
Di rumahnya, Kevin masih sibuk di ruang kerjanya. Namun tiba-tiba suara Marvel mengagetkannya.
"Papa." Marvel kemudian berjalan mendekat ke arah papanya.
"Marvel, kamu belum tidur?"
"Aku terbangun, Pah."
"Terbangun? Memangnya apa yang membuat kamu terbangun?''
''Aku mimpi, Pah.''
''Memangnya mimpi apa?''
''Mimpi yang sangat indah sekali. Aku mimpi Papa dan Mama Keira menikah terus aku dapat adik perempuan yang sangat cantik sekali. Sepertinya aku sudah tidak sabar kalau Papa dan Mama menikah.''
''Hmmmm apa bisa ekspetasi Marvel menjadi kenyataan? Sementara saat ini yang aku lakukan adalah untuk menjaga nama baik perusahaanku,'' batin Kevin.
''Ya semoga mimpi kamu jadi kenyataan ya. Sekarang kamu lebih baik tidur, besok Papa akan mengurus kepindahan kamu di sekolah baru.''
''Papa serius ingin aku pindah sekolah?''
''Iya. Besok kita pindah di sekolah milik keluarga istrinya Om Dokter. Apa kamu setuju?''
''Setuju, Pah. Papa juga istirahat ya, sekali lagi maafkan semua keributan yang aku buat ya, Pah.''
''Kamu tidak usah minta maaf, kamu juga pasti senang kan karena akhirnya keinginan kamu akan terkabul.''
''Hehehe iya juga sih Pah. Tapi aku tidak menyangka ini bisa berpengaruh pada pekerjaan Papa.''
''Ya sudah lah mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Sudah kembalilah ke kamarmu.''
''Oke Pah, muah.'' Ucap Marvel sembari memberikan kecupan di pipi papanya. Marvel lalu segera kembali ke kamarnya.
-
Keesokan harinya seperti biasa Keira menyiapkan sarapan untuk Ayahnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
''Marvel-Tuan Kevin," ucap Keira yang terkejut dengan kedatangan Marvel dan juga Kevin pagi itu.
''Pagi Mah! Aku kesini ingin kita sarapan pagi sama-sama.''
''Memangnya Bibi libur?''
''Tidak Mah, aku yang memaksa kemari.''
''Maaf ya, Kei. Marvel memaksaku kemari dan aku tidak bisa menolaknya. Karena sekarang aku berusaha memprioritaskan apa yang membuatnya bahagia.''
''Baguslah kalau Tuan sadar, silahkan masuk.'' Kata Keira dengan sedikit ketus.
Pagi itu akhirnya Keira sarapan bersama dengan Kevin, Marvel dan juga Pak Ammar.
''Maaf Ayah kalau kami merepotkan. Karena Marvel yang memaksa datang kemari.'' Kata Kevin sambil menikmati sarapan buatan Keira.
''Tidak apa-apa, Ayah justru senang karena ada kalian. Biasanya ada Kenny tapi sekarang ada kalian disini.''
''Mah, kita berangkat bersama ya? Mama ke panti lagi kan?''
''Iya. Soalnya tahap renovasi kemarin belum selesai semua.''
__ADS_1
''Aku akan menjadi donatur dengan merenovasi panti jompo itu. Nanti aku akan menyurvenya,'' sahut Kevin.
''Tu... tuan serius?'' kata Keira dengan mata berbinar.
''Iya aku serius.''
''Terima kasih, Tuan. Aku senang sekali mendengarnya akhirnya ada donatur baru selain Leon.''
''Memangnya cowok itu saja yang bisa, aku juga bisa,'' gumam Kevin dalam hati.
''Kebetulan Miko itu seorang arsitek yang handal jadi sudah pasti tidak di ragukan lagi kemampuannya. Nanti kita berangkat bersama ke panti untuk menemui pengurus panti jompo itu.''
''Oh jadi Kak Miko itu arsitek, keren juga ya.'' Kata Keira.
''Kalau boleh tahu Leon itu siapa nak?'' tanya Pak Ammar.
''Dia teman magang Keira, Yah. Dia lulusan luar negeri, sebenarnya dia itu kuliah jurusan bisnis tapi ya begitu dia suka sesuatu yang beda apalagi sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan. Kei kagum saja sama dia soalnya masih muda tapi mau ikut mengurus panti jompo. Apalagi di jaman sekarang gitu, kenapa tidak memilih kegiatan yang lain? kan masih banyak kegiatan yang anak muda banget gitu.''
Mendengar Keira membanggakan Leon, entah kenapa Kevin merasa sangat kesal.
''Iya juga sih, memang semua hati yang menggerakkan, Nak. Syukurlah kamu disana ada temannya juga. Tapi besok kamu jadi datang ke pertunangan Ferdi?''
''Iya, aku akan datang. Aku akan mengembalikan kalung itu nanti. Aku ingin menyelesaikan semuanya supaya tidak terjadi salah paham lagi.''
''Iya kamu benar apalagi kamu dan Nak Kevin akan menikah.''
''Kalau begitu nanti kita datang bersama saja,'' sahut Kevin.
''Nak Kevin di undang juga?''
''Iya Ayah, saya juga di undang. Kebetulan dia wakil Direktur di perusahaan Handoko Grup.''
''Kei, kenapa kamu menolak ajakan Nak Kevin? Kalian kan sebentar lagi menikah. Kasihan juga Nak Kevin mendapat pemberitaan buruk yang seperti itu. Menyukai sesama jenis. Seharusnya kamu juga membantu Nak Kevin karena dia juga sudah membantu kamu. Siapa tahu dengan kedatangan kalian akan menepis berita buruk itu.'' Kata Pak Ammar yang berusaha membujuk Keira. Keira tidak bisa perintah Ayahnya.
''Baiklah Ayah.'' Jawab Keira pasrah.
''Sepertinya Keira sangat menyayangi Ayahnya bahkan dia tidak bisa membantah ucapan Ayahnya,'' kata Kevin dalam hati.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, bersama dengan Keira, Kevin menuju sekolah baru Marvel. Ketiganya berjalan sembari menuju ruang kepala sekolah. Sekolah itu tentu saja lebih luas dan besar dari sekolah Marvel sebelumnya.
''Tuan jadi ini sekolah baru Marvel?''
''Iya. Dan nanti setelah lulus kuliah, kamu bisa bekerja disini. Sekaligus kamu bisa menemani Marvel. Sekolah ini milik keluarga dari istri Alan, Dokter yang merawatku beberapa waktu lalu,'' jelas Kevin.
''Tidak seharusnya Tuan melakukan semua ini untukku.''
''Supaya setelah menikah nanti, kamu tetap bisa mengerjakan apa yang menjadi cita-cita kamu.''
''Bisa baik juga dia. Kalau kalem gini kan nyenengin tapi kalau judesnya muncul, sumpah pingin nimpuk,'' gumam Keira dalam hati.
Setelah menuju ruang kepalas sekolah untuk menyelesaikan administrasi, Keira dan Kevin kompak mengantarkan Marvel menuju kelasnya. Namun sebelum masuk ke dalam kelas, Keira memberikan pijakan pada Marvel. Keira kemudian berlutut dan memegang kedua pundak Marvel.
''Marvel, semoga di sekolah baru kamu ini, kamu bisa mudah mendapatkan teman ya. Tentunya kamu harus belajar membuka diri. Ingat pesan Mama kalau kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi kalau memang kamu di ganggu terlebih dahulu, kamu boleh memukulnya, hehehe,'' ucap Keira seraya tertawa.
''Iya Mah, aku mengerti kok maksud Mama. Aku masuk dulu ya, Mah.'' Marvel kemudian memberikan pelukan serta ciuman di kedua pipi Keira. Muncul rasa bahagia di dalam lubuk hati Kevin saat melihat Keira yang terlihat tulus pada Marvel.
''Pah, aku masuk dulu ya. Papa dan Mama yang akur ya,'' kata Marvel dengan senyum lebarnya.
''Baiklah, tergantung ya kalau masalah akur atau tidak. Sudah masuk sana, jadi anak pintar kebanggaan Papa ya.''
__ADS_1
''Pasti Pah.'' Marvel juga memberikan pelukan pada Papanya dan setelah itu Marvel masuk ke dalam kelasnya.
-
Selama perjalanan menuju panti keduanya terdiam, suasana hening di dalam mobil.
Hening...
Hening...
Hening...
Tiba-tiba ponsel Keira berbunyi, panggilan masuk dari Leon.
''Halo Kei, kamu dimana?''
''Halo juga Leon. Aku lagi di jalan mau ke panti. Ada apa?''
Mendengar nama Leon dari bibir Keira, seketika membuat ekspresi wajah Kevin berubah kesal. Namun ia tetap berusaha menutupinya.
''Tidak ada apa-apa, aku menunggumu di panti. Aku tidak jadi absen hari ini.''
''Memangnya kenapa? Bukannya kamu mau membantu mempersiapkan pesta pertunangan adik kamu?''
''Iya sih tapi panti ini dan kamu lebih penting. Aku akan menyempatkan untuk mengecek tukang hari ini.''
''Hehehehe, kamu ini bisa saja Leon. Aku sebentar lagi sampai dan aku ada kabar baik untuk kamu.''
''Kabar apa Kei?''
''Kabar kalau kita akan mendapat donatur baru.''
''Sungguh? aku sangat senang sekali mendengarnya. Akhirnya ada orang yang tergerak hatinya.''
''Iya aku juga senang sekali. Semangat dan niat baik yang kamu tularkan itu benar-benar berpengaruh sama aku. Aku juga ikut semangat bahkan sangat semangat untuk melakukan hal baik. Aku belajar banyak dari kamu, Le.''
''Sama. Aku juga banyak belajar dari kamu. Oh ya Kei, rumah kamu dimana? Aku selalu lupa bertanya. Kapan-kapan aku boleh kan main ke rumah?''
''Iya kamu boleh kok ke rumah. Aku kirim alamatnya lewat pesan saja ya.''
''Ya udah kalau gitu kamu hati-hati dan sampai ketemu.''
''Iya Le, sampai ketemu juga.'' Panggilan pun berakhir dengan senyum lebar dari bibir Keira.
''Sebaiknya kurangi sikap ramah mu dengan lawan jenis,'' celetuk Kevin tiba-tiba.
''Memangnya kenapa? Apa hubungannya dengan Tuan?''
''Ya adalah! Kita ini mau menikah dan kita sedang di sorot media jadi sebaiknya kamu jaga sikapmu itu. Kamu menjadi istriku itu juga tidak gratis ya. Aku membayarmu! Jadi kamu harus menuruti semua perintahku. Atau aku akan mengatakannya pada Ayahmu.''
''Terus saja mengancam!''
''Siapa yang mengancam? Aku sungguh-sungguh. Makanya jaga sikap jangan kecentilan.''
''Siapa juga yang kecentilan? Masa ngobrol seperti itu saja kecentilan? Masa iya aku harus marah-marah?''
''Sudah diam! Jangan membantah!" kata Kevin dengan kesal sambil menambah kembali kecepatan mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1