Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 216 Awal Cerita


__ADS_3

''Nyonya, apa perlu saya telepon Tuan?'' kata Bi Nani sambil mengoleskan minyak angin ke perut Keira.


''Tidak usah Bi, nanti Tuan Khawatir. Apalagi Pak Krisna juga sedang cuti untuk prewed.''


''Sabar ya Nyonya namanya juga hamil muda pasti seperti ini. Bawaan orang hamil itu beda-beda dan kadang suka aneh. Setelah ini Nyonya sarapan dulu ya, nanti kalau Nyonya tidak sarapan, Tuan bisa marah.''


''Bi, aku ingin mangga muda. Di buat rujak sepertinya segar, Bi.''


''Belum musim mangga, Nyonya jadi di pasar juga tidak ada.''


''Ayolah Bi, tolong ya carikan. Coba minta tetangga di sekitar sini, siapa tahu ada yang punya.'' Rengek Keira sambil mengguncang lengan Bi Nani.


''Iya Nyonya, saya carikan dulu ya tapi ini susu sama vitaminnya di minum dulu. Karena Tuan pasti akan menelepon saya untuk memastikan kalau Nyonya sudah minum susu dan vitamin.''


''Iya Bi, aku akan meminumnya. Tapi cepat carikan ya, Bi.''


''Iya Nyonya.''


Satu jam kemudian, Bi Nani membawa lima buah mangga untuk Keira.


''Nyonya, saya dapat!" seru Bi Nani saat melihat Keira sudah menunggu di ruang makan.


''Wah Bi, makasih ya. Dapat darimana?''


''Dari Pak RT, Nyonya. Tapi ini baru berbuah dan masih mentah.''


''Ya sudah Bi, tidak ada apa-apa.''


''Nyonya tapi ini asam sekali lho.''


''Tidak apa-apa, Bi. Bi, tolongkan ambilkan kecap sama cabe ya.''


''Untuk apa Nyonya?''


''Untuk cocolannya, Bi.''


''Masa iya pakai kecap, Nya?''


''Iya Bi, sudah cepat siapkan Bi. Cabenya di cincang halus saja ya.''


''I-iya deh, Nya.'' Bi Nani heran sekali dengan permintaan Keira. Membayangkan memakan mangga yang masih mentah saja rasanya pasti sangat asam. Setelah semuanya siap, Keira memakannya dengan lahap. Bi Nani dan Bi Surti yang melihat Nyonya-nya makan merasa merinding sampai mengernyitkan dahinya seolah bisa merasakan betapa asamnya buah mangga itu.


''Bi Nani sama Bi Surti mau?''


''Tidak Nyonya, terima kasih. Saya permisi mencuci dulu ya.'' Kata Bi Surti seraya berlalu.


''Saya juga terima kasih, Nyonya.'' Kata Bi Nani.


''Bi, tolong masak untuk makan siang ya. Saya mau ke kantor Tuan. Sudah lama sekali tidak ke kantor sejak saya hamil.''

__ADS_1


''Kalau itu siap Nyonya, segera saya kerjakan.'' Kata Bi Nani dengan senyum lebarnya.


-


''Siang Mas!" sapa Keira seraya masuk begitu saja ke ruangan Kevin. Namun ruangan Kevin ternyata kosong.


''Mas Kevin pasti sedang meeting. Ya sudah, sebaiknya aku tunggu saja disini.'' Keira kemudian duduk di sofa sambil menonton televisi. Satu jam sudah Keira menunggu sampai akhirnya ia tertidur di sofa. Kevin sendiri baru saja keluar dari ruang rapat. Saat kembali ia begitu terkejut melihat istrinya sudah berada di ruangannya.


''Keira! Ya ampun, dia sampai tertidur. Sayang, kenapa kamu tidak meneleponku atau mencari Siska,'' gumamnya sambil menatap wajah cantik yang tertidur sangat pulas itu.


''Sayang, hei,'' ucap Kevin dengan lembut sambil membelai wajah istrinya. Keira kemudian terbangun karena merasakan sentuhan dari suaminya itu.


''Mas,'' lirih Keira sambil mengerjapkan matanya. Keira lalu bangun dari tidurnya dan duduk.


''Kamu sudah lama?''


''Sepertinya aku sudah satu jam lebih menunggumu, Mas.''


''Kenapa kamu tidak menelepon atau bertanya pada Siska?''


''Aku tahu kamu pasti sibuk apalagi kan Pak Krisna ambil cuti kan?''


''Iya tapi seharusnya kamu bilang kalau mau ke kantor.''


''Aku spontan saja ingin kemari, Mas. Karena sejak hamil, aku jadi jarang sekali ke kantor apalagi untuk mengurus makan siangmu.''


Kevin tersenyum kemudian mengelus perut istrinya. Kevin kemudian menempelkan telinganya ke arah perut Keira. ''Halo babynya Papa, maaf ya sudah membuat Mama menunggu lama. Jangan marah ya, kan Papa sedang sibuk. Kamu hari ini tidak membuat Mama susah kan?''


Begitu mendengar jawaban Keira, Kevin lalu mendongak melihat kearah istrinya. '' Kenapa kamu tidak telepon sayang? Apa kamu menginginkan sesuatu?''


''Ya ampun Mas, cuma morning sickness biasa. Setelah itu aku makan mangga muda, untung Bibi mendapatkannya. Udah deh, aku sikat sampai habis. Sepertinya dia tahu kondisi kalau Papanya sibuk jadi dia mintanya sama Bi Nani tadi,'' ucap Keira dengan senyum hangatnya.


''Syukurlah kalau ngidamnya kamu sudah terpenuhi. Ya sudah, kalau begitu kita makan siang sama-sama ya. Kamu masak apa?''


''Maaf ya Mas, yang masak Bibi bukan aku, hehehe.''


''Tidak apa-apa sayang. Kamu kan sedang hamil muda dan sensitif jadi sangat wajar.''


''Ya sudah Mas, aku juga lapar. Kayaknya anak kita mau makan siang sama Papanya.''


''Oke baiklah, kalau begitu aku suapin kamu ya.''


''Iya Mas.''


-


Marvel dan Anrez sedang duduk di bangku halaman depan sekolah. Mereka sedang menunggu jemputan.


''Marvel, aku ingin ikut kursus bela diri sepertimu. Aku ingin menjadi hebat dan pemberani sepertimu.''

__ADS_1


''Ide bagus, Rez. Nanti kamu bilang sama Mama mu dulu ya.''


''Aku sudah bilang pada Mama dan Om Johan, mereka mengijinkannya.''


''Baiklah nanti biar Mama ku yang menelepon Mama mu ya. Oh ya seingatku Om Johan itu sahabat Mama ku, kenapa dia bisa dekat dengan Mama mu?''


''Jadi Om Johan menyukai Mama ku dan dia ingin menjadi Papaku, begitu.''


''Lalu Papa mu yang sempat menjemputmu waktu itu?''


''Papa dan Mama berpisah dan sudah tidak bersama-sama lagi. Papaku sangat jahat dan kasar dengan Mama tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi baik denganku dan Mama. Padahal sebelumnya Papa tidak pernah bersikap baik denganku atau dengan Mama, entahlah.''


''Mungkin Papa mu sudah menyadari kesalahannya, Anrez. Ya semoga saja Papa mu memang sudah berubah dan menyesali perbuatannya. Maaf ya kalau aku menanyakan hal itu padamu.''


''Tidak apa-apa Marvel. Oh ya Marvel, aku harap saat dewasa nanti kita bisa selalu bersama seperti ini. Karena kamu satu-satunya teman terbaik yang aku miliki.''


''Tentu saja Anrez. Kita harus menjaga pertemanan ini sampai kapanpun juga.''


Tak lama kemudian, Rendy datang dengan motornya.


''Anrez!" panggil Rendy sambil melabaikan tangannya pada Anrez.


''Marvel itu Papaku. Aku pergi dulu ya.''


''Oke. Hati-hati Anrez.''


''Kamu juga hati-hati.'' Ucap Anrez seraya memeluk Marvel.


''Pak Wahyu kenapa lama sekali ya?'' gumam Marvel. Tiba-tiba pandangan Marvel tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang sibuk mengikatkan tali sepatunya. Gadis kecil itu tampak kesal karena ia tidak bisa mengikatkan tali sepatunya. Marvel kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati gadis kecil itu.


''Sepertinya kamu kesulitan mengikatkan tali sepatumu?'' ucap Marvel. Gadis itu mendongak menatap tajam ke arah Marvel.


''Aku bisa membantumu.'' Ucap Marvel lagi. Gadis itu hanya diam dan tetap fokus pada tali sepatunya. Marvel kemudian berlutut berusaha mengikatkan tali sepatu gadis kecil itu namun gadis itu dengan kasar menyingkirkan tangan Marvel.


''Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Aku bukan anak nakal.'' Ucap Marvel. Gadis itu menatap Marvel kembali, sorot matanya sangat tajam dan menakutkan. Rambutnya yang ikal, mengembang dan panjang, membuatnya sangat misterius. Akhirnya gadis itu terdiam dan membiarkan Marvel mengikat tali sepatunya.


''Sudah selesai,'' kata Marvel dengan senyuman hangatnya. Gadis itu kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan Marvel. Marvel menoleh menatap gadis itu masuk ke sebuah sedan mewah berwarna hitam. Gadis itu bahkan tidak menoleh kembali ke arah Marvel.


''Aku baru pertama kali melihatnya. Kenapa dia diam saja? Apa dia tidak bisa bicara?'' gumam Marvel penuh tanya sambil menggaruk kepalanya. Tak berapa lama kemudian, Marvel melihat mobilnya. Pak Wahyu segera turun dan menghampiri Marvel.


''Maaf ya Den, saya terlambat. Tadi mengantar Nyonya ke kantor.''


''Oh jadi Mama di kantor ya, Pak?''


''Iya Den.''


''Ya sudah kalau begitu, antarkan aku ke kantor Papa juga ya, Pak.''


''Siap Den!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2