Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 312 EXTRA PART 2


__ADS_3

Saat jam pulang sekolah, Marvel dan Anrez pergi ke toko buku terlebih dahulu. Marvel pergi diantar supirnya.


''Vel, kamu mau cari buku apa sih?''


''Tentang psikologi, Rez.''


''Psikologi? Buku apa itu? Bukankah itu tidak ada di mapel ya?''


''Ya memang tidak ada. Tapi aku sangat menyukai itu. Aku tertarik mempelajari itu.''


''Ah aku tidak paham.'' Kata Anrez sambil menggaruk kepalanya.


''Ya sudahlah, kamu tidak perlu memahaminya. Lebih baik, kamu ambil buku yang kamu inginkan nanti aku yang membayarnya.''


''Serius nih?''


''Iyalah. Sejak kapan aku berbohong?''


''Hehehe terima kasih ya.''


''Ya sudah, aku kesana dulu.''


''Oke.''


Bukan hanya buku tentang psikologi saja yang Marvel butuhkan tapi banyak sekali. Ia begitu suka membaca dan menggambar sejak kecil. Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang.


''Luna!" gumamnya saat melihat Luna dari kejauhan. Marvel kemudian menghampiri Luna yang cukup jauh darinya. Namun saat sudah sampai ditempat Luna berdiri tadi, Luna sudah tidak ada. Marvel kemudian berlari keluar mengejar Luna. Namun Luna begitu cepat menghilang dari pandangannya.


''Luna, kemana kamu? Kenapa kamu cepat sekali menghilang. Aku hanya ingin bertegur sapa denganmu saja.'' Gumam Marvel dengan putus asa. Marvel kemudian kembali ke dalam dengan wajah lesunya.


''Marvel, ada apa? Tadi aku melihatmu berlari keluar,'' tanya Anrez.


''Tadi aku seperti melihat Luna. Tapi saat aku kejar dia sudah menghilang.''


''Astaga Marvel, sepertinya otakmu sudah di penuhi oleh Luna, Luna dan Luna.''


''Apa sih, Rez? Namanya juga teman. Kamu tahu sendiri kan aku termasuk susah berteman. Temanku hanya kamu dan Luna saja.''


''Bukannya susah berteman, kamu saja yang menolaknya. Padahal murid perempuan banyak sekali yang ingin berteman denganmu.''


''Ah sudahlah lupakan! Kamu sudah selesai belum?''


''Sudah, aku sudah mendapatkan buku yang aku mau.''


''Baiklah, aku akan membayarnya dulu.''


''Oke. Terima kasih ya, Vel.''


''Iya sama-sama.''


Malam harinya, di kamar, Marvel sedang membaca kembali isi surat dari Luna sebelum Luna pindah.


''Sebenarnya, kamu ini kenapa ya? Sejak pertama bertemu bahkan sampai kamu pergi lagi, kamu tidak pernah bicara apapun padaku.'' Gumam Marvel. Tiba-tiba suara Keira mengagetkannya.


''Marvel, kok belum tidur?''


''Hei Mah. Iya masih belum ngantuk.''


''Memangnya kamu sedang sibuk apa sih?''


''Ini Mah, baca surat dari Luna. Tadi saat pergi ke toko buku dengan Anrez, aku seperti melihat Luna, Mah. Tapi saat aku kejar, eh dia ngilang gitu aja.''


''Mama juga heran sih. Karena Mama sekali tidak pernah melihat orang tuanya. Beberapa kali Mama lihat, dia selalu di antar jemput oleh supirnya saja.''

__ADS_1


''Apa dia tidak bicara sesuatu pada Mama?''


''Tidak ada. Hanya ucapan terima kasih dan pelukan saja. Sama dia menitipkan surat dan gantungan tas itu. Memangnya kenapa sih? Kamu sepertinya penasaran sekali.''


''Seharusnya anak seusia dia kan ceria dan banyak teman Mah. Tapi dia selalu murung dan selalu menyendiri. Karena aku sudah pernah mengalami hal itu jadi aku hanya ingin dia berbagi cerita saja, Mah.''


''Percaya deh sama Mama. Suatu saat kalian pasti akan bertemu lagi. Sebaiknya kamu tidur dan persiapkan fisik kamu untuk babak penyesihian pertandinganmu besok.''


''Iya Mah. Terima kasih ya Mah, selalu membuatku tenang.''


''Sama sayang. Good night.'' Ucap Keira mengecup kening Marvel.


''Good night juga Mah.''


...****************...


Hari ini Marvel sedang mempersiapkan pertandingan taekwondonya. Keira dan Kevin sebagai orang tua selalu kompak mendampingi putranya. Tak lupa Keira juga mengajak Rachel dan Arzel. Keira tidak tega jika harus meninggalkan Rachel dan Arzel dirumah, sekalipun ada Mbak Rima.


''Semangat ya Kakak Marvel! Jangan lupa berdoa dulu.'' Pesan Keira pada putra sulungnya.


''Iya Mah.''


''Marvel, tunjukkan kemampuanmu. Papa dan Mama disini mendukungmu.'' Sahut Kevin.


''Siap Pah!" jawab Marvel dengan semangat.


Setelah berhasil mengalahkan beberapa musuhnya, Marvel pun akhirnya berhasil masuk final. Namun babak final itu akan di gelar minggu depan.


''Yeay, selamat anak Mama! Akhirnya kamu berhasil masuk final.'' Ucap Keira sembari memberikan pelukan pada putranya.


''Papa bangga sekali padamu, Marvel.'' Sahut Kevin yang juga memberikan pelukan pada putranya.


''Semua ini berkat dukungan Papa dan Mama.''


''Iya Mah.''


''Baiklah untuk merayakan keberhasilan kamu menuju final, apa yang kamu inginkan Marvel? Papa akan mengabulakannya.'' Ucap Kevin.


''Pah, aku ingin berbagi di sekolah yayasan milik Mama. Papa bisakan membawa food truck kesana?Aku ingin mereka bisa memakan apa saja yang mereka inginkan atau bahkan belum pernah mereka makan.''


''Oke baiklah. Kamu ingin bawa makanan apa kesana?''


''Pasti mereka suka ayam krispi Pah. Pokoknya makanan yang disukai anak-anak disana. Boleh kan Pah?''


''Tentu saja boleh. Baiklah Papa akan mengurusnya.''


''Kalau begitu sekalian kita makan disana bersama mereka ya, Pah.''


''Siap Kakak Marvel.''


Dan hari itu Marvel merayakan kemenangan menuju finalnya bersama mereka, para anak yatim piatu yang tergabung disekolah gratis milik Keira. Keira bangga karena Marvel mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Begitu juga dengan Kevin, merasa bersyukur memiliki seorang anak yang peduli terhadap sesama.


Begitu sampai rumah, Marvel pun langsung tertidur. Karena ia begitu kelelahan.


''Kasihan Marvel, Mas. Sampai tidak sempat mandi karena saking capeknya. Tapi aku bangga dia bisa menyisihkan semua lawannya.''


''Itu juga berkat kamu sayang karena kamu sudah mendidik anak-anak kita dengan baik.''


''Berkat kamu juga kok, Mas. Ya sudah kita ke kamar yuk!''


''Papa-Mama, Rachel tidur bersama Papa dan Mama ya. Sama adik juga, kita tidur berempat.''


''Boleh saja.''

__ADS_1


''Bacakan dongeng ya, Pah.''


''Siap Tuan putri.'' Jawab Marvel.


''Tapi Kakak Rachel juga harus ganti baju dulu ya.''


''Iya Mama tapi aku maunya ditemain Papa.''


''Pah, tuh anak perempuannya sedang ingin di manja. Aku bawa Arzel dikamar dulu ya, biar dia tidur sekalian.''


''Iya sayang.'' Jawab Kevin.


Keira pun sudah berada di kamarnya. Ia menidurkan Arzel yang sedari tadi sudah rewel. Dari ketiga anaknya, Arzel lah yang paling rewel, mungkin karena Arzel anak bungsu jadi dia merasa paling kecil sendiri.


''Mama, aku nanti mau seperti Kakak Marvel.'' Kata Arzel dengan bicaranya yang belum sepenuhnya jelas.


''Kenapa kamu ingin seperti Kakak Marvel?''


''Karena Kakak Marvel hebat dan berani. Tapi tadi Kakak berantem ya Mah?''


''Bukan sayang, tadi Kakak bertanding dengan temannya. Mereka tetap berteman, itu hanya lomba.''


''Lomba? Apa itu lomba Mah?''


''Apa ya? Mmmm seperti kalau kamu dan Kakak Rachel berenang. Biasanya siapa yang menang?''


''Kakak Rachel, aku masih kecil. Kakak sudah besar.''


''Iya itu artinya sayang. Seperti itulah lomba.''


''Oh berarti itu lomba ya, Mama.''


''Iya sayang. Sudah, kamu tidur ya.''


''Mama aku mau susu di dot ya.''


''Aduh, kok di dot? Kan sudah mau sekolah, masa iya mau dot.'' Kata Keira. Ya, karena selisih usia Rachel dan Arzel hanya satu tahun saja.


''Pokoknya pakai dot Mama.''


''Oke baiklah. Tapi kamu harus lebih sering minum di gelas ya. Katanya mau hebat seperti Kakak Marvel. Kalau mau seperti Kakak Marvel, minumnya di gelas. Masa iya jagoan minumnya masih pakai dot.''


''Mmmm baiklah, aku minumnya di gelas saja Mama. Aku mau jadi jagoan!"


''Tapi jagoannya yang baik hati ya, yang suka menolong orang.''


''Iya Mama.''


''Kamu tunggu disini ya. Mama buatkan susu dulu, sebentar lagi Papa dan Kakak Rachel juga ke kamar.''


''Iya Mama.'' Keira kemudian keluar kamar dan menuju ke dapur. Tak lama kemudian Kevin ke kamar bersama Rachel.


''Belum tidur jagoan kecil Papa?''


''Belum Papa. Aku mau minum susu dulu.'' Kata Arzel.


''Pasti minum susunya pakai dor iya kan? Masa iya sudah besar minum pakai dot?'' Ledek Rachel.


''Tidak Kak! Aku minumnya langsung dari gelas. Aku mau hebat seperti Kaka Marvel.''


''Wah, hebat ya jagoan kecil Papa. Ya sudah, kalian disini dulu ya. Papa kekamar mandi sebentar. Kak Rachel, jagain adiknya.''


''Iya Papa.'' Jawab Rachel. Rachel dan Arzel tidak pernah akur. Mereka selalu saja bertengkar dan saling usil. Baru juga ditinggal belum lima menit, mereka sudah rebutan mainan. Rachel begitu senang menggoda Arzel, sementara Arzel sangat kesal kalau diganggu apalagi mainannya di rebut oleh Rachel. Karena perbedaan usia yang tidak jauh justru membuat Rachel dan Arzel selalu bertengkar. Dan tak jarang Keira juga Kevin dibuat pusing oleh mereka berdua.

__ADS_1


EXTRA.....


__ADS_2