Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 215


__ADS_3

‘’Nona Nadia,” sapa Keira.


“Nyonya Keira-Tuan Kevin!” seru Nadia seraya berdiri dan sedikit membungkuk.


“Anda disini juga Tuan-Nyonya?”


“Iya Nona Nadia, sekedar meluangkan waktu untuk anak dan istri,” Jawab Kevin.


“Apakah itu putra pertama anda?”


“Iya ini putra pertama kami. Sepertinya dia sudah tertidur. Dan di dalam perut ini ada anak kedua kami,” kata Kevin sambil mengusap perut istrinya.


“Wah selamat ya Tuan. Saya senang sekali mendengarnya.”


“Terima kasih.” Kata Kevin.


“Oh ya Nona sendirian saja?” sahut Keira.


“Tidak, aku bersama temanku tapi dia sedang beli minuman.” Kata Nadia.


“Oh begitu Nona, baiklah kalau begitu kami permisi ya.” Kata Keira.


“Iya silahkan, hati-hati.”


“Iya terima kasih Nona.” Jawab Keira. Baru saja Kevin dan Keira pamit, Leon pun kembali dengan dua cup kopi dan dua buah jagung rebus. Leon sangat tekejut melihat Keira ada disana berama Kevin.


“Keira!” seru Leon. Ekspresi wajah Kevin yang penuh keramahan mendadak berubah saat melihat ada Leon disana.


“Leon,’’ gumam Keira.


“Leon, kamu dan Nyonya saling mengenal?” sahut Nadia.


“Iya kami saling mengenal. Kami dulu magang bersama di sebuah panti jompo. Kamu mengenalnya juga?” Leon berbalik tanya pada Naida.


“Kebetulan Tuan Kevin dan Nyonya Keira adalah klienku.”


“Oh begitu ceritanya.”


“Nona Nadia apakah dia teman yang kamu maksud?” tanya Kevin.


“Iya Tuan.’’


“Kalian cocok sekali, semoga kalian bisa bersama ya. Sama-sama single kan?” kata Kevin. Leon dan Nadia saling melempar pandangan.


“Kami hanya teman saja, Tuan.” Kata Nadia.

__ADS_1


“Pacar juga tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu selamat bersenang-senang.” Ucap Kevin seraya berlalu namu Keira menghentikan langkahnya.


“Ada apa sayang?” tanya Kevin.


“Aku mau jagung yang di bawa Leon.” Rengek Keira sambil sedari tadi melihat jagung yang di bawa Leon.


“Iya nanti aku belikan sayang.”


‘’Kei, ambil saja, kebetulan jagungnya juga tinggal ini. Aku bisa berbagi dengan Nadia.” Kata Leon sambil memberikan satu jagungnya untuk Keira. Keira kemudian menerima dengan senang hati.


“Terima kasih ya Leon. Ummm, sepertinya aroma kopinya juga harum. Apa aku boleh memintanya?”


“Kei, sayang, nanti aku belikan kenapa malah minta punya-nya Leon?” kata Kevin dengan ketus.


“Tidak apa-apa Tuan, namanya juga Ibu hamil jadi wajar kalau keinginannya itu aneh-aneh.” Sahut Leon.


“Halah, kamu saja belum menikah dan punya istri, jangan sok tahu kamu,” ketus Kevin. Leon tersenyum tipis mendengar ucapan Kevin yang sepertinya penuh rasa cemburu.


“Ini untukmu, Kei. Kebetulan abang penjual kopinya sudah pulang karena habis.” Kata Leon sambil memberikan kopi itu pada Keira.


“Wah, terima kasih ya Leon, kamu memang selalu baik. Maaf ya kalau aku malah mengganggu waktumu dan Nona Nadia.”


“Tidak apa-apa, Kei. Aku senang bisa membantumu.” Yang membuat Kevin marah adalah tatapan mata Leon yang begitu dalam dan hangat pada Keira.


“Ya sudah Mas, sekarang kita pulang. Aku makan dan minumnya di mobil saja.”


“Sepertinya aku tahu sesuatu,” tebak Nadia.


“Tahu apa Nadia? Sebaiknya kita makan jagung dan minum kopi ini berdua, supaya romantis,” gurau Leon sambil memberikan kopi itu untuk Nadia.


“Aku tahu siapa wanita itu,” ucap Nadia. Leon lalu tersenyum sambil membagi jagung itu menjadi dua dan memberikan satu bagian pada Nadia. Leon kemudain memakan jagung itu tanpa mau menjawab apa yang sedang Nadia katakan.


“Kenapa tidak menjawab? Pasti dugaan ku benar kan kalau Nyonya Keira adalah wanita itu. Bagi seorang jaksa sangat mudah mengetahui dan membaca sebuah kebohongan ataupun kejujuran.” Ucap Nadia sambil menyeruput kopi.


“Rupanya meskipun kita baru mengenal, kamu sudah bisa membaca diriku,” kata Leon tersenyum samar.


“Sorot mata mu saat menatapnya tidak bisa di bohongi, Leon. Terlebih sikap Tuan Kevin, sorot mata dan nada bicaranya menunjukkan kecemburuan yang besar padamu. Apakah Tuan Kevin juga tahu tentang ini?”


“Ini memang kisah cinta segitiga yang complicated sekali. Hanya saja aku tidak mau merusak kebahagiaan Keira. Mereka sudah saling mencintai, bahagia apalagi dengan adanya benih cinta mereka berdua di dalam rahim Keira.”


“Mereka kan sudah bahagia jadi kamu juga harus bahagia, Leon. Tutup cerita lama mu dan buka lembaran baru. Kamu pasti juga akan mendapatkan yang terbaik.”


“Iya Nadia, terima kasih. Ucapanmu membuatku seperti seorang pria yang bernasib sangat malang,” ucapnya sambil tersenyum.


“Bukankah memang begitu?” gurau Nadia. Keduanya kemudian saling tertawa.

__ADS_1


 


-


“Ummm jagungnya enak lho Mas, manis. Terus kopinya juga enak, perpaduan gula dan kopinya juga sangat pas.” Kata Keira sambil terus mengunyah.


“Bukan Leon kan, yang membuat jagung itu manis?” sindiri Kevin.


“Ya ampun, ya tidaklah Mas. Kamu coba saja sendiri.”


“Kenapa sih tadi pas kita baru sampai kamu tidak bilang kalau ingin jagung dan kopi?”


“Maaf Mas, habis pinginnya mendadak.”


“Dan kenapa harus Leon?”


“Lah memang ketemunya Leon, pertemuan juga tidak di rencana kan Mas? Aku berani minta karena Leon temanku, kalau Leon orang lain dan bukan temanku, aku juga tidak akan memintanya. Sudahlah Mas, masalah jagung sdan kopi saja menjadi masalah. Kamu jangan cemburu berlebihan. Leon juga tadi bersama dengan Nona Nadia, semoga doa kamu terkabul supaya Nona Nadia dan Leon bersatu, supaya kamu tidak cemburui lagi seperti itu.”


Kevin hanya menghela nafas panjangnya, berusaha untuk tidak terpancing dengan perasaan cemburunya yang menggebu.


-


“Dimana Mas Kevin?” gumam Keira saat ia baru terbangun dari tidurnya. Ia lalu melihat kearah jam dinding dan menunjukkan pukul 7 pagi. Keira segera beranjak dari tempat tidur dan segera turun ke bawah.


“Bi, Tuan dan Den Marvel sudah pergi ya?” tanya Keira pada Bi Nani yang sedang membereskan sisa sarapan Kevin dan Marvel.


“Iya Nyonya. Sudah sepulu menit yang lalu. Kata Tuan, Nyonya nyenyak sekali tidurnya jadi Tuan sengaja tidak membangunkan Nyonya. Tuan juga sudah menyiapkan susu dan vitamin untuk anda di kulkas.” Jelas Bi Nani.


“Ya sudah Bi, tolong ambilkan sekalian saya mau sarapan,” kata Keira seraya duduk di ruang makan.


“Baik Nyonya.”


“Aduh, kenapa kepala aku jadi pusing gini ya. Perut mual lagi, aduh kayaknya aku mau muntah deh.” Gumam Keira. Keira kemudain segera menuju kamar mandi yang tidak jauh dari dapur. Bi Nani sangat panic saat mendengar Keira muntah-muntah di dalam kamar mandi. Bi Nani kemudian segera menuju kamar madni menyusul Keira. Saat melihat pintu terbuka, Bi Nani langsung masuk begitu saja.


“Nyonya tidak apa-apa kan?” kata Bi Nani sambil mengusap punggung Keira. Keira tidak menjawab karena tubuhnya sudah terasa lemas.


“Bi tolong antar ke kamar ya?”


“Iya Nyonya.” Bi Nani, kemudian memapah Keira dan membawanya ke kamar.


“Surti, tolong bawakan sarapan, susu dan vitamin untuk Nyonya ke kamar ya.” Pinta Bi Nani saat melihat Bi Surti yang baru saja masuk ke dapur.


“Iya Bi Nani. Nyonya baik-baik saja kan Bi?” tanya Bi Surti  pembantu baru di rumah Kevin yang juga ikut khawatir.


“Nyonya lemas habis muntah. Aku bawa NYonya ke kamar dulu.”

__ADS_1


“Iya Bi.”


__ADS_2