
Malam harinya, Zidni pergi ke kamar Chika. Ia memberikan semua list makanan yang ia suka dan tidak suka pada Chika. Zidni ingin Chika sendiri yang memasaknya tanpa bantuan Bibi.
''Ini semua list makanan yang aku suka dan tidak suka. Bahkan sampai hal yang aku suka dan tidak suka. Jadi selama satu bulan kita menghabiskan waktu bersama, kamu harus memperlajari semua ini.''
''Astaga, kamu berlebihan sekali. Aku ini seperti asistenmu saja.''
''Kamu bilang ingin membayar hutangmu? Ya sudah, lakukan ini saja. Aku tunggu besok sarapan pertama buatanmu. Pagi, siang, sore, malam, aku mau makan masakanmu.''
''Aku kan kerja, Zidni. Mana bisa? Kalau lembur bagaimana?''
''Itu terkecuali. Baiklah, aku tunggu sarapan pertamaku besok.'' Ucap Zidni seraya berlalu. Chika mendengus karena menganggap Zidni berlebihan. Chika kemudian membaca list yang Zidni berikan.
''Oh dia rupanya tidak suka ayam. Pantas saja saat aku ajak makan, dia tidak memakan ayamnya. Tapi kenapa dia tidak bilang kalau memang tidak suka?'' gumam Chika dalam hati. Malam itu Chika memikirkan menu sarapan dan makan siang yang akan ia buat untuk Zidni.
Keesokan harinya, Chika bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapjan dua menu makanan sekaligus. Untuk sarapan pagi, Zidni hanya makan roti panggang dan segelas susu saja. Untuk makan siang, Chika membuat vegetable soup dan fish roll crispy, resep yang baru ia pelajari semalam. Zidni yang baru bangun, menghampiri Chika yang sibuk di dapur.
''Hmmm wangi sekali. Apa yang kamu buat hari ini?''
''Ini aku membuatkanmu roti panggang untuk sarapan, vegetable soup dan fish roll crispy untuk makan siang nanti.''
''Boleh juga ide kreasi masakanmu.''
''Nanti aku ke kantormu untuk makan siang bersama atau bagaimana?'' tanya Chika.
''Aku akan menjemputmu. Kita makan siang di luar. Jenuh kalau di dalam kantor.''
''Oke baiklah. Dan sebaiknya kamu cepat mandi, nanti kita terlambat.'' Ucap Chika sambil tetatp fokus memasak.
''Ya, ya, ya, aku akan mandi. Tapi aku mau icip supnya boleh? Aku ingin memastikan rasanya pas.''
Chika menghela. ''Kamu mengangguku saja.'' Chika lalu mengambil sendok untuk mengambil kuah sup.
''Ini masih panas ya.'' Ucap Chika seraya memberikan sendok itu pada Zidni. Zidni meniupnya perlahan sebelum mencicipinya.
''Bagaimana?'' Chika penasaran dengan reaksi Zidni.
''Lumayan tapi tambahkan penyedap sedikit lagi supaya lebih gurih. Atau tambahkan kaldu jamur saja.'' Ucapnya.
''Oke.'' Singkat Chika. Zidni kemudian berlalu dan segera mandi.
Setelah selesai sarapan, mereka kompak berjalan keluar. Namun kali ini Chika tidak melihat motor Zidni.
''Motor mu mana?'' tanya Chika.
''Kita naik mobil saja.'' Ucap Zidni.
''Oh begitu. Tumben?''
''Supaya kalau hujan tidak kehujanan saja.'' Ucapnya singkat. Padahal sebenarnya Zidni tidak ingin Chika merasa kesulitan naik motor apalagi Chika memakai rok. Belum lagi nanti Chika kepanasan dan terkena debu. Apalagi menjadi seorang sekretaris membuat Chika di tuntut untuk selalu rapi.
''Kenapa tidak dari kemarin saja sih naik mobilnya?'' kata Chika sambil memukul lengan Zidni. Zidni hanya bisa meringis sakit karena Chika sekarang hobi sekali memukul lenganya, kadang juga bahu dan pundak yang jadi sasarannya.
Saat jam makan siang, Zidni sudah standby di pelataran kantor menunggu Chika keluar. Dan tak lama kemudian, Chika keluar dengan kotak makan susun yang sudah ia bawa. Chika melambaikan tangannya dengan senyum manisnya untuk menyambut Zidni.
__ADS_1
''Memangnya kita mau makan dimana?''
''Ikut saja aku.'' Ucap Zidni.
''Oke baiklah. Awas ya kalau macam-macam.''
''Tenang saja. Aku bukan pria seperti itu.'' Jawab Zidni sambil membukakan pintu mobil untuk Chika. Zidni belum tahu jika Chika mengetahui semua masa lalunya.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah taman bunga yang sangat indah. Zidni mengajak Chika duduk dibangku taman.
''Kita makan disini saja.'' Kata Zidni.
''Oke baiklah. Aku akan membuka makanannya.''
Mereka berdua lalu menikmati makan siang bersama di tengah hamparan taman bunga yang begitu indah.
''Mmmmm fish roll buatan kamu enak banget.'' Kata Zidni.
''Ah yang bener? Aku baru belajar resepnya semalam lho.'' Kata Chika.
''Beneran deh. Aku sangat menyukainya. Aku ingin besok kamu buatkan ini lagi ya untuk makan siangku.''
''Oke, tidak masalah. Oh ya kenapa waktu itu kamu tidak bilang kalau tidak suka ayam?''
''Aku hanya ingin merasakannya saja. Siapa tahu sesuatu yang tidak aku suka akan aku suka. Tapi ternyata aku tetap tidak menyukainya.'' Ucap Zidni terkekeh.
''Aku senang sekali melihat kamu tersenyum seperti itu. Daripada dulu awal-awal kamu datang. Amat sangat menyebalkan. Rasanya mulut aku gatal pingin ngomong terus sementara kamu tidak pernah bereaksi.''
''Aku memang bukan orang yang cepat akrab dengan seseorang.''
''Ah sudahlah, jangan memojokkan aku. Tidak usah membahas itu. Sebaiknya kita makan sampai habis. Oh ya kamu lembur tidak?''
''Aku tidak ambil lembur.''
''Kalau begitu, kamu bisa memasak makan malam untukku dong?''
''Tentu saja. Kamu ingin makan apa?''
''Apa ya? Aku juga bingung. Terserah kamu sajalah. Seperti ini lagi juga enak. Aku tidak akan bosan.''
''Yakin?''
''Yakin lah. Ternyata kamu pintar memasak juga ya.''
''Ya begitulah. Akhirnya kamu mengakui bahwa aku hebat juga.''
''Jangan ge-er ya.''
''Tidaklah! Aku tidak mudah ge-er dengan playboy sepertimu.''
''Tenang saja. Aku bukan playboy lagi. Aku benar-benar free sekarang.''
''Oh ya apa rencanamu setelah kembali ke Shanghai?'' tanya Chika. Zidni terdiam, entah kenapa ia merasa sedih membicarakan perpisahan ini.
__ADS_1
''Aku sepertinya akan melanjutkan kuliah S2 ku di Amerika. Lag-lagi Om Miko yang menyarankan ku seperti itu. Karena Om Miko tahu kalau aku tidak pernah serius soal kuliah. Jadi dia kali ini memaksaku untuk kuliah disana. Aku akan kuliah disana selama 2 tahun, sebisa mungkin akan aku selesaikan selama 2 tahun. Setelah lulus aku akan kembali ke Shanghai dan meneruskan perusahaan. Aku sadar selama ini Om Miko yang membantu mengurus perusahaan. Om Miko terlalu banyak berkorban untukku dan keluargaku sejak Papa meninggal.''
Chika lalu menggenggam tanga Zidni. Zidni terkejut dengan apa yang Chika lakukan.
''Zidni, apapun yang terjadi di masa lalu, kamu harus belajar mengikhlaskan. Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik. Sebenarnya aku sudah tahu semuanya termasuk tentang Amora. Maafkan aku ya. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi hidup dalam belenggu dendam itu sangat menyakitkan jadi kamu harus melepasakan itu semua meskipun berat. Percayalah, kalau kamu busa melepaskan semua itu, kehidupanmu kedepannya akan lebih indah, Zidni. Belajarlah melepas semua itu sedikit demi sedikit. Apalagi kamu masih memiliki seorang Mama. Pasti Mama kamu sangat kesepian selama ini. Sayangi orang tua kamu selagi mereka masih ada Zidni. Sekalipun terkadang apa yang menurut mereka baik belum tentu baik untuk kita.''
Bukannya marah tapi apa yang di ucapkan oleh Chika membuat hati Zidni terasa sejuk.
''Terima kasih, Chika. Aku akan berusaha menjadi lebih baik.''
Dan mulai hari itu, selama satu bulan penuh, mereka melakukan apa yang di inginkan Zidni. Miko dan Gina yang sudah kembali ke Indonesia, terkejut dengan kekompakan dan kebersamaan mereka yang hampir mirip seperti sepasang kekasih. Zidni benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama Chika. Chika mulai merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya namun ia tidak bisa mengungkapkan apa itu. Chika tidak mau merasakan kecewa lagi. Siapa tahu Zidni hanya menganggapnya seperti seorang teman saja, itulah yang ada di pikiran Chika saat ini. Sementara Zidni, merasakan perasaannya pada Chika seperti terlalu dalam. Perpisahan di depan matanya, terasa sangat berat. Terlalu banyak kenangan yang mereka ukir bersama disini.
Sampai akhirnya tiba di malam perpisahan. Zidni mengajak Chika makan malam di sebuah rooftop kantor. Makan malam yang berbeda dari biasanya. Chika bahkan dibuat terkejut dengan makan malam yang di siapkan oleh Zidni. Karena makan malam itu begitu romantis, ada lampu dan lilin hanya menghiasi sekeliling. Bahkan ada sebuah buket mawar merah diatas meja makan.
''Zidni, ini apa?''
''Kamu masih saja bertanya? Ini makan malam lah.''
''Kenapa disini? Dan kamu yang menghias seperti ini?''
''Iya. Anggap saja ini malam terkahir kita karena besok aku harus kembali.'' Entah kenapa saat Zidni mengatakan itu, mata Chika mendadak menjadi berkaca-kaca.
''Baiklah, kita akhiri malam terakhir kita dengan bahagia. Sekarang aku ingin makan.'' Kata Chika yang berusaha menahan rasa sedih dan air matanya, begitu juga dengan Zidni. Keduanya lalu menikmati makan malam bersama. Namun suasana makan malam itu terasa hening dan sepi. Mereka tidak saling bicara namun makanan juga tak kunjung masuk ke dalam mulut. Keduanya merasakan sesak yang luar biasa.
''Apa harus besok?'' Chika memberanikan diri untuk bicara.
''Hah? Kenapa?'' tanya Zidni yang terkejut dengan ucapan Chika. Karena Zidni sendiri larut dalam perasaan sedihnya.
Chika menarik nafas dalam-dalam. Ia lalu beranjak dari duduknya, memarahi Zidni sambil menahan tangis. ''Iya, kenapa harus besok? Kenapa kamu tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi? Untuk apa kamu datang kalau akhirnya akan pergi? Entah kenapa aku takut berpisah denganmu, Zidni? Makanan di hadapanku bahkan sangat sulit untuk aku telan. Dasar pria sombong, angkuh, judes, ketus, semuanya yang jelek tentangmu.'' Chika tak kuasa lagi menahan air matanya. Chika akhirnya menangis.
Zidni tidak menyangka Chika akan bicara seperti itu. Zidni lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Chika. Chika membalas pelukan Zidni, seolah tidak mau berpisah.
''Aku ingin kamu tetap disini tapi aku tidak bisa mencegahmu pergi.'' Sambung Chika dengan sesenggukan.
''Aku juga tidak ingin pergi. Tapi keadaan yang harus membuatku kembali. Aku juga takut dengan perpisahan ini. Aku bahkan sangat benci hari ini.'' Air mata Zidni pun lolos begitu saja.
''Lalu, kapan kamu akan kembali?''
''Setelah aku selesai kuliah, aku akan kembali. Kita masih bisa bertukar kabar dan mengirim email. Tunggu aku kembali, Chika. Aku akan sangat merindukanmu.''
''Aku juga akan merindukanmu, Zidni. Aku akan menunggu sampai kamu kembali.''
''Chika ada satu hal yang harus kamu tahu, kalau aku mencintaimu. Maaf jika aku harus mengucapkannya di saat seperti ini.''
''Iya kamu jahat. Pengakuan cintamu sangat menyakitkan untukku Zidni. Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih.'' Ucap Chika. Zidni melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Chika dan menyeka air matanya. Zidni lalu memberikan kecupan di kening Chika. Air mata Chika kembali mengucur saat bibir Zidni menyentuh keningnya. Yang mana itu akan menjadi kecupan terakhir.
''Chika, apa kamu mau menunggu ku?'' tanya Zidni dengan menatap dalam kedua bola mata Chika.
''Iya. Aku akan menunggumu sampai kamu kembali. Sampai kapan pun, akan aku tunggu Zidni. Tapi jangan membuatku menunggu terlalu lama.''
''Iya aku janji akan secepatnya kembali. Apa kamu juga mencintaiku? Berikanlah aku jawaban, supaya aku bisa kembali dengan membawa hatimu.''
''Iya, aku juga mencintaimu. Aku akan memberikan hatiku untukmu.'' Zidni sangat bahagia mendengar jawaban Chika. Zidni kemudian meraih tengkuk Chika dan dikecupnya bibir Chika. Ciuman pertama Chika yang dimenangkan oleh Zidni. Ciuman keduanya semakin dalam dan semakin menuntut, seolah tidak ingin berakhir. Dan malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama. Menghabiskan waktu yang masih tersisa sebelum esok Zidni pergi.
__ADS_1
Bersambung.... Sampai ketemu di judul baru untuk kisah cinta Chika dan Zidni ya, tentu saja dari vote terbanyak kalian, terima kasih 🙏❤️