
Di malam yang sama, Keira tampak sedang melamun di teras balkon kamarnya. Ia sedang memikirkan orang-orang yang di kenalnya, untuk ia rekomendasikan bekerja di butik Gina. Namun tiba-tiba sepasang tangan sudah melingkar di pinggangnya.
''Kamu sedang memikirkan apa sayang?'' sapa Kevin sambil memberikan kecupan di tengkuk Keira. Keira bergidik menahan geli karena sentuhan suaminya itu.
''Eh Mas, kamu membuatku terkejut saja. Di tambah geli juga sih, hehehe. Ini lho Mbak Gina minta bantuan untuk mencari karyawan yang bisa acounting. Karena salah satu karyawannya ada yang keluar. Jadinya aku bingung harus merekomendasikan siapa. Aku juga tidak mau salah pilih lah, Mas. Selain berkompeten, orangnya harus benar-benar jujur dan bisa di percaya."
''Oh itu rupanya yang mengganggu pikiranmu. Sepertinya akhir-akhir ini kita selalu disibukkan dengan masalah orang lain ya. Tapi memangnya tadi kamu habis ke rumah Gina?''
''Tidak Mas. Tadi habis jemput Marvel, aku mampir ke butiknya Mbak Gina sekalian bawain Mbak Gina rujak. Kebetulan Mbak Gina pas lagi pingin dan katanya Mas Miko sedang keluar kota jadi tadi sore aku baru pulang sekalian temenin Mbak Gina.''
''Kenapa kamu tidak coba tanya Johan atau Laras gitu? Siapa tahu mereka punya saudara atau tetangga. Kalau rekomendasi dari orang terdekat sudah di pasti kita tahu orangnya seperti apa.''
''Benar juga ya Mas ide kamu. Ya sudah aku ambil ponsel dulu ya. Aku akan menelepon Laras dan juga Johan.''
''Iya sayang.''
Keira lalu masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Ia langsung memencet nomor Laras. Tersambung tapi tidak di angkat. Berkali-kali Keira mencobanya namun tidak ada jawaban. Tentu saja Keira tidak akan mendapat jawaban karena Laras dan Krisna sedang sibuk bercinta. Keduanya kompak menyalakan mode silent. Terlebih Laras, memasukkan ponselnya ke dalam laci. Saat bercinta seperti itu, Laras sungguh tidak ingin di ganggu. Jadi Laras dan Krisna sepakat mengaktifkan mode silent ketika mereka sedang bercinta.
''Apa sudah tidur ya? Tapi ini juga baru jam 9 lebih,'' gumam Keira.
''Coba telepon Johan saja kalau begitu.'' Ucapnya lagi. Johan sendiri masih sibuk beberes di kamarnya, mendengar ponselnya berdering, Johan pun segera mengangkatnya.
''Halo Kei, ada apa?''
''Halo juga, Jo. Sorry ya malam-malam ganggu. Gue mau tanya punya rekomendasi saudara, teman atau tetangga yang bisa accounting nggak?''
__ADS_1
''Emangnya kenapa Kei?''
''Ini elo tahu kan produk brand terkenal Gina's?''
''Iya tahu lah. Cabangnya udah dimana-dimana. Emangnya kenapa?''
''Kebetulan pemiliknya adalah istri Kak Miko, adik sepupunya Mas Kevin. Nah Mbak Gina ini butuh karyawan lagi tapi yang bisa accounting. Tentunya yang berkompeten ya, Jo. Apalagi untuk adiknya Mas Kevin.''
''Oh gitu, sebentar gue pikir dulu ya. Siapa tahu ada yang nyangkut di kepala gue.'' Kata Johan. Johan terdiam dan berpikir sejenak, mengingat siapa yang pantas untuk ia rekomendasikan. Namun tiba-tiba nama Tessa terlintas di benaknya. Mengingat dulu Tessa pernah kuliah acounting juga.
''Gue udah ketemu, Kei.''
''Siapa Jo?''
''Gimana ya? Sumpah gue nggak enak sih. Kesannya gue ini maruk dan memanfaatkan situasi.''
''Orang itu Tessa, Kei. Gue nggak enak soalnya gue kerja juga berkat elo. Sekarang eh Tessa juga, kesannya benalu banget hidup gue.''
''Oh iya ya dulu kan Mbak Tessa kuliah acounting juga. Eh tapi kenapa elo ijinin kerja Jo? Terus Anrez gimana?'' tanya Keira kemudian berjalan menuju balkon menyusul suaminya yang sedang duduk santai disana.
''Sudah ketemu orangnya?'' tanya Kevin tanpa bersuara. Keira mengangguk lalu meloudspeaker obrolannya dengan Johan.
Johan menghela. ''Tessa kekeh pingin kerja, Kei. Saat tahu cicilan rumah, dia nggak tega kalau cuma diam aja. Gue sebenarnya malu kalau harus merepotkan keluarga Tuan Kevin. Gue udah larang Tessa tapi dia tetep pingin kerja. Yang jelas kerjanya pulangnya sore gitu lah Kei. Part time pun tidak masalah. Dia ingin memanfaatkan tenggang waktu angsuran selama satu tahun untuk menabung. Supaya angsuran cepat selesai. Tessa berpikir kalau gue sama dia sama-sama punya pemasukkan, cicilan juga akan cepat selesai. Kita juga nggak enak lah sama suami elo. Dimana-dimana nggak ada lho kepercayaan buat kasih tenggang waktu cicilan selama satu tahun. Jadi Tessa ingin memanfaatkan waktu itu. Ya udah apa boleh buat akhirnya gue setuju. Rencananya dia besok mau cari kerja. Padahal gue udah siap tanggung jawab lahir batin lho, Kei.''
''Oh jadi gitu, ya udah kalau gitu besok Mbak Tessa suruh ke butiknya Mbak Gina aja. Besok jam 10 gue tunggu disana. Kalau Mbak Tessa, sudah pasti recomended banget, Jo. Secara Mbak Tessa kan emang pinter.''
__ADS_1
''Iya deh gue coba kasih tahu Tessa ya. Sekali lagi thanks banget ya, Kei. Gue nggak tahu harus bilang apa dan lakuin apa untuk balas semua kebaikan elo dan Tuan Kevin. Selama ini prasangka buruk elo sama dia berubah kan? Dulu elo ngatain Tuan Kevin si duda bawel lah, kepala batu lah, menyebalkan lah apalah. Sampai gue dan Laras terhasut ikutan sebel tapi nyatanya Tuan Kevin sangat baik.'' Mendengar ocehan Johan, Keira hanya bisa meringis di hadapan suaminya yang matanya sudah melotot menatap tajam kearah Keira.
''Hehehe ya sudah Jo kalau gitu thanks ya. Jangan lupa kasih tahu Mbak Tessa secepatnya. Oke bye.'' Keira buru-buru mengakhiri panggilannya.
''Oh-oh ternyata kamu dulu hobi sekali bergosip tentangku ya, Kei?''
''Hehehe bukan bergosip sih, Mas. Tapi itu memang kenyataan. Itu kan dulu, Mas. Kalau sekarang kamu adalah suamiku yang paling tampan dan paling baik sedunia. Tidak ada duanya lah pokoknya.'' Keira mencoba merayu suaminya supaya suaminya tidak marah padanya karena ia ketahuan menggibah.
Kevin lalu menggeser tubuh Keira, mengangkat tubuh Keira dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
''Mas, kamu mau apa?''
''Mau gigit kamu. Katanya aku galak?''
''Jangan dong, Mas. Ihh itukan dulu.'' Ucap Keira terkekeh.
''Dasar kamu ya, sekarang kamu memujiku setinggi langit. Tapi dulu menghinaku seperti butiran debu.''
''Hehehe maaf Mas. Dulu kamu memang menyebalkan tapi sekarang kamu sangat menyenangkan.''
Kevin yang gemas, mengecup bibir Keira bertubi-tubi.
''Itu hukuman untuk bibir yang suka bergosip.'' Ucap Kevin.
''Mau lagi dong Mas kalau hukumannya seperti itu.'' Ucap Keira. Keira lalu memonyongkan bibir di hadapan suaminya. Tanpa banyak bicara Kevin langsung melahapnya. Membuat aksi ciuman mereka semakin dalam dan menuntun. Hukuman itupun berlanjut dan berakhir diatas ranjang.
__ADS_1
Bersambung....