. Setelah jam makan siang selesai, kamu bisa pulang.''


''Oke baiklah. Tapi aku di dapat gaji apa tidak, Mas?''


Kevin mendekat lalu menarik pinggang Keira dan menedekatkan pada tubuhnya. ''Tentu saja sayang. Gaji full, tunjangan, kenikmatan, perhatian, cinta dan kasih sayang, aku curahkan semuanya untukmu.''


Keira kemudian melingkarkan kedua tangannya pada leher Kevin. ''Kalau itu wajib, Mas. Itu tidak bisa di ganggu gugat dan di wakilkan.''


''Inilah yang aku inginkan kalau kita bekerja bersama. Kita bisa selalu bersama di sela-sela kesibukan kita.''


''Kalau seperti ini, yang ada kamu tidak akan fokus kerja, Mas, begitu juga denganku. Kamu akan selalu menggodaku setiap saat dan setiap waktu.''


''Memang itu kemauanku.'' Kevin kemudian mengangkat tubuh Keira lalu mendudukkannya di atas meja.


''Nah, ini pikiran mesum mu mulai datang, Mas.'' Ucap Keira terkekeh.


''Salah siapa, kamu semakin cantik dan seksi. Setelah melahirkan, kamu semakin cantik sayang.''


''Aku gendut begini.''


''Ini bukan gendut tapi montok dan aku suka yang seperti ini. Dulu kamu kurus sekali tapi lebih berisi seperti ini, lebih menggairahkan.''


''Oh jadi aku dulu tidak menggairahkan? Karena kurus gitu.'' Ketus Keira.


''Tuh kan salah lagi. Pokoknya mau kurus, mau gendut, kamu selalu cantik dan cintaku sama kamu juga semakin bertambah. Bagiku kamu sempurna.'' Ucap Kevin dengan sejelas-jelasnya. Keira tertawa kecil melihat sikap suaminya yang begitu takut kalau dirinya marah.


''Mas?''

__ADS_1


''Apa sayang?''


''I love you.''


''I love you more, sayang.'' Mereka berdua kemudian saling berciuman dan berpagut dengan mesra. Kevin menghisap dan menggigit kecil bibir Keira yang berwarna merah menyala itu. Hari itu penampilan Keira sangat menyala, lipstik merah, dress ketat selutut yang ia kombinasikan dengan cardigan, membuat Kevin selalu tidak sabar ingin mencumbu istrinya. Tangan Kevin mere...mas gemas pantat Keira yang sintal itu, membuat Keira semakin mempercepat ciuman panasnya. Belum lagi tangan Kevin yang mengusap lembut buah dada yang semakin berisi di balik dress milik Keira.


Tok tok tok tok! Suara ketukan pintu, membuyarkan gairah yang sudah berada di ubun-ubun.


''Mas, itu ada yang mengetuk pintu. Ayo buka dulu Mas.''


''Sayang, nanggung.'' Rengek Kevin.


''Ini masih jam kerja lho. Nanti makan siang kita check ini di hotel dekat sini.''


''Padahal aku sudah tegang sayang.''


''Ayo Mas atau aku pulang saja sekarang?''


''Eh jangan-jangan.'' Kata Kevin. Kevin segera merapikan kembali pakaiannya begitu pula dengan Keira. Kevin tidak sadara jika bibirnya merah terkena lipstik Keira. Sementara Keira kembali duduk si sofa, merapikan lipstiknya yang berantakan. Kevin kemudian membuka pintu ruangannya.


''Johan, ada apa Jo?'' ucap Kevin serata kembali ke kursi kebesarannya.


Johan terkejut melihat bibir Kevin memerah.


''Hai Jo!" sapa Keira.


''Hai Kei.'' Balas Johan. Melihat Keira yang sedang merapikan lipstiknya, sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka berdua.


''Oh ya ini Tuan laporan penjualan semua produk yang sudah saya rekap. Saya membutuhkan tanda tangan anda, untuk mencetak laporan keuangannya.'' Kata Johan. Kevin kemudian memeriksanya, setelah tidak ada masalah, Kevin segera menandatanganinya.


''Sudah Jo.''


''Terima kasih Tuan. Oh ya Tuan apa saya boleh mengatakan sesuatu?''


''Iya katakan saja.''


''Sebaiknya setelah hot kiss, ada baiknya ada memeriksa bibir anda, Tuan.''


''Maksudmu Jo?'' tanya Kevin dengan sorot tajam matanya. Johan kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membuka kamera depannya, meminta Kevin untuk bercermin.


''Ini Tuan. Atau mungkin anda memang sedang kepedasan sampai bibirnya merah?'' ucap Johan sambil meringis.


Kevin terkejut antara malu tapi tetap harus berwibawa. ''Sudah, keluar sana! Bukan urusanmu. Mau ciuman kek, mau kepedeaan atau sariawan sekalipun, bukan urusanmu.'' Ketus Kevin.


''Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Sekali lagi maaf Tuan.'' Johan kemudian berlalu dan menggelengkan kepalanya, saat melewati Keira yang duduk di sofa. Keira tersenyum santai kearah Johan.


''Emang si Kei, dapat duda jadi makin ganas,'' gumam Johan dalam hati.


''Sayang, kenapa kamu tidak menghapus noda bibirku? Seperti badut kan?'' kesal Kevin.

__ADS_1


Keira pun tertawa. ''Maaf ya Mas, aku saja lupa karena terburu panik. Pakaianku saja sampai terangkat sampai pantat, ya aku sibuk membenahinya dulu lah. Tapi kamu lucu juga, Mas.''


''Kamu ini membuat wibawaku hilang. Sekarang aku pasti mendapat julukan bos mesum.'' Kata Kevin sambil mengusap noda bibirnya dengan tisu.


''Eh kok di hapus sih?'' protes Keira.


''Nanti kalau di lihat yang lain sayang?''


''Itu kan bekas bibir aku yang nempel.''


''Nanti kamu kasih lagi sayang, sekalian kamu pakein lipstik ke bibir aku.''


Keira hanya bisa tertawa melihat kekonyolan suaminya itu.


''Ya sudah Mas, aku pulang dulu ya tugas aku sudah selesai.''


''Lho-lho, katanya mau makan siang sekalian check ini, kok malah pulang.''


''Nanti malam saja ya Mas, sekalian.''


''Tidak bisa sayang, harus sekarang. Kamu tahu kan rasanya di tinggal pas lagi tegak-tegaknya?''


''Maaf Mas, aku tidak tahu.'' Jawab Keira terkekeh. Kevin lalu beranjak dari kursinya untuk menahan Keira pergi.


''Sayang, ayolah jangan pergi. Tinggal dua jam lagi saja, sayang. Sayang, kamu tidak tahu apa rasanya pusing, kepala cenut-cenut kalau tidak di lepaskan langsung? Itu bisa menyebabkan stres. Nanti kalau aku stres, tekanan darah naik, stroke, terus gimana?'' cerocos Kevin panjang lebar.


''Astaga, suami aku berlebihan sekali. Tidak ada ceritanya seperti itu, Mas. Kamu terlalu mengada-ada.''


''Aku tidak berlebihan, sayang. Itu fakta! Temani aku sayang, ayolah. Rachel juga sudah tenang dan banyak yang mengurus, ada Rima, ada Bi Surti dan Bi Nani juga. Sedangkan aku tidak ada yang mengurus selain kamu saja, sayang. Memang boleh, kalau ada orang lain yang mengurusku?''


''Eh-eh, awas ya kamu mau macam-macam! Iya-iya aku temani kamu, Mas. Dasar kamu ini! Kamu ini lebih rewel daripada Rachel.''


''Hehehe kan cuma sebentar saja sayang. Nanti setelah tugas kamu selesai, kamu boleh pulang. Soalnya nanti aku harus lembur untuk peluncuran produk baru lagi.''


''Iya suamiku sayang. Suamiku yang super bawel dan super cerewet.'' Ucap Keira sambil mencubit gemas pipi Kevin.


''Terima kasih sayang.''


''Sama-sama, Mas. Tapi aku mau pasang tarif lho.''


''Berapapun tarif kamu, akan aku bayar sekalipun kamu memasang tarif perdetik.''


''Makin pintar gombalnya. Sudah, kamu lanjutkan dulu kerjanya.''


''Oke baiklah, kamu tunggu ya. Awas kalau pulang!"


''Iya Mas. Ih kamu ini ngalah-ngalahin Marvel deh kalau ada maunya.''


''Namanya juga Papanya.'' Ucap Kevin seraya berlalu meninggalkan ruangannya. Keira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya itu.

__ADS_1


"Mas Kevin ini punya anak dua, bukannya makin kebapakan, malah makin kekanak-kanakan."


Bersambung


__ADS_2