
Kini Kevin duduk di kursi bambu, halaman belakang sambil menyantap pisang goreng buatan Keira sampai mulutnya penuh. Ia benar-benar kesal dengan apa yang Keira lakukan.
''Aku sudah mencoba apa yang Miko katakan tapi kenapa selalu gagal? Dia kan pernah punya pacar, masa iya dia tidak peka sama sekali. Bukankah dia sudah terbiasa melayani kliennya, kenapa melayani suami sendiri selalu banyak alasan?'' gerutunya dengan mulut yang penuh pisang goreng. Keira pun mendengar semua ocehan Kevin itu.
''Apa aku keterlaluan? Tapi apa yang di katakan Mas Kevin benar. Aku bisa memenuhi keinginan klienku tapi kenapa suamiku sendiri aku tolak? Dia menyelamatkan nyawaku dan malam ini menyatakan cintanya padaku. Tapi aku sangat gugup untuk melakukan itu secepat ini.'' Gumam Keira dalam hati.
''Ayo Kei, ingat pesan Ayah. Kamu istrinya, jadi jangan malu-malu. Kamu sudah mulai mencintainya juga kan? Kenapa kamu gengsi? Tubuhnya yang berotot, membuatmu tergoda kan?'' kata Keira dalam hati yang sedang berusaha berdiskusi dengan dirinya sendiri.
Keira lalu berjalan mendekati Kevin.
''Mas, ayo masuk! Ini sudah malam.''
''Tidak! Aku mau tidur disini saja. Kamu tidur sana,'' jawabnya ketus. Kevin pun bahkan memalingkan wajahnya.
''Marah ya?'' goda Keira.
''Tidak! Aku tidak marah. Lebih baik kamu tidur. Apa Marvel sudah tidur?''
''Iya, dia sudah tidur. Aku baru saja melihatnya. Mas, lihat aku dong. Masa iya kamu memunggungi aku.''
''Aku sedang ingin melihat ke arah sana.'' Kata Kevin. Keira lalu memegang wajah Kevin dan menangkupkan kedua tangannya pada wajah Kevin.
''Mas, maaf ya.'' Kata Keira sambil menatap lekat wajah Kevin. Mata yang sendu namun indah, hidung yang mancung, alis yang tebal dan bibirnya yang merah. Terutama bibir bagian bawah Kevin yang sangat menggoda dan seksi . Tentu saja semua wanita akan terpikat dengannya. Sukses dan kaya itu sudah pasti. SEMPURNA. Itulah yang ada di benak Keira saat menatap lekat wajah Kevin. Keira lalu memberanikan diri untuk mencium bibir Kevin. Mata Kevin membulat saat Keira ******* bibirnya. Ia sangat senang namun kali ini ia berusaha untuk tenang dengan tidak membalas kecupan dari Keira. Menyadari Kevin sama sekali tidak membalas ciumannya, Keira lalu melepaskannya.
''Apa di hatimu ada pria lain, Kei? Sampai kamu menolakku?'' tanya Kevin lirih.
''Tidak ada satupun pria di hatiku saat ini kecuali kamu dan Marvel. Maaf ya, Mas. Aku akan membuka perlahan hatiku untuk kamu.'' Kevin sangat bahagia mendengar jawaban Keira.
Kevin lalu mengangkat dagu Keira dan memberikannya sebuah ciuman. Ciuman hangat yang mampu menelisik dinginnya malam yang menusuk tulang. Getaran asmara membara dalam jiwa keduanya. Naluri seorang pria yang telah lama tak bercinta, tak dapat lagi bisa untuk di bendung. Hasrat itu semakin membara dan bergejolak dalam jiwa.
Tubuh atletis Kevin mengangkat tubuh wanita yang pernah menjadi penyelamatnya itu. Dibawanya Keira ke dalam kamar, kamar yang sederhana namun disanalah api asmara itu mulai membara.
Sentuhan, kecupan dan nafas yang beradu memecah keheningan di dalam kamar. Saat tangan kekar itu mulai menyibak piyama warna merah itu, tubuh Keira terasa panas dingin. Sebuah pengalaman pertama yang menurutnya terlalu cepat untuk ia dapatkan. Kini ia berada di dalam kungkungan tubuh kekar suaminya, Keira memasrahkan seluruh tubuhnya untuk pria yang kini menjadi suaminya. Kini tidak ada lagi sebuah kontrak yang mengikat keduanya.
Malu dan canggung, itulah yang pertama kali terbesit dalam pikiran Keira. Saat melihat seorang pria berada di atas tubuhnya dalam keadaan polos, serta melihat dirinya sendiri yang tak menggunakan sehelai benangpun. Kulit mereka saling beradu dan menyatu sangat dekat.
__ADS_1
Kedua bibir itu pun saling berpagut dan enggan untuk saling melepaskan. Suara ******* dan irama nafas yang beradu, membelah kesunyian malam.
Tangan Keira mencengkeram kuat tubuh Kevin, kala pusaka itu menghentak gundukan bukit di bawah sana. Pinggul Kevin terus bergerak dengan irama yang semakin cepat. Peluh keduanya pun saling beradu. Kini rasa malu dan canggung pun hilang dalam benak Keira, kala ia mulai merasakan kenikmatan yang di berikan oleh suaminya.
Suara decapan khas percintaan mengisi ruang kamar sederhana itu. Hingga untuk beberapa saat kemudian, bastone meledak dan Kevin mengerang hebat. Begitu pula dengan Keira, tubuhnya bergetar hebat saat gairah itu telah sampai pada puncaknya. Keira merasakan lava hangat menyembur begitu kuat ke dalam peraduannya bahkan terasa berkali-kali. Kevin pun melihat bercak tanda suci yang justru membuatnya tersenyum dalam lelah. Keduanya lalu berpelukan dengan sangat erat berusaha mengatur nafas yang sudah terengah.
''Kei, terima kasih. Aku mencintaimu.'' Bisik Kevin dalam nafas terengahnya. Keira hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia sudah kehabisan tenaga melayani gairah suaminya malam itu. Keduanya pun saling tertidur berpelukan di balik selimut tanpa sehelai benangpun.
...****************...
Keesokan harinya, Keira terbangun dan membuka matanya. Terlihat sinat matahri menelusup kedalam ruang kamarnya. Ia melihat wajah tampan itu dihadapannya. Keira tersenyum, mengingat apa yang terjadi semalam.
''Kamu sudah bangun?'' suara Kevin tiba-tiba mengagetkannya. Keira yang terkejut lalu membalik tubuhnya dan memunggungi Kevin. Kevin lalu membuka matanya dan tersenyum.
''Mas, sepertinya sudah siang. Cepatlah bangun! Kamu harus ke kantor.''
''Ini kan hari Minggu.''
''Lalu Marvel?''
''Memangnya ini jam berapa?'' tanya Keira.
''Jam 11.''
''Apa? Jam 11?'' Keira sangat terkejut dan seketika ia pun terduduk.
''Iya. Lalu kapan Kak Miko kemari?''
''Sebenarnya setelah kamu tertidur, aku menelpon Miko. Aku memintanya untuk menjemput Marvel disini. Karena aku hari ini ingin menghabiskan waktu denganmu.''
''Mas tapi ini kan hari libur. Kasihan Marvel kan? Kita seharusnya yang mengajaknya untuk jalan-jalan. Tapi kenapa malah kita merepotkan Kak Miko dan Mbak Gina?'' gerutu Keira.
''Sudahlah jangan marah. Kita nikmati saja waktu kita disini. Tidurmu sepertinya sangat nyenyak sekali ya.''
''Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Setidaknya aku bisa menyiapkan sarapan untuk Marvel.''
__ADS_1
Kevin lalu menarik Keira hingga Keira terjatuh di atas tubuhnya.
''Berhentilah memikirkan Marvel sejenak. Pikirkanlah aku yang sekarang ada di hadapnmu.''
''Kalau begitu, Mas mau sarapan apa?'' tanya Keira salah tingkah.
''Aku mau kamu saja.''
''Mas tapi sakit. Seluruh tulangku terasa sangat ngilu. Kamu sangat kuat.'' Kata Keira menunduk malu.
''Tapi kamu suka kan?'' goda Kevin.
''Ah, sudahlah. Aku mau mandi.''
''Baiklah kita mandi bersama dan kita lanjtkan disana.''
''Nanti kalau ada orang bagaiamana?''
''Aku sudah menutup semua pintu rumah. Bahkan aku tidak membuka tirai rumahmu. Jadi kamu mau kita bermain dimana?''
''Mas, sudah jangan menggodaku. Aku akan menendangmu kalau kamu berani menggodaku.''
''Tendang saja kalau bisa,'' tantang Kevin. Keira lalu berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan erat Kevin. Namun Kevin justru tersenyum dan semakin suka saat Keira memberontak.
''Kenapa kamu malah tersenyum?'' tanya Keira dengan tatapan sinis.
''Kamu tidak sadar kalau kita masih dalam keadaan telanjang semalaman? Apa kamu tidak menyadari kalau ehem-ehem menempel di dadaku? Mereka saling bersentuhan atas dan bawah.''
Mendengar ucapan Kevin, Keira berhenti bergerak dan baru menyadari kalau tubuhnya sendiri memang masih dalam keadaan polos. Keira yang malu, membelit tubuhnya dengan selimut.
''Kenapa masih malu? Kita sudah sama-sama tahu kan? Rasanya keset dan rapet, kamu pintar sekali menjaganya.'' Goda Kevin dengan senyuman nakal.
''Dasar mesum!" kata Keira sambil memukul dada Kevin.
''Sakit Kei! Daripada di pukul mending di cium, iya kan?'' Kevin terus saja menggoda Keira sampai membuat Keira salah tingkah. Kevin kembali membawa Keira ke dalam selimut dan mengajaknya untuk bercumbu.
__ADS_1
Bersambung.....